Pagi menyelinap di langit Jakarta, cahaya matahari menembus celah-celah gedung pencakar langit, memantul di permukaan kaca yang menjulang tinggi.
Di dalam ruangan CEO yang luas, Karang berdiri menatap kota yang mulai sibuk, jalanan kecil terlihat seperti arus sungai manusia dan kendaraan dari kejauhan.
Tok… tok… terdengar ketukan di pintu.
“Masuk…” ucap Karang tegas.
Asisten pribadinya, Ozi, melangkah masuk dengan langkah teratur.
“Bagaimana, tugas yang ku beri, apa semuanya aman?” tanya Karang, menatap serius ke arah Ozi.
“Sudah, Tuan. Semua berjalan sesuai perintah Tuan,” jawab Ozi.
Karang menepuk pundak Ozi, wajahnya berbinar,untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Ozi melihat senyum itu kembali menghiasi wajah bosnya.
“Bagus. Besok bonus bulananmu ku naikkan tiga kali lipat,” kata Karang dengan nada puas.
Ozi tersenyum lebar, matanya berbinar.
“Terima kasih, Tuan,” ujarnya sebelum meninggalkan ruangan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀....
Sinar matahari siang menembus jendela mobil saat Laura mengantar Cinta ke sekolah. Suasana pagi yang cerah seharusnya membawa ketenangan, tapi hatinya masih dipenuhi kecemasan dan rencana yang belum terselesaikan.
Begitu mobil berhenti, ia menatap putrinya turun dengan ceria, senyum Cinta menghangatkan dadanya sesaat. Namun tak ada waktu untuk berlama-lama merenung—pikirannya langsung tertuju pada urusan yang menunggunya begitu kembali ke rumah.
Belum sempat ia menenangkan diri, ponselnya bergetar di tangan. Laura menatap layar, lalu mengangkatnya dengan napas tertahan.
“Halo, Nona Laura… saya sudah menemukan alamat perempuan itu. Tapi sialnya, sekarang dia sudah tidak ada di sana. Menurut keterangan tetangganya, sepertinya dia sudah pindah,” lapor pria di seberang telepon.
“Dasar bodoh!” bentak Laura, suaranya tegang. “Aku membayarmu mahal bukan untuk mendengar keluhanmu.”
Ia menarik napas kasar, menahan amarah yang mulai memuncak.
“Cepat temukan dia. Dan kalau kamu sudah menemukannya… habisi saja.”
“Siap… Boss. Tenang saja, kita pasti akan habisi perempuan itu secepatnya,” jawab suara di seberang telepon.
Laura segera menutup panggilan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis penuh kepuasan.
Tak lama kemudian, ia menghubungi Karang. Sudah tiga hari ini ia sama sekali tidak menelpon putri mereka—eits, lebih tepatnya, putri Laura sendiri.
Drt… drt…
ponsel Karang bergetar.
Karang, yang sedang fokus dengan pekerjaannya, menatap layar sebentar
sebelum menutup panggilan dari Laura.
"Mengganggu saja,” gumamnya dingin, menegaskan batasannya.
Laura menatap ponselnya dengan mata membara. Rasanya darahnya hampir mendidih.
“Dasar Karang… selalu saja dingin, selalu saja acuh,” gumamnya kesal, menekankan jarinya di layar ponsel.
“Aaaaaaah…!”
Laura berteriak frustrasi.
Berbeda dengan Laura, Elea justru sedang menikmati hari pertamanya di kantor.
Ia sampai menganga takjub begitu melihat tempat kerjanya yang baru: sebuah gedung pencakar langit dengan segudang fasilitas mewah, ruang-ruang yang rapi, dan pemandangan kota yang menakjubkan dari jendela besar.
Segala sesuatu terasa begitu baru dan mengagumkan baginya, membuat hari pertamanya dipenuhi rasa kagum dan semangat untuk memulai babak hidup yang baru.
Tidak hanya itu, semua rekan kerjanya menyambut Elea dengan sangat ramah. Bukan seperti bayangannya sebelumnya, ketika anak baru biasanya, jika tidak dikucilkan, ya dibully.
Sukurlah…
Elea hampir menangis melihat kebaikan mereka. “Indah sekali, Tuhan,”
Hari pertama kerja berjalan lancar. Elea bahkan sudah langsung memiliki teman baru hari itu juga, membuatnya merasa nyaman dan diterima.
