Marissa duduk diam dibangku yang berada di kamarnya, suasana canggung terasa sekali saat dua orang berhadapan itu tidak mengeluarkan satu katapun.
Marissa menunggu seorang didepannya ini berbicara , Marissa bisa melihat ada kegugupan dimatanya keraguan disana itu Tania , seorang yang berhadapan dengan Marissa sejak tadi adalah Tania.
"Mbak."Marissa berdehem dia menatap Tania yang juga tengah menatapnya Marissa tertegun melihat air mata yang menetes membasahi pipi Tania
"kenapa menangis?"tanya Marissa Tania masih dengan keterdiamannya air mata itu semakin mengalir deras.
"Astaghfirullah Tania. jangan begini bangun."pekik Marissa saat tiba-tiba Tania bersimpuh di hadapannya wanita itu terisak
"Mbak maafin Tania untuk semuanya Tania enggak tahu Mbak kalo mas Farid sudah punya istri , seandainya Tania tahu dari awal Tania enggak bakalan mau menerima pinangannya mas Farid mbak Tania mohon maafkan Tania aku merasa sangat berdosa menjadi orang ketiga di rumah tangga mbak."isaknya
"Bangun Tania."Tania bangun Marissa mengusap air mata Tania , wanita itu masih terus terisak rasa bersalah sangat terlihat di matanya
"Bukan salah kamu Tania , biarkan semuanya berjalan dengan semestinya mbak sudah ikhlas menerima semuanya , mas Farid mencintaimu Tania ditambah lagi kalian akan punya anak. jikapun hati mbak sakit setidaknya mbak bahagia jika melihat mas Farid bahagia ..
Bertahun-tahun mbak dan mas Farid menjalani rumah tangga ini , mbak tahu betapa kesepiannya meskipun ada mbak disisinya tidak memungkiri bahwa mas Farid sangat ingin punya anak,,"
Marissa menarik nafas beratnya , dia menjeda ucapannya
"saat melihat mas Farid tersenyum karena mendengar berita kehamilan kamu , aku kembali lagi melihat senyuman itu persis seperti saat dimana dulu mas Farid melamarku senyuman itu yang selalu membuatku jatuh cinta..
jadi , aku ingin kamu merawat anakmu dengan baik karena ini adalah kebahagiaan mas Farid yang selalu di tunggunya aku tidak bisa memberikan itu padanya , aku cacat."ujar Marissa dengan lirihnya , Tania masih terisak.
"enggak mbak , bukan karena mbak cacat atau apa hanya saja Allah belum menitipkan anugerah itu sama mbak aku yakin suatu saat nanti mbak akan punya seorang anak di kehidupan mbak."
Marissa tersenyum miris menatap Tania yang mengusap punggung tangannya
"setelah anak ini lahir mbak mau kan bantu aku merawatnya , sampai dia terbiasa tanpa aku mbak---
Tania tak melanjutkan ucapannya saat Marissa menarik tangannya , menatap Tania tajam seolah akan memakannya hidup-hidup
"Apa maksudmu Tania?apa maksud ucapan kamu terbiasa apa? tidak ada anak yang terbiasa hidup tanpa ibu jangan coba-coba berpikir bodoh Tania."
Marissa menatap dalam Tania ..
"Apa kamu tengah berpikir akan bercerai dengan mas Farid setelah anak ini lahir?"
Tania hanya diam , iya dia memang berniat seperti itu dia tidak ingin dimadu dia hanya ingin menjadi satu-satunya dan juga tidak mau mas Farid menceraikan mbak Marissa , bagaimana pun disini dia sebagai orang ketiga biarlah dia mengalah.
"Jawab mbak Tania."
"Iya mbak aku mau cerai sama mas Farid karena---
obrolan mereka terhenti saat pintu di buka dengan sedikit kasar membuat dua wanita itu melihat serempak ke arah pintu disana berdiri Farid yang masih memakai pakaian kerjanya
"Tania aku cari kamu dari tadi , kamu belum minum s**u sekarang ayo minum aku sudah buatkan aku juga bawakan kue yang tadi kamu mau."ucap Farid menghampiri Tania mencium lembut kening , Marissa membuang muka dia tidak bisa melihat adegan itu
"Aku lagi bicara sama Mbak Marissa mas nanti saja."Farid menatap ke arah Marissa dengan tajam tanpa sepengetahuan Tania , Marissa kikuk dia langsung mengusap tangan Tania
"sudah minum s**u dulu sana."
"mbak tapi kita belum selesai ngobrol."
"nanti dilanjutkan lagi sekarang kamu minum susunya dulu , biar sehat bayi kamu ya."
dengan berat hatinya akhirnya Tania mengangguk , Farid tersenyum dia mengusap rambut hitam Tania.
