Pagi hari seperti hari-hari kemarin, Dania pergi ke kantor bersama Rena. Dia sudah mulai terbiasa bekerja di kantor seperti ketika dia belum menikah. Hanya sekarang Rena selalu menemaninya di kantor. Dia sudah membeli ranjang kecil agar Rena bisa tidur di kantor. Walau sedikit sibuk, tetapi dia bahagia. Sekarang dia malah merasa seakan Bhani menemaninya saat melihat foto mereka bertiga di atas meja kerja Dania.
“Apa kau mau tidur Rena?” tanya Dania pada putri kecilnya yang tampak mengantuk sambil memegang botol s**u yang sudah tersisa sedikit. Rena mengangguk.
Dania langsung menggendongnya sebentar sambil menggoyang-goyangkan tubuh kecil itu hingga mata Rena tertutup. Dia bersyukur karena di kantor, Rena lebih cepat tertidur karena suasana yang tenang.
Menjelang sore hari, Dania Bersiap setelah menyelesaikan tugasnya hari ini. Dia menyiapkan Rena dan memasukkan bocah itu ke mobil, kemudian membawa peralatan botol s**u dan makan bocah itu yang sudah dicuci bersih.
Sesampai di rumah, Dania langsung membawa Rena turun setelah melepaskan baby seat bocah itu, kemudian menurunkan botol dan peralatan makan Reva yang sudah bersih. Setelah semuanya selesai, dia naik ke lantai dua Bersiap untuk membersihkan diri. Tetapi tiba-tiba matanya tertuju pada sepucuk surat beramplop cokelat yang diletakkan di atas meja kamarnya bertuliskan namanya. Surat itu nampak resmi, Wanita itu mengernyit memikirkan dari mana surat itu dan apa isinya.
Dia membatalkan niatnya masuk ke kamar mandi dan langsung membuka amplop cokelat itu yang masih tersegel dan belum dibuka. Dia langsung membuka amplop itu dan segera mengeluarkan kertas putih di dalamnya. Ini surat dari pengadilan!
Sejenak Dania tercekat, jantungnya berdetak kencang saat matanya membaca judul surat itu … Gugatan Atas Pembagian Warisan …!
Lututnya langsung terasa lemas. Soal warisan lagi! Dia mengira masalah warisan sudah selesai karena baik Rani maupun saudara dari suaminya tidak ada yang mengatakan apa-apa, tetapi dia salah. Ternyata mereka sudah merencanakan mengugat Dania ke pengadilan!
Setelah menenangkan hatinya, Dania masuk ke kamar mandi dan membuatkan Rena s**u agar bocah itu tidur. Dia berniat turun dan menanyakan hal ini pada Rani. Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan Fikri beberapa hari yang lalu? Entahlah, Dania tidak bisa berpikir. Untuk sesaat pikirannya seakan berada di jalan buntu.
Dania turun ke lantai satu setelah Rena tidur. Dia agak tenang karena bocah itu tidur dengan nyenyak. Sampai di bawah ternyata Rani sedang menonton sinetron komedi dan tergelak karena lucu melihat tingkah pemain.
“Bu, Dania menerima ini,” ucap Dania sambil menunjukkan surat yang diterimanya pada Rani yang hanya melihat dengan ekor matanya, lalu melengos.
“Kenapa harus seperti ini, Bu? Bukankah semua bisa kita bicarakan baik-baik,” ucap Dania pelan. Dia berusaha menekan suaranya karena bukan tidak mungkin Rani akan meledak mendengar ucapan Dania.
Rani menatap dingin pada Dania, “Tidak ada yang perlu dibicarakan. Bukankah kamu sudah mendapatkan yang kamu inginkan. Kamu hanya ingin mempermainkan keluarga ini.”
Suara dingin Rani semakin membuat Dania tertekan. Apakah salah jika dia hanya ingin mempertahankan semuanya demi Rena? Bukankah pada wasiat yang dituliskan Bhani, dia menginginkan meneruskan semua usahanya untuk kelangsungkan hidupnya dan Rena? Apakah Rani tidak ingat ucapan Pak Shaka saat itu? Kepala Dania tiba-tiba terasa pusing.
