Hari ini adalah hari pertama persidangan gugatan warisan yang dilakukan oleh Rani kepada Dania sang menantu. Dania sendiri hadir ditemani Pak Shaka yang bertindak sebagai pengacara Dania karena sebelumnya dia sudah mewakili Bhani, suami Dania yang meninggal karena sakit. Saudara-saudara Bhani tidak setuju jika rumah dan perusahaan yang dikelola Bhani jatuh begitu saja ke tangan Dania. Fikri sang menantu berusaha memanas-manasi ibu mertuanya agar dia mengugat Dania atas warisan yang didapatnya.
Dania didampingi Pak Shaka duduk di sebelah kanan dari hakim dan Jaksa. Sementara Rani, Fikri, Fitri dan Siwi serta Pak Selamet selaku pengacara dari keluarga duduk di sebelah kiri. Mereka semua tampak bersemangat mengikuti sidang pertama itu. Berbeda dengan Dania yang tampak sedikit gugup dan gundah mengikuti sidang pertama ini. Dia mengkhawatirkan Rena anaknya yang di titipkan pada Ratih sang Ibu.
Saudara-saudara iparnya tidak menyapa ataupun menegur Dania, mereka hanya memandang merendahkan pada Dania. Mereka yakin bahwa ini adalah ulah Dania yang serakah, menginginkan harta yang nota bene adalah harta suaminya. Tapi mereka lupa Dania memperoleh semua warisan itu karena Bhani yang memberikan padanya.
Sidang dimulai dengan jaksa memberikan bukti dan saksi yang memberatkan Dania.
“Anak saya tidak mungkin memberikan rumah saya sebagai warisan pada Dania, Pak Jaksa,” ucap Rani memulai argumen keberatannya.
Lalu disusul argumen Fitri dan Fikri suaminya yang semakin menyudutkan Dania. Begitu juga argumen Siwi ikut memberatkan bahwa Dania tidak layak menerima warisan itu.
“Dia hanya ingin bersenang-senang, Pak. Aku yakin dia pasti segaja memanipulasi surat wasiat Bhani. Kakakku tidak mungkin menulis wasiat seperi itu,” seru Siwi dengan emosi yang meluap-luap.
Dania meneteskan air mata mendengar setiap argument yang memberatkan dirinya sementara dia hanya seorang diri.
“Tidak usah membalas, ada saatnya nanti mereka semua akan terdiam dan berpikir, Dania. Tuhan tidak tidur,” ucap Pak Shaka memberikan kekuatan pada Dania untuk menenangkan dirinya. ini
Satu persatu membacakan argumen mereka yang terus menyudutkan Dania. Sekali lagi Dania hanya bisa menunduk dengan mata memerah menahan tangis.
“Pak Hakim! Anda jangan terbawa emosi hanya karena tangian Dania, dia bisa memanfaatkan tangisannya agar anda kasihan padanya!” seru Rani dengan suara meninggi dan tangan yang menunjuk pada Dania yang menangis karena tudingan mereka yang tidak benar padanya.
“Itu benar, Pak Hakim. Aku bisa membuktikannya! Dia malas dan hanya ingin bersenang-senang, berbelanja barang-barang mewah untuk Rena. Dia tidak layak menjadi direktur di perusahaan kakakku!” seru Fitri menimpali arguen Rani. Mereka Bersatu untuk menjatuhkan Dania, membuktikan bahwa wanita itu tidak layak menerima semua warisan itu.
Lalu sidang terhenti karena hakim memberikan jeda waktu untuk semua beristirahat selama satu jam. Setelah ini giliran Dania dan pengacaranya untuk membacakan pembelaan mereka.
Satu jam kemudian, giliran Dania memberikan pembelaan.
“Aku tidak berniat dan tidak menginginkan harta Mas Bhani. Tetapi aku hanya menjalankan semua yang diinginkan Mas Bhani, Pak Hakim,” ucap Dania lemah. Dia berjanji untuk tidak menangis lagi. Dia tahu dia harus kuat menghadapi sidang ini.
“Alasan!” teriak Rani dengan emosi diikuti bisik-bisik saudara iparnya yang langsung membuat hakim memukul palu dan riuh di ruangan sidang mereda.
