Farid berdiri didepan toko kue dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku celananya. Farid hanya diam memandang toko didepannya tidak ada pergerakan sama sekali sampai dia kikuk sendiri melihat seorang didepannya kini menatapnya kaget.
"apa yang kamu lakukan disini mas?"
Farid berdehem menetralkan detak jantungnya. dia melihat ke arah Marissa yang berdiri sambil menggenggam air mineral botol.
"Hanya lewat saja sekalian mampir beli kue buat Tania."Marissa mengangguk
"yaudah silakan masuk mas , ada pegawainya didalam maaf tidak bisa menemani mas."Farid mengernyit heran apa Marissa tengah menjaga jarak dengannya?atau ini hanya perasaannya saja
"kamu mau kemana?"tanya Farid dengan raut wajah dinginnya , Marissa menatap Farid bingung melihat raut wajah yang berubah sepersekian detik ini.
"Bahan ada yang habis mas aku mau beli."
"Sama siapa?"
"Sama---
"mbak Marissa?"Marissa dan Farid serentak melihat kearah seorang yang baru saja datang , Farid menyipitkan matanya penuh selidik saat melihat pria yang tadi memanggil istrinya dan juga memotong pembicaraan mereka berdua.
"Eh mas Reza. disuruh ibu pasti iya?"tanya Marissa pria itu tersenyum menampilkan dimple dikedua pipinya. sangat manis dan mempesona.
"iya bunda nyuruh saya kesini , bunda udah nelpon mbak ya?"
"iya mas. tapi kayaknya mas sedang kerja atau gimana?"
"jam istirahat. kebetulan hari ini tidak terlalu padat jadi bisa bantuin mbak."
Farid sudah menebak berprofesi sebagai apa pria yang tengah berbicara pada istrinya. dia adalah seorang dokter bagaimana dia tahu?simple pria itu masih memakai pakaian kerjanya hanya saja jas putih itu sudah dilepasnya dan dia pegang.
"tidak merepotkan mas?"Reza menggeleng sambil tersenyum lembut
"Tidak sama sekali mbak."
Farid berdecak melihat dua orang yang tengah berinteraksi , apa-apaan ini? dia seperti tidak dianggap disini.
"Ekhem."Farid berdehem membuat kedua manusia itu kini menatapnya
"Oh apakah ini Pak Farid? pengusaha sukses itu?mbak mengenalnya?"Marissa terdiam dia bingung harus menjawab apa , pernikahannya memang tidak ada yang tahu selain orang-orang yang dekat saja.
"Saya mau membeli kue."sahut Farid
"ah silakan pak , ngomong-ngomong selamat iya untuk kehamilan anak pertamanya semoga selalu sehat dan panjang umur untuk keluarga bapak."
"dari mana kamu tahu?"pertanyaan bodoh yang Farid lontarkan kepada Reza , astaga ayolah siapa yang tidak mengenal Farid?pengusaha sukses yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan karena prestasi dan kehamilan istrinya
"bapak ini ada-ada saja pertanyaannya semua portal berita isinya bapak semua loh pak."jawab Reza , Farid merutuki ucapan konyolnya tadi.
kini Farid tersenyum tipis , meskipun dalam hatinya sangat tidak menyukai dengan seorang yang sok akrab gini.
"ah iya terimakasih atas ucapan dan doanya."Reza mengangguk sambil tersenyum lalu dia menatap Marissa yang tengah menunduk
"mau sekarang mbak perginya?"
Marissa mendongak menatap Reza ,"iya mas ayo tapi---
"tenang mbak sudah ada dimobil ko."sela Reza diakhiri dengan kekehan kecilnya
"yaudah aku ke masuk sebentar dulu kamu langsung ke mobil aja."ucap Reza Marissa mengangguk setelah Reza pergi Farid menatap tajam kearah Marissa
"ini alasannya suka kerja hm?aku tunggu nanti malam jelasin semuanya."ucap Farid yang langsung pergi tanpa mendengar terlebih dahulu jawaban Marissa.
wanita itu tersenyum memandang punggung itu yang terus berjalan sampai tak terlihat lagi oleh keramaian , bibir memang tersenyum tapi tidak bisa menutupi matanya yang sudah berkaca-kaca itu. guratan lelah , sedih muak dan sakit sangat ketara jika seorang melihat Marissa sekarang ini.
