Sore hari pun tiba. Rama dan Tari sedang berjalan menuju lift, terlihat Adit dan Acha sudah menunggu mereka dekat lift. Namun, tiba-tiba Rama menepuk pundak Tari, membuat gadis itu menghentikan lagkahnya. "Sebentar Tar, gue mau ngomong dulu sama lo!" kata Rama.
"Apa?" tanya Tari.
Rama melangkah lebih mendekat pada Tari. "Nanti lo perginya sama Adit yah, tapi tenang aja pas balik gue sama lo lagi," terang Rama setengah berbisik
Tari pun menganggukan kepalanya mengerti, meskipun sebenarnya dia butuh alasan, tapi dia memilih tidak menanyakannya.
"Meskipun nanti lo kurang nyaman sama Adit, tapi lo harap maklum yah soalnya dia introvert. Makanya gue kasih tau lo biar lo nggak kaget gitu. Meskipun begitu, sebenarnya dia baik dan care banget kok. Cuma yah gitu aja." Lanjut Rama.
Tari pun menganggukan kepalanya mengerti. Oh pantas saja selama ini memang Adit orang yang jarang bicara jika sedang berempat.
"Ya udah yuk! Mereka udah nunggu." ajak Rama, lalu mereka pun berjalan kembali menghampiri Acha dan Adit.
"Jadinya kita ke mana?" tanya Acha.
"Ke Braga aja deh yang deket, soalnya kan weekday. Kalau weekend baru kita ke tempat yang jauh. Ya kan Dit?” terang Rama.
“Yap betul.”
"Okey! Ya udah yuk turun!" lalu mereka semua pun masuk dalam lift menuju parkiran.
"Oh iyah Dit, gue bonceng Acha yah. Jadi, lo sama Tari. Oke?" Rama memberitahu sambil memegang bahu sahabat prianya itu.
Adit pun menatap Rama penuh tanya. Sebenarnya sih memang sudah biasa, jika mereka pergi Adit sendiri, sedangkan Acha selalu dibonceng Rama saat perginya. Dia kira kali ini Acha akan dengannya karena Tari dengan Rama. Tapi nyatanya Acha tetap memilih dengan Rama, yang artinya dia harus bersama dengan Tari. Memikirkan dia harus mebonceng orang yang baru dikenalnya membuat dia sangat gugup.
"Lo pasti bisa Dit!” bisik Rama menyemangati sambil memijat kedua bahu Adit.
Sedangkan Adit malah menatapnya tajam. “Kenapa baru ngasih tahu sekarang?” desisnya kesal.
Rama dan Acha malah menahan tawa meihat teman introvertnya kesal seperti itu. Sedangkan Tari memperhatikan interaksi 3 orang dewasa yang baru dikenalnya itu, sambil mengulum senyumnya.
Ting !!!
Pintu lift pun terbuka, mereka semua keluar dari sana.
“Eh kalian duluan aja, gue ke kamar mandi dulu yah!” pamit Adit lalu pergi berjalan cepat menuju tujuannya. Tiga orang itu pun saling melirik heran melihat tingkah Adit yang seperti itu.
“Oh udah kebelet kali dia makanya gitu,” ujar Rama.
“Eh aku juga mau ke kamar mandi dulu deh, kalian duluan aja! Nanti aku nyusul,” terang Tari.
Rama dan Acha pun saling melirik, “Ya udah oke! Kita tunggu di parkiran yah.”
Tari pun menganggukan kepalanya tanda mengerti, lalu dia pun berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Acha dan Rama ke tempat parkir.
Di salah satu bilik kamar mandi, kini Adit sedang duduk di atas closet yang tertutup. Sebenarnya dia ke kamar mandi bukan untuk buang air kecil ataupun besar. Dia hanya ingin menenangkan dirinya dulu, sebelum nanti berhadapan kembali dengan Tari.
Bagi semua orang mungkin itu hal yang gampang. Namun, tidak baginya Ini sesuatu yang berat untuk dilakukan. Terlebih karena ini adalah seorang wanita. Yah dan selama ini teman wanitanya hanya Acha. Sebenarnya meskipun introvert, tapi dia pernah pacaran saat jaman kuliah dengan temannya Acha. Namun, sayangnya pacarnya itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Nah, semenjak itu dia menjadi sangat menjaga jarak dengan namanya wanita.
Dia tak tahu harus bersikap bagaimana atau mengobrol apa pada orang yang baru dikenalnya, kemudian dia juga terpikirkan kasihan jika nanti gadis itu akan merasa bosan dan tak nyaman saat diboceng olehnya.
Makanya sekarang dia ingin menenangkan diri dulu, sambil meyakinkan kalau semua ini akan baik-baik saja. Dan semoga saja gadis itu tak akan menganggap aneh sikapnya nanti.
