Jawabannya datang lebih cepat dari yang Hana duga — dan datang dari arah yang tidak ia jaga: kotak surat.
Bukan kotak surat rumah. Kotak surat elektronik lama yang hampir ia lupakan, alamat kuliahnya, yang masih ia buka sebulan sekali karena kebiasaan. Di sana, di antara spam, ada satu email tanpa subjek dari alamat sekali pakai. Isinya dua lampiran dan satu kalimat: *'Sebaiknya Anda tahu siapa yang sedang menjadi suami Anda.'*
Lampiran pertama: foto-foto. Erlangga dan seorang perempuan di sebuah balkon apartemen — tanggal di metadata: tiga bulan lalu. Perempuan itu cantik, tegas, familiar. Talia Maheswari, direktur pemasaran Grup Suryawan, perempuan yang selalu berdiri paling dekat dengan Erlangga di setiap foto korporat, yang Hana selalu kira sekadar ambisius.
Lampiran kedua: tangkapan layar percakapan. Dan inilah yang membuat tangan Hana dingin:
*'Talia: Terus wasiat gila itu gimana? Kamu mau main suami baik-baik DUA TAHUN?'*
*'E: Tenang. Klausulnya mati kalau DIA yang mengajukan cerai. Dari pihak mana pun — tapi kalau pihaknya, yayasan tidak berhak mempermasalahkan hakku. Ayahku menulisnya untuk melindunginya. Lucu kan, dia pikir aku yang akan melepaskan. Padahal kuncinya justru: dia yang harus melepaskan.'*
*'Talia: Dan dia mau?'*
*'E: Hana itu lembek. Tiga tahun aku abaikan dan dia diam saja. Kuberi tekanan beberapa bulan, dingin, jauh — dia akan minta keluar sendiri. Perempuan seperti dia tidak tahan dikosongkan. Setelah itu, semua milik kita. Perusahaan, dan kita resmi.'*
Hana membaca percakapan itu sampai akhir. Lalu membaca ulang dari awal. Lalu duduk diam sangat lama di depan laptop, di kamar kerjanya, di rumah yang sejak kematian Pak Surya berubah menjadi medan perang yang menyamar sebagai rumah tangga.
*Dia yang harus melepaskan.*
Itulah mengapa Erlangga tiba-tiba menjadi suami idaman — sambil diam-diam membuat rumah ini tidak nyaman dalam cara-cara kecil. Pujian di depan orang, dingin di dalam kamar. Bunga di meja, jarak di ranjang. Erlangga sedang menjalankan strategi klasik: membuat pernikahan terasa seperti sangkar sampai burungnya sendiri yang meminta pintu keluar — dan menyerahkan kunci kerajaan dengan tangannya sendiri.
Hana menutup laptop. Di kepalanya, lulusan hukum itu mulai bekerja dengan kecepatan yang lama tidak dipakai.
Siapa pengirim email itu? Seseorang yang membenci Erlangga, atau seseorang yang mengasihaninya? Tidak penting sekarang. Yang penting: kebenarannya mudah dicek — dan ia mengeceknya dalam tiga hari, dengan satu telepon ke notaris keluarga dan satu pertanyaan yang disusun hati-hati.
Jawaban notaris itu mengonfirmasi segalanya, sekaligus mengubah segalanya: benar, kalau Hana yang mengajukan cerai tanpa alasan, yayasan tidak bisa apa-apa dan saham tetap mengalir ke Erlangga. Klausul 'pihak mana pun' hanya melindungi yayasan dari perceraian yang dipaksakan Erlangga.
TETAPI — dan notaris tua itu menekankan bagian ini, dengan suara yang berubah seperti orang menyampaikan rahasia — ada klausul kedua, di halaman yang lebih jarang dibaca:
*'Apabila perkawinan berakhir oleh karena PERZINAHAN yang terbukti secara hukum, maka pelaku perzinahan kehilangan seluruh haknya di bawah wasiat ini — dan apabila pelakunya adalah Erlangga Suryawan, maka hak atas saham pengendali beralih penuh kepada Hana Suryawan sebagai pihak yang dizalimi.'*
Hana menutup telepon dengan tangan yang akhirnya berhenti gemetar.
Ayah mertuanya tidak menulis klausul untuk mengikat pernikahan.
Ayah mertuanya menulis perangkap — untuk orang yang sudah ia kenali sejak lama. Dan Pak Surya, di kursi terasnya dengan buku terbuka, sudah tahu anaknya akan berjalan masuk ke dalamnya dengan langkah lebar.
'Kamu yang seharusnya membaca papan dulu, Ayah pernah bilang,' bisik Hana pada foto lelaki tua itu di dinding. 'Baik, Ayah. Sekarang giliran saya yang bermain.'