Kejadian runtuhnya atap di mall itu sangat cepat. Banyak korban luka-luka karena terkena runtuhan itu. Untungnya tidak sampai ada korban jiwa dalam kejadian itu. Kini semua korban pun di bawa ke rumah sakit terdekat. Termasuk Bianca dan juga Gio.
Bianca menggigit jarinya. Dirinya memang tidak apa-apa saat ini. Tetapi Bianca merasa khawatir kepada Gio yang saat ini masih belum sadar dan sedang di tangani oleh dokter di ruang IGD. Bianca masih melihat Gio di ranjang yang ada di sampingnya. Dokter sudah selesai memberikan perban pada luka di kepalanya.
“Dok, bagaimana keadaannya?” Tanya bianca penasaran dengan keadaan Gio yang masih belum tersadar.
“Ini suami anda?” Tanya Dokter itu kepada Bianca.
“Oh bukan. Dia hanya teman saya” jawab Bianca langsung menggelengkan kepalanya.
“Teman anda lukanya tidak begitu parah. Sebentar lagi juga akan sadar” ucap Dokter itu.
“Terima kasih” ucap Bianca.
Dokter bersama perawat itu pun melangkah pergi menuju ranjang lain untuk memeriksa pasien yang belum mereka periksa. Saat ini Bianca menatap Gio yang yang hanya berjarak beberapa kurang dari satu meter dengannya.
Bianca tidak tahu kenapa Gio kini selalu ada disetiap dirinya dalam bahaya, dan lagi-lagi pria itu menyelamatkan nyawanya. Bianca menunduk sedih, semenjak dirinya hilang ingatan karena kecelakaan dulu, memang kini dia tidak sedingin dulu terhadap pria. Bianca tahu dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Bianca juga sangat mencintai suaminya.
Bianca tidak berniat untuk dekat dengan laki-laki lain yang bukan suaminya. Tetapi kenapa saat suaminya tidak ada disampingnya ada pria seperti Gio yang terus-menerus dan tidak pantang menyerah selalu ada di dekatnya.
Tetes air mata pun jatuh di pipi Bianca. Seharusnya di posisi Gio adalah Willy. Seharusnya yang kini selalu ada di dekatnya dan selalu melindunginya adalah Willy. Tetapi kenapa justru pria lain yang Bianca tidak kenal yang selalu menyelamatkannya.
Bianca sampai bingung cobaan apa lagi yang menimpa rumah tangganya kali ini. Tidak bisakah dia dan Willy hidup bahagia seperti pasangan suami istri pada umumnya. Baru satu satu tahun Bianca merasakan manisnya berumah tangga dengan Willy semenjak kecelakaan itu. Tetapi kenapa dia kembali lagi harus merasakan kesedihan seperti dulu.
Bianca pun terisak mengingat bagaimana dulu rumah tangganya dengan Willy. Bianca menggelengkan kepalanya, Bianca tidak ingin Willy seperti dulu, yang kasar dan tidak mempercayai dirinya. Bianca tidak ingin akhirnya rumah tangganya harus kembali hancur karena dirinya yang tidak kuat oleh sikap Willy.
Tanpa Bianca sadari Gio sudah sadar. Gio menatap Bianca sedang duduk dengan menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya. Punggung Bianca juga terlihat bergetar. Gio tahu pasti saat ini wanita yang dia sukai itu sedang menangis.
Gio mencoba bangun dari duduknya. Dia sedikit meringis karena punggung dan seluruh tubuhnya masih terasa sangat sakit. Tetapi Gio mencoba menahannya sampai dia berhasil duduk. Gio dengan hati-hati menurunkan kakinya dari ranjang.
Gio melangkah pelan dengan menarik tiang infusnya menghampiri Bianca yang masih terisak. Tangan kanan Gio terangkat. Tangan itu mencoba mengusap punggang Bianca, tetapi saat sedikit lagi menyentuh wanita yang saat ini rapuh itu tangan Gio terdiam.
Gio pun menurungkan niatnya menyentuh punggung Bianca. Tangan Gio pun dia kembalikan ke tempatnya. Gio tidak ingin Bianca marah kepadanya karena Gio lagi-lagi menyentuhnya dengan mencari kesempatan di dalam keadaan seperti ini. Gio tidak mau itu.
