Hana menyusun papan permainannya dengan cara yang sama Pak Surya mengajarinya catur: membaca dulu, bergerak kemudian.
Pertama, ia mengunci pengetahuannya. Tidak ada yang boleh tahu bahwa ia sudah membaca percakapan itu — bukan karena takut, melainkan karena kekuatan terbesarnya saat ini adalah posisi Erlangga: lelaki itu mengira istrinya lembek. Kepercayaan diri lawan adalah perisai bagi pemain yang sedang menyusun bidak.
Kedua, ia mencari pemain cadangan. Pilihannya jatuh pada Bu Farida, pengacara senior yang dulu menangani yayasan keluarga Suryawan — perempuan enam puluh tahun yang reputasinya membuat notaris pun menunduk.
Bu Farida membaca salinan wasiat dan tangkapan layar itu dengan kacamata di ujung hidung, lalu melepasnya dan menatap Hana seperti menilai klien baru.
'Kamu punya tiga pilihan,' katanya. 'Pertama: diam, bertahan dua tahun, dan pernikahanmu selamat secara hukum. Kedua: gugat sekarang dengan bukti perzinahan — klausul kedua aktif, kamu menerima pengalihan penuh. Ketiga...' ia mengetuk map itu, '...kamu menunggu mereka bergerak lebih jauh, mendokumentasikan segalanya, dan menjatuhkan keduanya sekaligus pada waktu yang kamu pilih.'
'Saran Ibu?'
'Sebagai pengacara: pilihan kedua, cepat dan bersih.' Bu Farida menatapnya tajam. 'Tapi kamu tidak datang ke sini untuk cepat. Kamu datang karena ingin mereka tahu rasanya bermain melawan orang yang mereka kira tidak bisa main. Jadi kupikir kamu sudah memilih pilihan ketiga sebelum masuk pintu.'
Hana tersenyum kecil. 'Ayah mertuaku selalu bilang aku pembaca papan yang baik.'
'Kalau begitu dengarkan aturan mainnya.' Bu Farida mencondongkan badan. 'Dokumentasikan semuanya lewat jalur yang sah: detektif berlisensi, bukti digital yang diautentikasi, tidak ada penyadapan ilegal — satu langkah ilegal dan semua buktimu terbakar di pengadilan. Kedua: jangan pernah terlihat menyerang. Pihak yang menyerang duluan kehilangan simpati dewan. Kamu harus terlihat seperti korban yang akhirnya angkat bicara — karena memang begitu keadaannya.'
Hana mengangguk. 'Dan Talia?'
'Perempuan itu adalah titik lemah mereka.' Bu Farida mengetuk meja. 'Erlangga sabar, tetapi selingkuhan tidak pernah sabar. Mereka menunggu dua tahun dengan menggerutu, dan menggerutu membuat orang melakukan kesalahan. Kamu tidak perlu memancingnya, Nak. Kamu hanya perlu memastikan dia tahu bahwa dua tahun itu... panjang sekali.'
Malam itu Hana pulang dengan rencana yang utuh di kepalanya dan roti kesukaan suaminya di tangannya — detail istri penyayang yang akan ia mainkan dengan sempurna.
Dan benar saja, permainan rumah tangga itu dimulai dengan gerakan yang sudah ia prediksi.
Erlangga pulang malam-malam dengan alasan rapat — dan memastikan Hana tahu ia pulang malam. Ia mulai 'lupa' hal-hal kecil: hari jadi, janji makan malam, obat yang biasa ia belikan. Kedinginan yang dijadwalkan, dirancang untuk membuat Hana merasa tidak berharga, sampai perempuan itu menyerah dan mengetuk pintu keluar sendiri.
Yang tidak diketahui Erlangga: setiap 'kelupaan' itu dicatat istrinya di buku kecil dengan tanggal. Setiap kata dingin, terdokumentasi. Pernikahan mereka berubah menjadi laboratorium — Erlangga meneteskan racun dosis kecil setiap hari, dan Hana mencatat reaksinya seperti peneliti yang sabar.
Dua orang yang sama-sama berakting. Dua orang yang sama-sama menunggu.
Bedanya: Erlangga menunggu Hana menyerah.
Hana menunggu Erlangga selesai menggali.