Tes , tes bulir-bulir air mengalir dari pelupuk mata seorang wanita yang kini tengah terdiam dengan tangisan yang tertahankan dia adalah Marissa istri dari Farid Hermawan.
Bukan tanpa sebab dia menangis tapi karena ucapan Farid bagai petir yang menyambar di siang hari betapa tega betapa tidak berperasaannya Farid terhadap dirinya. dia masih terngiang dengan ucapan Farid tadi dimana suaminya mengatakan
"Aku akan menikah lagi setuju ataupun tidak kamu harus menerima dan lagi aku tidak butuh Restumu."
dan Farid langsung pergi dari kamar meninggalkan Marissa yang masih terdiam, tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Marissa hanya sebuah air mata tapi cukup untuk menggambarkan bahwa perasaan wanita itu sangat tidak baik-baik saja.
Siapa yang bahagia akan di poligami?siapa yang bahagia suaminya akan menikah lagi? wanita mana? adakah wanita yang bahagia ketika suaminya akan menikah lagi? TIDAK ADA!!
Jika pun itu dia hanya mencoba ikhlas menerima semuanya sebab mau tidak mau selagi suaminya bisa adil tidak ada alasan untuk mengeluh apalagi meminta cerai. itulah mengapa walau sakit wanita yang dipoligami tetap mau bertahan dengan rumah tangga meskipun hatinya terasa sesak ketika suaminya melangkah pergi menuju rumah istrinya yang baru.
"Menikah?"gumamnya lirih tubuhnya merosot ke bawah tatapannya sangat kosong air mata masih terus mengalir tak ada ucapan hanya tangisan yang terdengar saat ini.
**
"SAH."
Marissa tidak kuat menahan tangisan saat kata 'sah' telah terucap, mulai hari ini hidupnya akan berubah.
jika dulu dia yang menjadi satu-satunya sekarang dia hanyalah salah satunya. Marissa menatap Farid yang tengah tersenyum lebar sambil mencium kening istrinya, Farid hari ini sangat tampan senyuman selalu terukir dari bibirnya.
Marissa tersenyum miris beda sekali dengannya,dulu pernikahannya tidak ada gedung tidak ada dekorasi indah atau apa hanya di KUA saja berbeda dengan sekarang bahkan pernikahan ini sangat mewah benar-benar mewah, iyalah secara Farid orang kaya terpandang pernikahan seperti ini bukanlah suatu hal yang besar.
Marissa melangkahkan kakinya keluar dia tidak tahan lagi melihat semua ini. sudah cukup baginya sekarang dia ingin beristirahat sejenak karena mungkin esok luka akan semakin bertambah.
~~~
"Yaallah."lirih Marissa setelah sampai di kamarnya dia memukul dadanya yang sangat menyesakkan itu
dia tidak menyangka cintanya akan seperti ini, dia tidak menyangka Farid akan menduakannya, apa salahnya? apa dia ada kekurangan?apa karena dia yang belum bisa memberikan anak?atau memang Farid sudah tidak mencintai dirinya lagi?
pertanyaan terus berputar di kepala Marissa batinnya terus menjerit merasakan sakit yang teramat dalam dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, langkah apa yang harus dia jalani. dia bingung.
Beberapa menit kemudian tidak ada lagi tangisan yang menyayatkan tidak ada jeritan tertahan hanya deru nafas yang berat dengan mata tertutup, rupanya Marissa tertidur setelah menangis terus menerus dia lelah akhirnya tertidur dengan posisi menyamping.
**
"Neng Marissa jangan melamun terus harus sabar semuanya pasti ada hikmahnya."Marissa tersadar dari lamunannya melihat bik ifah yang tengah tersenyum sambil mengusap bahunya, Marissa tersenyum sendu mengingat bahwa dia sekarang bukan istri satu-satunya Farid melainkan salah satunya.
"Aku enggak apa-apa bu aku coba ikhlas doakan aku agar tetap sabar dengan semua ini,jujur berat bu rasanya sakit sekali."tangis Marissa dia tidak sekuat itu tapi mau bagaimana lagi dia hanya bisa pasrah belajar menerima semua ini
"Solat terus ngaji dekatkan diri sama Allah neng insyaallah neng dapat ketenangan hati kesabaran dan kekuatan yang tidak ada batasnya dia maha segalanya neng."
