Pukul 21.00 wib
Tari baru selesai mengikuti kelas malamnya, "Tar, lo mau balik bareng gue?" tawar teman sekelasnya bernama Anna.
"Ah nggak usah, lagian rumah kita beda arah. Kalau gue mah biasa pake ojek online aja!" terangnya.
"Yakin? Ya udah deh gue duluan yah Tar. Hati-hati, kalau udah sampai kabarin yah!"
Anna memang sangat perhatian padanya. Mereka selalu sekelas saat kuliah, bahkan dulu mereka satu tempat kerja. Maka tak aneh kan jika Anna sangat dekat dengannya. Tapi Tari memang tipe yang tak ingin merepotkan orang, maka dia selalu sungkan pada orang-orang yang ingin mengantarkannya pulang.
Gadis itu pun kini sedang di depan kampus, menunggu orderannya diterima driver ojek online. Namun, baru kali ini dia lama menunggu orderannya diterima. Keadaan di depan kampusnya yang biasanya ramai pun tampak sepi sekarang. Dia pun menjadi harap-harap cemas, takut tak mendapatkan ojek online untuk mengantarnya pulang.
Tari yang sedari tadi melihat ponselnya itu pun seketika terkejut, saat tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya bertuliskan Rama di layarnya. Ada apa seniornya itu menelepon malam begini? Dia pun kemudian mengangkatnya agar pertanyaannya tadi terjawab.
"Tar, lo lagi di mana?"
"Kenapa?" tanya Tari heran.
"Jawab dulu dong,” kekeuh Rama.
Tari pun menghela napasnya, "Depan kampus, mau pulang."
"Jangan nunduk dong, liat ke depan!"
Tari yang memang sedang menunduk itu pun terkejut mendengar ucapann seniornya itu, lalu dia pun menurut mengangkat wajahnya. Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat ada seorang pria yang memakai celana training dan hoodie, sedang melambaikan tangan di seberang jalan sana. Yah siapa lagi kalau bukan Rama.
"Ih ngapain?" tanya Tari keheranan.
"Jadi tukang parkir," jawabnya asal.
"Serius?" tanya Tari lagi.
Rama malah tertawa karena gadis itu menganggapnya serius. "Ya kali ah, beli nasi goreng." terangnya sambil menunjuk roda penjual nasi goreng yang ada di sebelahnya.
Tari pun baru sadar jika ada tukang nasi goreng di seberang kampusnya. “Ah pantas saja.”
"Lo mau pulang?" tanya Rama lagi.
"Iyah.”
"Udah dapet drivernya?" Rama pun mengedarkan pandangan ke sekitarnya yang sepi itu, lalu kembali melihat ke arah gadis yang berdiri di seberangnya lagi.
"Be-belum sih, lagi susah. Padahal biasanya cepet," keluhnya Ragu.
"Ya udah tunggu yah, gue bawa motor dulu!"
Tari pun dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Eh nggak usah, nggak usah Ram! Lagian rumahku deket kok."
"Udah deh, diem di situ aja oke!" Rama pun mematikan teleponnya. Lalu dia melambaikan tangannya memberi isyarat pada Tari agar tak kemana-mana.
Setelah itu Rama pun ke gerobak nasi goreng itu untuk mengambil pesanannya dan segera berjalan menuju rumahnya.
Tari pun menghela napasnya berat. Sebenarnya dia tak mau merepotkan pria itu lagi. Tapi orderan ojeknya sama sekali tak ada yang menanggapinya juga, membuatnya semakin bingung. Tak lama pria itu benar kembali dengan motornya. Lalu memberikan helm lagi padanya. Tapi Tari tak menerimanya malah menatap pria itu tak enak.
"Oh mau gue pakein yah? Oke!" ujarnya sambil bersiap turun dari motor.
Tari pun dengan sigap mendekati Rama dan mengambil helm itu, "Ah nggak usah, bisa sendiri kok!" gadis itu pun segera memaki helm-nya.
Rama pun mengulum senyumnya. “Oh iyah nih satu lagi pake jaket ini!” Pria itu mengulurkan jaket tebal berwarna abu.
“Nggak usah, aku kan udah pakai cardigan nih,” tolaknya.
Rama pun berdecak. “Lo pulang malem pake cardigan tipis gitu, pake motor lagi, masuk angin lah yang ada. Udah jangan banyak protes, pake!”
Tari pun malah menatap pria itu dengan sungkan lagi. Namun, dengan sigap Rama pun segera menyampirkan jaket itu ke tubuh Tari, dengan posisi dia masih di atas motor dan gadis itu memang berdiri sangat dekat dengannya, sehingga dia mudah untuk melakukan itu.
Tari pun membulatkan matanya ketika diperlakukan seperti itu. Dia tak menyangka seniornya itu akan berlaku seperti itu.
“Please, pake yah!” pintanya dengan wajah memohon.
Tari pun kemudian memakai jaket itu dengan benar. Lalu tersenyum pada pria yang sedari memperhatikannya itu.
“Kegedean yah? Biar deh yang penting hangat.” Rama menaik turunkan alisnya sambil tersenyum. "Ya udah, ayo naik!"
