Pagi ini Dania sudah bisa melepaskan rasa sedih karena ditinggal Bhani. Dia juga berusaha untuk berdamai dengan Rani walau wanita itu masih marah karena wasiat yang ditinggalkan Bhani menyatakan rumah, perusahaan dan tanah menjadi milik Dania istrinya. Dania tahu hal ini dilakukan Bhani untuk menjamin hidupnya dan hidup Rena anak mereka. Hari ini juga Dania bertekat untuk masuk dan menduduki posisi CEO menggantikan posisi Bhani selama ini. Dia tidak yakin bahwa dia bisa melakukannya, tapi Pak Shaka menyakinkan Dania bahwa dia akan membantu wanita itu menjalankan perusahaan dengan kemampuan Dania yang pernah bekerja di perusahaan itu ketika dia dan Bhani belum memiliki Rena.
“Ma, kita akan kemana?” tanya Rena ketika melihat Dania menggenakan pakaian rapi dan bersih, begitu juga dirinya.
“Ma akan mulai bekerja hari ini, Rena. Rena akan menemani Mama dan memberi Mama semangat, Sayang,” ucap Dania sambil membelai pucuk kepala Rena, “Rena mau kan?”
Gadis kecil itu mengangguk cepat. Dia segera mengenakan sepatunya setelah Rena memakaikan kaos kaki pada kedua kaki kecilnya. Gadis kecil itu sangat gembira karena dia jarang keluar rumah.
“Mau kau bawa keman Rena, Dania?” tegur Rani ketika melihat cucu dan menantunya yang mengenakan pakaian rapi dan bersih tak seperti biasanya.
“Mulai hari ini aku akan bekerja di perusahaan Mas Bhani, Bu. Aku membawa Rena, karena khawatir dia akan mencariku dan menangis jika tidak menemukanku. Ibu akan repot jika seperti itu,” jawab Dania terus terang.
“Kau gila ya, kau mau bekerja ya pergi saja sendiri. Aku bisa mengurus dan merawat Rena di rumah. Kau tidak perlu khawatir. Aku membesarkan anak-anakku sendiri juga tanpa bantuan orang lain. Ayah Bhani juga tidak banyak membantu dulu,” gerutu Rani yang tidak suka karena merasa Dania tidak bercerita padanya ketika dia memutuskan untuk bekerja.
Dania terdiam ketika Rani merebut Rena untuk tinggal dengannya dan tidak mengikuti Dania pergi bekerja.
Rena langsung menangis ketika Rani tidak membiarkan dia mengikuti Dania pergi. Sejenak Dania menjadi serba salah. Jelas dia tidak rela meninggalkan Rena menangis seperti itu, tapi di sisi lain Rani bersikeras.
“Biarkan dia menangis, nanti lama lama dia akan biasa dan tidak menangis lagi,” ucap Rani dengan tegas. Dania tidak suka cara Rani yang mencoba menghentikan tangisan Rena dengan menghentak-hentakan tubuh kecil Rena.
“Hentikan, Bu! Rena tidak akan berhenti menangis jika cara Ibu seperti itu! Biarkan dia ikut denganku hari ini, besok-besok aku akan membujuknya untuk tinggal di rumah menemani Ibu,” putus Dania dan langsung menggendong gadis kecil itu agar tangisannya berhenti.
Baru saja Dania akan keluar, Fikri, adik ipar Bhani tiba-tiba datang ke rumah mencari Rani.
“Fikri, kau datang sendirian? Harusnya kau datang bersama Deki, biar dia bisa mengajak Rena bermain karena Dania berencana kembali bekerja menggantikan Bahni di perusahaan,” ucap Rani pada menantu lelakinya itu.
Dania terdiam, bukan apa-apa, dia tidak rela kalau Rena bermain dengan Deki yang nakal dan selalu memukul dan mencubit Rena selagi Dania atau Bhani tidak melihatnya.
Gadis kecil itu masih terlihat sesengukan walau sudah tidak menangis sepeti tadi lagi.
Dania dengan cepat mengambil kunci mobil dan menaruh Rena ke dalam car seat, sementara dia membuka pintu pagar.
