Kini 4 orang yang itu pun sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Adit sedang berjalan menuju ruang fotocopy. Namun, saat sudah sampai dia tak berani langsung masuk karena melihat ada Tari di dalam sana. Dia pun sedang berpikir, ‘apa yang harus dikatakan padanya saat bertemu? Haii? Hallo? Atau panggil namanya saja? Atau dia harus bilang apa?’ tanyanya dalam hati.
Lalu pria itu pun menarik napasnya dalam, baru melangkahkan kakinya ke dalam. Namun, gadis itu masih belum sadar akan kedatangannya, lalu Adit pun menggunakan alat mesin fotocopy di sebelah Tari. Gadis itu pun menoleh ke arahnya.
"Eh haii!" sapa Tari sambil tersenyum.
"Haii juga," jawab Adit sambil mengoperasikan mesin fotocopy itu, sedangkan gadis itu terlihat sedang mengetuk-ngetukkan jarinya, seperti sedang berpikir.
"Ah iyah, Mas dibagian apa kerjanya?" tanya Tari akhirnya mendapatkan topik agar mereka bisa mengobrol.
Adit pun segera menengok ke belakang, siapa tau gadis ini bertanya pada oranag lain karena dia tadi panggil ‘Mas’ kan. Tapi nyatanyaa hanya mereka berdua di ruangan ini.
"Tanya saya?" Adit kemudian memastikan, sambil menunjuk dirinya sendiri.
Tari malah menahan tawanya, "Ya iyah lah siapa lagi coba?"
"Ya habis bilangnya Mas? Emang saya Mas tukang baso? Lagi pula, tadi kita udah sepakat untuk panggil nama," protesnya panjang lebar.
“Wah, ini kalimat terpanjang yang Mas bilang ke saya.” Tari menatapnya takjub.
Adit malah gugup mendengar dan ditatap seperti itu, lalu dia pun berdehem dan fokus melihat mesin fotocopy. "Aku bagian IT," jawabnya singkat.
"Ah IT," Tari mengulanginya, sambil berpikir mau bertanya apa lagi padanya.
Tak lama hasil fotopcopy-nya pun selesai, dia menghela napas lega karena tandanya dia bisa segera keluar dari sini. Jujur saja Entah mengapa setiap bertemu dengan pria ini selalu mengingatkannya ke kejadian memalukan saat di toko kue itu.
"Ah ya udah, aku duluan yah, bye!" pamit Tari, lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Adit menggeleng-gelengkan kepalanya heran, sepertinya gadis itu menghindarinya, apa karena dia masih malu kejadian waktu itu. Adit pun tersenyum saat mengingat kejadian saat itu.
*****
Jam makan siang pun tiba, kini Tari sudah dapat tempat duduk bersama Acha. Yah, tadi Acha datang ke ruangannya dan mengajaknya makan siang bareng. Sedangkan Rama dan Adit masih antri mengambil makanannya. Tapi tak lama mereka pun sudah duduk berempat kembali.
"Oh iyah kalau Kak Acha dibagian apa?" tanya Tari, lalu menyuap makanannya.
"Tari, ingat panggil nama aja ok!" Acha mengingatkan.
"Tapi kan nggak biasa," sanggahnya.
"Nanti juga terbiasa, jadi ayo coba ulang, ingat nama aja!" titah Acha kekeuh. Sedangkan Rama tersenyum puas karena Acha cerewet soal itu.
Tari pun mengangguk, "Kalau … Acha di bagian apa?" ucapnya terbata sambil menaikan alis.
"Nah gitu kan bisa," pujinya. "Aku marketing," lanjut Acha.
"Nah, kalau dia IT," jelas Rama sambil menunjuk Adit.
"Udah tau kok," timpal Tari santai.
"Kok tau?" Rama heran.
"Ya nanya dong, masa iyah ngarang," ketus Tari.
Rama pun memicingkan matanya menatap Tari kesal. “Oh,” timpalnya datar.
“Oh iyah Tar, kamu ikut kita yuk pulang kerja. Nongkrong bentar nikmatin senja!” ajak Acha.
“Pulang kerja hari ini?” tanya Tari memastikan.
“Ya iyah lah masa tahun depan,” timpal Rama.
Tari pun mendelik pada Rama, “Kalau hari ini maaf aku nggak bisa ikut,” sesalnya pada Acha.
“Kenapa? Kamu udah ada janji?” tanya Acha penasaran.
“Bukan, tapi aku harus kuliah hari ini.”
“Kuliah?” tanya Adit cepat, membuat semua orang menatapnya.
Karena sedari tadi pria itu diam saja mendengarkan, serta biasanya dia akan bicara saat ditanya. Namun, baru kali ini dia merespon secepat itu, sehingga Adit pun mendapatkan tatapan taneh dari kedua sahabatnya itu.
“Iyah kuliah, aku kan masih kuliah.”
Jawaban Tari membuat Adit lega karena semua perhatian kini tertuju pada gadis itu.
“Jadi, kuliah sambil kerja?” Acha memastikan.
“Iyah,” jawab Tari lagi. Semua orang di meja itu pun menatap takjub gadis itu. Karena menurut mereka kerja sambil kuliah itu jelas sangat berat.
“Semester berapa?” tanya Rama
“Semester 4,” jawab Tari lagi.
“Kampus mana?” Rama bertanya lagi.
“Universitas swasta yang di buah batu.”
Mendengar jawaban itu, Acha & Adit pun beralih menunjuk pada Rama, “Deket rumah lo itu kan?” tanya Acha memastikan. Rama pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
“Terus,” Rama pun tak bisa mengucapkan kalimat selanjutnya karena mulutnya ditutup oleh Acha.
