"Pertama, kita ke tempat korban sebelum menghilang," Kami tengah berkumpul di depan kelas sebelum memulai kasus yang entah kesekian kali ini. Walaupun jujur saja aku tetap ketakutan setiap kali melihat mereka, terlebih banyak yang jahat dan mengincarku.
"Bisa gak, gak pakai istilah korban segala? Ketahuan sama yang lain nanti." Mirna, sosok yang tadi aku temui dikoridor mengikutiku kemanapun aku melangkah. Setelah bertemu dikoridor tadi, entah darimana dia tahu jika aku bisa melihat makhluk sepertinya.
Ketika bertemu tadi, dia selalu membisikkan kata tolong aku Kak Sekar. Siapa yang tidak risih digituin terus kan? Mana bisik-bisiknya bikin aku kegelian lagi.
Sebelum dia minta tolong, aku juga pasti membantunya. Anggap saja aku polisi yang bisa membantu makhluk seperti mereka.
"Oke, oke. Jadi, kita ketempat doi sebelum menghilang." Fitri mengkoreksi perkataannya dan memakai kacamata yang entah darimana sudah berada dalam genggamannya.
"Kenapa harus pake nama doi?" tanyaku dan Citra bersamaan.
"Yaudahlah ya, para jomblo diem aja," Fitri memperbaiki letak kacamatanya agar terpasang pas dimatanya. Sedangkan aku, Citra dan Ningsih hanya memutarkan kedua mata dengan jengah.
Di kelas IPA 2, tempat terakhir kali doi berada. Sebenarnya aku gak suka dengan sebutan doi yang dikatakan oleh Fitri, seperti memanggil gebetan saja.
Kita mengamati daerah sekitar tetapi tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Kita memasuki kelas dan mulai mencari bukti-bukti yang bisa menguatkan untuk menuntut tersangka. Tak lupa kita juga menggunakan sarung tangan transparan agar tidak menimbulkan sidik jari kami pada barang bukti.
"Sepertinya gue menemukan sesuatu yang menarik," Fitri berada tepat di depan papan tulis dan memegang secarik kertas yang ditemukan pada bagian samping tetapi jika di teliti itu seperti kertas yang terlipat dengan asal.
"Ini tulisan doi," dengan percaya diri Ningsih mengatakan itu, darimana dia tau jika itu tulisan doi?
"Darimana lo tau?" Aku meraih kertas itu dan menanyakannya pada doi yang nempel disebelahku.
"Kalo lo lupa Kak, gue masih kelas 10," Ningsih menatap kami dengan memutarkan kedua bola mata jengah. "Mentang-mentang sering main bareng gak buat gue setua kalian, ya."
"Enak aja lo ngatain gue." Kami menatap Ningsih yang menciut ditatap oleh kami.
"Ini tulisan doi,"Hening beberapa saat karena kami sibuk berpikir dengan pikiran masing-masing. Setelah aku bertanya kepada doi untuk memastikan jika ini tulisannya.
"Nah bener kan apa yang gue bilang," ucap Ningsih dengan bangga.
"Jadi, kesimpulannya gimana?" Citra yang tadi terdiam seraya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi kini mengeluarkan suaranya. Citra memang yang paling pendiam diantara kami bertiga.
"Kesimpulan hari ini, kertas yang kita temukan itu milik doi. Jadi, kemungkinan yang bisa kita ambil dari kertas ini, pada saat doi sedang mencatat materi yang tertinggal. Ia menulis catatan di papan tulis ini hingga sore hari.
"Ketika ia hendak keluar kelas, buku yang selalu ia bawa dirobeknya karena menemukan suara yang menyangkut namanya dari arah luar. Ia menulis dengan cepat dan menyelipkannya di samping papan, kemudian ia keluar dari kelas.
"Kertas ini hanya berjaga-jaga jika terjadi sesuatu padanya. Mungkin jika ia baik-baik saja keesokan harinya, ia akan mengambil kertas itu dan membuangnya. Namun, kertas itu masih tertempel di balik papan. Kalau dilihat baik-baik terdapat tanggal di pojok kanan bawah pada kertas."
Itu yang bisa aku simpulkan dari apa yang aku lihat sekarang. Meskipun aku bertanya, doi tidak akan ingat dengan penyebab kematian hingga di mana dan tempat terakhirnya sebelum ia meninggal.
