Hari ini terasa sangat melelahkan bagi Karang. Hanya demi Elea, ia rela bolak-balik Jakarta–Surabaya tanpa jeda.
Pintu apartemen terbuka pelan. Elea melangkah masuk, lalu seketika membeku.
"Kamu?!" suaranya naik, terkejut.
Karang yang sudah duduk santai di dalam hanya tersenyum jahil. "Aku pegang kunci serepnya." Ia mengangkat kunci itu sedikit, seolah itu penjelasan yang cukup.
Elea menghela napas kasar.
"Terserah kamu saja," ucapnya pasrah, padahal dalam hatinya ia sudah menyusun cara untuk pergi dari tempat itu.
Karang mengamati wajahnya yang terlihat begitu lelah, jelas menyimpan kewaspadaan.
Ia menepuk sofa di sebelahnya, memberi isyarat agar Elea duduk.
Elea melirik sekilas, waswas.
"Tenang," ujar Karang, "aku nggak akan ngapa-ngapain."
"Enggak. Enggak percaya." Tanpa ragu, Elea langsung berbalik dan menghilang ke dalam kamar.
Karang terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.
"Setidaknya... dia baik-baik saja."
dalam kamar, Elea terus memutar otak, mencari jalan keluar dari situasi ini. Ia tahu bagaimana keras kepalanya seorang Karang, sulit ditebak, dan selalu selangkah lebih maju.
Ia menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah.
Kalau terus begini, aku nggak akan bisa pergi dengan tenang.
Pikiran itu berulang di kepalanya.
Elea mengembuskan napas pelan. Ia tidak boleh terus berada di sini. Harus ada cara untuk keluar.
Lalu, perlahan, sebuah ide muncul di benaknya.
Satu bulan.
Matanya sedikit menguat.
Setelah menerima gaji dari perusahaan
ia akan pergi. Meninggalkan apartemen ini, mencari tempat tinggal baru, dan pekerjaan lain.
Dia harus menjauh dari Karang.
Rencana itu sederhana, tapi bagi Elea, terasa seperti satu-satunya jalan untuk bisa bernapas lega lagi.
Elea menatap kosong ke depan.
Satu bulan saja.
Ia harus bertahan sampai saat itu.
Malam hari, Elea terbangun karena rasa lapar. Ia keluar dari kamar dengan langkah pelan, lalu mendapati Karang tertidur di sofa,satu-satunya tempat tidur selain kamar di apartemen itu.
“Dia beneran tidak ngapa-ngapain…” lirihnya, sambil berjalan perlahan mendekat.
Elea memperhatikan wajah Karang yang tertidur pulas. Rautnya terlihat lelah, jauh dari kesan jahil atau menyebalkan seperti biasanya. Dari situ saja Elea bisa menebakKarang pasti sedang sangat kelelahan.
Ia terdiam sejenak, lalu berbalik masuk ke kamar tanpa suara.
Beberapa saat kemudian, Elea kembali keluar sambil membawa selimut. Dengan hati-hati, ia menyelimutkan kain itu ke tubuh Karang yang tertidur.
🍒🍒🍒🍒🍒
Keesokan paginya..
sinar matahari masuk tipis dari celah tirai, jatuh di lantai ruang tamu yang masih hening.
Karang perlahan membuka mata. Butuh beberapa detik sampai kesadarannya kembali penuh. Ia mengernyit kecil, lalu menegakkan badan dari sofa.
Ada selimut yang menutupi tubuhnya.
Ia terdiam.
Tatapannya turun ke selimut itu, lalu perlahan beralih ke arah kamar Elea yang masih tertutup rapat.
Sudut bibirnya bergerak kecil, nyaris tak terlihat.
“Bisa juga kamu…” gumamnya pelan.
Di dalam kamar, Elea sudah bangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ke arah pintu dengan ekspresi datar, tapi pikirannya tidak tenang.
Ia tidak menyangka dirinya akan melakukan itu semalam.
Harusnya aku nggak usah peduli, pikirnya, mencoba menegaskan pada diri sendiri.
Tapi bayangan Karang yang tertidur lelap dengan wajah lelah itu terus muncul tanpa diundang.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pelan dari luar kamar—suara aktivitas Karang yang mulai bergerak di dapur.
Elea menarik napas panjang, lalu berdiri.
Ia membuka pintu kamar perlahan.
Karang sudah di dapur, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan sempat menoleh sekilas.
“Pagi,” ucapnya santai, nada suaranya seperti biasa.
Elea menoleh.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar pintu.
Ia berjalan dan membukanya.
Di depan pintu, Ozi—asisten Karang—berdiri sambil membawa paper bag berisi pakaian kantor.
