Sekarang Bianca, Naena dan Icha sedang dalam perjalanan menuju tempat Ibu Mirna. Mereka sudah membawa bahan kebaya yang akan di jahit oleh Ibu Mirna. Icha memberi tahu jika memang bahan kebaya yang kali ini lebih halus dan lembut dari sebelumnya. Harganya sedikit lebih mahal.
Selain dikarenakan stock bahan yang lalu sudah tidak ada, dan bahan baru ini juga terlihat akan lebih elegan dan nyaman jika dipakai. Bianca pun menyetujuinya. Yang terpenting kualitas pakaian wadrobenya semua akan memuaskan pelanggannya.
Mobil Icha pun sampai di sebuah perumahan kawasan Kemang. Di depan sebuah rumah dengan pagar berwarna putih dan ada acliric bertuliskan Butik Mirna Icha memarkirkan mobilnya disana. Ibu Mirna memang selain menjahit dia juga membuka butik khusus kebaya buatannya di rumahnya.
“Kita sampai” ucap Icha.
Bianca, Naena pun turun dari mobil. Mereka bertiga melangkah masuk melewati pintu kayu. Disana mereka disambut ramah oleh salah satu karyawan dari Ibu Mirna.
“Selamat siang, selamat datang di Butik Mirna” sapa karyawan wanita itu dengan ramah.
“Siang Mba” sapa Bianca juga dengan ramah.
“Ada yang bisa saya bantu. Kami punya koleksi kebaya terbaru” ucap karyawan wanita itu lagi.
“Kami ingin bertemu dengan Ibu Mirna. Apa Ibu Mirnanya ada?” Tanya Bianca.
“Oh Ibu ya. Ibu baru saja pergi ke mall” jawab karyawan wanita itu.
Bianca menoleh kebelakang menatap Icha.
“Cha, kamu belum telepon Ibu Mirna jika kita mau kesini?” Tanya Naena.
“Belum. Aku pikir Ibu Mirna tidak akan pergi, karena waktu kita telepon tadi dia ada di butiknya” jawab Icha.
“Kira-kira kapan Ibu Mirna pulang ya?” Tanya Icha.
“Hem, sepertinya malam, karena Ibu sedang mempersiapkan toko barunya di dalam mall itu” ucap karyawan itu.
Bianca menatap jam di tangannya. Menunggu sampai berjam-jam itu sangat lama. Dan dia tidak mungkin terus menunggu Ibu Mirna sampai malam. Kasihan dia meninggalkan Aditya di rumah. Walaupun ada Mina, tetap saja Bianca masih memikirkan Aditya.
“Bagaimana kalau kita temui Ibu Mirna di Mall?” Tanya Bianca kepada Icha dan Naena.
“Aku terserah kamu saja Bii” jawab Naena.
“Aku juga” ucap Icha.
“Iya kita temui Ibu Mirna saja di Mall ya. Karena kita tidak punya banyak waktu lagi” ucap Bianca.
“Okey” ucap Icha dan Naena bersamaan.
“Mba boleh saya tahu tokonya di mall mana dan lantai berapa?” Tanya Bianca.
“Ini alamatnya” ucap karyawan itu memberikan kartu nama dari sakunya.
“Terima kasih” ucap Bianca.
“Sama-sama kakak” ucap karyawan wanita itu dengan ramah.
Bianca, Icha dan Neana pun melangkah kembali ke mobil. Mereka naik ke mobil dan Icha pun segera menjalankan mobilnya menuju mall yang letaknya tidak jauh dari dari butik Ibu Mirna. Tidak butuh waktu lama, cukup 10 menit berkendara kini mereka sudah sampai di mall.
Bianca, Icha dan Naena melangkah bersama menaiki lift. Mereka langsung menuju lantai dua. Letak toko baru Ibu Mirna ada di lantai dua. Suasana mall tidak begitu ramai, karena memang bukan hari libur. Keluar dari lift mereka pun mencari toko baru Ibu Mirna.
“Sebentar-bentar. Ini tas bagus bangat” ucap Icha yang berhenti ketika melihat koleksi salah satu tas yang di pajang di toko tas.