Dania menghela napas panjang saat mendengarkan ucapan Rani yang lagi-lagi menyalahkan dirinya. Sesaat Dania teringat surat-surat yang dituliskan Bhani, kekecewaan dan keterpurukan Bhani karena Rani dicurahkannya di surat itu. haruskah dia membiarkan Rani membaca surat yang ditulis Bhani? Rasanya Dania tidak rela. Dia takut Dania berbalik menuduhnya menuliskan surat palsu untuk mengambil semua hartanya. Bukankah hal itu bisa terjadi mengingat tindakan Rani saat ini. Dania kembali menghela napas berat.
“Bu … apa Ibu benar-benar ingin mengadukan hal ini ke pengadilan? Ini semua murni niat Ibu? Bukan karena keinginan dari Fitri ataupun Siwi?” tanya Dania lagi dengan pelan dan hati-hati.
“Heh! Kurang ajar sekali ucapanmu itu, Dania! Kau kira anak-anakku semuanya menginginkan hartamu itu!” Hardik Rani emosi.
“Aku hanya bertanya Ibu. Aku tidak ingin masalah warisan ini terus berlanjut. Aku lelah, Bu,” ucap Dania akhirnya.
“Bukan urusanku! Kau yang menginginkan harta itu ‘kan? Rasakanlah sekarang!”sindir Rani dengan emosi yang kita meninggi.
Dania semakin tertekan dengan semua tuduhan Rani padanya.
***
“Pak Shaka, aku mendapat surat gugatan warisan dari pengadilan. Menurutmu aku harus bagaimana? Menghadapinya?” tanya Dania sambil menyodorkan surat yang diterimanya kemarin sambil menghela napas gusar.
Pak Shaka diam, lalu membuka surat yang disodorkan padanya, lalu membacanya perlahan sambil mencoba mengerti apa yang dituliskan dalam surat itu.
Beberapa saat setelah dia membaca dan menelaah maksud surat itu, dia menghela napas sebentar.
“Kita hadapi. Jangan takut Dania, kau memiliki semua yang bisa menguntungkanmu. Mereka tidak bisa mengambil warisanmu begitu saja. Bersiaplah besok, kita akan menghadapi mereka,” ujar Pak Shaka dengan keyakinan mereka akan menang melawan keluarga Bhani.
Keesokan paginya, Dania bangun seperti biasa, lalu menyiapkan makanan untuk Reva yang akan dibawanya ke kantor, menyiapan beberapa container bertingkat empat yang diisi dengan s**u bubuk Reva. Memasukkan dua botol s**u kosong, lalu biscuit-biskuit kecil untuk Reva. Kemudian menyeduh teh untuknya setelah Rani menolak teh yang disedukan Dania untuknya, Wanita itu akhirnya selesai. Naik ke kamar untuk mempersiapkan buah hatinya dengan hati yang berdegub kencang. Di sudut hatinya dia takut menghadapi sidang hari ini, tetapi di sisi hati yang lain, dia bersemangat mengingat apa yang diucapkan Pak Shaka padanya. “Tak ada yang salah padamu, kau hanya menjalankan wasiat dari Bhani suamimu.” Sekali lagi Dania mengelus dadanya pelan, memberi kekuataan pada dirinya sendiri.
Pukul sembilan siang, Dania sudah melangkah memasuki gedung pengadilan. Pak Shaka sudah sampai lebih dulu dan sudah menunggunya di depan gedung. Matanya mulai menindai, Rani, Fitri, Fikri dan Siwi sudah ada di sana sebelum dia tiba. Hatinya sedikit memanas melihat keluarga suaminya semua hadir di sini untuk menyudutkannya dan mengambil kembali harta keluarga mereka yang menjadi milik Dania.
Tepat pukul sembilan lewat sepuluh menit, seorang lelaki berpakaian hakim masuk ke dalam ruang sidang yang tertutup. Kemudian Rani, Fitri, Fikri dan Siwi masuk dengan seorang laki-laki berpakaian perlente masuk, mungkin lelaki itu yang akan menjadi pengacara dari mereka. Dania tidak tahu, karena dia baru pertama kali melihat lelaki itu.
Setelah semua masuk, Dania di damping Pak Shaka masuk ke ruangan dan duduk di sisi berbeda dengan keluarga suaminya. Untuk sesaat semua tenang.
***