Marissa menahan rasa sesaknya saat Farid datang menggandeng tangan istri barunya, aura kebahagiaan sangat ketara di wajah keduanya senyuman yang tak pernah pudar di bibir mereka semakin membuat Marissa sesak.
"Mas ibu kemana?"tanya Tania
"Ibu kan lagi ke Surabaya nengokin saudaranya yang lagi sakit."
"Oh iya aku lupa."
"tapi kalo bulan madu jangan sampai lupa lusa kita berangkat ke Paris sesuai kemauan kamu oke." Farid mencium bibir Tania yang tengah terkekeh geli
"Ayo masuk ke kamar lanjutin yang semalam." Farid mengedipkan sebelah matanya Tania tampak tersipu malu
"Mas kamu tuh ya." Mereka terkekeh tanpa memperdulikan seorang yang sejak tadi melihat interaksi mereka menahan sakit di hatinya.
Marissa hanya tersenyum getir melihat semua ini, dia mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Kamu sangat bahagia mas."lirihnya lalu berjalan menuju kamarnya
~~~
Marissa baru saja selesai mandi dengan kimono yang membalut tubuh telanjangnya, dia keluar dari kamar mandi matanya tampak bengkak karena kebanyakan menangis.
Brak , Marissa terlonjat ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kasar dia melirik kearah pintu dan seketika mematung melihat siapa disana, Itu Farid yang hanya menggunakan celana pendek tanpa baju yang melekat di tubuhnya.
"Marissa." Farid menghampiri Marissa yang tengah sibuk mencari pakaian tidurnya.
"Ayo Layani aku." Marissa tertegun ketika mendengar ucapan Farid barusan, pria itu kini memeluk Marissa dari belakang nafasnya tercekat saat Farid mengecup lehernya.
"Tania? bukan seharusnya kamu bersama dia?"ucap Marissa gugup
"Dia sudah tertidur setelah aku menggempurnya habis-habisan, apa kamu tengah mencari alasan untuk menolak keinginan suamimu ini."
"tidak hanya..."
"Layani aku cepat."sela Farid
Pria itu menarik tubuh Marissa dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang, Farid meneguk ludahnya sendiri saat paha mulus Marissa tersingkap tanpa berlama lagi Farid langsung memulai aksinya.
"Mashhh."Farid semakin gencar sedangkan Marissa menahan tangisan dia tidak menyangka Farid memperlakukan dirinya bagaikan seorang jalang, dia merasa sangat sakit di organ intimnya tapi Farid tidak perduli.
"Ahh Marissahhh."Tubuh Farid ambruk setelah pelepasannya dia menidurkan tubuhnya di samping Marissa lalu memejamkan matanya tanpa memperdulikan Marissa yang terisak .
"sakit sekali , maafkan hamba yang setengah hati melayani suami hamba ini yaallah semoga kau tidak melaknat diriku yaallah."-batinya
Marissa memejamkan mata perlahan dia sudah sangat lelah, luka hatinya semakin hari semakin bertambah entah sampai kapan seperti ini dia hanya terus berdoa agar sang Kuasa selalu memberikan kesabaran dan keikhlasan pada hatinya.
~~~
"Aku telah mendekapmu sejak lama
aku telah menggenggam tanganmu sejak lama, aku pikir akan seperti itu sampai kita menua bersama..
tapi ternyata ...
Aku salah kamu menghadirkan dia diantara kita, kamu menarik dia di cerita cinta kita dan membiarkan aku terluka."
Marissa menutup bukunya setelah menyelesaikan tulisannya, dia termenung sudah tiga hari Farid pergi berbulan madu dan sampai sekarang dia belum bertegur sapa dengan istri baru sang suami.
"MARISSA."teriakan menggema membuat Marissa langsung beranjak menghampiri seorang yang baru saja meneriaki namanya orang itu adalah mertuanya
"Ada apa bu."Tanya Marissa setelah sampai di ruang tengah
"Kerjaan kamu ngapain aja si?hah? numpang tidur sama makan doang benalu banget si, udah miskin mandul males juga lagi untung anak saya cepat sadar sampai dia menikah lagi."maki Rahayu ibu dari Farid , wanita yang baru saja menginjak berusia lima puluh tahun itu.
