Akan kuberikan satu kepercayaan untuk masing-masing dari kalian. Jika kalian menghancurkan kepercayaanku, maka jangan harapkan aku akan mempercayakanmu lagi. Seperti kata pepatah, jangan jatuh di lubang yang sama. -Waiting for Rainbow
***
Seperti hari-hari biasanya.
Tepat 1 bulan ketika aku menjalani hubungan dengan seorang pria, tetapi pria itu ingin memutuskan hubungan kami.
Seperti kejadian-kejadian yang biasanya terjadi, selalu di kelas kelasku, di depan bangkuku, dan mengucapkan dua kata yang 'biasa' aku dengar.
"Kita putus." Setelah itu, dia pergi. Meninggalkan aku yang masih terpaku menatap punggungnya yang menjauh dari pandangan.
Please jangan lagi, aku kira dia berbeda dari kebanyakan pria diluar sana.
Di saat mantan-mantanku memberi boneka, coklat maupun bunga, dia memberiku puisi yang romantis. Meskipun aku tidak terlalu paham dengan bahasa puitis, tetapi karena puisi itu aku luluh padanya. Jatuh sejatuh-jatuhnya pada sosok itu.
Di saat gadis-gadis lainnya mengkode pacarnya untuk suatu hal maupun barang, aku tidak perlu membuat kode, karena dia selalu tau apa yang aku inginkan, seperti membaca pikiran.
Di saat temen-temenku sibuk dengan kegiatannya dan aku tidak tahu mau melakukan apa, dia selalu menemaniku dengan caranya sendiri.
Aku kira dialah cinta sejatiku. Ternyata ia hanya pria yang menumpang lewat seperti kebanyakan pria lainnya.
"Are you okay Kar?" dia Citra, sahabat semasa kecilku. Sahabat yang paling perhatian dan selalu tau suasana hatiku tanpa harus aku beritahu.
"Pakai nanya lagi lo, udah keliatan muka dia syock gitu, masih nanyak lagi." Dia Fitri, sahabat sekaligus adik kelas yang agak gak tahu diri. Kami sudah berteman selama 11 tahun, tepatnya ketika kami masih menduduki bangku sekolah dasar. Dia pribadi yang ceria dan menjadi moodboster kami.
"Siapa bilang gue syock? Gue cuma lagi mikir aja, udah ketebak dia mau mutusin gue hari ini. It's okay." Aku mengalihkan pandangan ke arah buku yang sebelumnya aku baca. Sherlock Holmes. Novel fiksi kesukaanku sepanjang masa.
"Alah, alesan lo Ra," rangkul Ningsih di bahuku dan duduk di kursi sebelahku. Dia adik kelas yang agak kurang ajar sekaligus sahabat yang kami temukan saat sekolah menengah pertama.
"Kaga, siapa bilang gue ngeles?" bantahku tak terima.
"Udah ketauan kali Kar,"
"Apasih lo Cit, pakai ikutan segala,"
"Kan lo emang lagi galau Kak Kar,"
"Gue kaga galau yaa, dibilangin elah."
Ketika pertengkaran kami yang hampir menimbulkan perang dunia ketiga, Juno, wakil ketua kelasku menghampiri meja.
"Kar," panggil Juno ke arah kami bertiga.
"Kenapa Jun?" tanyaku memandangnya yang telihat senyum-senyum genit.
"Dipanggil sama Bu Iren di ruangannya,"
Aku menatapnya dengan heran, "kenapa Bu Iren mau manggil gue?"
"Yaaa mana gue tau, Sekar sayang."
Kami memandangi Juno dengan pandangan menjijikan setelah ia mengatakan kalimat itu.
"Hehehehe jangan baper, ya. Gue udah punya pacar soalnya," Kami memutar mata dengan malas dan mengabaikan Juno yang masih berdiri disebelah mejaku. "Girls, gue masih di sini kalo kalian lupa."
"Yaaaa terus?"
"Hmm ... Gapapa sih ...." Juno menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum salah tingkah.
"Yaudah pergi sana," aku mengusirnya dan mengayunkan telapak tangan dengan isyarat mengusirnya. "Gue mau ke ruang Bu Iren."
Juno memundurkan langkahnya dan aku melewatinya dengan mengibaskan rambut. "Buset, Kar. Udah kayak iklan sampo."
