Dania berniat membuat sarapan untuk mertua dan dirinya selagi si kecil Rena belum bangun. Dia berjalan ke dapur saat rumah besar itu masih sepi. Biasanya pasti Bhani sudah turun ke dapur dan memanaskan air untuk membuat teh jahe untuk Rani dan teh chamomile untuk Dania serta kopi untuk dirinya sendiri. Itu semua dilakukan sejak pertama kali mereka menikah. Pernah satu kali Dania protes, tapi Bhani hanya tertawa kecil, “Kau sudah menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam, Dania. Sementara yang bisa kulakukan hanyalah membuat minuman untuk sarapan pagi,” jawab Bhani dengan senyuman tipis.
Perempuan itu lalu mengambil dua bungkus teh instan dan menaruhnya di dua gelas berbeda. Teh instan itu juga berbeda, satu teh chamomile untuk Dania dan satunya adalah teh jahe untuk Rani. Tanpa sengaja jari Dania menyentuh toples kopi yang biasa digunakan Bhani. Itu adalah kopi hitam kesukaan lelaki tampan itu.
Ketika Dania mengulang kembali kisahnya dengan Bhani, Rani bangun dan muncul di dapur dengan wajah sinis. Tepat saat poci air panas berbunyi yang menandakan air sudah mendidih, Dania langsung menunangkannya ke dalam dua gelas berbeda itu, lalu membawa gelas berisi teh jahe itu pada Rani yang duduk di meja makan, dan menaruhnya di depan Rani.
“Tehnya, Bu,” ucap Dania dengan sopan dan lembut.
“Kau tidak perlu repot-repot, aku sudah biasa melakukannya sendiri,” jawab Rani dengan sinis dan dingin, lalu menyingkirkan gelas itu menjauh dari dirinya.
Dania terdiam sesaat menyadari sifat sinis Rani, “Aku hanya ingin membantu,Bu,” jawab Dania pelan .
“Kalau kau benar-benar ingin membantu, mungkin kau bisa membesarkan cucuku dengan lebih baik daripada membiarkan suamimu meninggal begitu saja,” balas Rani masih dengan nada dan suara yang dingin dan sinis.
Kata-kata itu menghantam Dania seperti tamparan. Dia ingin membalas, tetapi akhirnya memilih diam dan meninggalkan meja makan begitu saja sambil menahan air matanya yang siap untuk tumpah sebentar lagi.
Masuk ke kamarnya Dania menemukan Rena sudah berceloteh dengan Bahasa bayi yang tak di mengerti.
“Halo Sayang, selamat pagi. Anak Ibu bangun pagi sekali,” ucap Dania dengan setetes air mata mengalir di pipinya, bibirnya menampilkan seulas senyumann sayang pada bocah itu yang masih berbaring berguling-guling di atas ranjang.
“Ibu menangis lagi?” ucap Rena mengusap sebutir air yang mengalir di pipi halus ibunya.
“Tidak, Sayang. Mata Ibu kelilipan debu tadi, makanya air mata keluar,” jawab Dania cepat tidak mau anaknya bertanya lebih lanjut.
“Mau mandi dulu atau minum s**u dulu,” tanya Dania sambil mengelus pucuk kepala anaknya dengan lembut.”
“s**u … aku mau s**u, Bu,” pinta Rena dengan suaranya cempreng, lucu sekali.
Lalu Dania beralih ke meja kecil disamping ranjang yang berisi botol s**u, kaleng s**u, termos air panas dan senuah ember berukuran sedang untuk memuat air kotor sehabis membilas botol s**u. Lalu tak lama kemudian, dia mulai mengocok botol s**u berukuran sembilan oz. Setelah bubuk s**u larut dengan air hangat itu lalu menyodorkan botol kepada anaknya yang langsung meraih botol s**u itu dengan semangat karena dia sudah lapar.
