Bali
Willy sedang berenang di kolam renang yang ada di villa milik Gunardi. Dia kini hanya bisa menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang sudah lama dia tidak lakukan. Seperti berenang, lari pagi, boxing.
Willy sampai bosan melakukan semua itu. Ya, Willy melakukan semua itu sengaja karena kalau dia terus berdiam diri pikirannya akan terus tidak tenang. Di tambah perasaan Willy semakin tidak enak karena memikirkan Bainca dan Aditya.
Kini Willy semakin sadar saat dia kembali jauh dari istrinya. Willy menyesal akhirnya kenapa dia bisa sampai disini. Willy memmbodohi dirinya yang terlalu emosi saat ini. Tetapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi, dan Willy harus kembali menyusun rencananya lagi.
Willy memunculkan wajahnya dari kolam renang. Tiga puluh menit cukup untuknya melemaskan otat-otot tubuhnya dan mendinginkan pikirannya. Willy pun naik dari kolam renang. Willy mengambil handuk berwarna putih lalu mengelap wajah dan punggungnya. Willy melilitkan handuk itu di pinggangnya, lalu dia melangkah masuk ke dalam Villa.
Willy melangkah mendekati kulkas dan membukanya. Willy mengambil satu minuman kaleng. Willy membukanya dan meneguknya. Setelah habis Willy pun membuangnya ke tempat sampah. Willy melangkah kembali menuju kamar mandi untuk membilas tubuhnya.
“Atap di sebuah mall dibilangan Jakarta Selatan ambruk” terdengar suara reporter dari televisi.
Willy yang mendengarnya pun menghentikan langkahnya. Willy menoleh ke arah televisi, tiba-tiba di pikirannya teringat akan Bianca. Willy pun melangkah mendekati televisi dan mengencangkan volume suaranya.
“Semoga kamu tidak ada disana Bii” ucap Willy berharap Bianca tidak ada di dalam insiden kecelakaan mall itu.
Ya, sebenarnya Willy tahu Bianca pasti tidak akan jalan-jalan ke mall saat ini. Bianca pergi ka mall itu kalau tidak bersamanya pasti bersama Icha dan Naena. Willy melihat jam kejadian itu. Kejadian itu terjadi siang hari, jadi tidak mungkin Bianca siang-siang ke mall bersama Icha dan Naena karena mereka berdua pasti sedang bekerja.
Tetapi Willy penasaran dan ingin melihat tayangan berita di televisi itu. Sampai dia melihat para korban yang dia dan dimasukkan ke dalam ambulan. Disana Willy melihat pria yang mirip sekali Gio sedang di bawa dengan tandu.
“Gio” ucap Willy.
“Rasakan pria itu. Itulah akibatnya berani menggangu istri orang” ucap Willy lagi.
Willy pun mematikan siaran televisinya. Tanpa Willy sadar padahal siaran selanjutnya memperlihatkan Bianca yang juga di bawa ke dalam mobil ambulan. Willy lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membilas tubuhnya.
Sepuluh menit sepertinya sudah cukup waktu untuk Willy membersihkan tubuhnya. Willy keluar dari kamar mandi. Kini Willy melangkah menuju kamarnya. Walau Willy datang ke Villa ini tidak membawa pakaian, tetapi Gunardi sudah memberikan banyak pakaian di dalam Villa ini untuknya.
Willy memakai kaos berwarna hijau berkerah dan celana chino selutut. Willy melangkah ke dapur untuk membuat makanan. Willy membuka kulkasnya mengambil telur, wortel dan sawi. Willy juga mengambil mie instant dari dalam laci dapurnya. Willy menyalakan kompor, meletakkan panci berisi air di atas panci dan memasukkan mie instantnya.
Selagi menunggu mienya matang, Willy memilih untuk mengupas wortel dan mencucinya. Willy memotong wortel itu dengan tangannya. Karena Willy memang tidak terbiasa memasak, tangannya pun terkena pisau.
“Auuw” ringis Willy.
Willy pun langsung mengsisap jarinya yang berdarah. Seketika bayangan Bianca muncul di hadapannya. Willy pun teringat saat dulu mereka baru kembali dari kalimantan dan belum mempunyai pembantu, Willy membantu Bianca memasak.
Saat itu tangan Willy terkena pisau seperti saat ini, Bianca dengan cepat pun mengisap jari Willy. Bianca terlihat cemas padahal hanya tergores pisau saja. Lalu Bainca meminta Willy untuk berhenti membantunya. Willy pun tersenyum mengingat masa-masa itu.
“Aku merindukanmu Bii” ucap Willy.
Willy menghela nafasnya. Masalah dalam hidupnya kini semakin rumit, ditambah Gunardi yang bisa melakukan apa saja. Willy mengambil hansaplast untuk jarinya yang terkena pisau. Setelah jarinya sudah tertutup oleh hansaplast Willy pun kembali melanjutkan sesi memasak mie instant buatannya.
