5. Kisah Lama Yang Terungkap
Malam ini kembali Dania merasakan kerinduan mendalam pada Bhani. Dia kembali ke kamar kerja Bhani ketika Rena sudah tertidur dan suasana sudah sepi dan gelap. Dia menarik laci yang ada di meja kerja suaminya dan mengambil lagi setumpuk kertas yang berlipat tiga dan diselipke ke dalam amplop. dia menarik surat-surat itu dan menumpuknya di samping meja, lalu memisahkan sebagian yang surat yang sudah dibaca sebelumnya. Sesekali Dania mengusap surat-surat itu merasakan kerinduan yang dalam pada Bhani. Dia tahu itu tulisan Bhani, dan dia juga tahu seperti apa perasaan Bhani saat menulis surat-surat itu.
Kemudian, dia kembali menemukan tumpukan surat yang sudah menguning. Surat apa itu? sesaat kemudian dia tersadar bahwa itu semua tulisan Bhani, suaminya. Surat-surat itu tampaknya sudah cukup lama, mungkin ditulis ketika mereka masih berpacaran, atau bahkan lebih lama dari itu.
Dia lalu membuka salah satu surat yang teratas dan mulai membacanya .… Ibu tidak pernah melihatku sebagai individu … Astaga Dania menutup mulutnya terkejut, ini seperti rintihan hati Bhani pada Rani. Dia tidak menangis, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih tegar menghadapi semua ini. Sejak kecil, aku selalu menjadi perpanjangan kehendak Ibu. Aku hanya ingin dia mengerti bahwa aku punya kehidupan sendiri. Ya Tuhan, Dania tidak kuat menahan tangis, air matanya kembali luruh setelah membaca tulisan itu.
Dia tidak tahu kalau Bhani selama ini tersiksa batinnya.
“Sungguh malang nasibmu, Mas,” gumam Dania malam ini. Dia meremas ujung dasternya berusaha untuk menekan air matanya agar tidak kembali jatuh malam ini. Tapi apalah daya, rasa perih di hatinya semakin lama semakin tak tertahankan.
Dania melanjutkan surat yang lain, hatinya sakit ketika membaca surat itu, “Ayah melupakan hari ulang tahunku dan Ibu marah pada Ayah. Mereka kembali bertengkar hebat hanya karena ulang tahunku …. Aku benci melihat Ayah dan Ibu bertengkar karena aku. Apakah aku ini benar-benar anak yang mereka dambakan? Rasanya terlalu sakit ….
Kabut tipis mulai muncul di kedua mata Dania, tetapi dia berusaha untuk tidak menangis lagi. Dia sudah berjanji pada dirinya dan juga pada Bhani bahwa dia akan mempersatukan keluarga mereka yang sudah retak. Besok pagi dia akan menemui Rani. Dia tidak ingin warisan, dia hanya ingin keluarga yang utuh dan saling menyayangi walau Bhani sudah tidak bersama mereka lagi.
***
Pagi ini, Dania bangun dengan semangat baru. Semalam dia sudah bisa tidur dengan nyenyak. Lalu seperti pagi-pagi sebelumnya, dia memanaskan air dengan cerek eletrik yang pernah dibelikan Bhani untuknya. Setelah itu mengambil dua buah gelas untuk menyeduh teh jahe untuk Rani, dan teh logan untuknya menggantikan the chamomile yang biasa diseduhnya. Dia ingin mengubah suasana hatinya.
Suara pintu dibuka, Dania tahu itu pasti Rani dan dia sudah menyiapkan hati dan kata-kata.
“Ibu, aku sedang menyiapkan teh jahe untuk Ibu,” ucap Dania pelan. Dia teringat ucapan Ratih mengenai sikap Rani padanya mungkin karena dia masih terluka kehilangan Bhani.
Rani melengos menjauh dari dapur, tidak berniat membalas ucapan Dania padanya. Dania hanya tersenyum lembut, tidak membalas lengosan sang ibu mertua.
Tak lama kemudian air di cerek eletrik mendidih dan dia menuangkan pada dua cangkir yang berisi teh masing-masing. Lalu membawanya ke meja makan dan meletakannya di sana. Rani duduk di kursi tempat Dania meletakkan cangkir berisi teh jahe dan meneguknya sedikit. Dia masih tidak berniat berbicara pada Dania. Baiklah kalau sang ibu mertua tidak ingin memulai percakapan, Dania akan memulainya.
“Bu, mungkin kita bisa bicara, tentang semua ini,” ucap Dania memulai pembicaraan.