“Lo mau nanya siapa dosennya? Atau nanya apa lagi? Daritadi lo nanya terus kaya wartawan aja,” cibir Acha, lalu melepaskan tangannya.
“Tapi lo penasaran juga kan Cha,” bisik Rama.
“Ya iyah, ya udah lanjut!” titah Acha, sedangkan Adit hanya geleng-geleng kepalanya melihat kedua orang itu.
“Lah emang rumah Pa ...”
“Rama, Tar,” sela mereka kompak ketika yakin Tari akan memanggil dengan embel-embel pak atau mas.
Tari pun takjub melihat kekompakan 3 orang yang baru dia kenal itu, lalu dia pun tertawa membuat mereka semua yang duduk di meja pun jadi ikut tertawa.
Setelah menghabiskan waktu makan siang mereka pun kembali pada kesibukan pekerjaan masing-masing.
******
Pukul 17.00 WIB
“Tar, pulang sama ojek online lagi?” tanya Rama sambil membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang.
“Iyah,” jawab Tari yang sama sibuk siap-siap pulang.
“Belum order kan?” tanyanya lagi.
“Belum.” Tari menjawab singkat.
“Bareng gue aja yah, gue anterin! Ke kampus kan?” Rama memastikan.
“Bukannya kalian mau pergi nongkrong yah?” tanya Tari heran.
“Nggak jadi kok, diundur besok, biar lo bisa ikut.”
“Serius?” tanyanya penasaran dengan mata berbinar.
Rama pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Tari pun tersenyum lega karena dia memang ingin ikut bareng mereka. Terlebih melihat senja, dia sangat suka melihat senja.
“Ya udah jadi mau yah pulang bareng gue?” tanya Rama lagi menatapnya penuh harap.
“Nggak usah repot-repot, aku biasa kok pakai ojek online,” tolak Tari lagi.
“Nggak repot lah, orang searah kok. Nih asal lo tau yah, rumah gue itu belakang kampus lo.” Rama tersenyum.
“Aslinya?” Tari meyakinkan lagi.
“Iyah Tari, perlu gue tunjukin KTP gue?” lontarnya gemas pada gadis yang terus tak percaya itu.
“Mana?” tantang Tari. Dengan sigap Rama pun memasukkan tangannya ke saku belakang celananya. “Eh nggak usah, serius amat!” Tari tertawa. Sedangkan Rama mendelik padanya.
Tari pun menimbang-nimbang keputusannya, dia sebenarnya tak enak jika diantar senironya itu, tapi dia pun tak enak terus menolak ajakannya. "Ya udah oke, tapi benerkan nggak repotin?" tanyanya memastikan kembali.
Rama malah tertawa mendengarnya, "nggak Tar, ya udah yuk!" ajaknya mengajak untuk turun bareng.
"Sebentar pacarnya nggak akan marah kan?" tanya Tari hati-hati.
Rama malah tertawa lagi, "Gue jomblo, puas!" desisnya sambil memutar bola matanya.
Tari pun menghela napasnya lega, lalu tertawa.
"Yang ada pacar lo kali yang marah?" goda Rama.
Tari pun segera menggelengkan kepalanya, "Tukang ojek paling yang marah karna pelanggan setianya ngilang hari ini," imbuhnya sambil tertawa.
Rama pun ikut tertawa dan bahagia tentunya karna ternyata gadis ini sama-sama jomblo.
"Ya udah yuk ah jalan!" ajaknya lagi, lalu Tari pun ikut mengekori di belakangnya.
"Acha sama Adit udah turun duluan?" tanyanya saat melewati ruangan mereka sudah tak ada.
"Iyah mereka buru-buru karena harus ambil motornya Acha di bengkel sebelum tutup," terang Rama, lalu mereka pun masuk dalam lift. Sepanjang jalan mereka diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Tar, tunggu di lobby aja! Gue ambil motor dulu ke parkiran."
"Oke!" jawabnya. Lalu Tari pun berjalan ke lobby depan, sedangkan Rama ke pintu samping menuju parkiran.
Tak lama Rama pun menghampiri Tari di depan loby, "Pake nih!" sambil memberikan helm berwarna hitam.
Tari pun menerimanya, "Selalu bawa helm 2 emang?" tanya Tari penasaran.
"Ya dong, siapa tau aja ada yang butuh tumpangan gitu kan. Jadi gampang!" Rama menyeringai sambil menaik turunkan alisnya.
"Oh kirain kerja sampingan ojek online," timpal Tari sambil menahan tawa.
"Kasian lah nanti driver lainnya kalah saing sama aku,” ujar Rama sambil mengangkat bahunya bangga, sambil tersenyum.
Tari malah tertawa mendengar kepedean pria itu.
"Udah cepet naik!" perintahnya. Gadis itu pun menurut, kini motor sport merah itu melaju membelah kemacetan di sore hari itu.
Kini sampailah mereka di depan kampusnya Tari.
"Makasih yah, udah anterin,” ujar Tari sambil tersenyum.
"Sama-sama Tar, santai aja. Lo ngak usah ngerasa nggak enak. Lagian kita kan memang se arah," jelasnya lagi karna melihat gadis itu seperti sangat sungkan padanya.
Tari pun menganggukan kepalanya mengerti. "Ok, ya udah aku masuk yah. Bye!" pamit Tari lalu berjalan masuk ke dalam kampusnya sambil sesekali menengok ke belakang melihat Rama yang mulai pergi meninggalkan tempatnya tadi.