Jalan Asia-Afrika merupakan ruas jalan tertua di Bandung. Jalan itu sudah ada sejak zaman Belanda. Bangunan Indich art deco dengan beragam desain dan kisah catatan sejarah bisa di telusuri di sepanjang Jalan Asia Afrika Bandung ini. Bangunan megah dengan bentuk unik dan bersejarah, menjadi pusat perhatian bagi setiap wisatawan domestik maupun mancanegara yang melintas di tempat wisata pusat Kota Bandung ini.
Adit dan Rama pun sudah mengeluarkan kamera DSLR yang mereka bawa masing-masing untuk mengabadikan bangunan-bangunan arsitektur unik dan bersejarah di sepanjang jalan itu. Tak hanya bangunan sejarah, di sepanjang jalan ini juga ada cosplay hantu yang berkeliaran, seperti Kuntilanak, pocong, dan berbagai jenis hantu lainnya. Tapi tak hanya hantu, cosplay pahlawan super serial marvel seperti, Hulk, ironman pun ada. Dan Mereka bisa diajak berfoto bareng, setelah itu kita bisa memasukan uang di kotak yang mereka sediakan. Banyak sekali orang yang mengabadikan momentnya berfoto dengan para cosplayer itu.
“Kalian mau difoto bareng mereka?” tawar Rama pada kedua wanita itu.
“No!” Kedua wanita itu menjawabnya dengan kompak sambil bergidik ngeri. Pasalnya ternyata mereka memang tak suka berbau hantu seperti itu.
Rama pun tertawa melihatnya, “Ya udah fotoin gue sama Adit deh!”
“No!” seru Adit juga, lalu mundur menjauh.
“Ya udah fotoin gue aja!” titah Rama lalu mendekati cosplay hantu kuntilanak itu. Dengan sigap Adit pun mengambil beberapa foto Rama yang berpose dengan hantu itu. Bahkan hantu itu pun genit pada Rama sampai-sampai dia berani mencium pipi Rama, meninggalkan bekas merah di wajah pria itu.
“Hantu aja naksir sama lo!” sindir Adit puas. Acha dan Tari pun sudah tertawa sejak tadi.
Rama pun hanya mendelik pada para sahabatnya itu, “Minta tisu dong!”
Acha pun dengan sigap mengeluarkan tisu basah miliknya. “Sini sama gue bersihin!” Dengan telaten Acha pun membersihkan wajah Rama, sedangkan pria itu pasrah saja. Lagi-lagi Tari merasakan hal yang tak biasa dalam hatinya melihat pemandangan ini. Lalu, dia pun memilih berjalan duluan melanjutkan jalan-jalannya. Adit pun mengikuti langkah gadis itu di belakangnya.
Senja pun tiba, langit berubah menjadi oranye keemasan. Para pria pun sibuk mengambil gambar di berbagai tempat untuk mengabadikan senja di pusat kota ini. Sedangkan Acha dan Tari menikmati senja dengan duduk di bangku taman sekitar depan gedung merdeka, mengamati langit senja, beserta ramainya kendaraan yang melintas sekitar jalan itu.
"Gimana Tar, kesannya tempat kerja baru?" tanya Acha memulai.
"Seru! Apalagi bisa kenal sama kalian." Tari tersenyum bahagia.
"Lo nyaman dengan kami?" tanyanya lagi.
Tari pun menanggukan kepalanya, "Yah tentu saja, kalian pun sangat baik dan ramah padaku." Gadis itu meyakinkan.
"Syukurlah," timpal Acha.
“Oh iyah Cha, kalian udah lama temenan?" tanya penasaran.
“Yah lumayan kalau dengan Adit, kami saudara sepupu. Jadi, jangan aneh kalau dia bisa santai ke gue, sedangkan ke lo nggak,” tutur Acha.
“Pantas saja,” timpal Tari lega, pertanyaannya sudah terjawab.
“Nah, kalau gue sama Rama kenal setahun yang lalu. Jadi, kita udah barengan bertiga 1 tahunan.” Lanjut Acha.