Rani hanya mendengkus, “Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kamu sudah mengapatkan semua yang kamu inginkan.” Kata-kata Rani begitu dingin dan sinis, menusuk langsung ke relung hati Dania. Bukan seperti ini yang diinginkannya.
“Bukan soal harta, Bu. Ini semua tentang keluarga kita. Aku tidak pernah menginginkan harta, Bu. Tetapi apa Ibu mengerti mengapa Mas Bhani memberiku semua harta yang dimilikinya? Tidakkah Ibu merasa heran?” balas Dania pelan. DIa berusaha menekan emosinya saat ini.
Tetapi lagi-lagi Rani tidak memahami niatan Dania, baginya semua masalah ini muncul karena Dania.
Dania terdiam lagi karena emosi Rani meninggi. Hanya dengan diam, barulah keadaan mereda. Wanita itu menghela napas panjang dan menyesap sedikit teh longan yang terasa nikmat, tetapi rasa nikmat itu berkurang karena situasi yang memanas. Fiuuhh ….
“Dania, kau harus lebih tegas pada Rena, kalau tidak kau sendiri yang susah saat usianya sudah lebih besar,” cecar Rani ketika hari sudah siang dan Rena belum bangun karena semalam dia terus menangis teringat pada Bhani.
“Semalam Rena tidak bisa tidur, Bu. Dia terus menangis minta bertemu dengan Mas Bhani. Menjelang pagi dia baru terlelap,” jelas Dania mengelus d**a mendengar ucapan Rani yang terus menyalahkannya.
“Alasan!” gerutu Rani seakan tidak percaya pada alasan yang diutarakan Dania.
***
Siang ini Dania sedang membuat bolu untuk Rena, sebagai hiburan agar bocah itu tidak menangis lagi saat teringat pada Mas Bhani. Bolu itu sederhana, hanya campuran vanilla dan cokelat, bolu jadul yang sangat disukai oleh Mas Bhani dan Rena, memang anak dan suaminya memiliki hobi makan yang sama. Karena itulah Dania kerap membuat bolu itu untuk keluarganya.
Dania memotong bolu itu untuk snack menjelang sore. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, dan Dania yang ada di ruang keluarga dengan cepat melangkah ke depan untuk membukakan pintu. Ternyata saudara iparnya datang berkunjung dan Rani sang ibu mertua langsung keluar dari kamarnya dengan wajah berseri.
“Dari mana, Fikri? Kau tidak datang bersama Siwi dan Ariel? Ajak Ariel kesini, Fik, Ibu kangen pada Ariel. Sudah lama kalian tidak datang kemari,” ucap Bu Rani gembira, sikapnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
“Ariel sedang ulangan, Bu. Siwi tadinya juga ingin ke sini karena dia juga kangen pada Ibu, terakhir kan kita bertemu saat penguburan Bhani. Nanti setelah Ariel selesai ulangan, mereka pasti akan datang, Bu,” jawab Fikri tenang. Matanya terus menatap bolu yang ada di piring yang sedang dimakan oleh Rena.
“Bu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Ibu, tapi aku takut Ibu akan marah,” ucap Fikri dengan nada suara yang lebih rendah.
“Memangnya apa yang ingin kau bicarakan? Katakan saja, Ibu tidak akan marah, Fik,” jawab Rani juga dengan nada suara yang lebih rendah dari biasanya.
Dania melirik pada keduanya yang seperti berbisik tetapi masih terdengar suara mereka masing-masing. Dania merasa sengaja tidak dilibatkan dalam pembicaraan ibu mertua dan menantu itu.
Ketika Rena selesai memakan bolu di piring, Dania pergi ke dapur untuk memotong kembali bolu itu dan membawanya ke ruang tengah.
“Silahkan dimakan bolunya, Mas, aku akan ke atas karena Rena sepertinya mulai mengantuk,” ucap Dania dan tanpa menunggu jawaban Fikri dan Rani, dia langsung menggendong Rena dan naik ke kamarnya.
“Dasar tidak sopan,” decih Rani saat melihat Dania menggendong Rena naik.
Fikri langsung mengambil sepotong bolu dan langsung memakannya, karena dia tahu bolu yang dibuat oleh Dania sangat enak rasanya.
“Jadi ada masalah apa yang ingin kau bicarakan,” tanya Rani pada lelaki yang hanya satu tahun lebih muda dari Bhani.
“Soal warisan rumah ini, Bu.”
***