Icha pun masuk. Bianca dan Naena menghela nafas. Icha dari dulu tidak berubah jika ke mall matanya selalu saja berkelana mencari barang-barang bagus. Bianca dan Naena berbalik menyusul Icha yang sudah memasuki toko tas itu.
Mereka berdua menggeleng-gelengkan kepalanya ketika masuk ke dalam toko tas itu Icha terlihat sedang mencoba tas selempang berwarna dusty pink di bahunya. Bianca dan Naena saling menatap satu sama lain, lalu mereka menganggukkan kepalanya.
1
2
3
Dalam hitungan ketiga mereka berdua langsung memegang lengan Icha. Lalu mengembalikan tas yang Icha coba kepada pelayan tokonya. Mereka pun langsung membawa Icha pergi dari toko tas itu.
“Maaf ya” ucap Naena kepada pelayan di toko tas.
“Aku mau beli tas itu. Kalian malah bawa aku keluar” ucap Icha.
“Cha nunggu kamu beli tas bisa sampai sore kita bertemu Ibu Mirnanya” ucap Bianca.
“Iya. Nanti kalau urusan kita sudah selesai kamu baru beli tas lagi” ucap Naena menambahkan.
“Tapi tadi lagi diskon. Jarang-jarang tas itu diskon loh” ucap Icha.
“Perasaan kamu semalam baru bilang Jonathan kasih tas baru ke kamu” ucap Naena.
“Iya sih” ucap Icha.
“Mubazir Cha, kamu beli barang-barang banyak” ucap Naena menasehati.
“Ya tapikan aku tetap memakainya” ucap Icha.
“Iya terus kalau sebulan itu tas bosan, kamu tinggalin begitu aja” ucap Bianca yang sudah tahu bagaimana Icha.
“Sekarang enggak gitu juga. Aku bagi-bagi ke Santi kalau aku sudah bosan” ucap Icha sambil terkekeh.
“Asal jangan Jonathan saja kamu kasih ke orang kalau sudah bosan” ucap Bianca asal. Naena pun terkekeh.
“BII, enak saja. Tidak mungkinlah. Aku tidak akan bosan dengan Jonathan” ucap Icha mencibir.
Mereka bertiga pun terus melangkah mencari toko Ibu Mirna sambil kembali tertawa. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka bertiga dari belakang. Orang itu pun mengejar mereka bertiga dan berhasil menghentikan langkah mereka.
“Mba Icha, Mba Naena” panggil seorang perempuan dari belakang mereka.
Otomatis mendengar namanya di panggil Icha dan Naena berhenti dan menoleh kebelakang. Bianca pun ikut berhenti dan menoleh kebelakang. Wanita yang memanggil mereka kini sedang berlari kecil menghampiri mereka.
Bianca merasa tidak asing dengan perempuan yang kini berjalan ke arahnya. Bianca pun mencoba-coba mengingat wajah perempuan itu.
“Mba Selena” ucap Icha, kepada wanita yang memanggilnya.
“Kalian sedang apa?” Tanya wanita yang ternyata adalah Selena.
“Kalau di mall ya mau belanja Mba, masa iya kita mau dekor acara nikahan disini” jawab Icha asal.
“Ha ha ha. Kita ngobrol di cafe atas saja yuk” ajak Selena.
Icha melirik Naena, mereka berdua tahu maksud Selena. Pastilah wanita itu akan kembali memaksanya untuk bisa menerima acara pernikahannya. Icha pun langsung saja menolak ajakan Selena, karena selain memang dia tidak bisa menerima acara Selena itu dan juga saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk meladeni Selena.
“Kami ada urusan lain. Maaf ya, next time saja” uca Icha.
Sementara itu Bianca masih memperhatikan Selena sampai seseorang pria terlihat dari kejauhan baru saja keluar dari arah lorong toilet. Bianca pun teringat saat melihat pria disana adalah Gio. Bianca dengan cepat membalikkan tubuhnya.
“Dia adalah wanita yang ada di rumah sakit. Dia kekasih Gio” ucap Bianca pelan.
“Ada apa Bii?” Tanya Naena yang mendengar samar Bianca berbicara.
“Tidak apa-apa” jawab Bianca menggelengkan kepalanya.
Ya, mereka sudah melanjutkan kembali langkah mereka menuju toko Ibu Mirna. Selena juga sudah pergi ketika Icha menolak ajakannya.
