Keesokan harinya, Tari tak bangun kesiangan lagi, jadi dia lebih santai. Kini dia pun sedang duduk sarapan bersama bundanya.
"Oh iyah Bun, hari ini aku pulang kerja langsung kuliah malam yah Bun," terang Tari sambil memakan satu sendok terakhir nasi goreng favoritnya.
"Iyah, jangan lupa makan dan hati-hati yah pas pulang malamnya," pesan sang bunda.
"Siap Bun, lagian kan udah biasa aku pulang malam,” timpal Tari, lalu minum.
"Yah tetep aja kamu tuh perempuan loh Tar,” kekeuh bunda mengingatkan.
"Iyah-iyah Bunda. Ya udah bun aku pamit yah. Ojek online nya udah sampe.” Tari pun bangkit dari duduknya, lalu menghampiri sang bunda. “Assalamualaikum," pamitnya.
"Waalaikum salam, hati-hati yah sayang!"
Tari pun segera mengecup punggung tangan bundanya. Setelah itu dia pun segera keluar rumah dan pergi ke kantor diantar ojek online-nya.
Kini Tari pun sudah sampai di depan gedung, saat melihat jam baru menunjukkan pukul 07.05 wib. Karena masih banyak waktu dia pun memutuskan untuk pergi ke coffee shop sebelah gedungnya itu. Kemudian dia pun memesan hot chocolate dan duduk di meja dekat jendela besar.
Tak lama pesanannya pun datang, kini gadis itu sedang membaca novel sambil ditemani segelas hot chocolate kesukaannya. Pagi yang sempurna, pikirnya. Saking asiknya bahkan dia tak peduli kegaduhan di meja belakangnya.
Tepat di belakang Tari, disitu ada Acha & Adit yang sedang adu argumen. Karena Acha terus menyuruh Adit untuk menghampiri Tari. Tentu saja Adit tak mau, hingga mereka akhirnya terus beradu argumen di pagi hari.
Hingga akhirnya datanglah Rama, “Kenapa sih pagi-pagi dah heboh?” tanyanya heran melihat kedua sahabatnya itu. Lalu dia pun duduk bersama mereka.
“Biasalah tuh si Adit nyebelin,” ketus Acha sambil menyilangkan tangannya di depan d**a.
“Lah kan lo juga tau gue itu gimana, nggak mungkin gue lakuin hal gitu,” sanggah Adit.
“Aduh, kalian itu saudara loh tapi berantem mulu,” cetus Rama. “Coba jelasin ke gue kenapa?”
Acha pun langsung menceritakannya. Rama malah tertawa mendengarnya.
“Ah jadi gitu, udahlah lo semua serahin ke gue!” Rama menyeringai.
“Alah kemarin aja lo ditolakkan pas ajakin dia pulang bareng. Rekor loh itu, pertama kalinya lo ditolak cewek,” sindir Adit lalu tertawa pelan sambil menepuk pundak Rama.
“Sial*n lo Dit,” keluh Rama kesal dan menatapnya tajam. “Tapi inget gue nggak akan nyerah dong!” bebernya lalu menyiringai.
“Ya lah kalau nyerah bukan Rama namanya,” timpal Acha lalu tersenyum sinis.
“Nih liat yah, gue akan samperin dia sekarang!”
Rama pun segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan dan duduk di hadapan Tari semeja dengannya. “Pagi!” sapanya.
Gadis itu pun mengangkat wajahnya dan seketika matanya membulat ketika melihat seniornya itu ada di hadapannya lagi.
“Pagi-pagi dah Serius amat,” sindir Rama sambil tersenyum.
“Eh selamat pagi, Pak!” sapa Tari sambil tersenyum.
Lantas Adit & Acha pun tertawa pelan mendengar sahabatnya itu dipanggil Pak. Sedangkan Rama segera menatap tajam sahabat-sahabatnya itu, membuat Tari penasaran lalu menoleh ke arah belakangnya dan menemukan 2 orang itu sedang asik meminum kopi sepertinya.
“Lo sendirian?” tanya Rama.
“Iyah,”
“Gabung sama temen-temen gue yuk!” ajak Rama, lalu dia pun memberi isyarat pada sahabat-sahabatnya itu agar pindah ke meja Tari.
Acha pun menurut dia segera bangkit dari duduknya. Tapi tidak dengan Adit pria itu malah masih duduk anteng di tempatnya.
“Dit, ayo!” desis Acha.
“No!” tolak Adit.
Acha pun menatap tajam saudaranya itu, “Lo udah janji yah, ayo! Apa perlu gue tarik lo!” ancam Acha.
Adit pun mendecak pelan, dia pun segera bangkit karena tidak mau jika sampai diseret oleh Acha. Lalu mereka berdua pun berjalan ke meja sebelah. Acha dengan segera duduk di sebelah Rama. Sedangkan Adit masih berdiri, dia tak mau duduk bersebelahan dengan Tari.
“Dit duduk dong!” bisik Rama yang bisa didengar Tari juga.
Adit pun memberi isyarat lewat matanya, agar Rama menyuruh Acha pindah agar dia bisa duduk di sebelah Rama. Sedangkan Acha kekeh tak mau. Sementara itu Tari hanya menatap bingung ketiga orang di hadapannya itu.
