Dalam keheningan itu itu, tiba-tiba terdengar deringan ponsel. Tari pun segera mengambil ponselnya dalam tas. "Bunda!" serunya lalu mengangkat teleponnya.
"Assalamuaaiikum, kamu masih di mana Tari?" tanya Bunda khawatir.
"Walaikum salam, iyah bun maaf aku lagi makan dulu, sebentar lagi aku pulang," terangnya menenangkan sang bunda.
"Ya udah hati-hati yah sayang, udah malem ini."
"Iyah Bun, ya udah Tari tutup yah!"
"Iyah udah, assalamualaikum." Pamit bunda.
"Waalikum salam." Tari pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
Rama sedari tadi memperhatikan gadis itu pun bertanya, "Bunda kamu?"
"Iyah, dia khawatir karena ngak biasanya aku pulang telat malem."
"Ya udah, yuk kita pulang! Udah kan makannya?" ajak Rama lalu berdiri.
Tari pun mengangguk, beranjak berdiri, berjalan mengikuti Rama menuju motornya. Kini mereka pun sedang dalam perjalanan menuju rumah Tari. Mereka melewati jalan malam yang dingin itu dengan hening, sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun, tak butuh lama 5 menit kemudian mereka sudah memasuk kawasan perumahannya.
"Mas nanti berhenti di rumah yang pagar hitam itu yah!" seru Tari.
Rama pun berhenti persisi yang diperintahkan Tari. Lalu, gadis itu pun segera turun dari motor dan melepas helm-nya.
"Jangan lupa kasih bintangnya yah Mbak!" ketus Rama, sambil menerima helm yang di beri Tari. Sedangkan Tari lalu tertawa mengingat tadi dia salah memanggil Rama dengan sebutan Mas itu.
"Sorry sorry!" katanya sambil menahan tawa, membuat Rama pun tersenyum.
Kemudian rama pun mengamati sekitarnya, "Oh jadi di sini rumah lo, deket juga sama rumah gue. Oh iyah daerah sini tuh ada toko kue enak loh."
"Apa nama tokonya?" tanya Tari penasaran.
"Oven Bunda," jawabnya.
Tari pun tersenyum lebar mendengarnya. "Itu toko bunda aku," jawab Tari lalu tersenyum lebar.
Rama pun ikut tersenyum lebar mendengarnya, "Serius? Itu tuh toko kue favorit Ibuku loh, setiap ada acara dia pasti beli kue di sana."
"Oh iyah? Wah terima kasih sudah jadi pelanggan toko kami!" senyum tari semakin lebar. Rama pun ikut bahagia melihat gadia itu terlihat senang.
"Ya udah lo masuk, nyokap lo pasti udah nungguin!"
Tari pun menganggukkan kepalanya. Tapi dia masih belum berangjak karena sebenarnya dia ingin menanyakan sesuatu pada pria itu. Namun, dia masih ragu apakah ditanyakan sekarang atau nanti. "Rama," panggilnya dengan nada ragu.
"Ya?" Rama pun menatap gadis yang terlihat sedang menimbang sesuatu itu.
"Em aku mau tanya, sebenarnya," Tari menggantung katakatanya karena kemudian dia berpikir kalau tidak teoat menanyakannya sekarang. "Ah tidak-tidak. Aku cuma bilang makasih yah untuk hari ini udah anterin aku 2x.” Tari tersenyum amat sangat berterima kasih pada seniornya itu.
Rama pun memicingkan matanya tajam, dia masih penasaran sebenarnya apa yang ingin gadis ini katakan. Tapi ya sudahlah dia pun segera membalas tersenyum. "Sama-sama. Udah nggak usah sungkan. Lagian tau sendiri kan rumah kita dekat. Jadi, aku ngak repot sama sekali. Oke!" terang Rama lagi agar gadis itu tak memasang wajah sungkan lagi padanya.
Tari pun menganggukan kepalanya mengerti. "Ya udah hati-hati di jalan yah!"
"Iyah Tar. Ayo kamu masuk dulu, baru aku pergi!"
"Ya udah, bye!" Tari pun membuka pagar rumahnya dan berjalan ke dalam. Tak lama terdengar suara motor Rama, yang artinya pria itu pun jalan kembali pulang ke rumahnya.
Tari pun segera mengeluarkan kunci rumahnya dan membukanya. Gadis itu seketika senyum-senyum ketika mengingat ternyata seniornya itu sangat baik dan perhatian, meskipun terkadang menyebalkan.
"Ehem, siapa tuh tadi?" tiba-tiba Bunda muncul dari kamarnya.
Tari pun sangat kaget dengan kehadiran bundanya yang tiba-tiba itu, "Ih bunda ngagetin deh!" keluhnya sambil mengusap dadanya.
Bunda malah tersenyum, "Nggak akan jawab pertanyaan bunda nih?"
"Mau dong. Itu tuh senior yang kemarin kau ceritain Bun," jawabnya sambil mengulum senyum.
"Oh, katanya nyebelin tapi kok?" selidik Bunda.
"Ternyata dia baik dan perhatian banget Bun. Meskipun, emang agak nyebelin," jelasnya masih sambil mengulum senyum.