“Wanita tadi itu Selena Bii. Dia wanita yang memaksa untuk kita bisa mendekor acara pernikahannya di Bandung” ucap Icha.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya. Sampai mereka tiba di toko Ibu Mirna. Toko Ibu Mirna masih dalam tahap finishing. Ada dua tukang yang sedang memasang rak-rak. Kebetulan sekali Ibu Mirna sedang ada di dalam tokonya.
“Siang Ibu Mirna” sapa Icha.
“Kalian kesini. Kenapa tidak bilang-bilang?” Tanya Ibu Mirna yang terkejut dengan kedatangan Icha, Bianca dan Naena.
Saat Icha dan Naena sedang berbicara dengan Ibu Mirna, Bianca masih fokus dengan Selena dan Gio. Bianca masih bergelut dalam pikirannya. Bisa-bisanya Gio mengganggunya padahal dia dan Selena sudah mau menikah.
“Sepertinya dia memang pria yang tidak baik. Kasihan sekali Selena mempunyai calon suami seperti Gio. Sepertinya aku harus menjauhinya. Jangan sampai kejadia dulu terulang lagi” batin Bianca.
Ya, Bianca ingat sekali bagaimana dia bertemu dengan Willy dan sampai menikah dengan Willy. Bisa di bilang posisinya hampir mirip sama seperti saat ini. Bedanya dulu Bianca mendekor untu acara pernikahan Davira dan Willy, lalu Davira ketahuan selingkuh. Akhirnya Bianca yang harus menikah dengan Willy.
Kalau sekarang Bianca sampai menerima permintaan Selena untuk mendekor acara pernikahannya dengan Gio, lalu Gio jelas sekali modus dengan Bianca. Bianca menggelengkan kepalanya karena tidak ingin memikirkan apa yang terjadi selanjutnya jika sampai Selena tahu calon suaminya itu adala pria yang tidak setia. Apalagi wanita yang di dekati pria itu adalah vendor wedding organizernya.
Karena Bianca sedang asyik dalam pemikirannya itu, Bianca sampai tidak sadar apa yang terjadi di dalam mall itu. Orang-orang sudah berteriak dan berlarian menuju tangga darurat untuk keluar dari mall ini. Naena dan Icha pun juga sudah berlari. Merka kira Bianca juga berlari karena mereka sudah memanggil Bianca, nyatanya Bianca masih berdiri di dalam toko Ibu Mirna.
Hingga bunyi dentuman reruntuhan yang sangat keras bersamaan dengan suara orang-orang yang terus menjerit, Bianca pun baru tersadar jika saat ini gedung mall tempatnya berdiri atapnya rubuh. Bianca pun sangat terkejut ketika melihat ke atas dirinya akan tertimpa langit-langit dan lampu dari toko Ibu Mirna.
Kaki Bianca terasa sangat kaku dan tidak bisa berlari, Bianca pun memejamkan matanya dan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya lalu dia berjongkok.
“Aaakkh” terdengar suara rintihan bersamaan dengan robohnya atap toko Ibu Mirna.
Bianca pun membuka matanya perlahan, dia merasa tubuhnya tidak terkena apa-apa. Bianca melihat ke lantai semuanya sudah runtuh. Lalu Bianca pun melihat ke atas, betapa terkejutnya ketika melihat Gio berdiri dengan tanga bersandar di dinding untuk melindungi Bianca dari runtuhan atap toko Ibu Mirna.
“Gi Gio” ucap Bianca terkejut.
“Kenapa kamu tidak mendengarkanku? Aku memintamu tetap di rumah, tapi kamu masih saja keras kepala” ucap Gio dengan suara yang menahan rasa sakit.
“Kepalamu berdarah” ucap Bianca melihat darah keluar dari kening Gio.
Baru Bianca mencoba berdiri, tiba-tiba Gio ambruk dan terjatuh menimpa Bianca. Bianca mencoba membangunkan Gio. Ternyata Gio sudah pingsan.
“Gio, Gio bangunlah” ucap Bianca.
“Ya Tuhan, darahnya banyak sekali” ucap Bianca melihat tangannya yang terkena darah dari kepala Gio.