Sepanjang perjalanan pulang, Tari sibuk memikirkan pembicarannya tadi dengan Acha tentang Rama. Mendengar fakta tentang pria itu yang memang memperlakukan hal yang sama pada semua wanita, tandanya tidak ada niatan khusus dari pria itu. Untung saja dia mengetahuinya lebih awal. Jika tidak, mungkin dia akan semakin terbuai oleh kebaikan Rama.
Bahkan, sebenarnya dia pun sudah mulai baper pada pria itu, tapi setelah mengetahui fakta tentang Rama tadi, dia pun bertekad tidak akan pernah terbawa perasaan lagi oleh pria tukang tebar pesona itu.
“Heiii, Tari!” panggil Rama sambil memegang tangan gadis yang sedang melamun sedari tadi itu.
Tari pun mulai tersadar dari lamunannya. “Eh sorry-soryy,” sesalnya sambil menahan malu, karena lagi-lagi terpergok melamun di hadapan pria itu.
“Lo mikirin apa sih? Sambil ngelamunnya gitu banget?” tanya Rama penasaran, sambil memutar badannya sedikit agar bisa melihat wajah gadis yang duduk di belakangnya itu.
Tari menggelengkan kepalanya. “Ah nggak kok, bukan apa-apa.” Dia pun mengedarkan pandangannya, dia baru menyadari kalau mereka sudah sampe rumah. “Eh kita udah sampe ternyata?” tanyanya kaget.
Yah, tadi saat sudah sampai Rama pun heran karena tidak ada respon dari gadis di belakangnya itu. Lalu dia pun penasaran menengok ke arah belakang, ternyata gadis itu sedang diam saja sepertinya sedang melamun. Rama pun menjadi semakin penasaran apa yang dilamunkan Tari sampai seperti itu. Karena dia tak mau menganggu gadis yang sedang asyik melamun itu, jadi dia pun mempunyai kesempatan menatap wajah Tari lebih detail.
Cantik, kata itu yang keluar dari benaknya. Senyum Rama pun mengembang karena bisa dengan leluasa menatap wajah gadis ini dari dekat. Karena jika sedang sadar tak mungkin Tari membiarkannya menatap seperti ini.
Rama pun tertawa, “Udah sejak 5 menit yang lalu.”
“Apa?” pekik Tari, lalu menunduk malu. Namun, seketika dia pun terpaku ketika menyadari, sedari tadi Rama masih memegangi tangannya. Menyadari hal itu tiba-tiba Tari merasakan detak jantungnya berdetak tidak normal. Dia pun segera turun dari motor itu.
Tari pun merutuki dirinya sendiri. Karena baru saja dia bertekad tak akan baper tapi kenapa hanya dipegang tangan saja jantungnya sudah tak karuan seperti tadi, sesalnya.
Kini mata Tari membulat, ketika melihat Rama turun dari motornya. “Eh Eh kok turun juga Ram?” tanya Tari bingung, ditambah pria itu membuka helm yang dipakainya juga
“Gue mau ketemu nyokap lo lah,” jawabnya enteng.
Tari pun terperangah, “Eh nggak usah, udah nggak apa-apa.” Tari mencoba melarang.
“Eh Kalian udah pulang?” tanya seseorang.
Tari pun mencari asal suara, dan melihat bundanya sedang berjalan ke arah mereka.
“Bunda dari mana?”tanya Tari heran melihat bundanya di luar, karena dia kira sang bunda ada di dalam.
“Itu dari rumah tetangga yang di belakang Tar,” jawabnya.
Rama pun segera menghampiri Bunda dan mencium tangan bunda. “Assalamualaikum Bu,” sapanya sambil tersenyum.
“Waalaikum salam Nak Rama, ya udah yuk masuk dulu Ram. Kita minum-minum dulu!” ajak sang bunda sambil menepuk bahu pria itu.
Rama pun tersenyum lebar, “baik, boleh-boleh bun,” ujarnya dengan semangat, sambil melirik pada Tari.
Sedangkan Tari membulatkan matanya lebar, karena sang Bunda malah mengajak pria itu masuk ke dalam.
“Eh iyah Nak Rama, masukkan ke dalam saja motornya agar aman!” perintah Bunda, lalu membukakan pagarnya agar motor Rama bisa masuk ke dalam perkarangan rumahnya.
“Ah iyah bu.” Dengan sigap Rama pun memasukkan motornya, dia sangat senang diberi kesempatan seperti ini.
Tari pun segera masuk juga ke rumahnya. Kini mereka pun sudah duduk di ruang tamu bertiga ditemani teh hangat dan beberapa macam kue camilan.
“Jadi, Nak Rama ini seniornya Tari di kantor kan yah?” tanya Bunda.
“Iyah Bu betul,” jawabnya sambil mengangguk sopan.
“Aduh alhamdulillah, beruntungnya Tari punya senior baik seperti Nak Rama. Mohon bimbingannya yah!“ Bunda tersenyum. “Ah sekalian titip anak Bunda yah!” lanjutnya lagi.
Tari pun terperangah mendengar ucapan terakhir bundanya itu. ‘Titip katanya memangnya dia anak tk yang dititipkan pada gurunya,’ gerutunya dalam hati.
“Ah iyah siap Bu! Tenang aja saya akan menjaganya dengan baik.” Janji Rama.
Mata Tari pun membulat sempurna, dia tak menyangka pria itu dengan mudahnya berkata seperti itu. Apa dia juga sering berjanji seperti itu pada semua orang tua gadis yang dia dekati. Memikirkan itu malah membuat napasnya memburu.
“Bun, aku ke kamar yah ngerjain tugas dulu,” pamit Tari sengaja.
