Flashdisk Reza berisi tambang emas — daftar perkara yang "dibereskan" firma selama bertahun-tahun, catatan pembayaran tak resmi, nama-nama perantara. Tapi Reza belum menyerahkan semuanya; ia hanya memberi cukup untuk menunjukkan ia serius, menahan sisanya sebagai jaminan nyawanya sendiri. "Kalau aku serahkan semua sekarang," katanya, "aku jadi tidak berguna dan tidak terlindungi. Aku berikan bertahap, sambil melihat kalian melindungiku." Alika memahami logika takut itu, dan menerimanya.
Tapi bukan flashdisk Reza yang akan menjadi pukulan telak minggu itu. Itu datang dari arah yang sama sekali tak terduga.
Reno menerima panggilan di tengah malam dari seorang kontak lama di luar Jawa — seorang aktivis lokal yang dulu pernah ia bantu dalam liputan kasus tanah. "Reno," kata suara itu, terengah, "kamu pernah cerita soal kasus terpidana yang dipindahkan ke lapas terpencil. Bima Satria, kan? Aku rasa aku tahu lapas mana. Dan ada sesuatu yang terjadi di sana semalam."
Reno menyalakan lampu, membangunkan Alika lewat panggilan. Cerita kontaknya mengalir: ada keributan di sebuah lapas terpencil di luar Jawa. Tengah malam, seorang petugas registrasi melaporkan dua orang asing yang masuk dengan surat tugas mencurigakan, meminta akses ke ruang arsip, lalu terjadi kebakaran kecil di ruang dokumen. Api cepat dipadamkan, tapi sebagian berkas pemindahan tahanan hangus.
"Itu lapasnya," kata Alika, jantungnya berdebar antara cemas dan sadar akan peluang. "Mereka membersihkan jejak pemindahan Bima. Persis seperti yang kita takutkan. Mereka tahu kalau pengadilan memerintahkan Bima dihadirkan, jejak pemindahan itu akan membongkar bahwa ia disembunyikan atas perintah dari atas."
"Kalau arsipnya terbakar—" Reno berhenti, lalu menyelesaikan kalimat dengan nada yang berubah, "—berarti mereka menghancurkan bukti. Tapi tunggu. Kebakaran di lapas? Petugas yang melapor? Itu bukan hilang diam-diam, Alika. Itu meninggalkan jejak."
Selama tiga hari berikutnya, Reno dan kontaknya bekerja seperti pemburu. Mereka menelusuri apa yang biasanya luput dari perhitungan orang yang panik. Yusuf memerintahkan arsip dibakar, tapi ia, dalam ketergesaannya, melupakan satu hal mendasar yang akan ia perhitungkan dengan teliti di hari-harinya yang tenang: lapas modern, betapapun terpencil, punya kamera pengawas. Dan kamera itu tidak menyimpan rekamannya di ruang arsip yang terbakar. Rekaman itu tersimpan di server terpisah, di ruang kendali keamanan, di sisi lain bangunan.
"Aku dapat," kata Reno pada hari keempat, suaranya nyaris pecah, memutar sebuah video di laptop. "Petugas registrasi yang melapor itu — dia muak. Dia merasa dijadikan kambing hitam atas kebakaran yang bukan ulahnya. Dia menyalin rekaman CCTV sebelum atasannya sempat menghapusnya."
Di layar, gambar buram tapi jelas: dua pria masuk ke ruang arsip lapas pada pukul dua dini hari. Wajah salah satunya tertangkap jelas di bawah lampu koridor — postur tegap, gerak yang dingin dan terlatih. Alika menahan napas. Ia mengenali postur itu. Salah satu dari dua pria sedan hitam. Eksekutor yang sama yang dulu memotret wajahnya di depan rumah Darto, yang mengintai apartemennya.
Dan yang lebih penting: video itu menunjukkan kedua pria membawa dokumen keluar dari ruang arsip, lalu menyalakan api di tumpukan kertas sebelum pergi. Niat menghancurkan bukti, terekam jelas, dengan tanggal dan waktu.
"Ini bukan cuma menunjukkan mereka membakar arsip," kata Bu Hartati ketika menonton rekaman itu, suaranya bergetar dengan kegembiraan seorang ahli hukum yang melihat senjata sempurna jatuh ke pangkuannya. "Ini menunjukkan upaya menghalangi keadilan secara terang-terangan. Menghancurkan barang bukti dalam perkara yang sedang berjalan. Dan orang ini—" ia menunjuk wajah di layar, "—terhubung ke siapa? Kalau kita bisa membuktikan dia bekerja untuk Yusuf atau Grup Cakrawala, ini adalah benang yang menarik mereka semua."
"Reza," kata Alika tiba-tiba. "Flashdisk Reza. Kalau di dalamnya ada catatan pembayaran perantara, mungkin ada jejak pembayaran ke orang ini. Kita cocokkan wajah di video dengan catatan keuangan."
Mereka bekerja sepanjang malam, mencocokkan, menyilangkan data. Dan di sanalah, dalam daftar pembayaran tak resmi yang diserahkan Reza, sebuah nama muncul — bukan nama lengkap, hanya kode dan nominal, tapi cukup untuk ditarik benangnya nanti di pengadilan.
Alika menatap rekaman yang terus berputar, dua pria membakar arsip di lapas terpencil, dan ia merasakan keseimbangan bergeser di bawah kakinya. Selama tujuh tahun, lawan selalu selangkah di depan, selalu menghapus jejak sebelum ada yang melihat. Tapi kali ini, dalam ketergesaan yang dipaksakan oleh ketakutan Ardian dan kepanikan Yusuf, mereka meninggalkan jejak.
"Mereka memberi kita hadiah," kata Alika pelan. "Dengan mencoba menghilangkan satu bukti, mereka menciptakan bukti yang jauh lebih besar."
Reno menyimpan rekaman itu ke lima tempat berbeda. Asuransi nyawa, dikalikan lima.
Di luar, fajar mulai merekah di gang Jagakarsa. Dan untuk pertama kalinya, Alika merasa bahwa cahaya yang datang bukan hanya pagi.