Selama dua dekade, Yusuf Wibawa tidak pernah kehilangan ketenangannya. Itulah yang membuatnya berbahaya, dan itulah yang membuatnya berharga bagi Ardian Cakra. Di ruang sidang ia bisa menghancurkan saksi tanpa menaikkan suara. Di ruang rapat ia bisa membungkam keberatan dengan satu senyum dingin. Ia adalah lelaki yang "mengelola masalah" — kata-katanya sendiri — bukan dengan kekerasan, tapi dengan kesabaran dan presisi.
Tapi malam itu, di ruang kerjanya di lantai atas firma yang mulai sepi, Yusuf Wibawa tidak tenang.
Telepon dari Ardian masih menggantung di benaknya. Selesaikan ini. Cepat. Selama tujuh tahun, Ardian tidak pernah menggunakan nada itu padanya. Mereka selalu setara dalam permainan ini — Ardian punya uang dan kuasa, Yusuf punya hukum dan kelicikan. Tapi kata "cepat" mengubah segalanya. "Cepat" berarti panik. Dan panik, Yusuf tahu lebih baik dari siapa pun, adalah racun bagi rencana yang rapi.
Ia menatap berkas di mejanya. Permohonan yang sudah didaftarkan Alika — tercatat, resmi, tak bisa lagi dihilangkan diam-diam. Liputan televisi yang akan tayang. Tagar yang tak bisa dimatikan. Dan yang paling mengganggu: kebocoran jadwal pertemuannya dengan Darwis. Ia sudah melacaknya ke Pram, sudah menutup lubang itu dengan menahan si magang. Tapi ia tahu, dalam hati yang jarang ia akui jujur, bahwa menahan Pram tidak menghapus apa yang sudah keluar. Foto pertemuannya dengan Darwis kemungkinan sudah ada di tangan Alika.
Yusuf menelepon Darwis. Pembicaraan itu singkat dan tegang.
"Kita perlu mengamankan arsip lapas," kata Yusuf. "Berkas pemindahan Bima Satria. Buku tamu, surat perintah, semuanya. Kalau pengadilan memerintahkan Bima dihadirkan, mereka akan menelusuri jejak pemindahannya. Setiap dokumen di lapas itu adalah jejak kaki kita."
"Itu di luar yurisdiksiku sekarang," suara Darwis terdengar dingin di seberang. "Aku sudah cukup terekspos. Fotoku bertemu kamu sudah jadi masalah. Aku tidak akan menambah jejak baru."
"Kalau Bima dihadirkan dan kasus terbuka, kamu jatuh lebih dulu dari aku, Jenderal," kata Yusuf tajam. "Tanda tangan satuanmu ada di seluruh berkas penyidikan 2019. Jangan berlagak bersih."
Hening sejenak. Lalu Darwis berkata pelan, "Kalau kau ingin arsip itu bersih, urus sendiri orangmu. Jangan seret namaku langsung." Sambungan terputus.
Yusuf duduk diam dalam gelap. Untuk pertama kalinya dalam karier panjangnya, sekutu-sekutunya mulai saling menjauh, mengukur sendiri seberapa dalam mereka tenggelam, siap memotong tali siapa pun yang akan menarik mereka ke bawah. Inilah hukum dari konspirasi yang ia tahu sejak lama tapi selalu yakin tak akan menimpanya: rantai yang menahan rahasia hanya sekuat ketakutan terlemahnya, dan begitu satu mata rantai memilih menyelamatkan diri, seluruhnya runtuh.
Ia membuat keputusan yang, dalam keadaan tenang, tak akan pernah ia buat.
Ia menelepon salah satu dari dua pria sedan hitam — eksekutornya, tangan kotor yang selama ini ia jaga jaraknya. "Aku perlu kamu ke lapas tempat Bima ditahan," katanya. "Bukan untuk menyentuh tahanan. Untuk membersihkan arsip. Buku registrasi, surat pemindahan, log kunjungan. Aku ingin semua jejak yang menghubungkan pemindahan itu ke perintah dari Jakarta lenyap. Bayar siapa pun yang perlu dibayar. Bakar kalau perlu."
"Itu lapas, Pak," kata suara di seberang, ragu. "Ada kamera. Ada petugas."
"Petugas bisa dibeli. Kamera—" Yusuf berhenti, dan untuk sesaat, sisi dirinya yang dulu selalu memperhitungkan segala sudut berbisik bahwa ini ceroboh, bahwa lapas terpencil pun punya sistem rekam, bahwa membakar arsip justru menciptakan bukti baru. Tapi suara Ardian — cepat, cepat, cepat — menenggelamkan kehati-hatian itu. "Kamera urus belakangan. Yang penting arsip fisik hilang minggu ini."
Ia menutup telepon, dan untuk pertama kalinya merasakan tangannya sedikit gemetar.
Di rumah aman, esok paginya, Alika menerima telepon dari Reza — pertemuan yang ia janjikan. Mereka bertemu di tempat netral yang dipilih Bu Hartati, sebuah ruang kerja bersama dengan banyak orang, aman dari penghilangan diam-diam. Reza datang dengan wajah pucat, sama sekali bukan partner sombong yang dulu.
"Yusuf mulai kehilangan akal," kata Reza, suaranya rendah, matanya terus mengawasi pintu. "Dua puluh tahun aku kenal dia, tidak pernah aku lihat dia panik. Sekarang dia memerintahkan hal-hal yang... gegabah. Aku tidak mau ikut tenggelam, Alika. Aku tahu banyak. Tentang firma, tentang Ardian, tentang bagaimana semua perkara 'dibereskan.' Aku mau bicara — tapi aku butuh jaminan."
Alika menatapnya, dan dalam hati ia teringat ucapan Bu Hartati: begitu satu mata rantai memilih menyelamatkan diri, seluruhnya runtuh. Tembok yang tujuh tahun berdiri kokoh kini retak dari dalam, dan retakan pertama itu duduk di hadapannya, ketakutan, siap berbalik.
"Aku tidak bisa memberimu jaminan," kata Alika tenang. "Tapi aku bisa memberimu sesuatu yang lebih baik. Kebenaran yang kamu bawa, kalau diserahkan ke jalur yang benar dan ke publik, akan jauh lebih melindungimu daripada diam. Orang yang berbicara lebih dulu, selalu punya posisi lebih baik daripada yang berbicara terakhir."
Reza menelan ludah. Lalu, perlahan, ia mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku dalam jasnya.