"Yaudah mbak , selamat malam."ucap Tania yang dibalas anggukan Marissa
mereka berdua pergi meninggalkan kamar Marissa , menyisakan keheningan didalamnya. Marissa wanita itu terdiam sebelum air matanya mengalir kembali.
entah apa yang dirasakan saat ini oleh dirinya , dia saja tidak tahu apa yang dia rasakan sehingga menangis.
✳️✳️
Hari ini Farid sudah rapih dengan setelan kerjanya. dia melirik Tania yang masih tertidur pulas , mungkin Tania masih mengantuk karena semalam baru bisa tidur jam dua pagi. anaknya begitu rewel semalam meminta ini itu padanya tapi Farid senang akhirnya bisa merasakan di repotkan istrinya saat sedang hamil.
Farid menghampiri Tania dia mengusap kepala Tania pelan , mencondongkan badannya lalu mengecup kening Tania.
"Aku pergi dulu ya sayang."ucapnya dan mengusap perut dan mengecup perutnya yang masih rata itu , Tania hanya berdehem saja membuat Farid terkekeh setelah melakukan pamitan dia langsung pergi meninggalkan istrinya.
Farid turun kebawah makanan sudah tersaji , tapi tidak ada orang disana kemana mamahnya? tumben jam segini belum kelihatan.
"Bi mamah mana?"tanya Farid sambil menarik kursinya dan duduk
"Nyonya tadi pesan sama saya den , beliau akan ke Belanda menyusul tuan besar katanya selama seminggu tuan besar sedang sakit jadi nyonya mau menemaninya dibelanda."
Farid mengangguk , "oke makasih bi."
Farid membuka ponselnya dia mendial nomor dan menunggu panggilan itu tersambung.
"Hallo mamah dimana?"ucap Farid saat panggilannya sudah tersambung
"oh sudah dibandara?"
"tentu aku menjaga istriku , iya hati-hati disana mah , baik aku tutup telponnya salam untuk papah semoga cepat sembuh."
setelah terputusnya panggilan itu , Farid mulai menyantap sarapannya hanya roti panggang dan segelas s**u hangat.
"Bik ifah , bekal aku sudah disiapkan?" Farid melirik ke arah Marissa yang baru saja turun dari tangga , wanita itu tampak sangat tergesa-gesa sampai mungkin tidak menyadari kalau ada dirinya dimeja makan
"Sudah neng."
Marissa berjalan dengan cepat langkahnya sedikit melambat saat menyadari ada Farid yang sedang sarapan , pria itu tampak acuh sama seperti biasanya. oh ayolah Marissa dia bukan Farid yang dulu yang menatapmu penuh cinta berhenti seperti ini jangan seperti orang yang menyedihkan sekali , Marissa terus mesugesti dirinya sendiri setidaknya itu membuat dia lebih kuat.
"maaf ya bik , aku repotin bibi aku lagi buru-buru jadinya minta dibantuin bibi yaudah kalo gitu aku berangkat ya bi."
"enggak apa-apa non , itu udah siap."
"yaudah aku berangkat."ucapnya sambil membawa paper bag dan pergi melewati Farid begitu saja , tidak ada pamitan seperti biasanya membuat Farid sedikit heran tapi itu hanya sebentar sebelum Farid melanjutkan lagi sarapannya. toh itu tidak penting baginya.
"Bik saya berangkat nanti kalo Tania bangun siapin s**u dan sarapannya juga buahnya jangan lupa ingatkan dia untuk meminum vitaminnya."
"Iya den."
Farid keluar menenteng tas kerjanya lalu masuk ke mobil yang sejak tadi sudah terparkir di depan rumahnya.
✳️✳️
"Selamat pagi."sapa Marissa saat dia baru saja datang , dia langsung memakai seragamnya dan celemeknya.
"Kalian udah buat pesan kue ibu Eva?"tanya Marissa
"Belum mbak , kami nunggu mbak itu pesanan ibu Eva kami enggak mau kena semprot lah sama beliau mbak tahu sendiri gimana ibu Eva."
"Betul tuh mbak udah mbak aja nanti kita bantu , yang buat minggu lalu-kan mbak dan ibu-ibu itu juga suka yakan? yaudah mbak aja mbak."
Marissa terkekeh melihat juniornya ini mulai seperti anak kecil ,"yaudah mbak yang buat tapi nanti kalian bantu oke."
Adelia dan Aness mengangguk sambil tertawa kecil , mereka berdua adalah para gadis yang berkerja sambil kuliah usianya tentu lebih muda dari Marissa itu makanya mereka berdua disebut sebagai juniornya Marissa.
"Anna belum datang?"tanya Marissa sambil mengaduk adonan kuenya
"Belum mbak , dia ada kelas pagi sampe jam 12 mungkin baru siang mbak."