Malam harinya Elea menangis tanpa henti.
Ia sendiri tak benar-benar tahu apa yang ia tangisi. Bukankah lima tahun lalu dialah yang memutuskan untuk pergi? Dialah yang memilih meninggalkan semuanya.
Seharusnya, melihat Karang kini memiliki keluarga yang utuh membuatnya merasa lega.
Namun yang terasa justru sebaliknya.
Sakit.
Sakit sekali.
"Hiks…"
Elea mengusap air matanya dengan tisu. Ia bahkan sudah tak ingat itu tisu keberapa. Yang jelas, tiga kotak tisu di kamarnya sudah hampir habis malam ini
Karang...
Namanya saja sudah cukup membuat d**a Elea terasa sesak.
Semudah itu kamu lupain aku?
Elea menatap foto di layar ponselnya tanpa berkedip.
Karang tersenyum di sana.
Senyum yang dulu pernah menjadi rumah baginya.
Di samping pria itu berdiri seorang wanita dengan gaun mahal, sementara seorang anak kecil memeluk kaki Karang dengan riang. Pemandangan yang begitu hangat… dan begitu jauh dari jangkauan Elea.
“Harusnya aku senang…” gumamnya pelan.
Bukankah ini yang aku pilih lima tahun lalu?
Elea mengusap wajahnya kasar, berusaha menghentikan air mata yang tak juga kunjung berhenti.
Konyol.
Lima tahun berlalu, tapi namanya masih mampu membuat Elea seperti ini.
Entah sejak kapan, akhirnya Elea tertidur.
Tubuhnya terlalu lelah setelah seharian menangis tanpa henti. Matanya bengkak, kepalanya terasa berat, dan napasnya masih sesekali tersendat bahkan dalam tidur.
Malam berlalu begitu saja.
Saat sinar matahari pagi menembus tirai kamarnya, Elea perlahan membuka mata.
Kepalanya masih terasa pening.
Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih setengah terlelap. Pandangannya beralih ke meja kecil di samping tempat tidur.
Tiga kotak tisu kosong masih tergeletak di sana.
Elea terdiam.
Dadanya tiba-tiba terasa kosong.
Kenangan itu kembali menyerbu pikirannya begitu saja.
Elea segera duduk, napasnya sedikit tercekat.
Ia sempat berharap semuanya hanya mimpi. Mimpi buruk yang tercipta karena kelelahan dan pikirannya yang terlalu penuh.
Namun ketika tangannya meraih ponsel di atas meja dan layar itu kembali menampilkan foto yang sama.
Harapan itu hancur seketika.
Semuanya nyata.
“Move on, Ele… move on!”
Suara itu keluar pelan dari bibirnya sendiri.
Elea memejamkan mata, kedua tangannya mengepal di atas selimut. Dadanya naik turun menahan emosi yang kembali menggebu.
“Move on!” ulangnya lagi, kali ini lebih tegas,
seolah sedang memarahi dirinya sendiri.
Sudah cukup.
Ini sudah Lima tahun.
Ia tidak boleh seperti ini terus.
Karang sudah memiliki kehidupannya sendiri sekarang.
Keluarga.
Kebahagiaan.
Sementara Elea… seharusnya juga sudah melanjutkan hidupnya.
Perlahan ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Cukup, Elea,” gumamnya lirih. “Sudah waktunya kamu benar-benar pergi dari masa lalu.”
🌿🌿🌿🌿
Sementara itu, di tempat yang berbeda.
Karang sedang memimpin sebuah rapat penting di ruang meeting kantor pusatnya.
Suasana ruangan terasa tegang. Beberapa eksekutif duduk mengelilingi meja panjang dengan tumpukan berkas di depan mereka. Layar proyektor menampilkan grafik dan laporan keuangan yang terus berganti.
Karang berdiri di ujung meja.
Tatapannya tajam, suaranya tenang namun tegas saat memberikan keputusan terakhir.
“Gunakan rencana kedua. Saya tidak mau ada kesalahan dalam proyek ini.”
Beberapa orang langsung mengangguk cepat.
“Baik, Tuan Karang.”
Rapat itu akhirnya selesai menjelang waktu makan siang.
Setelah rapat ditutup, Karang kembali ke ruangannya.
Langkahnya tenang seperti biasa, namun wajahnya tetap datar dan sulit ditebak. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya hanya berani menunduk hormat sebelum buru-buru menyingkir dari jalurnya.
Begitulah Karang dikenal di perusahaan itu.
Tegas. Dingin. Dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi.
