Sebelumnya, pukul 07.15
Seorang pria sedang antri untuk memesan di sebuah coffee shop sebelah kantornya. “Pesan Espresso 2, terus …”
“Latte 1 dan tambah roti kejunya 1,” sela seorang wanita yang tiba-tiba berdiri disampingnya sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
Adit pun hanya mengangguk dan segera membayar setelah petugas kasir memberitahu berapa yang harus dibayarnya. Setelah itu dia pun menyusul wanita tadi yang sudah duduk di meja dekat jendela, tempat biasa mereka kumpul sambil sarapan bareng.
“Dit, Rama mana? Kok dia belum datang yah?” tanya Acha sambil membenarkan ikatan rambutnya.
“Lagi sibuk nata rambutnya mungkin, kan hari ini katanya ada pegawai baru di divisi dia,” jawab Adit lalu meminum kopi yang baru saja diantarkan pelayan, lalu pria itu pun mengeluarkan barang yang selalu dia bawa kemana pun, yaitu komik.
“Pantesan aja, dia kan kerjaannya emang tebar pesona terus yah,” gerutu Acha.
“Awww … Rama!” pekik Acha ketika tiba-tiba ada yang menarik ikat rambutnya sekaligus dari belakang, yah dia tahu jelas siapa yang sering melakukan itu padanya kalau bukan pria itu.
“Habis lo pagi-pagi udah ghibahin gue aja.” Pria yang selalu memakai jaket jeans itu pun ikut bergabung di meja mereka.
“Pede banget lo!" timpal Adit yang asik membaca komik.
"Heh Ram emang bener di divisi lo bakal ada karyawan baru?" tanya Acha penasaran.
Rama pun meminum kopinya dulu sebelum menjawab pertanyaan itu. "Yo ai, makanya gue tampil beda nih. Gimana keren nggak rambut gue?" cetusnya sambil mengusap rambut hitamnya yang mengkilap berkat pomade yang dipakainya.
"Biasa aja lo, nggak ada bedanya juga ah!" ledek Acha
Rama pun malah mendelik pada Acha, sedangkan wanita itu malah tak peduli.
"Eh eh iyah gue punya tiket masuk wahana rekreasi indoor yang baru buka itu, plus dinner di hotel bintang 5 itu. Lo pada mau nggak?" tawar Rama pada sahabat-sahabatnya itu.
"Serius lo? Itu kan katanya tempat rekreasi indoor terbesar di dunia dan dapetin tiketnya itu kan susah banget karena selalu cepet sold out," pekik Acha.
"Yah serius lah gue dapet tuh di kasih sama teman nyokap gue. Jadi, kalian mau nggak ke sana?" Rama pun memperlihatkan tiket yang dia punya itu lalu disimpan di atas meja.
"Gue mau lah pasti, Dit ayolah Dit kita pergi ke sana. Kita seseruan di sana, udah lama juga kan kita nggak hangout bareng." Acha membujuk Adit yang sedari tadi asik dengan buku yang dia pegang.
Memang Adit tuh tipe cowok yang kalem, selalu asik dengan dunianya sendiri, susah dekat dengan orang baru terutama wanita.
Acha pun bisa dekat dengan Adit karena dia dan Acha itu saudara sepupu. Sedangkan dengan Rama karena Adit dengan Rama sama-sama punya hobi yang sama, yaitu komik dan photography. Makanya mereka selalu bertiga aja. Meskipun begitu, Adit tipe yang sangat care pada sahabat-sahabatnya.
"Ah nanti kalian malah asik sendiri lagi, lupa deh sama gue!" gerutu Adit, sambil meneguk kopinya.
"Yah maka dari itu kita harusnya tambah satu personil lagi deh biar pas gitu berdua-dua, ditambah ini tiket emang untuk 4 orang," usul Rama.
"Ya nih kayaknya seru yah kalau ber-empat dan biar kita nggak di sebut kayak becak mulu kemana-mana bertiga, bener nggak? Jadi biar naik kelas gitu jadi sebutannya mobil roda 4 hahaha," kelakar Acha lalu tertawa bareng Rama.
Sedangkan Adit, menggelengkan kepalanya tak setuju. "Nggak-nggak kalian tau sendiri kan gue paling susah adaptasi sama orang baru!" tegasnya.
Rama dan Acha pun saling tatap dan kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju. Yah, tadi mereka habis berdiskusi menggunakan telepati karena mereka tahu betul harus berbuat apa pada sahabat mereka yang introvert itu.
