"Itu tuh katanya mau jemput kamu!" kata Bunda dengan senyuman lebar di wajahnya.
Tari pun mengerutkan alisnya bingung, "Siapa? Driver ojek?" tanya Tari, lalu mengecek ponselnya, tapi dia memang belum order ojek online. "Bilangin salah rumah kali, soalnya aku belum order kok Bun," terangnya.
Bunda pun malah berdecak, "Ish kamu. Bukan driver ojek, tapi tuh katanya teman kamu yang kemarin anterin pulang."
Lantas Tari yang sedang minum itu pun tersedak mendengarnya. Kini gadis itu pun sedang terbatuk batuk. Berarti itu Rama? Lalu dia pun mengecek ponselnya lagi, tapi pria itu tak mengabarinya jika akan datang.
Bunda pun menahan tawa melihat kelakuan anaknya itu. "Ya udah sana temuin dulu, dia duduk di kursi luar.”
Tari pun segera berjalan menuju pintu untuk melihat apakah benar Rama. Ternyata benar saja dari jendela dia bisa melihat, pria dengan potongan rambut spiky itu sedang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Tari pun merapikan rambut dan poninya dulu, lalu menarik napasnya agar tenang,dan barulah dia menghampirinya.
"Haii," sapa Tari lalu duduk di kursi satunya.
Rama pun segera menoleh. "Eh haii!" jawabnya sambil menyimpan ponselnya itu.
"Kenapa ke sini?" tanya Tari heran.
Rama malah tersenyum lebar, "Yah biar sekalian pergi bareng lah, udah siap?" tanyanya.
"Lah padahal kan nggak usah Rama, aku malu repotin kamu terus tau.” Tari memasang wajah sungkan kembali.
"Repot apa sih? Ya nggak lah, kan kamu tahu sendiri rumah kita memang dekat. Jadi, nggak salah kan kalau aku ingin pergi bareng?" tuturnya sambil tersenyum.
Tari pun mengerti alasan pria itu, tapi tetap saja dia bingung kenapa pria itu melakukan semua ini. "Kok nggak ngabari dulu?"
"Ah itu sih. Ya udah oke, besok-besok aku kabari dulu deh. Gimana?"
"Tapi serius aku nggak enak loh Ram,” kekeuh Tari
"Udah deh, kan udah aku bilang jangan sungkan sama aku. Oke!” bujuk Rama. Sebenarnya dia pun mengerti mungkin Tari seperti ini karena belum terbiasa saja.
Tari pun terdiam, sambil menatap pria itu. ‘Bagaimana tak sungkan jika baru kenal tapi pria ini sudah memperlakukannya sangat baik,’ batinnya menjawab.
Rama pun sadar dia sedang ditatap oleh Tari. Namun, dia menjadi penasaran apa yang sedang dipikirkan gadis ini sambil menatapnya seperti itu. “Heii malah ngelamun pagi-pagi!” kata Rama, sambil menjentikkan jarinya di hadapan gadis itu.
Tari pun seketika tersadar dari lamunannya, kemudian memalingkan wajahnya malu. Yah tentu saja dia sangat malu sekarang, kepergok melamun sambil menatap pria itu. Dia pun memegangi kedua pipinya yang tiba-tiba menghangat. Rasanya dia ingin lari dari sana agar pra itu tak melihat pipinya yang sudah memerah ini, tapi tak mungkin kan.
Rama pun mengulum senyumnya melihat gadis di hadapannya kini. "Ya udah, yuk pergi!" ajak Rama.
"Sebentar!" Tari pun segera kembali ke dalam rumah untuk mengambil tasnya, lalu menghampiri sang bunda yang sedang di dapur. “Bun aku pergi yah,” pamitnya, sambil masih menutupi pipinya.
Kini Bunda pun menatap anaknya heran, “Kamu kenapa? Sakit gigi?” tanyanya khawatir.
Tari malah menarik napasnya dalam, “Udah Bun ah, aku pamit.” Dia mengambil lengan bundanya lalu mengecupnya. Sang bunda pun lalu ikut dengan putrinya berjalan ke depan lagi.
Rama segera menghampiri bunda, "Bu saya pamit dulu, sekalian ijin pergi bareng Tari,” terangnya dengan sopan.
"Iyah boleh Nak Rama, hati - hati yah di jalannya," pesan bunda.
"Oh iyah, sekalian minta ijin juga. Nanti sore kita mau main sebentar. Jadi, pulangnya agak telat. Tapi ibu tenang aja saya akan mengantarkan lagi sampe rumah."
Tari pun terkejut dengan perkataan pria itu. Kenapa malah Rama yang meminta ijin pada bundanya sekalian. Bunda pun melirik pada putrinya itu yang belum bilang apa-apa soal akan pergi nanti sore, "oh jadi gitu. Ya udah oke. Pokoknya hati-hati yah!"
"Baik Bu. Kalau gitu kita pamit. Assalamualaikum." Rama mencium tangan bunda.
Tari pun mengulum senyum melihat sopan santun pria itu. Lalu dia pun segera ikut mencium tangan bundanya juga.
"Waalaikum salam," jawab bunda sambil tersenyum penuh arti pada anaknya itu.
Lalu Tari dan Rama berjalan menuju motor Rama.