Teman-temanku tertawa melihat wajah Juno yang terkena kibasan rambutku. Sekarang aku harus menemui Bu Iren, kalau sudah berhubungan sama Bu Iren artinya ada dua hal. Kalau gak dihukum, ya dapet penghargaan.
***
"Permisi, Bu," Aku udah sering menginjakkan kaki ke ruangan ini, hampir setiap hari malah.
"Sepertinya kamu tahu kenapa kamu dipanggil kemari Sekar," Bu Iren menunjukkan senyuman mematikannya lagi. Mampus deh gue sekarang, batinku memberontak ingin keluar dari ruangan terkutuk ini.
"Memangnya, kesalahan saya apa, Bu? Seingat saya, saya tidak memiliki kesalahan untuk berakhir di ruangan Ibu," Jantungku berdegup dengan kencang, seperti bertemu dengan gebetan saja.
"Kesalahan kamu memang tidak ada Sekar, bukannya kamu memang sering Ibu panggil kemari?" Bu Iren menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, Ibu memanggil kamu kemari untuk memberikan informasi mengenai lomba fotografi yang kamu ajukan minggu lalu," Bu Iren selain menjadi guru BK, dia juga menjadi pembina ekstrakulikuler fotografi.
"Jadi bagaimana Bu?"
"Lombanya sama kayak tahun kemaren cuma ketentuannya beda, nanti Ibu infokan lagi." Aku menjawabnya dengan ucapan terimakasih serta berpamitan.
***
Setelah aku keluar dari ruangan terkutuk itu, aku berjalan menuju kelas masih dengan senyuman lebar yang tak hilang dari bibirku.
Sepanjang koridor yang aku lewati, tidak menemukan tanda-tanda kehidupan.
Koridor yang sunyi senyap. Kadang, aku takut lewat koridor ini. Karena kata orang koridor ini yang paling 'angker'.
Dan benar aja karena di depan sana, aku melihat seorang gadis berambut hitam legam yang panjang, menggunakan seragam seperti yang aku pakai saat ini. Tapi, akh tidak pernah melihatnya.
Setelah aku teliti, pipinya tirus dan banyak goresan memanjang seperti disayat-sayat. Wajahnya yang putih pucat dan tangan yang penuh dengan darah. Lalu kakinya... melayang.
Sekarang aku ingat, dia adik kelas yang menghilang minggu lalu. Kata para saksi, terakhir kali dia terlihat di kelas dan sedang mencatat materi pelajaran terakhir. Setelah itu, dia tidak pulang ke rumahnya hingga sekarang.
Sekarang, dia berdiri tepat di hadapanku dengan wajah yang berlinang air mata. Matanya seakan-akan memohon untuk membantunya. Masalahnya, membantu untuk apa?
Aku berjalan seolah-olah tak melihat apapun, mencoba mengabaikannya. Di sepanjang koridor yang sepi ini, banyak sosok yang berkeliaran. Mulai dari anak kecil yang botak, aku tidak mengerti lagi dengan ibu si bocah, kenapa anaknya digundulin terus.
Sampai mbak-mbak berbaju putih dengan rambut hitam yang menutupi wajahnya, serta suara ketawa yang bikin bulu kuduk berdiri. Mbaknya apa tidak lelah ya ketawa- ketawa gak jelas gitu? Kalau aku gak mau sih, kurang kerjaan banget.
Dengan cepat, aku melangkahkan kaki menuju kelas yang terdapat di ujung koridor.
***
"Muka lo pucat," itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Kebiasaan Citra begini nih, selalu mengeluarkan pernyataan bukan pertanyaan.
"Biasa," Mereka memang sudah mengetahui bakat atau yang aku sebut kutukan lain ini. Tapi anehnya, mereka tidak pernah diganggu oleh sosok yang berkeliaran di manapun.
"Minta tolong lagi?" tanya Fitri dengan kalimat ambigunya. Tapi, beruntung dengan kalimat ambigunya, teman-teman tidak pernah tau tentang bakat-kutukan mematikan- yang aku miliki.
"Seperti biasa," sahutku duduk di bangku sekolah dasar, kejadian ini sering bahkan hampir setiap hari aku alami. Tapi ajaibnya, tak ada yang tahu tentang bakat ini.
