Laura memasuki ruangan luas itu dengan tergesa-gesa.
“Gawat!”
“Ibu… ini gawat!”
Ibu mertuanya yang sedang duduk santai menikmati teh langsung tersedak.
“Uhuk… uhuk…”
Laura buru-buru menutup mulutnya dan segera membantu wanita paruh baya itu.
“Ibu, hati-hati!”
“Lagian, kamu ini masuk bukannya salam, malah mengagetkan orang tua,” cecar Hana setelah napasnya mulai tenang.
"Iya, Bu, Laura minta maaf… Tapi ini benar-benar urgen. Ini menyangkut perempuan itu.”
“Perempuan siapa?” tanya Hana bingung.
“Elea, Bu. Perempuan itu sudah kembali. Dan sialnya… Karang tahu. Mereka bahkan sempat tidak sengaja bertemu.”
Hana terdiam sesaat. Wajahnya menegang.
“Tidak mungkin… Ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh sampai bertemu lagi, apalagi sampai bersama.”
Laura semakin panik.
“Ibu, Ibu tahu kan secinta apa Karang sama perempuan itu? Aku takut, Bu… Karang bakal meninggalkan aku sama Cinta. Cinta tidak boleh kehilangan sosok ayahnya…”
Laura menangis tersedu-sedu.
“Kamu tenang saja,” kata Hana akhirnya.
"Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi. Ibu janji, Karang akan tetap di pihak kalian.”
Karang tidak boleh tahu. Apa pun yang terjadi, rahasia itu harus tetap terkubur. Ia tidak boleh pernah tahu bahwa akulah yang membuat Elea meninggalkannya, batin Hana.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.
Karang melangkah masuk ke ruang tamu rumah ibunya. Langkahnya terhenti ketika melihat Laura berdiri dengan mata yang memerah.
“Kenapa kamu menangis?” tanyanya heran.
Laura langsung mengusap pipinya dengan cepat.
“Tidak apa-apa,” jawabnya pelan.
Karang mengernyit, menatapnya beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah istrinya.
Hana yang duduk di kursinya segera bersuara untuk mengalihkan suasana.
“Kenapa tidak mengabari Ibu kalau mau datang? Ibu kan bisa menyiapkan makanan kesukaanmu,” katanya.
Karang berjalan sedikit mendekat.
“Aku hanya ingin menjemput Laura,” jawabnya singkat. “Kupikir dia sudah selesai berbicara dengan Ibu.”
Laura langsung mengangguk cepat.
“Iya… aku memang sudah mau pulang,” katanya.
Laura segera melangkah keluar dari ruangan itu lebih dulu.
Karang sempat memperhatikan langkahnya yang tergesa-gesa.
Ada sesuatu yang terasa janggal… tapi ia belum tahu apa.
Laura menarik napas panjang saat menutup pintu rumah ibunya. Jalanan sore tampak sepi, tapi hatinya tetap tidak tenang. Di sisi lain, Karang menempel di sebelahnya, terlihat biasa saja, seperti pasangan yang normal.
Di depan umum, senyum tipisnya dan sapaan lembutnya membuat orang-orang yang melihat mereka mungkin mengira mereka harmonis. “Kamu lapar?” tanya Karang, suaranya ringan, hampir seperti lelucon.
“Iya… sedikit,” jawab Laura, mencoba menyesuaikan diri dengan sikapnya yang ramah.
Namun begitu mobil mereka meninggalkan jalan utama, suasana berubah drastis. Karang memusatkan pandangannya ke jalan, wajahnya datar, suara pelan. “Kamu mau makan di rumah atau di restoran cepat saji?”
Laura menatapnya, tapi tidak ada senyum yang kembali. “Di rumah saja,” jawabnya, singkat.
Selama perjalanan pulang, mereka hanya berbicara seperlunya—tidak ada candaan, tidak ada pertanyaan panjang. Bahkan pertanyaan sederhana tentang hari Laura terasa seperti beban. Karang menjawab dengan satu atau dua kata, tidak pernah lebih.
Ketika sampai di rumah, Laura teringat lagi kenyataan yang menekan hatinya: selama pernikahan ini, ia tidak pernah diizinkan masuk ke kamar Karang. Mereka tinggal di satu atap, namun selalu tidur terpisah. Suara langkah Karang yang pergi ke kamarnya terasa dingin, membuat Laura seolah berjalan di ruang yang sama tapi tidak pernah benar-benar dekat dengannya.