"tolong jangan membuatku bingung mas."lirihnya
"Mbak."Marissa terbuyar dari lamunannya saat Reza datang menepuk pundaknya
"kamu melamun?"tanyanya Marissa menggeleng
"sudah?ayo mas nanti keburu habis jam istirahat kamu."
"ayo mbak."mereka berdua berjalan dan masuk kedalam mobil milik Reza
"Halo mbak."sapaan riang adalah hal yang pertama kali Marissa dengar saat baru saja masuk kedalam mobil
"hallo Vinny , makasih loh udah mau ikut belanja."
Vinnya Ahmad adalah adik dari Reza Ahmad , perempuan dengan wajah blasteran Indonesia-Belanda itu tampak manis dengan hijab yang menutupi kepalanya.
dia adalah seorang yang Marissa tanyakan tadi. Marissa sadar dia adalah seorang istri yang tidak bisa sembarang pergi dengan laki-laki yang bukan mahramnya apalagi berdua tanpa pendamping. untuk itu ketika akan pergi seperti ini Marissa meminta pada Reza untuk selalu membawa seorang ditengah mereka agar menghindari hal yang tidak diinginkan.
"apa mbak merepotkan kamu?"
"enggak kebetulan aku hari ini libur mbak huhu capek banget sekolah mau nikah aja aku."
"kamu mau melangkah abangmu begitu Vinny?"sahut Reza sambil menyetir Vinny terkekeh geli saat abangnya memasang wajah cemberut yang di buat-buat.
"makanya abang nikah dong."
"nikah itu bukan perkara mudah untuk laki-laki , banyak yang akan ditanggung makannya abang mau cari istri yang solehah."
"lah itu mbak Marissa ada bang."celetuk Vinny membuat Marissa hampir tersedak ludahnya sendiri, sedangkan Reza hanya tersenyum saja.
"kita enggak ada yang tahu kedepannya biarlah menjadi rahasia Allah, dan kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti alur yang telah dibuatnya."
Vinny hanya tersenyum melihat tingkah Marissa yang gugup dia berdoa semoga saja Marissa dan kakaknya berjodoh , Reza sudah cukup untuk menikah dan dia merasa Marissa cocok untuk abangnya.
Vinny dan Reza tidak tahu bahwa Marissa telah bersuami dan kini wanita itu hanya diam dan berpikir apa dia telah salah melangkah atau tidak?..
"sudah sampai ayo turun."ucap Reza setelah memarkirkan mobilnya mereka bertiga turun dan masuk kedalam pusat perbelanjaan yang menjual bahan-bahan yang Marissa butuhkan.
mereka berjalan beriringan dengan Vinny menggandeng tangan Marissa dan Reza yang berdiri disampingnya Vinny.
"Mbak nanti makan dulu Vinny belum makan."Marissa melirik ke arah Vinny
"kamu belum makan?"tanya Marissa Vinny menggeleng dengan wajah memelasnya.
"kamu mau makan dulu?atau mbak aja yang beli kamu makan dulu, gimana?"
"emang lama mbak?"
"lumayan. kamu sama Mas Reza makan aja dulu biar aku yang beli sendiri."
"mbak sama abang aja gimana?kan abang mau bantuin mbak jadi enggak apa-apa aku sendirian ya. aku tunggu di cafe itu oke! dah."
belum sempet Marissa jawab Vinny sudah berlari meninggalkannya dan Reza , Pria itu hanya tersenyum tipis saat melihat tingkah adiknya yang berubah menjadi emak comblang.
"mas mau ikut sama Vinny?enggak apa-apa mas."Reza terbuyar dia melirik kearah Marissa
"aku temani kamu aja lagian aku belum lapar."Marissa mengangguk
"Udah ayo jalan lagi."Reza mengangguk dan mengikuti langkah Marissa.
**
Farid menunggu Marissa pulang waktu sudah menunjukkan jam setengah enam namun Marissa belum juga terlihat. sial Farid rasanya ingin terus mengumpat saat mengingat pria yang sok akrab dengan dirinya tadi siang apalagi saat melihat mata pria itu yang menatap istrinya dengan binar serta senyuman yang selalu terukir saat bicara dengan istrinya.
Farid bukan pria bodoh yang tidak paham dengan tatapan itu , sudah jelas sekali bahwa pria itu mencintai istrinya.
Klek. pintu utama terbuka berdiri Marissa sambil menenteng paper bag dan berjalan begitu saja tanpa melihat ke arah Farid yang mana membuat pria itu semakin kesal dibuatnya.