“Ah lumayan lama yah. Oh iyah Cha gue boleh nanya sesuatu?” tanya Acha hati-hati.
“Boleh dong, tanya apa?" Acha antusias.
Tari pun menggigit bibirnya, tanda masih ragu apakah ditanyakan pada Acha atau tidak.
“Tar tanya apa sih? Kok jadi gue penasaran gini. Udah jangan ragu, tanya aja!” bujuk Acha meyakinkan.
“Gini Cha, kalau Rama itu memang selalu baik sama semua orang yah?” tanyanya dengan ragu.
Senyum acha pun mengembang, “Emang dia udah lakuin apa aja ke lo?” Acha malah bertanya balik.
Tari pun malah mengerutkan alisnya heran, jujur saja dia tak mau menjawabnya.
Acha pun mengulum senyumnya, “Gini Tar, yah Rama. Dia itu memang baik sama semua orang terutama wanita. Jadi, jangan aneh kalau dia memperlakukan lo sangat manis dan satu lagi semua perlakuannya itu sukses buat semua wanita baper,” terang Acha menggebu. “Termasuk gue,” lanjutnya setengah berbisik.
Tari pun terperangah mendengar penjelasan dari Acha itu, dia sampai geleng-geleng kepala tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Serius lo baper?” tanya Tari tak percaya.
Acha pun tertawa, “Yah gue dulu baper abis sama dia, tapi sekarang mah udah biasa banget lah. Terus gimana kalau lo baper juga nggak?” todong Acha.
Tari pun malah mengulum senyumnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Alah gue tau. Lo juga pasti baper udah ngaku aja!” kekeuh Acha.
Sedangkan Tari tetap menggelengkan kepalanya meyakinkan, lalu lama-lama mereka tertawa bersama.
“Heh lagi pada ngobrolin apa sih, asyik banget?” tanya Rama menghampiri mereka.
“Ada deh, dasar super kepo!” ledek Acha.
“Alah gue yakin, pada ngomongin gue kan?” tuduh Rama pede.
“Idih!” kompak Acha dan Tari sambil mendelik.
“Kuping gue panas banget dari tadi.” Pria itu menunjukan kedua telinganya itu yang memang memerah.
Kedua wanita itu pun menahan tawanya, “Itu mah yang omongin para korban yang sering lo baperin kali,” sindir Acha.
Rama pun malah tertawa mendengarnya, “Ya udah, yuk kita lanjut jalan ke Braga sekalian cari tempat makan!” ajak Rama. Lalu mereka berempat pun kembali berjalan kaki menuju jalan braga.
Jalan Braga Bandung yang dikenal dengan Paris Van Java ini, merupakan salah satu tempat nongkrong di Bandung yang asyik, dan enak buat jalan-jalan di malam hari. Braga ini merupakan salah satu objek wisata yang menjadi maskot Kota Bandung. Dari keindahan Jalan Braga inilah Kota Bandung dikenal oleh wisatawan asing mancanegara.
Sepanjang sisi kanan dan kiri kawasan Braga ini mempunyai gaya arsitektur mengikuti arsitektur eropa yang mengusung konsep One Stop Holiday. Yang juga menjadi pusat keramaian kota Bandung. Cafe-cafe dan tempat-tempat kuliner di Jalan Braga ini memiliki bentuk atau konsep yang menarik, dengan d******i berupa bangunan tinggalan jaman kolonial Belanda. Termasuk jalan yang digunakan, Jalan Braga Bandung ini tidak menggunakan aspal, akan tetapi lebih memilih menggunakan jalan dari paving block berbentuk persegi panjang. Bunga-bunga kecil juga bergelantungan di sepanjang tiang-tiang yang ada di jalanan kota Bandung, membuat kota ini kian cantik.
Lalu, mereka pun memasuki restoran untuk makan malam. Kini mereka berempat pun sedang makan malam sambil bercengkerama dengan santai. Tari benar-benar sangat bersyukur bisa mengenal mereka ini. Dia sangat terhibur saat bersama orang-orang dewasa ini, meskipun usia mereka berjarak cukup jauh tapi itu tidak menjadi penghalang bagi mereka.