Marissa menahan kesabaran saat makian terus terlontar dari mulut ibu mertuanya, kenapa semua seakan menghakimi dirinya mengapa dia yang tersalahkan selalu. jikapun dia bisa memilih dia ingin hidup dari keluarga yang kaya, jelas , punya kedudukan dan jikapun dia bisa memilih dia ingin punya anak tapi apa? Tuhan belum mau memberikan kesempatan itu padanya lalu dia bisa apa?disaat sang pencipta belum mau mengizinkannya.
"Aduh saya tuh bingung dari Farid apa si yang dia lihat dari wanita kaya kamu pendidikan cuma sampai SMA Keluarga enggak jelas, jangan-jangan kamu guna-guna anak saya biar mau sama kamu ya."
Marissa mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk dia menatap ibu mertuanya.
"Apa kamu mau menjawab?"bentak Rahayu
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Marissa dan Rahayu menoleh serempak, Marissa tertegun melihat Farid dan Tania yang tengah berdiri sambil bergandengan tangan.
"Ada apa si bu?"tanya Farid lagi sambil jalan menghampiri Rahayu
"kamu ko udah pulang bukannya seminggu disana?"tanya Rahayu
"aku ada kerjaan yang enggak bisa di tunda." Tania menatap ke arah Marissa dengan wajah penasarannya
"ini siapa mas?"tanya Tania melirik ke arah Farid
"pembantu."jawabnya acuh tanpa memperdulikan ekspresi wajah Marissa yang kaget saat ini sedangkan Rahayu tersenyum puas mendengar pernyataan anaknya
"Oh gitu."
"Saya permisi."ucap Marissa dan pergi meninggalkan mereka
"Sakit Yaallah." Marissa memukul dadanya dia merasa sangat sesak hatinya benar-benar sakit
"Neng Marissa." Marissa langsung memeluk bik ifah yang baru saja pulang dari pasar bik ifah melihat semua kejadian tadi mengapa tega sekali mereka pada Marissa
"Bu kenapa si aku terus di hakimi aku juga enggak mau seperti ini tapi aku bisa apa? bukannya ini udah takdirku mengapa terus aku yang tersalahkan bu." Marissa terisak dipelukan Bik ifah wanita paruh baya itu mengusap punggung Marissa seperti seorang ibu.
"Sabar neng Allah enggak pernah tidur,neng cuma harus sabar ikhlas dan Percaya bahwa Allah enggak bakalan nguji umatnya di luar batas kemampuan umatnya. berat pasti ujian hidup memang enggak ada yang mudah neng percaya semua akan indah pada waktunya." Marissa masih terisak hatinya benar-benar terluka sekarang.
"apakah aku sehina ini? jikapun begitu kenapa mas Farid menikahi aku, kenapa dulu dia berjuang mati-matian jika pada akhirnya aku dicampakkan seperti ini?aku sangat mencintai dirinya bu." Bik ifah menggeleng cepat dia menatap wajah Marissa
"Enggak neng kamu adalah wanita hebat. diluar sana enggak ada yang sekuat neng meskipun ada pasti hanya beberapa saja, neng adalah wanita kuat jangan mau kalah dengan keadaan tulikan telinga neng ketika mendengar makian butakan mata neng ketika melihat hal yang menyakitkan untuk neng."
isakan Marissa mulai mereda mungkin dia hanya perlu bersabar sedikit lagi tanpa mereka sadari sejak tadi ada yang mendengarkan mereka dengan raut wajah yang tak terbaca.
~~~
PLAK
"Kenapa enggak bilang hah?kenapa enggak bilang kalo kamu punya istri Mas? aku nikah sama suami orang yaallah mas mimpi apa aku bisa nikah sama suami orang."isak Tania setelah menampar wajah Farid dia sangat shock dengan semua yang baru saja dia ketahui tadi niatnya ke dapur ingin minum malah dia dibuat terkejut dengan apa yang dia dengar tadi.