"Bu aku pulang."Marissa menaruh paper bag dimeja makan dan menuang air kedalam gelas dan meminumnya
"sudah pulang? gimana kencannya seru?"Marissa terlonjat sampai membuat dirinya tersedak , dia membalikkan badannya menatap mata yang kini juga menatapnya tajam.
"jawab aku Marissa."teriak Farid
"aku cape mas. aku mau mandi dulu jangan lupa solat Maghrib mas."sahut Marissa dan pergi meninggalkan Farid didapur sendirian. pria itu mengepalkan tangannya kuat emosinya sudah di ubun-ubun nafasnya sudah tidak teratur Marissa sudah terlewat batas.
Farid mengumpat dalam hatinya dan dia berjalan mengejar Marissa yang berada di kamarnya. pria itu membuka pintu kamar dengan sangat kencang sampai menimbulkan bunyi.
"Marissa."teriak Farid sedangkan Marissa berada didalam kamar mandi dia mengunci pintunya , dia takut bahkan tubuhnya sudah gemetar dia takut dengan amarah Farid saat ini.
"Buka pintunya Marissa."teriakan Farid dari luar semakin membuat Marissa gemetaran
"Buka atau---
Farid tidak melanjutkan ucapnya saat dering ponselnya berbunyi , dia mengumpat kasar dan mengangkat panggilan itu.
"iya ada apa Tania?"Farid keluar dari kamar, Marissa yang mendengar langkah kaki Farid menjauh pun bernafas lega dia langsung mandi dan mengambil wudhu dan keluar dari kamar mandi.
setelah solat dia merapihkan mukenanya dan memakai pakaian tidurnya , dia terperanjat saat sebuah tangan melingkar kencang dipinggangnya Marissa menahan nafas saat seorang dibelakangnya mencium lehernya.
"Kamu pikir bisa menghindari suamimu ini hm , Marissa jangan melakukan hal konyol itu tidak mungkin."bisikan yang sangat dingin menyiratkan adanya kemarahan dan emosi didalam ucapan itu.
Farid membalik tubuh Marissa sehingga membuat Marissa menghadapnya sekarang , Farid menatap tajam.
"mas kamu tidak sama Tania?"tanya Marissa gugup bukan jawaban yang Marissa dapat melainkan sebuah seringai yang terukir dibibir Farid.
"Tania tak ada dirumah sekarang hm. kenapa apa kamu cemburu dengan Tania? bagaimana Tania cantik bukan bahkan dia sederajat denganku bukan?"ucapnya
sambil menarik tali gaun tidurnya Marissa secara perlahan Farid mencium leher Marissa membuatnya merinding dan lemas dengan sentuhan suaminya.
"Marissa jangan melewati batasanmu , kamu adalah seorang istri ingatlah itu."bisiknya Marissa mendorong tubuh Farid lalu menatapnya
"Aku hanya mau berusaha tanpa kamu mas , suatu saat ketika anak itu lahir aku pasti akan dibuang bukan begitu?aku hanya ingin belajar mas.
kamu pernah membandingkan aku dengan Tania ah bukan cuma kamu tapi ibumu juga kalian menghinaku kalian menjadikan aku seperti sesuatu yang sangat rendah dan menjijikkan perlu kamu ingat jika saja aku tidak menikah denganmu atau tidak menerima lamarmu saat dulu mungkin kini aku bukan disini tapi ...
di Amerika meneruskan pendidikan aku tapi apa yang aku pilih?aku memilih menikah denganmu mas."
Marissa terpekik saat Farid mendorong tubuhnya di ranjang , pria itu bangkit dan mengunci pintu dengan tergesa-gesa Farid membuka semua pakaiannya hanya celana dalam yang tersisa.
"Kamu sudah melewati batasmu , apa karena si dokter sialan itu?apa sekarang kamu tengah mendekatinya heh , ingat Marissa kamu milikku dan tetap milikku."Farid menjamah tubuh Marissa tanpa terlewatkan sedikitpun
"mas jangan begini aku bukan p*****r mas , lepaskan aku mas."isaknya Farid tidak perduli tangannya tetap bermain dibawah sana , dia menatap wajah Marissa dia mencium bibirnya
"jangan menangis sayang , kita akan melewati malam yang panjang aku akan buat kamu tidak bisa berjalan."Farid mengusap air mata istrinya dan mengecupnya.
"aku mulai."ucapnya setelah berhasil meloloskan semua pakaian yang dikenakan Marissa , Dan terjadilah pergulatan panas itu.