Tari pun kemudian naik dan duduk di jok belakang. Rama pun tersenyum diam-diam, sambil menghidupkan motornya.
"Oh yah rumah lo di mana?"
"Di komplek turangga," jawabnya.
"Apa?" tanya Rama lagi. Dia tak bisa mendengar suara Tari dengan jelas karena bising suara motor, serta posisinya memegang stang sehingga badannya condong ke depan, ditambah posisi jok belakang yang memang agak tinggi. Sehingga ketika orang di belakangnya berbicara tak akan terdengar jelas.
"Komplek turangga,” jawabnya lagi.
"Ngak jelas," kata Rama. Lalu pria itu pun menegakkan posisi badannya bersamaan dengan Tari yang mencondongkan tubuhnya ke depan, berniat mendekati pria itu agar terdengar. T
Tapi yang ada mereka malah terbentur satu sama lain.
"Aww, sakit Rama!" keluh Tari mengusap dagunya.
"Gue juga sakit kena helm lo lagi!" timpalnya juga, lalu mereka tertawa.
“Sorry!” sesal Tari mengusap punggung pria itu.
Rama pun mengulum senyumnya, lalu berdehem. "Di mana rumah lo?" tanyanya mematikan kembali mesin motornya, lalu menolehkan wajahnya kebelakang.
"Komplek turangga, Rama!" jelas Tari.
Rama pun terpaku melihat wajah tari dari dekat. Tergurat rasa lelah dari wajah gadis di hadapannya ini.
Tari yang sadar sedang di tatap pun segera mengalihkan wajahnya. "Ram, ayo!"
"Lo udah makan?" tanya Rama tiba-tiba.
“Udah,” jawabnya sambil memalingkan wajahnya.
Rama malah memicingkan matanya menyelidik mendengar jawaban itu. Kemudian terdengar suara perut seseorang. Rama pun menahan tawanya. "Makan dulu yuk! Kayaknya tadi suara perut gue deh."
Tari pun menatap kaget pria itu. Padahal jelas dia tahu suara perut itu miliknya. Karena memang dia belum makan, terakhir makan tadi siang. Tapi kenapa pria itu malah mengaku suara perut itu darinya?
Rama pun segera menghidupkan motornya dan melaju ke tempat nasi goreng yang di seberang kampus itu.
"Ayo turun! Kita makan nasgor di sini aja.”
"Bukannya lo tadi udah beli yah?" tanya Tari heran, lalu turun dari motor.
"Itu tadi buat nyokap gue, lah gue mah belum. Ya udah yuk!" ajak Rama mengajaknya duduk di meja yg sudah di sediakan penjual itu.
"Bang 2 yah!" pesan Rama.
Kini mereka berdua pun duduk bersebelahan. Tari duduk sambil meremas-remas tangannya sendiri. Entah mengapa dia tiba-tiba merasa sangat gugup.
Rama pun berdehem. "Lo semester berapa sekarang?" tanya Rama penasaran.
"Semester 4,” jawabnya sambil menoleh pada pria di sampingnya.
"Berarti lo udah 2 tahun kerja sambil kuliah gini?" tanyanya takjub.
Tari pun menganggukan kepalanya, "Iyah, kenapa?"
"Nggak gue salut aja. Capek loh kuliah sambil kerja itu. Kalau gue boleh tau kenapa lo nggak fokus kuliah aja dulu?" tanyanya hati-hati.
Tari pun tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Beneran mau denger alasannya?"
"Iyah lah mau," Rama semakin penasaran.
"Panjang loh," imbuhnya lagi.
"Nggak apa-apa aku pendengar setia kok!" Rama meyakinkan sambil tersenyum.
"Idih," Tari tertawa. Gadis itu pun menghela napasnya dalam. "Jadi, aku udah 6 tahun tinggal berdua aja sama bunda. Bundaku punya usaha toko kue dekat rumah, dari situ lah bunda membiayai sekolah dan keseharian kita berdua. Aku nggak mau nyusahin lagi bunda, maka dari itu aku pilih kuliah karyawan, agar bisa biayai sendiri dan ngak memberatkan bunda lagi. Di tambah kerja sambil kuliah itu banyak nilai plusnya juga kan."
Rama pun mendengar cerita itu dengan seksama, rasa kagum pada gadis itu pun semakin bertambah. "Kalau boleh tau ayahmu kemana?" pria itu tak bisa menahan rasa penasarannya.
Tari pun menghela napasnya dalam lagi, "Ayahku meninggal saat aku smp."
"Ah maaf aku nggak bermaksud," sesal Rama merasa bersalah menanyakan hal itu.
"Nggak apa-apa kok," ujar Tari sambil tersenyum.
Tapi Rama bisa melihat gurat kesedihan dari mata gadis itu. Mungkin dia tiba-tiba teringat ayahnya. Rasa bersalah pun semakin menyeruak dihati Rama.
"Udah yuk makan dulu," ajak Tari karena nasi gorengnya sudah siap di hadapan mereka.
Rama pun menganggukan kepalanya, lalu makan makanannya sambil sesekali melirik gadis di sampingnya itu. Hening gadis itu menyantap makanannya dalam diam. Namun, tiba-tiba terdengar suara bunyi ponsel.