Gio masih berdiri di depan Bianca, dia berpikir bagaimana caranya menghibur wanita di hadapannya ini. Gio bukannya tidak tahu tentang Bianca. Gio sudah mencari tahu tentang kehidupan Bianca. Bukan hal yang sulit untuk Gio mencari tahu tentang kehidupan Bianca dan Willy.
“Jangan menangisiku” ucap Gio yang sengaja berkata seperti itu.
Terbukti mendengar suara Gio, Bianca memunculkan wajahnya. Bianca pun segera mengusap air mata di kedua pipinya. Gio menatap Bianca, ingin sekali dia bisa menghapus air mata itu. Gio juga tidak tahu kenapa dia bisa sampai seperti ini kepada Bianca. Gio padahal sudah berusaha menjauhi Bianca, karena Gio tahu sampai kapanpun dia tidak akan pernah memiliki Bianca.
“Terima kasih” ucap Bianca dengan nada ketus.
“Begini caramu mengucapkan terima kasih. Sangat tidak ikhlas” ucap Gio.
“Terima kasih” ucap Bianca dengan nada yang sengaja dia buat tulus.
“Terlalu dibuat-buat” ucap Gio.
“Kamu sebenarnya sudah tidak apa-apa. Syukurlah, setidaknya aku tidak banyak berhutang budi kepadamu” ucap Bianca.
“Tidak apa-apa bagaimana. Kamu tidak lihat kepalaku di perban begini. Dan ini seluruh tubuhku sangat sakit” ucap Gio.
“Kalau sakit kenapa masih kuat untuk berjalan dan berdiri?” Tanya Bianca.
“Tentu saja aku mengkhawatirkanmu” batin Gio. Tetapi tentu saja dia tidak bisa mengatakan seperti itu dengan nada yang lembut dan cemas.
“Kamu ini, aku sudah katakan jangan keluar dari rumah masih saja keluar” ucap Gio yang sengaja tidak menjawab pertanyaan Bianca itu.
“Ini hanya musibah. Kamu seperti tukang ramal saja bisa tahu apa yang akan terjadi kepadaku” ucap Bianca.
“Ha ha ha. Benar sekali ucapanmu aku adalah tukang ramal. Mau tahu bagaimana ramalanku tentang hubungan kita nanti?” Tanya Gio dengan nada bercanda.
Bianca hanya berdecih, lalu menoleh kesampingnya. Bianca merasa sangat malas meladeni Gio.
“Di masa depan nanti kamu pasti akan hidup bahagia” ucap Gio.
Bianca yang mendengarnya memang jujur dia merasa terhibur sekali mendengar ucapan Gio. Ya, walau Bianca tahu Gio hanya bercanda, setidaknya mendengar dia akan bahagia nanti Bianca justru inginkan itu. Bianca ingin di masa depan nanti bisa hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
“Kamu akan bahagia jika menikah denganku nanti” ucap Gio dengan pelan di telinga Bianca.
Seketika Bianca menolah karena mendengar ucapan Gio yang merusak impiannya. Karena Gio memajukan wajahnya dekat dengan telinga Bianca, sehingga saat Bainca menoleh wajah mereka berdua pun saling berdekatan.
Gio sudah bisa di tebak dia sangat terkejut sekali wajahnya bisa sedekat ini dengan Bianca. Kalau di dalam cerita romantis pasti saat ini mereka akan berciuman. Gio pun ingin sekali mencium Bianca saat ini. Lagi-lagi Gio sadar itu tidak akan mungkin dia lakukan, bisa-bisa Bianca tidak akan mau menemuinya lagi.
Bianca merasa tidak nyaman segera memundurkan wajahnya. Tetapi siapa sangka Gio justu membuat Bianca terdiam dengan aksinya.
“Jangan berharap aku menciummu. Walau sebenarnya aku ingin sekali menciummu. Tapi ini di rumah sakit dan banyak sekali pasien disini. Jadi bersabarlah aku akan menciummu di waktu dan tempat yang tepat” ucap Gio pelan.
Bianca melebarkan matanya.
“Dasar pria gila!” pekik Bianca mendorong kedua bahu Gio.
Tentu saja Gio meringis karena tubuhnya masih terasa sakit. Bianca mengacuhkan Gio yang meringis. Bianca tahu pria itu hanya berpura-pura kesakitan. Bianca tidak habis pikir saat dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Gio memang gila itulah yang Bianca pikirkan tentang Gio.
