Matahari siang yang terik membuat pandangan Dania sedikit bekabut, ditambah dengan air mata yang terus mengalir seakan enggan untuk berhenti. Sapu tangan di dalam genggamannya bahkan bisa diperas, tetapi lelaki yang baru saja diturunkan di liang kubur tetap tak bergerak walau Dania menangis tak berhenti sejak tadi malam. Satu persatu tetangga yang ikut mengantar Bhani mulai pulang dan menepuk punggung Dania memintanya untuk ikhlas dan rela.
“Semua sudah jalannya, Dania, Bhani sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi,” ucap tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Dania. Dania tidak menjawab, hanya memberikan anggukan samar. Mulutnya terasa kaku untuk sekadar mengucapkan terima kasih sudah mengantar.
Gundukan tanah merah itu sudah diselimuti bunga yang menguarkan aroma melati kemana-mana. Dania belum ingin pulang, dia masih tidak rela meninggalkan suaminya sendirian di tanah pemakaman yang sepi itu.
“Dania, ayo pulang. Kasihan Rena di rumah, dia pasti mencarimu,” ucap Bu Ratih ibu Dania yang ikut mengantarkan menantunya yang meninggal karena sakit.
Dania terpaku saat mengingat masih ada Rena yang harus diurus dan diperhatikan. Selama ini perhatiannya tertuju pada Bhani yang yang tiba-tiba sakit sejak dua minggu yang lalu. Stroke … kata-kata itu bagai sembilu yang menusuk tepat ke jantungnya.
Bhani masih muda, usianya baru menginjak empat puluh, hanya terpaut dua tahun dengan Dania. Masih sangat muda ….
Tiba di depan rumah, kaki Dania seakan berat untuk melangkah karena kembali teringat sang suami yang tejatuh di depan rumah ketika pulang dari kantor dan tidak sadarkan diri hingga ajal menjemput. Dania tak percaya ketika dokter menjelaskan mengapa Bhani tidak kunjung sadar padahal Dania baru saja meneleponnya menanyakan mau makan apa malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Bhani bahkan masih sempat membelikan boneka kelinci yang diinginkan Reva saat mereka pergi ke supermarkt minggu lalu. Sungguh Dania tidak percaya!
“Ibu! Ayah mana? Mengapa tidak pulang bersama Ibu dan Nenek? Rena ingin bermain bersama Ayah, Bu,” rengek bocah yang baru berulang tahun minggu lalu, ulang tahun yang ketiga.
Air mata yang sudah terhenti itu kembali mengalir dan semakin deras melihat Rena yang terus merengek merindukan sang Ayah. Akhirnya Dania terduduk diundakan tangga yang ada di depan teras, duduk bersama Reva menangisi Bhani yang meninggakan mereka begitu saja, tanpa pesan, tanpa kata-kata … menyedihkan.
“Ibu kenapa menangis? Ibu sedih? Jangan menangis, Bu. Ayo main dengan bunny pemberian Ayah kemarin. Rena sangat menyukainya,” ajak Rena yang belum mengerti yang membuat tangis Dania semakin deras. Gadis kecil itu masuk ke dalam rumah mengambil boneka kelincinya dan membawanya kembali ke teras tempat Dania masih menangis sesengukan.
Tak berapa lama Rani, sang ibu mertua muncul dengan muka marah.
“Hentikan tangisanmu itu Dania. Untuk apa kau menangis sekarang? Kau bahkan tak bisa menjaganya tetap hidup,” ucap Rani berbisik agar Rena tidak ikut mendengar. Ucapan Rani langsung menusuk ke relung hati Dania yang terdalam.
Dania sampai kehilangan kata-kata tidak bisa menjawab ucapan Rani yang tajam itu. Pikirannya kembali ke beberapa hari yang lalu ketika dokter menyampaikan bahwa ada dia harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa Bhani sedang berada di antara hidup dan mati karena ada pembuluh darah di kepala yang pecah hingga menyebabkan pendarahan parah di kepalanya. Bahkan dokter pun sudah angkat tangan melihat kondisi Bhani yang parah.