Setelah merasa tenang, dia pun segera keluar kamar mandi. Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat Tari ternyata sedang menunggunya di dekat kamar mandi. Lalu, Adit pun menghampiri gadis yang sedang membelakanginya itu.
"Ehem, Tari kok nunggu di sini?" tanyanya heran.
Gadis itu pun segera membalikan badannya, kini dia berhadapan dengan Adit dengan berjarak tentunya. "Ah tadi aku sekalian ke kamar mandi juga," jawab Tari sambil menunjuk kamar mandi wanita.
"Oh begitu, ya udah yuk!" ajak Adit.
"Eh sebentar Dit, sepertinya aku naik ojek online aja deh ke sananya, nanti kita janjian aja kalian nunggu di mana?" usul Tari sambil menaikkan alisnya.
Adit pun menatap heran gadis yang di hadapannya kini. "Kenapa?" tanyanya.
Tari pun menggigit bibirnya, lalu mengambil napas dalam. "Yah pasti ini nggak mudah kan buat kamu, bonceng cewek yang baru kamu kenal. Jadi, nggak apa-apa kok aku udah biasa naik ojek online." Tari coba meyakinkan sambil tersenyum.
Adit pun semakin menurunkan topi yang dipakainya, lalu dia memalingkan wajahnya ke samping. Dia tak menyangka gadis ini mempunyai ide yang seperti itu, lalu dia yakin gadis ini pasti sudah tahu kalau dia seorang introvert, makanya dia bisa memakluminya seperti ini.
Tari semakin gugup melihat Adit yang malah memalingkan wajah darinya, apakah dia salah bicara? Padahal kan dia hanya tak ingin membuat pria itu tak nyaman. Makanya dia memikirkan solusinya. Namun, tak lama pria itu kembali melihat ke arahnya sambil menghela napasnya pelan.
"Tari, makasih atas pengertiannya. Tapi serius aku nggak apa-apa kok bonceng kamu. Hanya saja, maaf kalau nanti aku cuma diem aja saat di jalan, dan mungkin itu akan buat kamu nggak nyaman atau bosan. Karena aku beda dengan Rama."
Tari pun malah tersenyum lega mendengar penjelasan pria itu, "Kamu nggak usah mikirin aku gimana, aku orangnya santai kok. Jadi senyamannya kamu aja Dit." terang Tari lagi.
Adit pun mengulum senyumnya juga, rasa gugup yang sedari tadi menyerangnya pun perlahan memudar. "Ya udah yuk Tar, pokoknya aku nggak keberatan sama sekali bonceng kamu,” tutur Rama menegaskan sambil tersenyum. “Oh iyah Acha sama Rama pasti udah nungguin kita. Yuk!" ajak Adit lalu berjalan duluan menuju parkiran. Tari pun mengulum senyumnya kembali, lalu berjalan mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di sana mereka malah di sambut oleh omelan Acha dan Rama.
"Kok pada lama banget sih, keburu kelewat nanti sunset-nya Adit ah," gerutu Acha yang sudah duduk di atas motor bersama Rama.
"Ya udah ayo-ayo berangkat! Deket ini kok tempatnya," timpal Adit, Lalu memberikan helm pada Tari, "Nih Tar pake!"
Dengan sigap Tari pun memakai helmnya. Sedangkan Adit menghidupkan motor maticnya itu. "Yuk Tar! Nanti ada yang ngamuk lagi kalau kita lama," sindirnya pada Acha yang langsung memberikan delikan padanya. Tari pun segera naik di jok belakang.
"Ya uah Dit. Parkir di pusat distro yah!" kata Rama.
"Okey!" jawab Adit. Lalu mereka pun pergi meninggalkan lahan parkir itu.
Di perjalanan Rama dan Acha ada di samping depan mereka, jadi Tari bisa dengan jelas melihat Acha yang memeluk Rama dengan erat. Jika, dilihat seperti ini mereka seperti sepasang kekasih. Memikirkan hal itu, serta melihat pemandangan di depannya kini, membuat timbul suatu perasaan yang membuatnya tak nyaman. Kini pikiran Tari pun sangat berkecamuk memikirkan banyak hal. Hingga tak terasa ternyata mereka sudah sampai ditempat parkir besement pusat distro. Lalu mereka berempat pun berjalan ke atas menuju luar.
Suasana sore di kawasan pusat kota bandung ini cukup ramai, apalagi di alun-alun, depan perkarangan mesjid itu dipenuhi banyak pengunjung yang sedang duduk bersantai sambil mengobrol. Ada juga anak-anak yang sedang asyik lari-lari ataupun bermain balon. Semua orangmenikmati sore hari itu dengan penuh kesenangan.
Keempat orang itu pun terus berjalan ke arah jalan asia africa, ditemani hembusan angin sepoi-sepoi, lalu lalang kendaraan, serta hiruk pikuk manusia, mereka menikmati setiap langkah di jalan bersejarah itu.