Adit masih terpaku ditempatnya, dia masih kaget melihat orang yang masuk dalam lift itu ternyata adalah gadis yang di toko kue itu. Lagi-lagi dia bertemu dengannya, tapi mengapa? Tanyanya dalam hati. Sedangkan Rama segera menyeringai melihat gadis muda yang sedang terengah-engah itu, dengan sigap Rama pun segera mendekatinya.
“Mau kah kamu menjadi pacarku?”
Gadis muda itu pun terperangah mendengar ucapan pria yang baru ditemuinya itu. Tari pun bergilir melihat 2 orang dewasa lainnya yang sedang berdiri dengan ekspresi kaget sama dengannya.
Tiba-tiba Rama mendapatkan pukulan dipundaknya, membuat dia meringis kesakitan sambil mendelik pada Acha. “Yang serius dong Ram, kok lo malah buat anak orang shock gitu sih!” bisik Acha, Rama malah mengulum senyum mendengarnya.
Yah, diantara mereka bertiga, Rama memang tipe orang yang sangat iseng, apalagi jika pada seorang wanita. Meskipun begitu, pria itu memang terkenal sangat humble pada semua orang.
Tari pun masih bingung dengan keadaan di lift itu, tak lama terdengar suara dentingan lift dan pintu pun terbuka. Gadis itu pun segera bergegas keluar dari lift karena tujuannya saat ini memang di lantai 5. Tari pun menghela napasnya lega ketika sudah terbebas dari situasi yang membingungkan tadi itu. Lalu dia pun mengedarkan pandangannya mencari ruangan HRD.
*****
Sedangkan 3 orang sahabat yang masih berada di dalam lift pun terperangah melihat gadis itu kabur begitu saja, seperti ketakutan.
“Parah gara-gara lo sih Ram,” cibir Acha. “Yang jelas bukan gadis remaja itu kan?”
“Kenapa emangnya?” Rama malah balik bertanya.
“Umur Ram, jarak umur kita sama dia terlalu kentara,” terang Acha sambil melirik meminta bantuan pada Adit agar mendukung pendapatnya itu juga. Namun, pria itu hanya mengangkat bahunya saja tanda tak ingin berkomentar apa-apa.
Rama malah tertawa melihat kedua sahabatnya itu, “Ya terus? Gue sih merasa nggak masalah yah. Lagian kan tadi kita udah sepakat, siapa yang naik lift bareng kita itu orangnya.”
“Tapi kan Ram,” protes Acha . Karena menurutnya gadis itu terlalu muda untuk bergabung dengan mereka. Pintu lift pun terbuka ke lantai 7.
Rama pun hanya senyum-senyum sambil mengangkat bahunya dan berjalan keluar lift yang diikuti Adit juga Acha.
“Ram!” seru Acha memohon sambil mencolek-colek bahu sahabatnya itu.
“Kita bahas lagi nanti. Ayo kita cari uang dulu, untuk bekal senang-senang nanti!” seru Rama lalu pergi ke meja kerjanya.
Acha pun mengerucutkan bibirnya kesal, lalu Adit menepuk pundaknya dan pergi menuju meja kerjanya juga. Wanita yang sedang badmood itu pun menyeret kakinya menuju meja kerjanya juga.
***
Tari masih berada dalam ruangan HRD, dia sedang menunggu id card nya. Kini dia sedang duduk di kursi tunggu.
“Hai, karyawan baru juga?” tanya seorang pria yang baru duduk disampingnya itu.
“Iyah, kamu juga?” tanya Tari senang.
“Iyah, kenalin aku Dava.” Pria itu mengulurkan tangannya.
“Tari, salam kenal.” Mereka pun saling berjabat sambil tersenyum.
Yah, Tari sangat senang ketika tahu ada orang yang menjadi karyawan baru dengannya, karena tandanya dia sudah punya teman seperjuangan sebagai karyawan baru bukan, ditambah sepertinya pria itu seumuran dengannya.
“Em kamu di divisi apa?” tanya Dava sambil terus melihat ke arah Tari.
“Accounting, kamu?”
“Aku IT. Oh iyah, nanti kita makan siang bareng yah! Nanti aku ke ruanganmu.”
“Ah boleh,” jawab Tari sambil tersenyum lega, tandanya dia tidak akan kesepian makan siang di hari pertamanya kerja. Pria itu pun sama tersenyum lega mendengarnya. Kemudiann Ibu Hani bagian HRD menghamipiri mereka sambil memberikan id card yang sudah diberi gantungan lehernya.
"Ini id card kalian."
Dengan sigap mereka pun menerimanya dan memakainya,
“Ayo, kalian saya ajak keliling dulu, sambil diantar ke meja kerja kalian!” terang Ibu HRD. Lalu 2 orang itu pun segera mengikuti Ibu Hani yang jalan didepannya.
Suasana di lantai 7 gedung ini, sangat ramai tentunya oleh para karyawan yang sedang bekerja di depan komputer, ataupun sedang berjalan-jalan sambil membawa berkas-berkas. Konsep kantor ini modern, ditambah penggunaan kaca sebagai pemisah antar ruang divisi pun membuat kesan ruangan ini menjadi sangat luas dan terbuka.
Tari dan Dava pun berkeliling di lantai 7 itu. Mereka diajak ke beberapa tempat seperti, pantry, ruang khusus fotocopy, dan bahkan ternyata perusahaan ini menyediakan ruangan tidur untuk para karyawan yang tiba-tiba sakit, lembur, ataupun pada jam istirahat. Rasanya dia akan betah bekerja di perusahaan barunya ini, dan juga yang terpenting para karyawannya sangat ramah. Setelah mengantar Dava ke tempatnya, kini giliran Tari.