Hari sudah semakin sore, tidak baik jika ada orang yang berada disekolah. Seperti kita, makhluk seperti mereka juga butuh berinteraksi. Nah, ketika sore menjelang malam seperti ini, mereka akan keluar dan berkumpul di berbagai tempat di sekolah ini.
Sebelum itu terjadi, kita kembali ke rumahku untuk memastikan pendapat kami mengenai kasus si doi.
***
"Baru pulang Kak?" Bunda datang dari arah dapur dan membawa cookies buatannya. Yang langsung disambut cengiran oleh Fitri dan Ningsih, Citra hanya tersenyum sopan seperti biasanya.
"Iya Bun, dari sekolah. Bawa jalan-jalan kucing dulu, biar mereka gak stress," sahutku disambut pelototan oleh Fitri dan Ningsih.
"Dasar bunga anyep kamu," ucap Fitri yang mengambil toples cookies dan masih memandangiku dengan wajah tak terima.
"Bun, makasi cemilannya. Nanti kita habisin Bun, tenang aja," Ningsih langsung mengambil alih cemilan yang berada ditangan Fitri dan melangkahkan kakinya menuju kamarku. Kamarku, perlu ditekankan sekali lagi. Anak itu, kebiasaan langsung nyelonong aja.
"Guys, yang terakhir sampai kamar gak dapat jatah cookies," Ningsih yang sudah berada didepan pintu kamar langsung melancarkan aksinya. Alhasil, aku, Citra dan Fitri langsung berlari untuk memasuki kamar dengan cepat. Bunda dan cookies memang sudah menjadi paket komplit.
***
"Mampus lo, gak kebagian cookies Bunda kan," Ningsih memeletkan lidah kearah Fitri yang memasang tampang muka sedihnya.Wajah yang menggemaskan tetapi kami tidak akan terpengaruh dengan ekspresinya.
"Lo mah jahat, gue gak dibagiin." Fitri memanyunkan bibirnya dan menyilangkan tangannya di depan d**a.
"Si Nina, kapan balik?" Citra mengunyah cookies sembari menonton Drama Korea favoritenya.
"Gak tahu, betah banget di Berlin," Terkadang aku rindu dengan adik kecil yang sering aku jahili itu. Tapi dia sedang berada di Berlin, bersama Nenek dan Kakek di sana. Orang tua dari pihak Bunda.
Aku menghela napas dengan panjang. Sudah setahun dan dia tidak kunjung kembali lagi.
"Btw, Mir jangan diem di depan pintu terus, ngeri banget." Setelah mendengar perkataan ku, sontak mereka menatap horor ke arah pintu, terlebih Citra yang duduknya dekat pintu mulai berpindah dan menatapku horor.
"Plis, Kar. Jangan ngomong gituan keseringan, gue belum terbiasa." Protes Citra menempel pada Fitri.
"Lo sih gak terbiasa-terbiasa, Kak."
"Yaa, gimana bisa biasa kalo diginiin tiap hari? Mental nih gue."
"Gapapa, Kak Cit. Sini gue bantuin biar terbiasa." Ningsih mendekat dengan rambut yang digerai dan dibawa ke depan wajahnya.
"Jangan macem-macem lo!" Citra berdiri dan menjauhi Ningsih yang terus berlari mencarinya. "Woy! Tolongin kek!"
"Maaf nih, Kak Cit. Kali ini gue ikutan Ningsih." Fitri mengikuti jejak Ningsih dan menakut-nakuti Citra dengan suara ketawa yang ia buat buat. Citra berlindung di belakangku dan memutar badanku searah dengan arah Ningsih dan Fitri yang datang ke arahnya.
Tak berapa lama kami berbaring di kasur dan tertawa pelan. "Seru nih kalau ada Nina juga."
"Udah deh, gak usah galau gitu, have fun aja," Fitri mencomot cookies yang baru saja aku ambil dari toples. Dengan refleks, aku melempar bantal yang berada di sampingku dan mengenai wajahnya.
Malam ini, kami saling melempar bantal. Walaupun sering bersama, tetapi kami jarang melakukan hal seperti ini. Mungkin setahun sekali. Aku berharap, persahabatan kamk tidak pernah luntur. Untuk apapun juga.
***
"Gue dirumah Sekar, Onyet," Citra sedang mencaci maki orang yang sedang menelfonnya. Ajun, kekasih Citra sejak tahun lalu.