“Eh kan masih ada Rama di sini, kok malah ke dalam?” tanya Bunda heran.
“Eh iyah Tar, lo ada tugaskan? Sini bawa siapa tau gue bisa bantu,” tawar Rama.
“Nah iyah betul, tuh Nak Rama pasti bisa banyak bantu kamu!” Bunda pun malah setuju dengan usulan Rama.
Tari pun menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Ah tidak usah, aku bisa sendiri kok.”
“Eh kamu nggak boleh nolak tawarn senior kamu. Jadi, udah ayo ambil laptopnya!” perintah Bunda.
Senyum Rama pun mengembang karena artinya dia bisa lebih lama bersama gadis ini.
Tari pun dengan enggan mengambil laptopnya ke kamar. Dia benar-benar kesal pada sang bunda yang malah menahan pria itu lebih lama di sini. Tak lama Tari pun kembali ke ruang tamu.
“Ya udh kalian kerjain tugas, Bunda ke dalam dulu yah.” Bunda beranjak dari duduknya.
“Ih Bunda, kenapa pergi?” Tahan Tari.
“Yah masa Bunda di sini. Bunda mana ngerti sama tugas kuliah kamu. Udah ah Bunda ke dalam dulu.” Bunda pun segera bergegas pergi meninggalkan ruang tamu. Meninggalkan Tari yang sudah memajukkan bibirnya kesal. Karena artinya dia kini hanya berdua dengan pria itu.
“Mana tugasnya?’ tanya Rama antusias.
“Aku bisa sendiri kok Ram. Jadi, nggak apa-apa kalau lo mau pulang,” tutur Tari, berharap pria itu memilih pulang daripda diam di sini.
“Udah Tar, mana sini!” Kekeuh Rama lagi.
Tari pun menghela napas pelan. Kemudian duduk dibawah dan menyimpan laptopnya di atas meja. “Yakin nggak akan pulang aja?” tanya Tari lagi.
Rama pun menganggukan kepalanya dengan mantap.
Tari pun menghela napasnya lagi, kemudian menghidupkan laptopnya, dan memperlihatkan tugas esainya.
Rama pun turun ikut duduk dilantai beralskan karpet bersebelahan dengan Tari. Kemudian dia pun melihat tugas kuliah gadis itu,
“Oke coba lo jawab soalnya!” tantang Rama. Lalu dia pun membacakan pertanyaannya.
Tari pun segera menjawabnya, dan ternyata pria itu langsung mengetikkan jawaban yang diucapkan Tari. Setelah beres satu soal, Rama pun melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, yangjuga langsng dijawab dengan mudak oleh Tari. Mereka begitu terus sampai 8 soal esai itu selesai. Rama pun selalu melirik dengan tatapan takjub ketika dengan lugas Tari menjawab semua pertanyaan itu dengan mudah.
“Oke, bagus. Lo memang pinter Tar!” puji Rama, sambil mengelus puncak kepala Tari.
Gadis itu terpaku dan mereka pun saling menatap dengan posisi yang sangat dekat. Rama pun menatapnya dengan lekat dan lembut, seketika darah Tari pun berdesir dengan cepat, disusul oleh detakan jantungnya yang menjadi tak normal kembali. Kemudian, Tari menatap penuh tanya pada pria itu. Tapi tak lama Tari pun segera memalingkan wajahnya memutus kontak mata mereka. Tari pun merutuki dirinya yang sempat terbuai kembali oleh perlakuan Rama barusan.
“Kenapa Tar?” tanya pria itu penasaran.
”Ah Nggak,” bohongnya lalu menatap lurus ke laptop.
“Gue tau, tadi lo natap gue penuh tanya gitu. Ayo tanyain aja langsng, gue tau lo mau tanya sesuatu ke gue kan!” desak Rama yang tahu gadis itu berbohong.
Tari pun menarik napasnya dalam. Lalu dia pun mengubah posisinya agar bisa berhadapan dengan pria itu. “Apa lo selalu memperlakukan semua wanita seperti ini?” tanyanya dengan nada serius.
Seketika kening Rama pun berkerut mendengar pertanyaan itu, “Seperti ini gimana?” tanya Rama tak mengerti.
“Yah kaya gini, baik, perhatian, bahkan sampai kontak mata kaya tadi,” jawab Tari.
Rama pun hanya tersenyum, “Lo yakin mau denger jawabannya?”
Kini giliran kening Tari yang berkerut, ‘Apa maksud dari pertanyaan pria itu,’ batinnya. Kemudian tari pun menggelengkan kepalanya, “Nggak-nggak usah gue tau kok jawabanya,” tegas Tari, lalu segera bangkit dari tempatnya.
Rama pun menjadi bingung dan penasaran, sebenarnya apa jawaban yang Tari tahu, sampai gadis itu terlihat sangat kesal padanya.
“Ya udah, udah malem Ram, lo nggak pulang?” tanya Tari sinis.
Rama pun segera bangkit, “Yah tentu saja pulang,”
“Ya udah makasih yah untuk hari ini,’ ujar Tari datar dan tak melihat ke arah Rama.
Rama pun merasa aneh melihat Tari berubah menjadi dingin tak sehangat biasanya. Apa dia melakukan kesalahan? Tapi apa? Pikir Rama bingung. “Oke, ya udah gue pulang. Pamitin ke Bunda yah.”
“Iyah,” jawabnya singkat.
Rama pun keluar rumah, lalu menuju motornya. Dia masih sering melirik ke arah belakang, melihat Tari yang hanya berdiri depan pintu dan tanpa melihat ke arahnya. Rama pun berpikir, sepertinya gadis itu sedang kesal padanya. Lalu Rama pun segera menaiki motornya dan pulang ke rumahnya.