Begitu sampai di apartemen, ia merebahkan tubuhnya di kasur, menutup mata sambil mengingat semua hal manis yang ia dapatkan hari itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya, hati terasa hangat.
Namun tiba-tiba, alarm di ponselnya berbunyi.
Seketika, senyumnya memudar. Air mata mengalir begitu cepat. “Hari ini adalah hari spesial… milik ia dan Karang dulu,” bisiknya pelan, suara serak karena menahan emosi.
Bodoh sekali, pikir Elea. Harusnya sudah kau hapus, tapi mengapa masih merasa perlu menyimpannya?
“Dia sudah bahagia… bahkan sudah memiliki anak dengan wanita lain. Dan aku? Aku tidak berbakat menjadi pelakor. Hapus… aku harus menghapusnya, menghapus segalanya tentang Karang,” gumamnya, menekan wajahnya ke bantal, mencoba menenangkan hati yang terluka.
Entah pukul berapa ia tertidur, saking lelah dan berat perasaannya. Hingga ia terbangun, menyadari satu hal.
Ia seperti memeluk sesuatu.
Kenapa rasa dan aromanya tidak asing? Wangi ini sudah lama ia tidak menciumnya.
Deg.
Matanya langsung terbuka. .
"Aaaaaaaa…!” ::
Seketika ia menjerit begitu melihat siapa yang ia peluk.
“Aaaaaaaa…!”
Elea baru saja hendak menjauh ketika sebuah tangan dengan cepat menarik pergelangan tangannya.
Tubuhnya terhuyung dan kembali jatuh ke dalam pelukan yang sama.
"Diam!” suara Karang terdengar rendah di dekat telinganya.
Elea membeku. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan. Aroma yang sejak tadi ia kenali kini semakin jelas—aroma yang pernah begitu akrab baginya.
“Berhenti berteriak,” ujar Karang dingin, lengannya masih menahan tubuh Elea agar tidak menjauh.
Elea mengangkat wajahnya perlahan. Matanya membesar ketika akhirnya benar-benar melihat siapa pria yang memeluknya.
“K… Karang?”
Tangannya refleks mendorong d**a pria itu, mencoba menjauh.
“Kenapa kamu ada di sini?!”
Tatapan keduanya beradu temu. Jelas betapa besar rindu itu akhirnya bertemu pemiliknya.
Elea refleks mencoba menjauh. Namun Karang bergerak lebih cepat.
Ia bangkit dari posisi berbaring, lalu melangkah mendekat. Elea mundur satu langkah… dua langkah… hingga punggungnya tiba-tiba menabrak dinding.
Belum sempat ia menghindar, kedua tangan kekar Karang sudah terangkat dan menahan di kanan kiri kepalanya.
Elea terkunci.
Tubuhnya terjebak di antara dinding dan tubuh Karang yang menjulang di depannya. Tidak ada ruang untuk kabur.
Napas mereka bertabrakan. Begitu dekat hingga Elea bisa merasakan hangat napas pria itu di wajahnya.
“Tidak penting kenapa aku di sini,” ucap Karang rendah.
Tatapannya tajam, seolah ingin menembus semua rahasia yang selama ini Elea sembunyikan.
“Yang lebih penting…” suaranya menegang.
"Kenapa dulu kamu pergi meninggalkanku?”
Elea terdiam, tenggorokannya terasa kering.
Elea terdiam, tenggorokannya terasa kering.
“Kamu pergi begitu saja,” lanjut Karang, rahangnya menegang.
“Padahal kamu tahu aku sangat membutuhkanmu waktu itu.”
Karang menarik napas kasar.
"Kenapa kamu tidak menungguku?”
Hening sejenak.
“Kamu tahu aku terbaring di rumah sakit karena menolongmu… tapi kamu tetap pergi.”
Tatapannya semakin dalam.
“Kenapa, Elea?”
Elea menelan ludah. Tubuhnya menegang di antara kedua tangan Karang yang menahan di kanan dan kiri kepalanya.
Tatapan pria itu terlalu dekat… terlalu dalam… seolah ingin menarik semua rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Kenapa diam?” suara Karang rendah, dan terus menekan.
Elea menggeleng pelan. Tangannya refleks mencengkeram ujung bajunya sendiri, jari-jarinya gemetar.
“A-aku…” suaranya nyaris tak terdengar.
Ia menundukkan wajah, menghindari tatapan Karang. Bahunya sedikit bergetar.
“Maaf…” bisiknya lirih.