"Apa orang tua aku tahu semua ini saat perjodohan?"tanya Tania Farid hanya terdiam sejenak sebelum dia mengangguk
"Iya mereka tahu sebelum perjodohan itu terlaksana."jawab Farid
"Yaallah."Tubuh Tania merosot ke bawah dia enggak nyangka semua ini, Farid mencoba peluk Tania namun wanita itu terus menepisnya
"Aku emang cinta sama kamu mas sejak dulu, sejak kita SMP aku menerima perjodohan ini karena aku masih mencintaimu tapi kalau aku tahu kamu adalah suami orang aku lebih baik melupakan kamu mas." Farid hanya terdiam menatap Tania yang terisak.
"Aku berdosa banget sama mbak Marissa aku enggak bayangin gimana perasaan mbak Marissa. gimana kalo kita cerai aja mas?" Farid menegang dia menatap Tania dengan sorot mata tajam
"Jangan main-main aku yang tidak mau bercerai dengan kamu Tania, kamu mau apa?"
"Kamu gila ya mas. aku enggak mau dipoligami aku cuma mau suamiku punya aku enggak ada wanita lain cuma aku seorang saja."teriak Tania
"Kamu mau aku ceraikan Marissa?atau apa Tania, kalo kamu mau aku cerai aku bisa menceraikan dia Tania."
Tania menatap geram Farid dia enggak habis pikir dengan jalan pikir suaminya ini.
"Mas kamu itu ah." Tania langsung menidurkan tubuhnya memunggungi Farid, pria itu mengacak rambutnya kasar dan menghampiri Tania memeluknya dari belakang.
"aku enggak mau kehilangan kamu Tania jadi maafkan aku, iya aku salah."ucap Farid sambil mengecup leher Tania
"Jangan ceraikan mbak Marissa mas jikapun ada perceraian biarkan aku yang mengalah kamu tahu mas enggak ada wanita yang mau berbagi suami mas, dan aku minta kamu adil mas sama dia."pinta Tania
"Iya aku usahakan sekarang kamu tidur sayang kamu cape. selamat malam."Farid mencium kening dan bibir Tania setelah beberapa menit Tania terlelap dengkuran halus terdengar Farid menghela nafas dia turun dari kasurnya pelan-pelan dan keluar meninggalkan Tania sendirian dikamar.
~~~
Brak. Farid membanting pintu kamar dia melihat Marissa yang tengah duduk Farid menghampiri Marissa wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan Farid ditambah wajah Farid yang penuh amarah.
"Berdiri."ucap Farid dingin Tania langsung berdiri Farid mencekal lengan Marissa dan menariknya Farid menghempaskan tubuh Marissa ke ranjang
"Bicara apa pada Tania?"bentak Farid
"Apa mas aku enggak bicara apa-apa mas."sahut Marissa
"Lalu jika kamu enggak kasih tahu bagaimana dia tahu kalo kamu istri pertama?"Marissa menggeleng cepat
"Aku enggak tahu mas."jawab Marissa Farid tersenyum sinis dia membuka ikat pinggangnya membuka baju dan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya
"Kamu harus terima hukuman untuk tamparan yang aku dapatkan."Marissa menjerit saat Farid mulai permainannya tanpa pemanasan sakit sangat sakit tapi Farid tidak memperdulikan itu dia terus bermain sesuka hatinya untung kamar ini kedap suara jadi menjerit seperti apapun tidak akan terdengar dari luar
"Mas chhhukuppp sakithhh."rintih Marissa dengan isakannya
"diam."bentak Farid pria itu seperti kesetanan menyetubuhi Marissa dia memperlakukan Marissa layaknya seorang jalang
mereka terus bermain sampai 2jam lamanya, Farid baru menyudahi permainan setelah dia sampai di puncaknya dia berjalan menuju kamar mandi membersihkan badannya setelah itu memakai kembali pakaiannya dan meninggalkan Marissa yang menangis menahan pedih, Farid benar-benar memperlakukan dirinya bagaikan seorang jalang.
"Kamu tega mas."lirihnya