"Dit, ayolah yah kita tambah personil lagi biar seru gitu, nanti kalau lo setuju kita bakal beliin lo set komik terbaru yang lo pengen itu deh." Yah itu adalah taktik Rama dan Acha tadi karena mereka tau Adit paling bisa disogok dengan komik.
Adit pun melirik pada kedua sahabatnya itu yang sedang menatapnya penuh harap. Lalu dia pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Alhasil Rama dan Acha pun langsung cemberut, lalu dua orang itu pun terlihat berdiskusi kembali. Sedangkan Adit hanya mengulum senyum melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.
"Dit, ya udah deh sebagai tambahannya kita bakal setuju ikutin ajakan lo yang haiking itu," terang Rama.
"Deal!!!" seru Adit cepat menjabat tangan Rama dan Acha. Tentu saja dia sangat senang karena sedari dulu kedua sahabatnya itu selalu menolak saat diajak haiking padahal dia sangat ingin mencoba haiking bersama mereka. Maka saat ada kesempatan seperti ini Adit pun tak ingin membuang kesempatan itu.
Sedangkan Acha mendelik pada Rama, pasalnya dia tak suka dengan kegiatan haiking itu. "Lo serius?" bisiknya pada Rama.
"Udahlah biar kali-kali ini Cha," jawab Rama. "Ya kan Dit cuma sekali?"
"2x lah!" jawab Adit cepat.
"No!" tolak Rama & Acha barengan.
Adit pun tertawa melihat kedua sahabatnya itu. " Ok sekali, deal!"
Rama & Acha pun menghela napasnya lega karena mereka buksn tipe yang suka berolahraga seperti Adit.
"Eh tapi emang kalian mau ngajak siapa? Cowok kan?" tanya Adit.
Acha pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dan kini Rama yang mendapat tatapan penuh tanya dari para sahabatnya itu.
Rama pun memutar bola matanya sambil berpikir, "Ah gimana kalau gini aja, nanti kan kita naik lift tuh ke atas, nah kalau ada orang yang 1 lift sama kita itu dia yang bakal kita ajak gabung bareng kita, gimana?"
"Random banget sih lo Ram, gimana kalau itu malah Pak Bambang, masih mau lo ajak juga?" ledek Adit. Pak Bambang adalah salah satu sekdir di perusahaan mereka yang terkenal sangat ketus.
"Bener juga lo Dit. Kebayang nanti kalau dia gabung sama kita," timpal Acha sambil bergidik ngeri lalu melanjutkan sarapannya menyantap roti isi keju favoritnya itu.
"Alah udah lah, kita serahkan semuanya pada takdir, toh semua memang sudah ada yang mengaturkan," tutur Rama bijak.
Perkataan itu pun membuat Adit dan Acha menatap sahabatnya takjub, "Bisa bener juga omongan lo," puji Adit sambil tepuk tangan dan Rama pun tersenyum penuh bangga.
"Heh ayo udah mau jam 8, parah lo kebanyakan ngomong nih, gini nih bisa telat loh kita," pekik Acha yang baru sadar ketika melihat jam yang melingkar dilengannya.
Mererka pun segera meneguk habis minumannya, kemudian 3 orang sahabat itu pun segera bergegas keluar coffeshop menuju gedung kantor. Seelah masuk gedung mereka pun segera masuk ke lift yang kebetulan kosong itu.
“Aduh kok gue jadi deg-degan yah, kalau nggak ada yang masuk lift lagi gimana?” tanya Acha.
“Yah kan nanti juga istirahat kita naik lift lagi Cha,” jawab Rama santai sedangkan Adit tak banyak komentar. Padahal detak jantungnya tiba-tiba tak beraturan memikirkan dia harus mencoba adaptasi dengan calon teman barunya nanti, serta dia pun berharap semoga seorang pria saja karena jika wanita entah dia harus bertingkah seperti apa.
Pandangan ketiga orang itu pun fokus ke pintu lift yang terus bergerak hendak menutup rapat. Namun, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menghalangi pintu lift itu yang membuat pintu lift kembali terbuka dengan perlahan.
Mereka yang berada dalam lift itu pun menahan napas sejenak tanpa mereka sadari. Mereka pun sama-sama merasa was-was siapa yang akan masuk dalam lift itu. Tak lama seorang gadis berambut pendek sebahu dengan poni depan tipis, memakai kemeja putih, dan rok hitam sebatas lutut itu pun masuk ke dalam lift dengan terengah-engah, kemudian bersandar di dinding lift, 3 pasang mata itu pun tertuju pada gadis muda itu.