Dania terkejut mendengar seruan Rani yang lantang dan penuh emosi. Tapi lagi-lagi Pak Shaka menenangkan Dania. Dia tidak ingin Dania mengungkapkan keberatannya dengan emosi.
Lalu sampailah giliran Pak Shaka sebagai pengacara Dania dan almahum Bhani, dia mengeluarkan secarik kertas wasiat yang sudah pernah dibacakan beberapa saat yang lalu ketika Bhani meninggal, lalu mulai membacakannya.
“Seperti yang kita tahu, Dania dan Bhani sudah menikah hampir lima tahun yang lalu. Sekarang mereka memiliki satu orang anak yang menjadi tanggung jawab Dania. Tanpa suami, secara otomatis Dania menjadi orang tua Tunggal dan harus memenuhi semua kebutuhan anaknya tanpa dukungan finansial suaminya yang sudah meninggal. Apakah salah jika ternyata Bhani memiliki firasat bahwa dia akan meninggalkan Dania dan anaknya, lalu memberikan sedikit harta agar Dania bisa menghidupi anaknya kehidupan yang layak? Untuk orang-orang yang tidak mengalaminya sendiri pasti tidak mengerti,” ucap Pak Shaka dengan tenang. Dania mengusap air matanya yang mentes perlahan. Fitri, Fikri, Siwi dan Bu Rani terdiam mendengar pembelaan Pak Shaka yang mengena di hati.
“Aku tahu Ibu tidak akan menyukai ini, tetapi ini yang terbaik untuk anak kita, Dania. Kau sudah berkorban banyak untukku dan aku percaya kalau Dania akan menjaga rumah ini dengan baik,” ucap Pak Shaka membaca surat wasiat peninggalan Bhani di depan ruang sidang. Hakim dan Jaksa ikut terenyuh mendengar surat wasiat itu.
Sidang hari ini dihentikan dan akan dilanjutkan dua minggu kemudian. Dania langsung meninggalkan ruang sidang dengan cepat. Dia teringat pada Rena, gadis kecil itu pasti menangis karena dia sudah meninggalkannya di rumah Ratih lebih dari setengah hari. Tubuhnya juga terasa lelah. Sidang pengadilan ini sungguh membuat Dania merasa seperti dia memang ingin menguasai harta mertuanya.
Tiba di rumah Ratih, dia langsung memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah, lalu turun dan masuk ke rumah itu.
“Rena! Ibumu datang, Nak,” seru Ratih begitu melihat Dania menaiki tangga teras. Dania baru saja menekan bel pintu, Ratih sudah membuka pintu dengan Rena di gendongannya.
“Rena, Sayang. Kau rindu pada Ibu?” panggil Dania dan langsung merentangkan kedua lengannya untuk menggendong bocah itu.
Rena mengangguk dan langsung melompat ke dalam gendongan Dania, lalu merebahkan kepalanya di bahu Dania dengan nyaman.
Dia lalu duduk sambil menggendong bocah kecil itu sambil mengusap-usap pucuk kepalanya dengan lembut.
“Bagaimana sidangnya Dania?” tanya Ratih sambil menaruh satu gelas the hangat yang baru di seduhnya.
Dania menghela napas.
“Seperti yang sudah kita perkirakan sebelumnya, Bu. Mereka beramai-ramai menyudutkanku,” ucap Dania lelah. Rasanya hari ini dia ingin menginap di rumah ibunya dan enggan untuk kembali ke rumahnya. Enggan bertemu dengan Rani dan adik-adik iparnya.
Ratih ikut menghela napas panjang melihat wajah Dania yang letih.
“Aku ingin menginap di sini malam ini, Bu,” ucap Dania akhirnya. Rasanya lelah sekali pulang ke rumahnya.
“Tidak apa-apa. Kalau kau lelah menginap saja di sini malam ini, Dania,” ucap Ratih menyetujui.
“Tapi … aku takut Rani akan semakin menyudutkanku, Bu,” balas Dania takut.
“Haa? Mengapa dia harus menyudutkanmu? Memangnya apa yang kau perbuat? Kau hanya menginap di rumah Ibu, Dania. Berbeda kalau kau menginap di hotel. Jangan takut, Ibu akan membelamu,” jawab Ratih dengan gagah. Dia semakin kesal melihat keluarga besannya yang menggila karena harta warisan.
***