Mobil berhenti tepat di depan rumah mereka.
Laura membuka pintu dan turun lebih dulu. Biasanya, Karang hanya ikut pulang satu minggu sekali, itupun demi Cinta, putri mereka. Jadi ia sempat berharap Karang akan ikut seperti biasa.
Namun Karang tetap duduk di kursi pengemudi, menatap jalan depan dengan wajah datar. Mesin mobil masih menyala.
“Karang, kamu mau kemana?” tanyanya.
"Bukan urusanmu!” jawabnya ketus, suaranya dingin seperti es.
Mobil itu kemudian melaju meninggalkan halaman rumah, meninggalkan Laura yang berdiri terpaku.
"Aaah… sial!” umpat Laura, menahan amarah. Sikap Karang yang tidak bisa ia ubah selalu membuatnya frustrasi.
Tangannya mengepal kuat.
“Karang, lihat saja apa yang akan kulakukan pada Elea!” gumamnya dengan penuh kemarahan. “Jika aku tidak bisa mendapatkanmu… orang lain juga tidak akan bisa.”
Di dalam rumah, Laura berdiri di ruang tamu. Lampu temaram memantulkan bayangan tubuhnya yang tegang. Ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya bergerak cepat.
“Cepat, cari tahu tempat tinggal perempuan itu sekarang,” perintahnya dengan suara tegas, menatap layar ponselnya seolah lawan bicara bisa melihat tekadnya.
“Kita pergi ke mana, Tuan?” tanya sopir pribadi Karang hati-hati, menatapnya sekilas.
“Apartemen,” jawab Karang singkat, sambil memijit pelipisnya.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Sementara itu masih di bawah langit yang sama,namun masih berada di tempat yang berbeda Elea sedang mengemasi barang-barangnya, dibantu sahabatnya, Diana.
“Elea… semoga di sana nanti kamu betah ya. Ingat, kalau ada apa-apa, kabarin aku,” kata Diana sambil memeluk Elea erat.
Elea mengangguk pelan, menahan rasa haru.
"Aku pasti bakal kangen berat sama kamu,” ujarnya, mengusap airmata yang mulai menetes.
“Sama gue juga,” sahut Diana. Keduanya tertawa kecil, meski airmata tetap mengalir di pipi mereka.Keduanya menghabiskan malam terakhir mereka dengan indah.
Mentari pagi menyelinap di celah jendela, menebar sinar hangat ke kamar yang masih dipenuhi koper dan barang-barang yang siap dibawa. Udara pagi terasa segar, membawa janji hari baru yang penuh harapan, sekaligus sedikit getir karena perpisahan yang tak bisa dihindari.
Elea menatap keluar jendela, melihat kota yang mulai hidup dengan hiruk-pikuknya. Nafasnya tertahan sejenak, menahan campuran perasaan rindu, cemas, dan semangat memulai babak baru dalam hidupnya.
“Kamu janji ya, kamu bakal nyusulin ke sana,” kata Elea sambil menatap Diana, matanya berkaca-kaca.
“Pasti, secepatnya aku nyusul,” jawab Diana sambil melambaikan tangan.
Dan mobil itu melaju, memisahkan keduanya. Elea menatap jalan yang memudar di belakang, hatinya campur aduk antara haru dan semangat menghadapi hidup baru.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya Elea sampai di kota Surabaya. Seseorang dari perusahaan tempatnya diterima kerja sudah menunggu, siap mengantarkannya ke apartemen baru.
“Mewah sekali… maaf, apa anda salah orang?” tanya Elea, terkejut. Ia baru diterima bekerja, tapi sudah diberikan fasilitas sekelas ini.
“Tidak, ini benar fasilitas dari kantor untuk Anda. Silakan, ini kuncinya. Kalau membutuhkan apa pun, Anda bisa menghubungi saya,” jawab orang tersebut sambil mengulurkan kunci, kemudian mundur perlahan, memberi ruang bagi Elea memasuki apartemennya
Elea mematung sejenak. Hatinya tiba-tiba ragu. Tapi ia segera menepisnya.
“Apa yang kamu pikirkan, El? Mungkin saja ini hadiah dari Tuhan atas kesabaranmu melewati masa susah,” gumamnya, mencoba berpikir positif.