Marissa terhenyak mendengar nasehat dari bik ifah, dia merasa sudah sangat jauh dengan sang pencipta mungkin ini teguran untuk dirinya agar mendekat lagi.
"aku belum berhijab bu."sahut Marissa menundukkan kepalanya bik ifah tersenyum pada istri majikannya wanita paruh baya itu mengusap bahu Marissa
"Semua butuh proses enggak semua langsung sempurna,neng bisa belajar sedikit-sedikit mulai dari solat lima waktunya dan ngaji enggak apa-apa tentang hijab insyaallah secepatnya neng mendapatkan hidayahnya."
"benarkah?kalo begitu ibu mau ajari Marissa?"tanya Marissa
"Boleh nanti kita sering pergi ke masjid untuk mendengarkan pengajian yang selalu rutin di lakukan setiap malam Minggu habis solat isya."Marissa mengangguk sambil tersenyum dia memeluk tubuh bik ifah
"makasih ya bu."ucap Marissa tulus dia menganggap bahwa bik ifah sudah seperti ibunya sendiri
"Marissa."teriakan menggema Marissa melepaskan pelukannya dia menatap bik ifah yang mengisyaratkan untuk segera menghampiri seorang yang baru saja berteriak, Marissa langsung berlari kecil ke arah ruang tamu
"Ada apa mas?"tanya Marissa
"kamu kemana kemarin hah?"bentak Farid dengan tatapan yang sangat tajam
"A-aku pulang mas."jawab gugup Marissa dia sangat takut dengan tatapan tajam milik Farid
"kenapa enggak bilang hah?punya mulutkan?"Marissa hanya terdiam dengan bentakan Farid air matanya sudah luruh melihat Farid yang sangat berbeda sekarang
"Maaf."hanya kata itu saja yang bisa Marissa ucapkan tidak ada makian atau apapun hanya kata itu saja
"Besok Tania akan tinggal disini jadi bersikaplah dengan baik !! dia istriku ingat kamu pindah kamar karena kamar itu akan aku tempati dengan Tania paham?"Jelas Farid tidak mau di bantah
"Aku juga istrimu mas."lirih Marissa
"berani melawan hah?"Marissa menggeleng pelan bagaimanapun Farid masih suaminya
"Sialan."maki Farid langsung pergi meninggalkan Marissa
"kuatkan hati hamba yaallah."lirih Marissa dia berjalan menuju kamar untuk memindahkan semua barang-barang dirinya ke kamar yang berbeda
Marissa menghela nafas berat berjalan gontai ke arah lemari dan mulai mengemasi semuanya.
"ko jadi gini ya."ucapnya terkekeh sendu jauh dari perkiraannya waktu dulu
Dulu dia selalu bermimpi menikah
lalu punya rumah sederhana punya anak dan suaminya yang sangat sayang,setia padanya dan hidup bahagia tapi ternyata jauh dari impiannya bukan tak terima takdir hanya saja ini rasanya sangat sulit dan berat untuk di jalaninya.
~~
Setelah selesai membereskan semua barang-barang yang dia pindahkan Marissa kini tengah duduk di kursi disampingnya terdapat jendela yang kini terbuka lebar, angin sore masuk dari jendela itu.
Marissa membuka buku hariannya mengambil pulpen lalu mulai menulis hal yang selalu dia lakukan ketika sedang tidak baik-baik saja dia selalu menumpahkan keluh kesahnya ke buku hariannya yang sejak dulu dia gunakan, meskipun telah usang tapi Marissa tetap menjaganya karena itu pemberian Farid untuk pertama kalinya.
^
Kehangatan yang selalu aku rasa esok tidak bisa aku rasakan lagi
cinta yang selalu membuatku bahagia esok tak dapat lagi aku rasakan
dia berubah, dia bukan seorang seperti dahulu kini dia menjelma menjadi seorang yang bahkan aku saja tidak dapat mengerti..
dia kasar, dia sering membentak
bahkan dia telah mendua janjinya telah teringkari semuanya..
aku kecewa !! aku marah !! aku kesal !!tapi, aku hanya bisa diam saja...
Aku mencintaimu suamiku.
#15desember.