Begitu sampai di ruangannya, ia langsung duduk di kursi kerjanya. Tangannya meraih beberapa berkas di atas meja, mencoba menenggelamkan dirinya kembali dalam pekerjaan.
Tok… tok…
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Karang tidak mengangkat kepala.
“Masuk.”
Pintu perlahan terbuka.
Asisten pribadinya melangkah masuk dengan sikap profesional seperti biasa. Di tangannya terdapat sebuah map tebal berwarna cokelat.
Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan map itu tepat di atas meja kerja Karang.
Karang akhirnya mengangkat
pandangannya.
“Apa itu?” tanyanya singkat.
Asisten itu menundukkan kepala sedikit sebelum menjawab.
“Laporan yang Anda minta, Tuan.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih hati-hati.
“Laporan mengenai kehidupan Nona Elea… setelah meninggalkan Anda lima tahun lalu. Tepatnya sejak malam kecelakaan itu.”
Tatapannya jatuh pada map di depannya.
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Karang membuka map itu perlahan.
Karang membuka map itu perlahan.
Halaman pertama menampilkan foto Elea.
Foto itu tampaknya diambil beberapa tahun lalu. Elea berdiri di depan sebuah bangunan sederhana dengan pakaian yang sangat biasa. Rambutnya diikat asal, wajahnya tampak lebih kurus dari yang Karang ingat.
Karang terdiam.
Tangannya berhenti membalik halaman.
Lima tahun.
“Lanjutkan,” ucapnya datar.
Asisten pribadinya mengangguk.
“Setelah meninggalkan rumah sakit malam kecelakaan itu, Nona Elea pindah ke Ausi. Ia bekerja di beberapa tempat berbeda selama lima tahun terakhir.”
Karang mulai membuka halaman berikutnya.
Satu per satu laporan itu menampilkan catatan kehidupan Elea.
Pelayan kafe.
Kasir .
Penerjemah.
Guru les.
Semua pekerjaan kecil dengan gaji yang tidak seberapa.
Alis Karang perlahan berkerut.
“Kenapa dia terus berpindah pekerjaan?” tanyanya pelan.
Asistennya menjawab dengan hati-hati.
“Sebagian karena kontraknya habis, Tuan… dan sebagian lagi karena tempat kerjanya bangkrut.”
Karang tidak berkata apa-apa.
Namun rahangnya menegang.
Ia terus membalik halaman demi halaman.
Catatan alamat tempat tinggal yang selalu berpindah.Dan beberapa laporan medis kecil.
Semakin lama ekspresi Karang semakin gelap.
“Selama lima tahun ini…” lanjut asistennya, “kami tidak menemukan adanya hubungan dengan pria lain.”
Tangan Karang berhenti.
Tatapannya terangkat perlahan.
"Maksudmu?”
Asisten itu menjawab dengan tegas.
“Tidak ada laki-laki lain dalam hidupnya setelah Anda, Tuan.”
Karang menatap kembali foto Elea yang ada di dalam map itu.
Wajah wanita itu tampak jauh lebih kurus dari yang ia ingat. Tidak ada lagi senyum cerah yang dulu selalu menghiasi bibirnya.
Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Asisten pribadinya tetap berdiri diam di tempatnya, menunggu perintah selanjutnya.
Karang kembali membuka halaman laporan itu.
Tidak ada laki-laki lain.
Tidak ada hubungan.
Tidak ada kehidupan mewah seperti yang selama ini ia bayangkan.
Yang ada justru daftar pekerjaan kecil… dan kehidupan yang penuh kesulitan.
Tatapan Karang semakin dalam.
“Jika semua ini benar…” suaranya rendah, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ia menutup map itu perlahan.
“Lalu kenapa dulu dia pergi meninggalkanku?”
Ruangan itu kembali sunyi.
Beberapa detik berlalu sebelum Karang melanjutkan kalimatnya.
Kali ini dengan suara yang jauh lebih dingin.
“Kecuali…”
Ia mengangkat pandangannya.
Tatapannya tajam.
“Itu bukan pilihannya sendiri.”
Karang bersandar di kursinya, pikirannya mulai bekerja cepat.
Selama lima tahun ini ia selalu percaya satu hal—Bahwa Elea meninggalkannya.
Namun laporan di tangannya mulai meruntuhkan keyakinan itu sedikit demi sedikit.
Karang menatap asistennya dengan mata yang tajam, penuh tekad.
Setelah beberapa detik hening, ia akhirnya berbicara dengan suara yang dingin tapi tak terbantahkan.
“Selidiki ini… sampai tuntas. Secepatnya,” titahnya tegas.