"Kok tadi sekalian ijin sih? Emang jadi perginya?" tanya Tari sambil memakai helm.
"Ya jadilah, nih aku udah persiapan bawa kamera." Rama menunjuk tas ransel yang dipakainya itu.
"Ah sekalian hunting foto gitu?" tanya Tari penasaran.
"Iyah, hobiku sama si Adit kan photograpy. Jadi, kita suka hunting-hunting foto gitu."
Tari pun menganggukan kepalanya mengerti.
"Ya udah ayo!" ajak Rama yang sudah naik di atas motornya.
Tari pun segera duduk di jok belakang dan motor itu pun melesat mengantarkan mereka ke tempat tujuan.
Setelah 30 menit perjalanan, Rama menghentikan motornya depan coffee shop samping kantor mereka. “Tar turun sini aja, di dalam ada Adit sama Acha. Gue mau parkir motor dulu."
"Oke!" Tari pun menurut segera turun dari motor itu dan berjalan menuju coffee shop.
Sedangkan di dalam coffee shop, Adit sedang asyik membaca komiknya, sedangkan Acha duduk sambil memperhatikan 2 orang yang sedang diluar itu lewat jendela dengan jelas.
"Dit, itu Rama sama Tari kan?" tanyanya sambil terus menatap keluar.
Adit pun segera menutup komiknya dan melihat ke arah yang dilihat Acha sedari tadi. "Eh iyah itu mereka."
"Kok tumben yah si Rama sekarang pergi bareng cewek juga. Biasanya kan dia cuma ngajak cewek pulang bareng aja," gumamnya.
Adit pun menatap sahabat wanitanya itu dengan heran, sebab suaranya terdengar seperti kecewa. "Ya udah lo tanya aja nanti langsng orang nya!" usul Adit
"Apa Rama mulai tertarik pada Tari yah?" tebak Acha.
Adit pun semakin menyipitkan matanya yang sipit itu, "Lo cemburu? Tumben?"
Acha menjawabnya dengan mengangkat bahunya, tapi Adit sangat yakin jika ada sesuatu pada Acha karena sedari tadi sorot matanya terlihat sendu.
"Haii, selamat pagi!" sapa Tari pada Adit & Acha.
Acha pun segera menoleh pada Tari, lalu tersenyum menyambutnya. "Eh Tari, ayo duduk!" ajak Acha sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. Tari pun lalu menurut dan duduk.
"Nih, udah dipesenin buat lo. Tapi emang bener lo suka minum ini?" tanya Acha penasaran.
Tari pun segera mengambil paper cup yang ada di hadapannya itu. Kemudian dia menghirupnya dulu. Matanya pun berbinar ketika mencium aroma chocolate panas.
"Kok tau aku suka minum hot chocolate?" tanyanya heran.
Sedangkan Adit menghela napasnya lega.
"Ih bener lo Dit," kagum Acha sambil menatap Adit. Pria itu pun hanya tersenyum tipis. Sedangkan Tari menatap mereka tak mengerti dengan maksud mereka.
"Ini tuh tadi Adit yang pesenin. Tapi dia bener loh pesen kesukaan lo Tar,”terang Acha.
"Oh ya?" tanya tari takjub juga, karena mereka kan baru kali ke dua ngopi bareng di sini. Tapi pria itu sudah langsung mengetahuinya.
"Yah itulah dia, keliatannya dingin pendiam, tapi dia itu pengamat yang baik Tar." Acha memuji Adit lagi. Sedangkan yang dipuji malah pura-pura sibuk membaca komik yang menutupi sebagian wajahnya.
"Ah pantas saja,” tanggap Tari sambil tersenyum melihat ke arah Adit.
"Oh iyah lo tadi pergi bareng Rama?" tanya Acha kemudian.
"Ah iyah, karena ternyata rumah kita deketan."
"Oh yah?" Acha semakin penasaran.
"Iyah Cha, ternyata dari rumah gue ke tempatnya cuma butuh 5 menit aja. Jadi, ya udah gue ajak pergi bareng aja biar sekalian," terang Rama yang baru datang lalu duduk bersebelahan dengan Adit.
Acha pun hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti, sambil terus menatap pada Rama.
"Ah iyah jadikan sore ini Dit?" tanya Rama memastikan.
"Jadi dong, ya kan Cha?" jawab Adit.
Acha pun lagi lagi hanya menganggukan kepalanya saja.
Adit dan Rama pun saling melirik, mereka yakin ada yang salah dengan sahabat wanitanya itu.
"Cha lo sehat?" tanya Rama, sambil memegang tangan Acha yang ada di atas meja. Tari pun terus menatap pada kedua tangan yang berada di atas meja itu. Tanpa sadar dia menelan salivanya dengan berat.
Acha pun segera tersenyum manis pada Rama, "sehat kok."
Rama pun menghela napasnya lega, "syukurlah,"
"Ya udah yuk kita naik," ajak Adit.
"Oke!" mereka semua pun segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan sambil membawa paper cup masing-masing.
Rama dan Acha berjalan di depan, jarak mereka sangat dekat, terlihat mereka asik mengobrol sambil sesekali tertawa. Sedangkan Tari dan Adit jalan berjarak dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.