Bunda pun meganggukkan kepalanya menegerti, sambil tersenyum penuh arti pada anaknya itu.
"Ih kenapa sih bun natapnya gtu banget?" protes Tari.
"Nggak kok nggak! Eh itu jaket siapa?” tanya Bunda heran.
Tari pun tersenyum lebar, “Dikasih pinjem dia Bun.”
Bund apun ikut tersenyum lebar, “Em pantesan. Ya udah kamu mandi langsung tidur yah. Besok kan masih kerja!"
"Oke Bun!" Tari pun dengan cepat menuju kamarnya.
*****
Sedangkan di tempat lain kini Rama baru sampai rumahnya. Dia pun pelan pelan membuka pintu takut menganggu ibunya yang mungkin sudah tertidur. Tapi tiba-tiba lampu menyala membuat dia kaget.
"Dari mana Rama? " tanya wanita paruh baya yang sedang menyilangkan tangan di dadanya.
"Ibu belum tidur?" tanya Rama heran.
"Mana mungkin ibu bisa tidur, anak ibu tadi keluar rumah buru-buru gitu, tanpa ngasih penjelasan ke ibu," protesnya.
Rama pun memasang wajah menyesal, "Maaf Bu, tadi Rama buru-buru nganterin temen, kasian dia baru pulang kuliah. Jadi, “Rama tadi anterin dia dulu gitu."
"Oh pantesan, ya udah tuh nasi goreng yang tadi kamu beli masih ada di meja makan. Jangan lupa dimakan!"
Kenapa ibu ngak makan sekalian aja?"
Ibu pun berdecak, "Ya kali ibu makan 2 porsi, kan memang itu bagian kamu."
Rama pun tersenyum hambar, "Rama udah makan tadi di tempat hehe,"
"Ya udah, ibu kasih bi inah aja yah!"
"Boleh Bu. Ya udah Rama masuk kamar dulu yah Bu." Pamitnya.
"Iyah, selamat istirahat Nak."
Rama pun segera menghampiri ibunya yang sedang tersenyum, lalu mencium dahi wanita yang sangat dia cintai itu. Sang ibu pun tersenyum diperlakukan manis oleh putra semata wayangnya itu. Dia sangat bersyukur anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, meskipun dibesarkan oleh orangtua tunggal sedari bayi.
Rama Saputra, pria yang lahir di Bandung 26 tahun yang lalu. Dia anak tunggal dan hidup cuma berdua dengan sang ibu. Karena sang ayah yang sudah pergi entah kemana meninggalkan mereka sejak dia masih kecil. Maka dari itu dia sangat menjaga sekali ibunya.
Meskipun dibesarkan hanya oleh ibunya, tapi Rama tak merasa kekurangan kasih sayang sama sekali. Sang ibu membesarkannya dengan sangat baik dan penuh kasih. Sehingga kini dia tumbuh menjadi pria yang hangat, perhatian, humble, dan baik pada semua orang.
Rama pun selalu memperlakukan wanita sangat baik, hingga membuat para wanita terpikat akan perhatian dan perlakuannya. Bahkan banyak yang salah mengartikannya hingga membuat mereka terbawa perasaan. Tak jarang banyak wanita yang malah menyatakan perasaan duluan padanya, jelas ditolak halus oleh Rama. Ditambah pria ini mempunyai muka yang tampan, ditunjang juga dengan penampilan yang modis, sehingga mempunyai daya tarik yang lebih bagi wanita.
Namun, saat ini dia memang sedang jomblo. Terakhir dia pacaran setahun yang lalu. Sebenarnya bisa saja dia mendapatkan pacar baru dengan mudah. Namun, dia sedang belum ingin berkomitmen lagi. Jadi, dia sedang asyik menikmati kebebasannya ini. Karena jika pria ini sudah sangat menyukai seseorang maka dia akan terus mengejarnya sampai dapat.
Setelah mendengar sedikit cerita kehidupan Tari, entah mengapa dia menjadi sangat respect dengan gadis itu. Mungkin karena situasi mereka yang sama-sama hanya dibesarkan oleh sang ibu, membuat dia sangat mengerti bagaimana perasaannya.
*******
Pagi ini Tari masih asik menyantap sarapannya dengan sang bunda. Tiba-tiba terdengar bunyi bel rumahnya. Mereka pun saling bertatapan dengan tatapan heran.
"Siapa Bun yang datang pagi-pagi gini? Pelanggan Bunda?" tanya Tari kemudian.
Bunda menggelengkan kepalanya, "Nggak kok, pelanggan Bunda janjian ambil pesanannya nanti siang. Jadi, siapa yah?" lalu Bunda pun bangkit dari duduknya. "Bunda liat dulu deh."
Tari pun kembali asyik dengan makanannya. Sedangkan sang bunda pergi keluar rumah mengecek siapa tamu yang datang sepagi ini. Tak lama sang bunda datang kembali menghampirinya sambil senyum-senyum membuat Tari semakin keheranan.
"Siapa Bun? Girang banget?"
Sang Bunda malah makin lebar senyumnya.