“Ok, Tari ini dia ruangan departement accounting dan ini meja kamu!” terang ibu Hani.
“Baik, terima kasih Bu,” jawab Tari sigap. Lalu dia pun menyimpan tasnya di atas meja kerjanya yang sudah dilengkapi dengan seperangkat komputer dan alat tulis lengkap. Tari pun mengamati sekitarnya, tidak ada sama sekali orang di bagian accounting ini.
Ruangan divisi ini berisi 1 meja besar bertuliskan kepala divisi di dekat jendela, lalu ada meja kerja partisi untuk 6 orang yang duduknya saling berhadapan. Meja kerja itu hanya disekat oleh kaca setinggi 15 cm, sehingga kita bisa melihat orang yang duduk di hadapan kita dengan jelas.
“Pagi, Ibu cantik!” seru seseorang, yang membuat Tari mencari asal suara itu.
“Sttt ... nggak usah keras-keras, semua orang juga tahu Ibu itu cantik kok Ram!” bisik Ibu Hani, membuat Rama tertawa kecil. Sedangkan Tari melongo karena bertemu kembali dengan pria aneh yang tadi di lift itu.
“Ah iyah, Tari kenalkan ini Rama, senior kamu.” Ibu Hani pun menepuk pundak Rama, “Ayo kenalan, tolong bimbing dia yang benar yah Ram! Dia karyawan baru di sini.” Lanjutnya.
Rama pun tersenyum lebar, “Siap Bu!”
“Ya udah, saya pamit yah. Selamat bekerja Tari! Semoga betah di sini!” pamit Ibu Hani, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
‘Tari pun dibuat kaget kembali karena ternyata ‘pria aneh ini adalah seniornya? Apakah dia tak salah dengar? Apa itu artinya mereka harus terus bertemu?’ tanyanya dalam hati.
“Hai, ketemu lagi kita. Lo belum jawab pertanyaan gue tadi di lift, gimana?” Rama menyeringai.
Tari pun terperangah kembali mendengar ucapan pria yang berada dihadapannya kini. “Hah? Maksudnya?” tanyanya
Rama malah tertawa melihat ekspresi polos gadis itu, “Ya udah kita kenalan dulu aja deh. Hai, gue Rama!” terangnya sambil mengulurkan tangannya.
“Ah aku Tari, mohon bimbingannya Pak!” jawab Tari sambil menjabat tangan pria itu.
“Wait, Pak? Apakah gue setua itu sampai dipanggil Pak?” tanya Rama tak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya kan, anda senior saya di sini. Jadi, wajarkan kalau aku panggil Pak,” jawab Tari sambil mengangkat bahunya.
Rama malah tertawa mendengarnya, “Alah nggak usah formal, udah panggil nama aja, Rama!” terangnya dengan penakanan saat menyebutkan namanya. “Ya udah ayo-ayo sini kamu ikut rapat, kepala divisi kita sebantar lagi datang!” lanjutnya dan menyuruh Tari mengikutinya ke ruang rapat yang berada di seberang ruangan mereka.
Di ruang rapat itu sudah ada 5 orang yang sudah duduk di sana, Rama pun menyapa mereka semua sedangkan Tari hanya tersenyum sopan pada mereka. Lalu Tari pun duduk di sebelah kursinya Rama yang kosong.
Tak lama datanglah seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat energik memasuki ruang rapat, “Pagii semua!” sapanya sambil tersenyum tipis.
Semua orang dalam ruang rapat itu pun segera berdiri. “Pagii Bu,” jawab mereka serentak, lalu duduk kembali ditempatnya masing-masing.
“Ok meeting kita kali ini, akan membahas. Ah sebentar saya lupa, hari ini ada karyawan baru kan di divisi kita. Kalau begitu ayo silakan kenalkan diri dulu,” terangnya sambil melihat ke arah Tari.
Tari pun dengan segera berdiri dari kursinya. "Hallo semuanya, kenalkan saya Tari. Karyawan baru di sini, mohon bimbingan, dan bantuannya dari rekan rekan semua,” tuturnya dengan percaya diri sambil tersenyum.
Rama pun langsung menatap kagum gadis disampingnya yang berbicara sangat percaya diri dan lantang. Padahal ini hari pertamanya, yang pada umumnya akan terlihat tegang tapi tidak dengan gadis ini.
"Selamat bergabung Tari, kenalkan saya kepala divisi accounting, Ibu Nadira."
"Salam kenal Bu, terima kasih telah memberi kesempatan pada saya untuk bergabung di sini," terang Tari.
"Ok, nah Tari kamu nggak boleh sungkan bertanya pada senior-senior mu ini yah, nanti kalian bisa kenalan langsung setelah meeting ini yah. Sekarang kita akan mulai meeting dulu sebentar."
Setengah jam mereka meeting, sehabis itu Tari pun berkenalan dengan para seniornya yang berjumlah 2 orang wanita dan 3 orang pria termasuk Rama. Kini mereka pun sudah duduk kembali di meja kerjanya masing-masing. Dan ternyata meja kerjanya persis berhadapan dengan Rama. Lagi-lagi pria itu, batinnya.
"Tarii, bisa tolong ke sini sebentar!"
Tari pun dengan sigap berjalan menuju meja kepala divisinya itu. "Iyah Bu?"
"Begini, di divisi kita ini sistem bekerjanya dibagi beberapa tim. Satu tim terdiri dari 2 orang dan partner kamu bersama," ibu Indira menggantung pembicaraannya, dia malah menggerakkan tangannya, seperti memanggil seseorang. Membuat Tari penasaran dengan siapa dia akan satu tim, dia harap mendapatkan senior wanita saja. Tak lama ada seseorang yang berdiri di sampingnya.