Bulan-bulan berikutnya berjalan seperti pertunjukan teater yang hanya satu penontonnya yang tahu naskah aslinya.
Di atas panggung: pernikahan yang membaik. Erlangga tampil di acara-acara keluarga dengan tangan di pinggang Hana, kata-kata manis untuk kamera, dan cerita tentang 'komitmen baru' mereka. Dewan yayasan — yang bertugas mengawasi syarat wasiat — menerima laporan-laporan yang menghangatkan: pernikahan itu sehat, CEO bekerja dengan tenang, semua sesuai keinginan mendiang pendiri.
Di balik panggung: dua front berjalan bersamaan.
Front Erlangga berjalan seperti yang direncanakannya: kedinginan terjadwal di rumah, ketidakhadiran yang menyakitkan, kalimat-kalimat kecil yang dirancang mengikis. 'Kamu yakin mau ikut acara itu? Nanti capek.' 'Makan saja duluan, aku sibuk.' Setiap kalimat diukur agar cukup dingin untuk menyakiti, cukup samar untuk dibantah.
Front Hana berjalan lebih sunyi. Detektif berlisensi yang disewa lewat kantor Bu Farida mulai memetakan kehidupan kedua suaminya: apartemen di kawasan Kuningan yang disewa atas nama perusahaan cangkang, jadwal-jadwal 'rapat malam', dan foto-foto yang diabadikan dengan ketelitian hukum — selalu di ruang publik, selalu sah.
Dan di rumah, Hana memainkan peran yang membuatnya nyaris mengagumi dirinya sendiri: istri yang berusaha.
Ia memasak lebih rajin. Ia mengirim pesan perhatian. Ia menanggapi kedinginan suaminya dengan kesabaran yang tampak seperti kelembutan — dan yang sebenarnya adalah dokumentasi. Setiap kali Erlangga melepaskan kalimat dingin, Hana menanggapinya dengan kehangatan, dan perbandingan itu tercatat di mata orang-orang sekitar mereka: pembantu rumah tangga, sopir, saudara-saudara. Saksi-saksi yang tidak tahu bahwa mereka sedang bersaksi.
Puncak permainan itu datang di malam ulang tahun pernikahan mereka yang keempat.
Erlangga pulang membawa bunga dan kalung — hadiah yang dipotret asisten dan diunggah ke akun korporat: *'CEO dan istri merayakan tahun keempat.'* Komentar-komentar mengalir: pasangan idaman.
Dan setelah pintu kamar tertutup, Erlangga melepas jasnya, mengendurkan dasinya, dan berkata tanpa menoleh: 'Foto sudah cukup. Kamu tidur duluan saja. Aku masih ada kerjaan.'
Di balkon kamar, dengan pintu geser setengah terbuka, ia menelepon. Dan Hana — yang sudah membaca jadwalnya, yang tahu persis jam berapa Talia selalu menelepon — duduk di tempat tidur dengan ponselnya merekam bukan suara, tetapi sesuatu yang lebih sederhana: dirinya sendiri, duduk di ranjang pengantin dengan kalung baru di leher dan bunga di pangkuan, sementara suaminya berbisik mesra di balkon dengan perempuan lain.
Bukti tidak selalu harus dramatis. Kadang bukti hanyalah kontras yang tidak bisa dijelaskan.
Tengah malam, Erlangga masuk kamar dan mendapati istrinya masih terjaga, menatap kalung di tangannya.
'Belum tidur?' tanyanya.
'Belum.' Hana menatapnya — dan untuk sepersekian detik, ia membiarkan topengnya turun satu milimeter, cukup untuk menunjukkan sesuatu yang dalam, sesuatu yang menghitung. 'Aku cuma berpikir... kalung ini cantik sekali. Sampai-sampai aku bertanya-tanya: untuk siapa sebenarnya kamu membelinya? Untukku, atau untuk fotonya?'
Erlangga menatapnya. Ada jeda — jeda lelaki yang merasakan angin berubah arah tapi tidak tahu dari mana.
'Kamu aneh,' katanya akhirnya, dan naik ke ranjang dengan punggung menghadap istrinya.
Hana menatap punggung itu dalam gelap, dan tersenyum kecil tanpa suara.
Tidak, Sayang, batinnya. Aku tidak aneh.
Aku sudah selesai membaca papan. Sekarang bidak-bidakku mulai bergerak.