"Oke, Tari ini dia partner kamu Rama."
Tari pun segera menoleh pada pria di sampingnya, benar pria itu sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Rama, selamat kamu sudah punya partner sekarang, setelah sekian lama kamu bekerja sendiri ya kan. Jadi, bimbing dia dengan benar yah!" tutur atasannya itu.
"Terima kasih banyak Bu, siap laksanakan!" Rama tampak semangat.
Yah tentu saja, pria itu sangat semangat. Karena memang selama ini dia bekerja sendiri, sebab jumlah orang dalam divisinya ganjil. Maka dari itu dia sangat senang ketika mendapatkan partner, terlebih seorang wanita pula.
Sedangkan Tari menghela napasnya pelan. ‘Kenapa harus dia lagi dia lagi sih?’ tanyanya dalam hati.
"Ya sudah kembali ke tempat masing-masing dan selamat bekerja!" pesan atasan mereka.
"Siap Bu!" Rama pun meninggalkan meja atasannya itu, begitupun dengan Tari. Namun, kemudian pria itu malah berdiri di samping kursi Tari.
‘Mau apa lagi sih? Jangan-jangan dia mau jawaban yang tadi di lift lagi?’ gerutunya dalam hati.
"Kenapa ekspresi mukamu gitu?" tanya Rama saat Tari sudah di hadapannya.
Alis gadis itu pun semakin berkerut mendengar pertanyaan itu, ‘memangnya ada apa dengan ekspresi mukanya? Perasaan dia biasa saja,’ batinnya menjawab. Sedangkan Rama malah mengulum senyum melihat gadis itu yang semakin kebingungan.
"Ah iyah, sebelumnya kamu udah pernah bekerja?" tanya Rama serius.
"Ya sudah," jawab Tari.
"Bagian apa?" tanyanya lagi.
"Accounting."
"Bagus kalau gitu, pada dasarnya kamu sudah tahu kan tentang pekerjaan ini. Jadi, sebagai awal coba kamu kerjakan laporan yang nanti saya kirim ke email kamu yah!" papar Rama.
"Baik, Pak!" jawab Tari sigap.
Sedangkan Rama langsung membulatkan matanya saat mendengar dia dipanggil Pak lagi. Lalu pria itu pun berjalan sambil menggerutu menuju meja kerjanya yang persis berhadapan dengan Tari.
Gadis itu pun mengulum senyumnya, ketika mengingat ekspresi seniornya itu saat dipanggil Pak tadi, lalu dia pun segera duduk di kursinya, dan mulai membuka laptopnya.
Saat Tari sedang fokus melihat layar komputer, manik matanya melihat seseorang menempelkan memo post it di pembatas mejanya itu, dia pun segera melihat pada pria yang berada dihadapannya itu. Kemudian seniornya itu memberi isyarat padanya untuk membaca memo itu. lalu Tari pun mengalihkan pandangannya dan mengambil kertas kecil itu.
Haii, minta alamat email kamu!"
Tari pun segera mengambil kertas memo baru yang sudah tersedia di mejanya, lalu menuliskan alamat emailnya, kemudian dia pun menempelkan juga di pembatas meja pria itu. Rama pun dengan sigap mengambilnya, lalu dia pun membalas memo itu lagi. Tari pun segera membacanya.
Sekalian nomer telepon!
Alis gadis itu pun langsung berkerut saat membacanya, lalu dia pun segera melihat pria yang sedang menatapnya penuh harap sambil tersenyum. Tapi gadis itu pun malah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, membuat Rama menghela napas berat karena keinginannya tak tercapai. Sedangkan Tari kini kembali fokus mengerjakan tugas yang diberi seniornya itu.
Tak terasa jam pun sudah menunjukkan pukul 12.00 saatnya jam istirahat. Tari pun meregangkan tubuhnya sedikit sambil masih terduduk di kursinya.
"Heii, ayo makan siang!" ajak Rama.
"Aku?" tanya Tari sambil celingak-celinguk melihat sekitarnya, yah siapa tau Rama mengajak ornag lain bukan dirinya.
Pria itu pun malah tertawa melihatnya, "Ya iyalah kamu, siapa lagi coba?"
"Ah, maaf aku nggak bisa udah janjian sama orang lain,” sesal Tari.
"Masa?" tanya Rama tak percaya.
"Iyah serius," jawabnya meyakinkan.
Tak lama teman seperjuangannya sebagai karyawan baru pun datang menghampirinya. "Nah itu dia!" serunya. Lalu Tari pun segera menghampiri Dava dan berjalan bersamanya.
Sedangkan Rama menatap punggung gadis itu yang sedang berjalan terus menjauh dari pandangannya. Dia tak sangka gadis itu sudah punya teman secepat itu.
****
Perusahaan ini menyediakan kantin dengan sistem buffet yang berada di lantai 9 dan juga ada rooftop, sebagai tempat nonkrong untuk para karyawannya, agar bisa menghirup udara yang segar di atas sana. Kini suasana kantin pun sangat ramai oleh para karyawan, sampai-sampai Tari pun agak kesusahan mencari meja yang kosong bersama Dava. Untung saja dia bersamanya kalau tidak dia pasti akan kebingungan sendiri.
"Ayo Tar, kita kesana!" Tari pun mengekori teman barunya itu sambil membawa nampan berisi makanannya. Akhirnya mereka pun mendapatkan meja kosong dan kini duduk berhadapan.