Rama pun akhirnya mengalah, dia segera bangkit dari duduknya dan pindah ke kursi sebelah Tari, kemudian Adit pun duduk di sebelah Acha.
“Sorry yah Tar, dia memang agak aneh,” ungkap Rama yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Adit, tapi dia pun malah tertawa.
Sementara itu Tari masih menatap bingung orang-orang itu, sepertinya mereka pernah bertemu tapi di mana. Tiba-tiba dia pun menjentikkan jarinya ketika mengingat mereka bertemu di lift kemarin. Kini giliran 3 orang itu yang menatap bingung Tari. Alhasil Tari pun tersenyum kikuk ditatap seperti itu.
“Ok, Tari kenalkan ini sahabat-sahabatku.” Rama pun memberi isyarat pada mereka agar memperkenalkan diri.
“Hai, namaku Acha.” Sambil mengulurkan tangannya.
Tari pun dengan sigap menjabat tangan itu, “Tari, salam kenal Kak!” sapanya, lalu 2 wanita itu pun tersenyum.
Tari memperhatikan wanita yang memiliki rambut panjang tanpa poni itu terlihat sangat dewasa, serta senyuman lebar itu dengan seksama. Sepertinya dia baik tak akan menyebalkan seperti Rama, pikirnya.
“Dit, ayo!” bisik Rama agar pria itu segera bicara.
Adit pun menghela napasnya berat, jujur saja dia tak bisa cepat membaur dengan orang baru. Tapi dia pun akan berusaha santai sebisanya.
"Hai, namaku Adit." Sapanya datar sambil melambaikan tangannya sebentar lalu diturunkan kembali.
Tari pun mengamati dengan seksama, pria yang memiliki mata sipit di hadapannya ini. Kemudian dia ingat pernah bertemu dengannya di toko bundanya. Iyah itu adalah pria yang melihatnya sedang joget itu kan. Seketika dia pun malu mengingat kejadian itu, apa pria itu masih mengingatnya?
"Haii, Tari!" sapa Tari juga sambil tersenyum kikuk.
Adit pun menyeringai karena sepertinya gadis itu mengingatnya, maka dari itu ekspresinya berubah seperti itu. Sedangkan Rama memerhatikan ke dua orang itu dengan seksama. Dia pun berpikir kalau 2 orang ini pernah bertemu sebelumnya dan terjadi sesuatu yang tidak dia ketahui.
Hening sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ah jadi ini semua teman-temannya Pak Rama?" Tari bertanya, agar tak ada pertanyaan lain padanya. Karena tadi dia melihat Rama sedang menatap Tari & Adit dengan tajam seperti sedang menyelidiki.
Lantas 2 orang di hadapannya pun menahan tawa mendengar kata Pak lagi, sementara Rama melotot pada mereka.
"Tari, terus kalau ke Adit, kamu panggil dia apa?" tanya Rama.
Tari pun kebingungan ditanya seperti itu, lalu dia pun melirik pada Adit. Pria itu pun segera meminum kopinya agar tak terlihat gugup ditatap oleh Tari.
"Kalian sepertinya seumuran, jelas saya panggil Pak juga," terang Tari.
Adit pun tersedak mendengarnya, sedangkan Rama & Acha tertawa puas.
"Tar, kita bertiga memang seumuran. Tapi kenapa ke Acha lo malah bilang Kak?" protes Rama tak terima.
"Ya jelas karena kita sesama wanita, tahu betul gimana rasanya dipanggil Ibu saat belum waktunya," imbuh Tari.
Acha pun segera mengajak Tari tos, "Jawaban yang bagus Tar," pujinya lalu kedua wanita itu tersenyum puas.
Sedangkan 2 pria itu menatap kesal mereka, "Nah kita juga sama, wanita dan pria pun punya pemikiran yang sama soal itu. Jadi, please Tar, panggil kita nama aja yah!" bujuk Rama memohon.
"Sebentar, Tar kamu umur berapa sih?" tanya Acha penasaran.
"20 tahun," jawabnya cepat.
"Hah asli?” tanya Rama tak percaya.
Tari pun menanggukan kepalanya, "Mau lihat KTP aku?" tawarnya sambil mencoba mencari dompetnya.
"Nggak usah Tar, kita percaya kok."
"Tuh kan, kita cuma beda umur 6 tahun loh Tar. Jadi, tolong lo panggil kita nama aja yah!" Acha ikut membujuk. Yah, jelas dia ingin dipanggil nama saja, agar perbedaan umur diantara mereka tak kentara.
"Tapi kan nggak sopan Kak," kekeuh Tari.
"Nggak apa-apa, nggak usah sopan ke kita mah," timpal Rama.
"Tapi kan kalian senior aku loh, masa iyah aku panggil nama aja," balas Tari lagi.
"Nggak masalah Tar, kalau sama kita. Udah pokoknya kamu harus biasakan panggil kita nama yah!” tandas Rama.
“Eh eh, udah jam 07.50 ayo kita bisa telat!” seru Adit langsung meneguk habis minumannya.
Acha, Rama, & Tari pun sama. Mereka langsung sigap keluar coffee shop, dan berlari menuju gedung tempat mereka bekerja.