Setelah itu dia merebahkan tubuhnya di samping bocah yang menyedot botol susunya dengan semangat. Sesekali dia mengusap lembut rambut di pucuk kepala bocah itu. Rambutnya mulai panjang dan sudah bisa diikat. Mungkin dia sudah bisa membelikan berbagai aksesoris rambut lucu untuk bocah itu. Dia ingat dia dan Bhani pernah melihat aksesoris lucu di supermarket dan Bhani langsung mengambil tiga jepit rambut berbentuk pita, strawberry dan matahari, lucu sekali. waktu itu rambut Rena masih terlalu tipis untuk menggunakan jepitan itu di kepalanya.
Selagi anaknya masih menyusu dengan semangat, Dania pergi ke kamar kerja suaminya untuk mengambil jepit rambut yang disimpannya di ruang kerja Bhani. Dia menuju ke meja dan membungkuk untuk menarik laci terakhir di meja itu. Ditariknya laci itu dan meraih sebuah kotak yang berisi mainan rambut lucu milik Rena. Setelah memilih dua mainan yang sama berbentuk pita dengan pita yang di pita yang berbenyuk rol panjang. Rena sudah pernah memakainya ketika pertama kali Bhani membelinya, tetapi matanya yang saat itu masih tipis sehingga membuat jepitan itu selalu turun dan terlepas.
Melihat jepitan rambut itu membuat Dania kembali teringat pada Bhani yang begitu perhatian dan sayang pada anak perempuan pertamanya itu. bahkan Bhani belum berniat untuk menambah momongan walau Rani terus memintanya untuk segera melahirkan anak laki-laki sesuai keinginannya.
“Tidak perlu tergesa-gesa, Rena masih kecil, Bu. Aku dan Dania masih muda, kami bisa menambah momongan kapan saja,” jawab Bhani mematahkan keinginan Rani.
Teringat saat itu, air mata kembali menetes di wajah sendu Dania.
Dania memasukkan kotak jepitan rambut Rena ke dalam laci meja dan sesaat akan mendorong laci itu, tiba-tiba dia melihat beberapa tumpukan kertas yang dilipat empat memanjang seperti surat dan tinggal dimasukkan ke dalam amplop saja. “Apa ini?” gumam Dania lalu mengambil satu yang teratas, lalu membukanya.
Tulisan itu jelas sekali tulisan Bhani yang sangat dikenalnya. Ternyata itu memang sebuaah surat. Hatinya berdegub kencang hingga membuat kabut tipis di sudut mata.
‘Jakarta Juni 2024.
Hari ini langit mendung dan memuntahkan air hujan yang mengalir deras seakan langit mengerti pikiranku. Gadis kecil yang bernam Rena itu lucu sekali, dia terus berceloteh dengan Bahasa bayinya hingga membuatku dan Dania tertawa terbahak-bahak. Teruslah tumbuh sehat seperti saat ini, Rena. Ayah dan Ibu sangat mencintaimu, Sayang.
Akhh … sepertinya ini adalah buku diary Bhani yang mengisahkan harinya saat itu. Dania ingat kejadian itu saat dia dan Bhani duduk di ruang keluarga di bawah dan tertawa bersama. Mereka begitu bahagia saat itu. Lalu Dania kembali melanjutkan membaca surat itu.
Aku bahagia karena memiliki keluarga kecil yang sehat dan bahagia. Tetapi ada saatnya rasa bahagia itu diselingi rasa kesal karena melihat tingkah ibuku yang terus mengumpat pada Dania walau sebaik apa pun Dania melayaninya. Dia cukup bersabar menghadapi ibuku yang cerewet dan angkuh. Aku tidak tahu apa Ibu sadar bahwa selama ini aku tertekan dengan semua sifatnya itu. Dia tidak pernah percaya kalau aku bisa mengambil semua keputusanku dengan baik. Tidak bisakah Ibu melihat keberhasilanku menjalankan bisnis yang diwariskan Ayah padaku? Tapi aku tetap sayang pada Ibu seperti aku menyayangi Dania istriku dan Rena anakku.
Air mata kembali mengalir saat Dania membaca kalimat penutup surat itu.
“Aku juga sangat menyayangimu, Mas,” ucap Dania lirih. Akhirnya Dania tahu kalau selama ini suaminya merasa frustasi dengan semua desakan Rani dan semua tuntutannya.
***