Tiba-tiba pria itu malah menghampiri Tari dan berdiri di sebelahnya. “Tar?”
"Yah, kenapa Pak?" tanyanya heran sambil menatap Rama.
Rama pun malah mendengus mendengar dipanggil Pak lagi, "Boleh aku minta tolong?"
"yah tolong apa Pak?” Tari balik bertanya.
"Saya lupa di mana ponselku, jadi boleh pinjam ponsel kamu untuk menelepon?"
Tari pun menghela napasnya lega, toh Cuma masalah itu kirain dia ada yang salah tentang pekerjaannya. Dia pun segera memberikan ponselnya itu, "Nih Pak!"
Rama pun tersenyum lebar dan segera mengambilnya. Dia segera menekan nomer teleponnya itu. Lalu terdengar deringan ponselnya, pria itu pun segera pindah menuju meja kerjanya dan mencari asal suara itu. Tari pun terus menatap ke arah Rama penasaran.
"Nah, akhirnya ini dia!” serunya sambil memperlihatkan kalau ponselnya sudah ketemu. Lalu dengan segera Rama pun mengembalikan ponsel milik Tari.
"Udah ketemu, ternyata di tumpukan kertas itu, makasih yah Tar!" ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Ya sama-sama!" jawabnya lalu kembali menatap layar komputernya lagi.
Ram segera duduk kembali di kursinya, lalu dia pun tersenyum lebar mengingat misinya berhasil. Yah, jadi tadi itu dia hanya modus saja, agar bisa mendapatkan nomor Tari. Karena tahu sendiri tadi saat dimintai nomor gadis itu tak memberi. Jadi, terpaksa dia pun harus bermodus sedikit. Rama pun segera menyimpan kontak Tari itu. Lalu dia pun tertawa kecil mengingat kelakuannya sendiri.
Tiba-tiba ponsel Tari bergetar, dia pun segera mengeceknya, dan ada pesan baru masuk. Tari pun segera membukanya karena siapa tau penting. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika membuka isi pesan itu.
Gimana udah selesai pekerjaannya?
Dia yakin siapa lagi yang akan bertanya seperti ini kalau bukan seniornya. Tari pun segera melihat pada orang yang sedang duduk di hadapannya itu. Pria itu malah sedang melambaikan tangan padanya sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum penuh kemenangan.
Tari pun melongo melihatnya, 'jadi tadi itu ternyata modus seniornya untuk mendapatkan nomor? Kenapa dia bisa sebodoh itu terperangkap dalam modus seniornya?' gerutunya dalam hati. Lalu dia pun melanjutkan kembali pekerjaannya. Sementara Rama tersenyum puas melihat gadis itu kesal.
Tak terasa waktu pun berjalan dengan cepat, kini sudah pukul 5 sore tapi gadis itu masih asik menatap komputernya.
"Heii, udah waktunya pulang. Ayo kamu mau nginep di sini?" tegur Rama yang sedang merapikan meja kerjanya.
Tari pun baru tersadar ternyata sudah pukul 5. "Tapi kerjaanku yang tadi belum beres loh."
"Udah besok lagi aja, lagian itu bukan laporan urgent kok. Masa kamu hari pertama kerja langsung lembur," terang Rama.
Tari pun setuju dengan ucapan seniornya itu, "Ya udah oke!" dia pun segera membereskan meja kerjanya, bersiap untuk pulang.
"Pulang sama siapa?" tanya Rama yang kini berdiri di sebelah mejanya Tari.
"Emm, udah ada yang jemput kok," jawabnya sambil berpikir.
"Siapa?" tanya Rama antusias.
"Em itu, yah pokoknya udah ada yang jemput, ih kok kepo sih!" gerutunya sebal.
"Kepo?" Rama lalu tertawa. "Ya udah jawab dong sama siapa?"
"Ojek online," ketus Tari
Rama pun mengulum senyumnya, "Ah gitu ya udah. Bye!" pria itu pun pergi meninggalkan Tari.
Gadis itu pun menghela napasnya lega. Dia masih tak mengerti kenapa seniornya itu sangat kepo padanya. Lalu Tari pun segera turun sambil memesan ojek online-nya. Namun, masih belum juga dia dapat, mungkin karena jam pulang kantor jadi banyak yang memesan ojek online.
Kini Tari pun sedang berdiri di depan gedung perusahaannya, suasananya cukup ramai, tentunya mereka juga sedang menunggu jemputan. Tari masih terus mencoba memesan ojek online-nya, tiba-tiba ada sebuah motor sport berwarna merah berhenti di depannya. Siapa, padahal dia belum mendapatkan driver, tapi kenapa ada yang berhenti di dekatnya? tanyanya dalam hati. Lalu orang yang memakai helm itu membuka kacanya.
“Masih belum dapet?” tanya pria itu.
Sedangkan Tari tertawa kecil, kenapa lagi-lagi seniornya itu berada di hadapannya.
“Ayo, bareng aku aja!” ajaknya Rama, sambil membuka helm-nya agar bisa mendengar dengan jelas.
Mata Tari pun melebar mendengarnya, “Ah tidak usah, sebentar lagi juga dapet kok ojek online-nya.” Dia pun mengecek kembali ponselnya.
“Yakin? Pasti lama loh karena ini jam pulang kantor,” bujuk pria itu lagi.
