Author POV
"Lisa, mama dan papa sudah aturkan lamaran hari ini untuk kamu. lagipula kami tidak akan memilihkan calon dengan sembarangan. mama tidak yakin dengan Bagas. lihat saja. sudah 9tahun dia pindah pindah kampus tanpa tujuan. sudahlah Lis.. mama hanya ingin yang terbaik untukmu" rentetan ucapan mama Rita pun hanya didengar Lisa tanpa ingin menjawab.
Lisa berkutat dengan pikirannya.
Ting tong
bel berbunyi tanda tamu rumah tersebut sudah datang.
terlihat riuh orang orang yang berada didalam rumah bersiap untuk menyambut tamu.
"apa kabar, istrimu mana?" tanya ayah syarif (ayah Lisa) kepada sang calon besan
"istriku dibelakang sama Aldo" jawabnya sambil menjabati tangan ayah syarif.
"wah wah Bu, makin cantik ya.. mana Aldo nya?" tambah ibuku saat melihat ibu ibu yang tidak terlalu tua mulai memasuki rumah.
"itu Aldo" kata ibu yang diperkirakan usianya 42th itu sembari mengisyaratkan kepada anaknya untuk segera masuk ke dalam rumah.
"aduh tinggi dan tampan sekali ya" kata ayah syarif membangga-banggakan sang tamu.
"Lisa mana? sudah berapa tahun ya tidak bertemu.. pasti semakin cantik, jadi ga sabar menikahkan mereka sesuai wasiat Abah
Lisa POV
'sesuai wasiat? hello! jaman Siti Nurbaya kale ah..'
akupun dengan enggan berdiri dan menyalami kedua orangtua yang ku yakini mereka orangtua Aldo
Aldo adalah teman masa kecilku yang saat lulus SMP diajak dinas ke Lombok. sudah sejak lahir kita bareng, hanya saja kami tidak sefrekuensi.
saat dia bersiap pindah ke Lombok pun masih saja dengan sengaja membuatku menangis karena kekejiannya padaku.
Aldo anak sematawayang dari ibu Murniati dan pak Rofik. karena terlalu dimanja Aldo menjadi sangat manja dan egois yang menurut ku lebih mirip seperti anak gadis!
"wah cantiknya asli tanpa makeup.. semakin besar ya sayang" kata ibu Murniati padaku.
jelas saja aku cantik, demi menjaga tubuh ini. setiap pagi aku harus minum air lemon dan makan nasi sehari sekali diselipi buah.
"terimakasih pujiannya Bu, ini anak tuh semakin bandel.. mending dinikahin aja deh daripada bikin orangtua pusing" kata mama Rita
aku hanya mendengus mendengar para orangtua mengobrol kan ini itu serta tanggal pernikahan ku pun sudah mereka bahas.
membahas akan tinggal dimana aku dan Aldo kelak ketika sudah menikah, Aldo yang digadang-gadang sangat hebat dalam finansial dan aku yang tidak ada pengharapan karena selalu menghambur-hamburkan uang.
mama Rita berbicara kejelekan ku tanpa rem dan tidak ada lagi pengharapan tentang ku tapi kenapa masih saja sang calon besan ingin berbesan dengan keluarga ku?
dan mereka juga tidak bertanya apakah aku setuju untuk menikah dengan anak mereka.
sesuguhan sudah dikeluarkan semua. aku lantas beranjak menuju kamar ku untuk melepas malas.
bruagh!!
"ahhh leganya bisa tiduran." kata ku sembari merenggangkan tubuhku dikasur kingsize
toktok
"Lis, masuk ya.."
aku pun terlonjak untuk mengetahui siapa yang masuk ke kamar ku.
"hm, kenapa?" kata ku yang ternyata kutahui kalau Aldo yang datang.
"ga suka ya sama pernikahannya?" tanya nya saat dia sudah mendudukan pantatnya dikasurku
"bukan ga suka sama kamu nya do, tapi ga suka diatur-atur gini.. nikahkan sekali seumur hidup, pengennya aku saja yang pilih.. sebetulnya aku udah ada pacar" kata ku ingin tau respon seperti apa yang akan aku lihat
"sama, aku juga sudah punya pacar.. tapi saat tau kalau dinikahkan dengan mu, aku setuju" kata Aldo
"kenapa gitu?" jawabku bingung
"aku nyesel Lis robek baju kamu terakhir kali kita ketemu"
ya, inilah kekejian Aldo terakhir kali ketemu.. walaupun sebetulnya tidak robek terlalu besar tapi cukup untuk membuat ku malu didepan umum.
"itu kan waktu masih kecil, sekarang sudah lupa do" kataku
"kenapa kamu mau nikah sama aku? aku sudah pernah disentuh orang lain" kataku jujur agar Aldo merasa jijik dan membatalkan niat baik keluarganya untuk menikahi ku
"hmm" dehem Aldo, yang ku fikir dia pasti kaget atas kejujuran ku
"wasiat Abah Lis" lanjut Aldo lagi.
"hanya wasiat do" kata ku, diikuti kepergian Aldo dari kamarku
"pasti jijik tuh.. hmm, kalo Aldo yang dijodohkan denganku saja tidak mau.. pasti lelaki lain pun tidak mau. 100 banding 1 laki laki yang mau nikahin perempuan belum menikah yang sudah tidak perawan" aku jadi membayangkan bagaimana aku dimasa depan nanti
harus bagaimana aku, agar Bagas bertanggung jawab atas keperawanan ku yang dia renggut.
pikiran pikiran licikku memenuhi kepalaku, membuat ku merasa jahat namun takut.
aku yang dihadapkan kebimbangan tentang masa depan pun tenggelam dalam mimpi.
ya, aku tertidur