Lalu tak sampai lima menit mobil Nissan X-Trail putih itu sudah melaju di jalan raya berbaur dengan kendaraan yang lain. Rena duduk dengan tenang di child seat sambil matanya melihat ke luar jendela, sesekali mulutnya berceloteh dengan riang. Hati Dania sudah lebih tenang melihat Rena gembira. Mobil berhenti di lobi gedung lima tingkat itu dan seorang satpam menyambut dan membukakan pintu mobil untuk Dania.
Dania tersenyum pada satpam itu, lalu beralih ke pintu penumpang di mana Rena duduk. Dia membuka child seat dan menggendong Rena turun. Dengan tenang Dania berjalan menuju lift yang akan membawanya dan Rena ke lantai lima gedung itu. Beberapa karyawan yang mengenal Dania tersenyum dan menyapa wanita muda itu.
Sampai di lantai lima, dia bertemu dengan Jena sang sekretaris Mas Bhani. Dania sudah sangat mengenal gadis itu.
“Pagi Jena, aku butuh bantuan mengenai semua laporan keuangan terakhir ketika Mas Bhani meninggal serta setelahnya hingga saat ini. Siapkan untukku, ya,” ucap Dania tenang dan lembut.
“Baik Bu Dania, aka saya siapkan segera,” ucap Jena dengan sopan.
Dania mengangguk, lalu masuk ke dalam ruangan Mas Bhani sambil menggendong Rena. Dia sedikit terpana ketika memasuki ruang kerja Mas Bhani, aroma parfum Mas Bhani kembali terhidu penciumannya, dia mulai merindukan lelaki tampan itu. Lalu dia duduk di kursi direktur, aroma Mas Bhani kembali menguar dengan kuat. Dia semakin merindukan lelaki itu. dia berusaha menahan air matanya agar tidak menangis di kantor ini.
“Rena mau s**u, Sayang?” tanya Dania berusaha mengalihkan air matanya. Gadis kecil itu mengangguk cepat. Sekali lagi Dania mengalihkan rasa sedihnya dengan membuatkan s**u untuk Rena. Setelah s**u siap, Dania membaringkan Rena di kursi tamu panjang di ruangan Mas Bhani. Dia menggunakan kain popok Rena yang selalu ada di dalam mobil dilipatnya menjadi bantal yang empuk. Besok dia akan ingat untuk membawa bantal bocah itu agar dia bisa tidur selagi berada di kantor.
Pintu diketuk pelan dan Jena masuk dengan membawa setumpuk berkas dan menaruhnya di atas meja Dania yang sedang menepuk pelan punggung Rena agar bocah itu segera tidur dan dia dapat mulai bekerja.
***
“Jadi bagaimana, Bu,” ucap Fikri mengulang pertanyaannya kemarin tentang warisan. Setidaknya dia bisa ikut merasakan sedikit harta yang dimiliki oleh Dania. Dia dan istrinya yang merupakan adik Bhani merasa tidak rela seandainya Dania mendapatkan semua harta-harta itu.
Rani kembali memikirkan cara-cara yang akan diambilnya.
“Ibu masih memikirkan caranya, Fikri. Apa kalian memiliki cara yang cepat dan tepat yang bisa membuat kita meluluskan keinginan kalian semuanya? Sepertinya kalian juga harus Bersatu untuk mengugat masalah warisan ini, Fik. Ibu sendirian tidak bisa mengugat warisan itu, biar bagaimana pun Bhani menginginkan warisan itu untuk biaya hidup Dania dan Rena,” jawab Rani pelan. Dia ingin agar semua anak dan cucunya mendapatkan hak yang sama atas warisan itu, bukan hanya Dania dan Rena.
“Baiklah, Bu, akan aku bicarakan pada Fitri dan Siwi agar mereka berdua Bersatu untuk mendapatkan warisan ini,” balas Fikri dengan tekad yang kuat.
“Bagus, Ibu senang kalau kalian semua bersatu, ini soal keluarga kita, Fik, bukan cuma soal warisan Bhani seorang saja,” gerutu Rani yang masih kesal karena masalah warisan.
Fikri mengangguk.
“Akan aku kabari secepatnya, Bu. Mungkin besok atau lusa,” tekat Fikri untuk mulai menyusun gugatan warisan. Rani mengangguk senang.
***