Sekarang, mungkin untuk selamanya. Tak ada yang tahu. Semoga.
"Sekarang siapa?"
"Lo tahu kelas 10 yang katanya masih hilang itu?" tanyaku seraya mengecilkan suara agar tak didengar oleh orang lain dan mencondongkan badan kearah Citra yang duduk tepat di depanku.
"Mirna? Anak IPA 2 yang itu?" Fitri mengenal baik segala jenis gosip yang timbul disekolah. Katakanlah dia biang gosip, tapi dia penggosip yang handal. Dia selalu memberikan fakta sebelum ia menyebar luaskan gosip itu.
"Iya," Aku selalu waspada dengan senyuman yang dikeluarkan Ningsih, mungkin hari ini akan menjadi hari yang panjang.
"Ayo kita selidiki, kata orang kalau ada makhluk yang tak kasat mata berada di dunia kita, dia lagi penasaran soal kematiannya." Dimulailah jiwa detective Fitri yang membuatku dan Citra bertatapan.
"Kayaknya tadi gue dipanggil sama anak kelas deh." Sebelum Citra bangkit dari bangku, Fitri sudah tersenyum dengan tangan yang menahan Citra.
Citra menatapku dan Ningsih meminta pertolongan, tetapi Ningsih dengan semangat menyetujui ajakannya
"Kapan dimulai?"
"Pulang sekolah,"
Selamat tinggal tidur di kasur setelah pulang sekolah, selamat datang pekerjaan yang melelahkan. Mulai hari ini, penyelidikan kita dimulai.
"But wait, alangkah baiknya kalau kita ke kantin sekarang karena waktu istirahat udah hampir habis dan kita belum makan!" Setelah sadar dengan ucapan Ningsih, kami berlari menuju kantin dan membuat koridor ramai oleh suara langkah kami.
"Mbak! Siomay 1 kayak biasa, cepet ya mbak, ini mau bel!" Pesan Fitri di mbak mbak si penjual siomay yang langsung mengacungkan jarinya dan dengan tangan yang gesit membuat pesanan Fitri.
"Aku juga mbak!"
"Aku juga!"
"Semuanya ya mbak hehehe."
Tak lama, pesanan jadi dan Fitri langsung duduk di bangku dan melahap makanannya. Meninggalkan aku, Citra dan Ningsih yang menunggu giliran. Pesanan kami sudah jadi dan kami tergesa-gesa memakan makanan kami dan Citra sesekali mengecek jam ditangannya.
"Gawat! Lima menit lagi!"
Kami semakin menaikkan kecepatan makan dan Ningsih tersedak karena tidak mengunyah dengan baik. Aku menepuk punggung Ningsih dan memberikan air dengan kemasan gelas ke arahnya, tetapi masih melanjutkan makanku.
Ting Ning Ning Ning Ting Ning Ning Ning Ning Ning
Bel sekolah berkumandang tepat saat aku menghabiskan kentang yang tersisa. Aku meminum air kemasan gelas dan berlari menuju kelas diikuti oleh Citra dan Fitri. Kami melambaikan tangan melihat Ningsih yang sudah memakan siomaynya namun dengan makanan yang penuh dimulutnya.
Ia ikut berlari, menuju kelasnya yang berada di lantai atas. Mari kita dengarkan nanti keluhannya setelah berlarian menaiki tangga dengan makanan yang masih dimulutnya dan belum turun ke perut.
"Nanti inget ya! Sepulang sekolah! Awas pada kabur!" Seru Fitri mengacungkan kepalan tangannya di udara saat tiba di depan kelasnya.
Aku dan Citra menganggukkan kepala dengan lemah, pasrah dengan apa yang akan kami lakukan nanti. Walaupun di sebelahku si Mirna masih mengikuti kemanapun aku melangkah–tapi dia melayang–.
Aku dan Citra tiba tepat sebelum Pak Kendra hendak memasuki kelas, kami menyapa beliau dan memasuki kelas dengan tergesa. "Hampir aja, Cit."
"Iya, hampir aja, Kar." Kami mengambil buku pelajaran di tas dan menyimak materi yang disampaikan Pak Kendra.
"Good afternoon, Class. How's your day?"