“Mas” terdengar suara wanita memanggil Gio.
Bianca dan Gio pun menoleh bersamaan ke arah pintu masuk IGD. Wanita yang memanggil Gio dengan sebutan Mas itu melangkah cepat ke ranjang Bianca dan Gio. Bianca ingat wanita ini adalah wanita yang tadi memanggil Icha. Ya, dia adalah Selena.
“Mas kamu tidak apa-apa?” Tanya Selena kepada Gio dengan wajah panik.
“Lihat saja sendiri bagaimana keadaanku?” ucap Gio dengan ketus.
“Kamu sih, aku sudah bilang lari keluar malah memaksa berlari naik ke lantai dua” ucap Selena yang membantu Gio kembali ke ranjangnya.
“Kalau kamu ingin menceramahiku, pulang saja sana” ucap Gio kepada Selana.
“Aku akan pulang bersamamu. Mana mungkin aku meninggalkanmu seperti ini” ucap Selena.
“Kalau begitu jangan berisik. Suaramu menggangu semua pasien disini” ucap Gio.
Bianca pun merasa risih dengan sepasang kekasih disebelahnya ini. Untung saja posisi Bianca dan Gio saat Selena datang sudah tidak saling berdekatan. Jika Selena datang saat wajah mereka berdekatan tadi. Bianca yakin Selena pasti akan cemburu lalu memarahinya sekarang.
Mendengar percakapan Selena yang mengatakan Gio tadi kembali berlari ke lantai dua, padahal dia sudah mau keluar dari mall Biaca mengigit bibirnya. Apa mungkin Gio tadi melihatnya, dan saat kecelakaan itu Gio memang mencarinya dan ingin menyelamatkannya.
“Gio, aku mohon berhentilah bersikap sebagai pahlawan untuk diriku. Aku tidak pantas mendapatkannya” batin Bianca.
Ya, biar bagaimana pun Bianca tidak dapat memungkiri kalau Gio memang menyelamatkannya bukan karena kebetulan. Dia mengorbankan dirinya, padahal pria itu baru saja keluar dari rumah sakit. Bianca merasa bersalah sekali.
“Bii” terdengar suara Icha dan Naena memanggil Bianca.
Bianca pun menoleh ke depan dan melihat Icha juga Naena melangkah menghampirinya. Icha dan Naena alhamdulillah tidak parah, hanya luka kecil di tangan dan kakinya.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Icha khawatir.
“Enggak” ucap Bianca menggelengkan kepalanya.
“Kita panik bangat. Kita kira kamu ikut berlari bersama kita. Saat sampai di tangga aku salah gandeng. Aku pikir kamu ternyata orang lain” ucap Naena menceritakan kejadian saat mereka lari.
“Iya, saat kita mau kembali berlari mencari kamu di belakang kita sudah banyak orang dan kita tidak bisa kembali mencarimu di atas” ucap Icha.
“Tidak apa-apa. Lihat aku tidak apa-apa” ucap Bianca.
“Maafkan kita ya Bii” ucap Naena memeluk Bianca.
“Iya” ucap Bianca.
“Untung kamu tidak apa-apa. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, kita berdua pasti habis sama Willy” ucap Icha yang ikut memeluk Bianca.
Mereka bertiga pun berpelukan seperti telethubis. Bianca ingin kembali menangis saat mendengar Icha menyebutkan nama Willy. Ya, Willy memang terlalu protektif kepadanya. Tetapi saat ini, saat Bianca membutuhkan Willy, dimana pria itu. Hati Bianca berusaha terus berpikir positif dan tidak ingin berpikir buruk. Tetapi hatinya tidak bisa di bohongi. Dia adalah wanita yang memiliki perasaan, dan saat ini dia sangat membutuhkan suaminya disampingnya.
“Oh iya, Bii ada berita buruk” ucap Naena melepaskan pelukan mereka.
“Apa?” Tanya Bianca.
“Ibu Mirna tertimpa reruntuhan, dan kakinya patah” jawab Icha.
Bianca terkejut dan wajahnya seketika lemas mendengar berita Ibu Mirna kakinya patah. Berarti saat ini mereka sudah tidak bisa melanjutkan kerja samanya dengan Ibu Mirna. Bianca pun memijit keningnya yang terasa sakit karena memikirkan masalah yang kembali muncul.