“Apa tidak ada obat atau ilmu kedokteran yang bisa mengatasi masalah ini, Dok?” tanya Dania pada Dokter Kevin yang menangani Bhani. Dokter Kevin hanya menggeleng samar.
Tangis Dania yang sudah berhenti kembali mengalir mendengar keputusan dokter yang menyesakkan. Itu sana saja dengan vonis mati diberikan pada Bhani. Dia ungguh tidak ingin mempercayai setiap ucapan dokter, tetapi selang beberapa hari kemudian ucapan itu menjadi kenyataan, ya Tuhan!
Tak peduli berapa banyak doa yang dihaturkan Dania kehadiratnya tetap tidak mampu mengubah takdir itu. Kini yang tersisa hanyalah Dania dan Rena, sepasang ibu dan anak tanpa kehadiran Bhani sang ayah.
Malam sesudah pemakaman, keluarga besar Hadi Kusumo berkumpul di kediaman Dania yang besar dan megah. Suasana bela sungkawa itu dihadiri oleh semua keluarga besar dan tetangga. Dania sudah seperti patung yang memeluk Rena di pangkuannya. Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, satu persatu tetangga mulai meninggalkan kediaman itu dan meninggalkan Dania yang menggendong Rena yang sudah tertidur dipelukannya. Sayup-sayup Dania mulai bisa menangkap pembicaraan mereka yang berbisik-bisik hingga membuat Dania merasa disisihkan dari keluarga besar itu. Warisan, semua berbisik-bisik soal warisan. Tapi Dania tidak peduli, dia terus melangkah menuju kamarnya yang terletak di lantai dua meninggalkan semua orang yang masih terus berbisik.
Hati Dania masih dipenuhi kesedihan, bisikan yang didengarnya tadi bagai angin lalu yang tidak dipedulikannya. Tidak terlintas sedikitpun di dalam benaknya soal Warisan, dia hanya memikirkan suaminya yang telah tiada. Malam itu Dania tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Dia bangkit dari ranjangnya perlahan agar Reva tidak ikut terbangun karenanya. Lalu melangkah menuju tembok yang seperti pintu dan mendorongnya perlahan hingga terlihat ruangan seukuran kamar, besar tetapi hanya ada meja kerja dan sepasang sofa besar dengan meja kecil berbentuk lonjong di sana.
Dania menekan sakelar lampu di tembok dan kamar menjadi terang benderang seketika. Bau maskulin dari parfum Bhani masih melekat di setiap sudut ruangan. Dania sungguh tidak percaya kalau semua ini adalah nyata, dia masih berharap bisa menemukan sosok lelaki itu di ruangan dingin tak berpenghuni ini. Air matanya kembali mengalir ketika tersadar bahwa semua hanyalah angannya belaka. Bhani sudah meninggal dan Dania tidak akan menemukannya lagi.
Lalu dia melangkah ke meja yang biasa digunakan Bhani untuk menulis semua nota-nota, tagihan yang harus dihitung setiap bulannya, tiba-tiba dia semakin merindukan Bhani. Ini musibah terbesar yang tidak bisa dihindarinya lagi. tangannya mengambil sebuah pena yang biasa digunakan Bhani untuk menulis, lalu dia menuliskan nama suaminya, Bhani Hadi Kusumo. Tulisan nama itu diukir dengan indah dan diberi bingkai seakan dia akan memajangnya di pigura.
“Aku merindukanmu, Mas. Sangat amat rindu, kau ada di mana sekarang? Tidak bisakah kau mengajakku bersamamu?” Air mata kembali menetes hingga akhirnya tanpa sadar Dania tertidur di atas meja besar dengan tulisan nama Bhani yang masih digenggamnya dengan erat.
***
Pagi menjelang, Dania bangun dengan mata sembab tetapi sudah tidak meneteskan air mata lagi. Lalu menuju kamarnya untuk melihat apakah Rena sudah bangun atau belum. Hatinya sedikit lega ketika melihat bocah itu masih terlelap, Dania segera turun ke lantai dasar menuju dapur yang masih sepi. Mungkin saja dengan menyibukkan diri di dapur mampu menghilangkan kesedihan yang tak bertepi itu.
***