"Huh, perlu perjuangan juga yah, cari tempat duduk. Untung aja ada kamu Dav, jadi aku nggak kebingungan sendiri deh." Tari berterus terang.
Pria itu pun tersenyum lebar, "Yah untung aja kita barengan masuknya yah Tar. Ya udah yuk makan!"
Mereka pun menyantap makan siangnya sambil mengobrol santai.
Sedangkan di meja lain, kini 3 orang sahabat itu sedang berdiskusi serius membahas siapa yang akan diajak oleh mereka untuk ikut ke tempat rekreasi indoor dan dinner weekend nanti.
Yah, terlihat konyol memang karena pada dasarnya kita bebas bisa berteman dengan siapa saja. Namun, yah tidak dengan Adit. Dia memang tipe yang introvert sehingga dia suka tak nyaman jika ada orang baru ikut dengan mereka. Tapi karena ada kesepakatan yang tadi pagi itu, maka mereka pun harus segera menemukannya dan siapa tau memang orang baru itu cocok dan nyaman menjadi teman mereka.
"Eh Ram, jadi cewek yang kita temui di lift itu karyawan baru di divisi lo?" tanya Acha penasaran. Sebab dia tadi sempat melihat gadis itu di ruangannya Rama.
Rama pun menganggukkan kepalanya semangat, "Yaps betul dan dia jadi partner kerja gue. Jadi, sekarang gue nggak akan cape kerja sendiri lagi." Pria itu pun tersenyum lebar.
"Baguslah kalau gitu, jadi lo nggak akan nyusahin gue lagi," celetuk Adit.
Jadi memang selama ini Rama terkadang meminta bantuan Adit mengerjakan pekerjaannya, padahal jelas mereka beda divisi. Tapi untungnya Adit mengerti sedikit tentang accounting.
"Jadi, kita fix ajakin dia aja yah gabung ikut kita, gimana?" tanya Rama memastikan.
"Lo serius?" Acha masih berharap ingin mencari yang lain.
"Ya lah, lagian dia keliatannya seru juga loh. Nggak yang kaku kayak itu tuh," cetus Rama sambil memberi isyarat menunjuk Adit dengan matanya.
"Sialan lo," gerutu Adit kesal disindir.
Acha pun terlihat masih menimbang-nimbang keputusannya.
"Ah Cha, kok lo ingkar janji sih. Padahalkan kita udah setuju tadi pagi kaya gitu, kok lo sekarang malah gini sih? Nggak asik lo,” cetus Rama.
"Iyah, iyah ya udah gue setuju. Puas!" Acha terlihat kesal.
"Nah gitu dong, sahabat gue yang cantik!" godanya sambil mencubit pipi tembam Acha.
Wanita itu pun langsung meringis kesakitan, "Sakit Rama ih!" kesalnya membalas cubitan itu.
"Ya udah pokoknya lo atur aja lah, lagian dia juga junior lo ya kan, jadi lebih gampang," terang Adit.
"Tenang aja, besok juga kita bakal makan siang dengan dia. Lihat aja!" tekadnya sambil menatap pada Tari yang berjarak 3 meja dari meja mereka.
"Eh eh yang mana sih?" tanya Acha penasaran.
"Itu loh 3 meja dari kita yang lagi duduk berdua sama cowok." tunjuk Rama.
"Wow hebat juga dia, dihari pertama langsung bisa dekat dengan cowok," puji Acha.
"Yah mungkin karena dia sama-sama anak baru," timpal Adit.
"Kok lo terus liatin dia gitu sih?" tanya Acha penasaran. Karena sedari tadi mengobrol pria itu terus menatap ke arah gadis itu.
"Biasalah Cha, kan memang gitu dia mah suka penasaran sama anak baru," sela Adit.
Acha pun menyadari itu. Namun, entah mengapa dia merasa beda saja melihat Rama.
Adit pun segera mencolek Rama agar melihat ekspresi Acha yang tak biasa itu.
"Kenapa Cha? Lo juga mau gue liatin? Oke!" Rama pun kini beralih menatap sahabatnya yang sedang merajuk itu.
"Ih apaan sih lo ah," elaknya lalu menutup mata Rama agar tak menatapnya lagi. Lalu mereka pun tertawa bersama.
Jam istirahat pun selesai, kini mereka sudah kembali ke meja kerjanya masing-masing.
"Gimana udah beres pekerjaan kamu?" tanya Rama yang kini berdiri di samping meja Tari.
"Ah ya sudah, seperti ini kan?" tanya Tari menggeserkan layar komputernya agar terlihat Rama.
Pria itu pun mencondongkan badannya, agar bisa melihat dengan jelas layar komputer itu. Sedangkan Tari terkejut karena kini posisi mereka sangat dekat, dengan refleks dia pun menggeser kursi yang didudukinya agar berjarak.
Rama pun dengan serius memeriksa pekerjaan junior barunya itu. "Oke, bagus rapi dan benar,” pujinya sambil tersenyum puas.
Tari pun menghela napasnya lega karena pekerjaannya selesai dengan baik.
"Ya udah nanti saya kirim lagi apa yang harus kamu kerjain yah."
"Baik Pak!"
"Sttt ... Rama," koreksinya dengan penekanan, lalu kembali duduk ke kursinya.
Sedangkan Tari mengulum senyumnya melihat ekspresi pria itu saat di bilang Pak. Lalu dia pun mulai fokus kenbali ke layar komputernya. Namun, tiba-tiba Rama memanggilnya dari tempat duduknya itu.
"Tar, Tar!"
"Apa?" bisik Tari heran.