Mereka memang pasangan ajaib yang pernah aku temui di dunia–walaupun aku gak ketemu banyak pasangan–. Di saat cewek lain meminta pacarnya untuk meluangkan waktu berdua, Citra selalu berkata,"lo ngapain sih berduaan mulu sama gue, kayak gak punya temen aja,"
Lalu di saat pacarnya dekat dengan gadis lain, si pacar selalu overprotective. Tetapi, berbeda dengan Citra. "Ya biarin aja dia mau deket sama cewek kek, cowok kek, banci kek, yang penting dia inget hatinya punya siapa."
Dia, satu-satunya sahabat ajaib yang pernah aku miliki–emang cuma dia sih–.
"Kayak gak tahu gue aja lo," sahutnya dengan menghendikkan bahu. Heran deh sama mereka berdua, kadang mereka bisa menjadi romeo dan juliet, detik berikutnya bisa menjadi tom and jerry.
"Iya sayang, aku udah makan," Baru juga dibilang, dasar pasangan labil.
"By the way Kar, Nina masih sama Dani?" Fitri yang tadinya menyibukkan diri dengan kumpulan soal-soal Matematika, kini memalingkan wajahnya kepadaku setelah itu melanjutkan aktifitasnya.
"Masih. Lo taulah gimana mereka, putus-nyambung gara-gara LDR Jakarta-Berlin." Satu lagi pasangan yang relationship goals. Satunya sekolah di luar negeri, satunya kuliah di dalam negeri yah, aku cuma bisa mendoakan mereka saja. Kata mereka, kalau kataku sih, biasa-biasa aja.
Kadang aku berpikir, kenapa semua perempuan didunia menginginkan predikat relationship goals? Menurutku, itu berlebihan banget, mungkin lebih mengarah kematrealistis.
"Mereka langgeng banget deh, udah berapa tahun mereka?" Ningsih yang masih mengerjakan soal-soal di kasurku langsung menaikkan volume suaranya karena suara Citra memenuhi ruangan dengan ceritanya di telepon.
"Dua tahun kayaknya. Gue heran deh sama Dani, dia masih kuat juga sama adek gue yang overprotective." Mereka dekat sedari kami kelas satu dan pendekatannya udah kayak cerita di drama kesukaan kita pada saat itu.
"Adek lo aja pacaran, langgeng lagi. Kok lo masih jomblo aja," Citra yang sehabis teleponan dengan yang pacarnya langsung ikut menimbrung. Sekalinya ngobrol ini anak langsung ngejlebin ya.
"Ya, takdir Nina masih bagusan kali daripada gue. Gue mah bisa apa?" balasku dengan tak semangat, kualihkan tatapan keluar jendela.
Siapa sih yang gak mau punya pacar? Tapi, aku bahagia dengan aku yang sekarang. Bahagia karena ada keluarga yang support, maupun sahabat yang selalu ada di sisiku. Bahagia sesederhana itu kan?
"Guys, liat deh Yosi keren banget," walaupun Fitri sudah memiliki pacar, tapi dia sering banget yang namanya cuci mata. Gak kebayang deh seberapa sabar Sahi punya pacar kayak dia. Tapi Sahi emang penyabar banget sih aku akuin.
Merekapun membicarakan Yosi yang gantenglah, jago main basketlah, kerenlah dan blablabla. Aku muak mereka ngomongin si Yosi-Yosi siapalah itu.
Yaiyalah gak jelas, aku aja gak tau muka dia kayak gimana. Pernah liat juga enggak, walaupun dia satu sekolah yang sama dengan kami.
Setelah mereka dengan semangatnya membicarakan Yosi, Bunda datang dengan memberi keceriaan–cemilan–.
"Kar, besok jangan lupa buat jemput Nina, ya. Jagain biar dia gak nyasar," canda bunda sambil cekikikan mengingat Nina sudah 2 tahun berada di negeri antah berantah.
"Siap Bun," aku berdiri menghadap bunda dengan badan tegap dan melakukan gerakan hormat seperti tentara-tentara yang sering Ningsih tonton.
Setelah Bunda keluar dari markas besar, aku langsung menjatuhkan badan kepulau mimpi nan indah. Tanpa memperdulikan monyet-monyet yang sibuk membicarakan cogan yang bertebaran diseluruh dunia.
Jangan lupa istirahat, pura-pura bahagia butuh banyak tenaga.