Hari ini adalah hari pertama Marissa kerja , dia sudah rapih dengan setelan kerjanya.
"bik aku berangkat dulu ya."ucap Marissa sambil memasukkan bekalnya ke Tottebag. setelah pamitan Marissa langsung pergi menuju tempat kerjanya.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk Marissa sampai di tempat kerjanya. disana sudah berdiri ibu Dila sang pemilik toko kue yang sekarang telah menjadi bosnya Marissa.
"Selamat pagi bu."sapa Marissa yang berdiri berhadapan dengan bu Dila
"Pagi juga , udah siap kerja?"Marissa mengangguk sambil tersenyum
"Yaudah ayo masuk."
mereka berdua masuk ke dalam toko , karyawan yang lain sudah pada datang mereka semua memberikan salam pada bu Dila.
"semuanya ini perkenalkan namanya Marissa , dia juga yang akan mengelola toko disamping jadi saya harap kalian bisa bersikap baik."ujar Bu Dila
"Iya bu."jawab mereka semua , Bu Dila menatap Marissa
"yaudah ayo kita ke sana kamu udah mulai bisa kerja sekarang , di dapur akan ada orang kepercayaan saya."jelas Bu Dila
"Terimakasih bu."Bu Dila mengangguk dia berpamitan pada Marissa untuk pulang
****
Marissa mengatur nafasnya , dia tengah istirahat sebentar sebelum pulang waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Mbak Marissa , Anna pulang dulu ya." Marissa melirik ke arah Anna teman barunya , yang umurnya lebih muda tiga tahun dari Marissa.
"Hati-hati ya."Anna mengangguk , menurut Marissa Anna itu manis dia punya senyuman yang manis meskipun kulitnya tidak terlalu putih tapi dia punya daya tarik tersendiri.
Marissa bangkit dari duduknya dia keluar menunggu angkutan umum , dia merasa capek padahal tidak biasanya seperti ini.
"itu mas Farid kan?"gumam Marissa saat matanya menangkap sosok yang sangat dikenali ya. dan pria itu berjalan menghampiri Marissa yang berada di seberangnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?"tanya Farid sesaat setelah berada didepan Marissa , Marissa tersenyum kikuk
"Aku kan kerja mas , ini tempat aku kerja kemarinkan aku sudah bilang mas."Farid menyipitkan matanya yang mana membuat Marissa semakin kikuk.
"pulang."pinta Farid
"iya aku pulang ini lagi nunggu angkot yang lewat mas."
"maksudnya pulang bareng." Marissa menatap Farid guna memastikan bahwa dia tidak salah mendengar , Farid yang ditatap seperti itu mendengus tanpa aba-aba dia langsung menarik tangan Marissa dan menggenggamnya erat.
Marissa tertegun genggamannya ini yang sangat dia rindukan , genggam hangat seperti dulu saat awal-awal menikah tanpa ada kemarahan di dalamnya benar-benar hangat. tanpa terasa air matanya menetes dia sangat merindukan genggam ini sangat.
"masuk." Marissa menghapus air matanya dan masuk ke mobil Farid , pria itu hanya diam selama dia menyetir tak ada ucapan yang keluar dari mulut Farid atau Marissa sangat berbeda dengan dulu.
kemacetan lalu lintas tampaknya bukan sebuah hal yang baru di Jakarta , apa lagi ini adalah jamnya para pekerja pulang tentu macet tidak dapat dihindari.
"Mas kamu udah makan?"tanya Marissa memecahkan keheningan diantara mereka
"Sudah di bandara tadi bareng Tania."jawabnya tanpa melirik ke Marissa
"Tania kemana mas?"
"ibunya sakit."
"tapi bukannya dia sedang hamil muda dan itu akan berbahaya untuk janin dalam kandungannya."seketika Farid menatap Marissa tajam
"dari mana kamu tahu?"Marissa tampak gugup sekarang ini dia seperti maling yang tertangkap basah , Farid masih tetap pada posisinya menatap tajam kearah Marissa
"Aku enggak sengaja dengar mas."jawab Marissa dengan nada dibuat setenang mungkin , Farid hanya mengangguk membuat Marissa sedikit tenang
"sekarang kamu tahu bukan , aku tidak bermasalah jika aku bermasalah tidak mungkin Tania bisa hamil bukan?aku harap kamu mau menerima semua ini dengan lapang d**a aku mencintai Tania , aku harap kamu mengerti itu dan mau membagi semuanya."jelas Farid
Sakit , perih , itulah yang saat ini Marissa rasakan sekuat tenaga untuk tidak menangis bagaimanapun dia harus terlihat kuat agar Farid tidak semena-mena terhadapnya lagi.
"berbagi apa mas?bukannya setelah kamu menikah aku telah kehilangan hak aku sebagai istri?aku ucapkan selamat untuk mas yang sebentar lagi akan menjadi ayah , aku senang maaf jika aku tidak seperti yang mas harapkan maaf karena aku cacat--"
Marissa menjeda ucapannya dia menatap Farid yang pandangannya fokus kedepan pria itu hanya diam.
"Aku selalu mendoakan kamu agar senantiasa bahagia meskipun demikian bahagia kamu bukan sama aku , itu sudah cukup melihat kamu bahagia bersama orang lain mas. jika suatu saat nanti kamu berpikir untuk memiliki satu istri saja dan beristiqomah aku ikhlas dan rela jika harus kamu lepaskan aku ikhlas jika harus ditalak sama kamu mas--
jujur saja mas hatiku sangat sakit mendengar ucapan hinaan kamu dan ibu kamu aku sakit mas jikapun aku bisa memilih aku ingin terlahir dari keluarga yang jelas , terhormat punya kedudukan seperti kamu atau seperti Tania yang bisa sekolah tinggi menggapai mimpi aku. Dan jikapun aku bisa memilih aku tidak ingin terlahir cacat aku ingin punya keturunan mas memberikan suami aku keturunan tapi lagi-lagi aku hanya berdiam dan menerima semua takdir Allah dengan ikhlas dan sabar."
Marissa mengeluarkan semua unek-uneknya malam ini , air matanya mengalir deras dia sakit , dia terluka semuanya seperti memusuhinya seperti dia yang salah. Farid pria itu tetap diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya , Marissa hanya tersenyum getir melihat respon dari Farid memang apa yang akan pria itu lakukan? apa yang bisa Marissa harapkan , pelukan? atau apa?haha itu hanya mimpi.
mobil yang ditumpangi Marissa telah berhenti di halaman depan , ada sedikit harapan dalam hatinya berharap Farid mau memeluk dirinya dan menyadari semua kesalahannya. tapi lagi-lagi Marissa hanya mendapatkan sebuah kekecewaan saat farid hanya diam tak bergeming sama sekali.
"Terimakasih mas untuk tumpangannya aku masuk dulu."Marissa membuka pintu mobil meninggalkan Farid yang masih terdiam.
Farid menatap Marissa yang berjalan masuk tangannya terkepal kuat , urat-urat lehernya terlihat menegang pria itu memukul setir mobil , "Sialan."umpatnya.