“Maaf mengganggu, ini pesanan Tuan Karang,” ucap Ozi sambil menyerahkan barang itu.
Elea mengangguk pelan, lalu menerima paper bag tersebut.
Baru saja ia hendak menutup pintu, tiba-tiba Karang sudah berdiri di belakangnya.
“Ah…” Elea tersentak kaget.
“Mana baju ganti saya?” tanya Karang tenang.
“Ini…” Elea langsung menyerahkan paper bag itu kembali.
Karang menerimanya, lalu berkata datar, “Hari ini aku ada meeting pagi. Kamu nanti dijemput sopir suruhan aku untuk berangkat.”
“Enggak usah. Aku biasa naik kendaraan umum,” tolak Elea cepat.
Karang menatapnya singkat.
“Kamu siapa, berani tawar-menawar denganku?”
Deg.
Seketika Elea membeku.
Baru kali ini ia benar-benar mendengar nada seperti itu dari Karang.dingin, tajam, dan tanpa ruang untuk membantah.
Begitu tiba di kantor, saat melangkah di lobi, langkah Elea langsung terhenti.
Dari arah lift, ia melihat Karang berjalan bersama seorang perempuan dan seorang anak kecil. Mereka tampak seperti keluarga cemara yang sangat bahagia.
Dadanya langsung terasa sesak.
Tanpa pikir panjang, Elea segera menghindar dan bersembunyi di balik pilar.
Bukan marah yang pertama kali muncul, tapi rasa asing yang perlahan menekan d**a. Apa yang ia lihat seakan bertabrakan dengan pengakuan Karang. Mereka tampak sangat bahagia.
Ia menunduk sedikit, berusaha menenangkan diri.
Tidak… aku tidak boleh punya perasaan seperti itu lagi. Pantang bagiku menyukai suami orang.
Soal malam itu, biarlah dianggap sebagai kecelakaan,sesuatu yang terjadi tanpa sengaja. Untuk pertama, sekaligus terakhir.
Laura menatap Karang tajam, napasnya mulai tidak stabil.
“Kamu mengabaikan panggilan dariku. Kita tidak pulang, kamu juga tidak datang di acara sekolah Cinta,” ucapnya dengan suara meninggi.
Dadanya naik turun menahan emosi.
“Dia bahkan terus bilang soal rindu kamu. Aku harus apa?!” sentaknya akhirnya.
Ucapan Laura membuat amarah di wajah Karang perlahan mereda, meski rahangnya masih tampak mengeras.
Ia mengalihkan pandangannya sebentar, ke arah Cinta yang masih sibuk memilih mainan di kejauhan.
Helaan napasnya terdengar pelan.
“...Aku tidak mengabaikannya,” ucap Karang akhirnya, lebih tenang, tapi suaranya terdengar berat.
Matanya kembali ke Laura, namun tidak setajam tadi.
“Aku hanya sedang banyak urusan yang tidak bisa kutinggalkan.”
“Pekerjaan? Atau ada yang lain?” sela Laura cepat, matanya langsung menyipit.
Ia menatap Karang lebih tajam, suaranya turun tapi penuh tekanan.
“Aku sudah tahu perempuan itu sudah kembali lagi. Kau menemuinya?” selidiknya.
“Kenapa? Kau mau cerai sekarang?” Karang justru menantangnya, suaranya dingin dan tajam.
Ia menatap Laura lurus, tanpa sedikit pun menghindar.
“Sedari awal kita tahu siapa yang ada di hatiku. Dan pernikahan ini terjadi karena kecelakaan yang kamu buat untuk menjebakku. Kau pikir selama ini aku diam karena aku bodoh?”
Karang menarik napas pendek, rahangnya mengeras.
“Aku tahu semuanya. Dan satu hal kenapa itu belum terjadi—karena Cinta. Aku tidak mau dia kehilangan kasih sayang salah satu orang tuanya.”
Tatapannya semakin dingin.
“Tapi jika kamu berani macam-macam dengan wanitaku, jangan harap kamu bisa lolos.”
“Jadi benar karena wanita itu?” lirih Laura, suaranya pecah di akhir kalimat. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Karang berhenti sejenak, tapi tidak menoleh.
Ia tidak menjawab.
Tanpa kata lain, ia langsung pergi, meninggalkan Laura di tempat itu.
Laura terdiam beberapa detik, napasnya tersengal pelan. Tangannya mengepal, menahan sesak yang makin menekan d**a.
“Karang… semakin kamu melindunginya,” gumamnya pelan, penuh sakit dan amarah, “semakin aku membencinya.”