Tari pun semakin cemas takut tak mendapatkan ojek, dia pun melirik ponsel dan seniornya yang sedang duduk di atas motor itu bergantian. Jujur saja dia tak mau di antar dengan seniornya itu karena yah tak enak saja.
“Ah akhirnya,” bisik Tari menghela napas lega.
“Kenapa?” tanya Rama penasaran.
“Aku dapat driver!” serunya sambil tersenyum lebar.
Rama pun mendecak pelan, “Oh gitu, ya udah kalau gitu aku duluan. Bye!” pamitnya sambil memakai kembali helm-nya.
“Ok, hati-hati Pak!” seru Tari.
Rama pun hanya tersenyum sinis, entah sudah berapa kali dia dipanggil Pak terus oleh gadis itu. Lalu dia pun melajukan motornya pergi meninggalkan gadis itu.
Sedangkan Tari menghela napas lega kembali. Kemudian tak lama driver ojeknya pun datang, dia pun segera naik dan pergi menuju rumahnya.
Sementara itu, di tempat lain Acha & Adit dari tadi memperhatikan Rama & Tari dari tempat parkir. “Baru kali ini ajakan pulang bareng si Rama ditolak cewek,” cetus Adit.
Acha pun tertawa, “Baguslah kalau gitu Dit, yuk ah pulang!” ajak Acha.
“Cha kenapa sih lo nggak bawa motor sendiri?” tanya Adit sambil memakai helm-nya.
“Kenapa? Lo juga mau kayak si Rama, ngajakin cewek-cewek pulang bareng gitu?” sewot Acha.
“Idih yah nggak mungkin lah Cha. Ya kan gue Cuma nanya doang kali.”
“Motor gue di bengkel, tadi aja gue pergi naik ojek online. Lagian kan rumah kita Cuma beda blok aja Dit,” oceh Acha.
“Oke gue ngerti, ya udah ayo-ayo naik!” ajak Adit yang sudah siap di atas motornya. Lalu Acha pun segera naik dan mereka pun meninggalkan parkiran itu.
Jalanan sore itu sangat ramai tentunya karena jam pulang kantor. Saat di lampu merah, tiba-tiba ada yang berhenti di sebelah motor yang dinaiki Tari. Dia pun memperhatikan motor sport itu dengan seksama, sepertinya itu. Dugaannya pun segera terjawab ketika pria itu menoleh ke samping dan membuka helm-nya,
"Kok?" tanya Tari heran.
"Lah kenapa? Ini kan jalan umum. Emang aku nggak boleh jalan sini juga?" Rama lalu tertawa.
"Sengaja ngikutin yah?" tuduh gadis itu.
Rama malah semakin tertawa mendengarnya, lalu dia pun segera gas motornya karena sudah lampu hijau. Sedangkan Tari merasa kesal karena seniornya itu tak menjawab pertanyaannya. Lalu motor yang dinaikinya pun ikut melaju kembali mengantarkannya ke tempat tujuannya, yaitu toko kue bundanya.
Sampai di sana Tari pun segera masuk ke dalam, "Assalamualaikum Bunda."
"Waalaikum salam, eh anak bunda udah pulang," jawab sang bunda sambil tersenyum lebar melihat anaknya. "Eh kamu nggak kuliah?" tanyanya heran
"Ih bunda mulai pikun deh, aku kan cuma kuliah hari senin, rabu, dan jumat aja. Sedangkan hari ini kan hari selasa," terang Tari.
"Ah iyah benar bunda lupa. Lah terus kenapa kamu ke sini, bukannya pulang ke rumah?"
"Aku kan pengen makan kue kesukaan aku dulu ih Bun," jawab putrinya.
"Lah bunda kira kamu mau bantuin bunda, terus pulang bareng deh,” keluh Bunda.
"Oke bisa di atur Bun," ujar Tari.
"Uh putri bunda yang baik," gemasnya sambil mengelus rambut sang anak. "Eh gimana kesan hari pertama kerja kamu? Lancar kan?"
"Alhamdulillah lancar Bun, kantornya keren abis Bun. Kayaknya aku bakal betah deh kerja di sana."
"Oh iyah? Syukurlah kalau gitu. Terus gimana udah ketemu cowok cakep nggak?"
"Idih Bunda mah, bukan cakep tapi malah ketemu terus cowok aneh bun ah, mana dia senior aku pula, satu tim lagi, duduknya berhadapan lagi. Beuh ampun deh Bun!" celoteh Tari sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eits, inget awas kamu nggak boleh terlalu benci sama seseorang, nanti malah berbalik loh!" petuah sang bunda.
"Iyah Bun, aku ngerti cuma yah aku aneh aja gitu, harus dia lagi-dia lagi terus," keluhnya lagi.
"Ya udah sabar aja, lagian kan kamu belum kenal betul sama dia toh baru 1 hari kan, siapa tau sebenarnya dia asik diajak berteman."
"Iyah Bun, ya udah ah aku mah makan kue kesukaan aku dulu biar mood aku happy terus.”
Tari pun berjalan menyusuri etalase mencari kue coklat kesukaannya. Yah dia sangat suka makanan manis terutama cake dan cokelat. Dia pun kini sedang menyantap cake coklatnya sambil membaca novel.
Hobi gadis ini memang membaca novel, dia punya puluhan koleksi novel yang dia susun rapih di kamarnya. Bahkan, kemana pun dia pergi pasti membawa satu novel dalam tasnya, yang akan dia baca jika ada waktu senggang.