Tari melihat jam nya sudah menunjukkan pukul delapan malam, “Ah sudah jam segini, kalian masih lama di sini? Kalau gitu aku pulang duluan yah, soalnya aku herus ngerjain tugas kuliahku,” sesal Tari. Sebenarnya dia pun masih sangat ingin bersama mereka, tapi dia baru teringat belum mengerjakan tugas kuliahnya, sedangkan besok dia masuk kuliah.
“Yah, ya udah kita juga pulang aja deh, yuk!” ajak Acha.
“Eh kok malah pulang, udah nggak apa-apa kalian kalau masih mau lama di sini.” Tari menjadi tak enak karena mugkin gara-gara dia mereka jadi harus segera pulang.
“Nggak apa-apa Tar, lagian makanan kita udah habis kok. Ya udah yuk!” tenang Rama, lalu bangkit diikuti oleh semuanya. Namun, untuk mengambil motor, mereka pun harus kembali menyusuri jalan Braga dan Asia africa yang semakin ramai oleh orang-orang yang menghabiskan malamnya di sekitran pusat Kota Bandung ini.
Saking ramainya mereka pun hampir terpisah di antara kerumunan orang yang sibuk berjalan juga. Rama dan Acha jauh berada di depan sana. Sedangkan Tari jauh tertinggal, tapi untungnya Adit selalu berada di belakang mengikuti langkahnya, lalu Tari pun berpindah posisi menjadi di belakang Adit. “Dit depanku aja! Jadi nanti aku ngikutin di belakang,” usul Tari saat melihat orang –orang semakin berdesakan di depan sana.
Adit pun menganggukan kepalanya setuju, lalu tiba-tiba dia merasakan berat saat melangkah. Dia pun segera menoleh ke belakang lalu tertawa ketika melihat gadis itu sedang memegangi tali selempang tas yang dipakainya. Pantas saa berat, pikirnya.
Tari pun mengulum senyumnya malu. Habis dia takut tertinggal dikerumunan itu, maka dia pun harus berpegangan pada Adit. Tapi jika berpegangan tangan tentu saja tak mungkin, maka dari itu dia pun memilih memegang tali selempang tas pria itu saja.
Setelah sampai parkiran, Rama dan Acha menatap mereka heran lalu menahan tawa. Membuat Tari tersadar kalau dia masih memegang erat tas Adit. Lalu, Tari pun segera melepaskannya sambil tertawa hambar.
“Lo kayak anak SD yang ngintilan gurunya.” Rama tertawa, Acha pun sama.
Sedangkan Tari, mendelik pada Rama.
“Harusnya tadi lo pegang aja tangan si Adit, nggak apa-apa kok sekalian biar dia biasa juga dipegang cewek,” timpal Acha yang juga segera mendapat delikan dari Adit.
“Ya udah yuk ah pulang! Cha, lo sama Adit yah.” Rama memberikan helm-nya pada Tari.
“Ok!” Acha pun segera menghampiri motor Adit.
“Lo yang bawa motor ah Cha!” Adit memberikan kunci motornya.
“Kenapa?” tanya Acha heran dan tak mau membawa kuncinya.
“Bosen gue di depan.”
Acha pun berdecak, “Eh Tar, jangan coba deket-deket ma dia deh nanti lo nyesel dimanfaatin terus,” canda Acha sambil mengambil kuncinya.
Adit pun segera mengambil kunci motornya lagi, “Rese lo,” delik Adit yang malah membuat Acha tertawa.
Begitupun dengan Rama dan Tari, “Mereka mah saudaraan tapi berantem mulu,” terang Rama pada Tari.
“Tapi seru liat mereka gitu,” timpal Tari masih tersenyum lebar.
“Ya udah yuk ah Tar pulang, nanti kemaleman lagi!” ajak Rama.
Tari pun dengan sigap naik ke atas motor Rama.
“Dit, Cha kita duluan yah, bye!” seru Rama lalu memacu motornya keluar parkiran menuju jalan raya.