Willy duduk di meja makan dan mulai menikmati mie rebus ala buatannya sendiri. Willy menghela nafasnya lagi-lagi dia terbayang wajah Bianca. Beginilah kalau dirinya tidak melakukan hal-hal lain pastinya dia selalu membayangkan wajah Bianca.
Disini ada telepon, tetapi Gunardi sengaja memutus sambungan telepon disini agar Willy tidak bisa menghubungi siapapun utuk meminta bantuan Di luar gerbang utama juga jangan salah ada para anak buah Gunardi yang menjaga villa ini dua puluh empat jam.
Waktu itu Willy mencoba untuk kabur, ternyata dirinya gagal karena anak buah Gunardi sangat banyak dan kembali mengurungnya di dalam villa ini. Itulah mengapa sampai saat ini Willy tidak mencoba lagi kabur. Willy hanya memikirkan caranya biar dia bisa berbicara yang sebenarnya kepada Luna sebelum pernikahan antara dirinya dan Luna terjadi.
Secanti apapun Luna, tetap bagi Willy hanya Bianca yang paling cantik dan hanya Bianca yang akan menyandang gelar Nyonya Willy Pratama tidak akan ada wanita lain. Sore hari ini Willy sedang melihat siaran televisi olahraga.
Ya, Willy memilih menonton agar pikirannya fokus dan adrenalinnya meningkat karena melihat aksi balap moto gp yang dia tonton saat ini. Willy sedang sangat fokus, dan berkali-kali dia melayangkan pukulan ke udara saat pembalap kesukaannya di balap oleh pembalap lain.
Acara balap motor itu pun semakin seru saat pembalap pilihan Willy kini sudah sebenatr lagi mendekati garis finish. Willy mencengkram kedua tangannya karena tidak sabar. Willy semakin tegang karena di samping kanan kiri pembalap pilihannya ada dua pembalap yang mengapitnya dan berjarak hanya satu meter.
Tinggal sebentar lagi, tiba-tiba televisi mati dan membuat Willy kesal. Willy pun melihat ke samping, ternyata kelakuan kakek tua ini yang sudah sengaja mematikan televisinya. Willy pun menatap Gunardi dengan bersedekap.
“Lihat itu” ucap Gunardi dengan melempar amplop coklat ke atas meja yang ada di depan Willy.
“Apa lagi yang kali ini mau anda lakukan?” Tanya Willy sinis.
“Lihat saja dulu” ucap Gunardi yang ikut duduk di sofa.
“Saat ini saya sangat lelah dan ingin beristirahat” ucap Willy yang berdiri dan mencoba meninggalkan Gunardi.
“Kamu akan menyesal jika tidak melihat isinya” ucap Gunardi.
“Saya tidak tertarik” ucap Willy.
“Yakin tidak tertarik” ucap Gunardi.
Willy pun tetap melanjutkan langkahnya tanpa membalas ucapan Gunardi. Sampai akhirnya Gunardi menyalakan televisi lagi dan mengganti siarannya dengan siaran berita. Karena di Villa ini menggunakan internet televisi Gunardi pun menyetel kembali siaran berita tentang kecelakaan di dalam mall yang ada di Jakarta Selatan siang tadi.
“Itu Bianca bukan” ucap Gunardi yang sengaja menekan tombol pause pada remote di tangannya.
Mendengar nama Bianca diucapkan oleh Gunardi, Willy berhenti dan menoleh ke arah televisi. Di layar televisi itu terlihat wajah seorang wanita yang terkena darah dan sedang duduk di dalam mobil ambulance. Willy mencoba berpikir itu bukanlah istrinya dan tidak mungkin itu Bianca.
“Aku yakin itu bukan Bianca, pasti hanya mirip” batin Willy.
“Itu Bianca bukan” ucap Gunardi lagi.
“Paling itu hanya wanita yang mirip dengannya” ucap Willy.
“Kamu yakin sekali” ucap Gunardi.
“Aku mengenal istriku dengan baik” ucap Willy.
“Kamu mengenal istrimu dengan baik ya. Bukankah istrimu sudah membohongimu” ucap Gunardi yang kembali memancing emosi Willy.
Willy mencoba tetap sabar. Willy menasehati dirinya agar tetap sabar dan jangan terpancing oleh ucapan Gunardi. Willy tahu pasti Gunardi sengaja menghasutnya dengan menjelek-jelakkan Bianca di depannya.
“Dia berbohong agar aku tidak marah” ucap Willy lagi.
“Wanita baik tidak akan pernah berbohong kepada suaminya. Apapun alasan tetap saja dia sudah berbohong dan itu menandakan dia bisa akan terus melakukan kebohongan-kebohangan lain lagi” ucap Gunardi.
“Istriku tidak seperti itu. Dia sudah jujur” ucap Willy.
“Masih saja keras kepala. Kamu akan menyesal membela istrimu itu” ucap Gunardi.
“Penyesalanku adalah mengenal anda” ucap Willy dengan dingin karena sudah tidak tahan mendengar semua ucapan Gunardi yang memanas-manasinya.
“Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku” ucap Gunardi.
Willy berdecih.
“Karena diriku kamu jadi bisa melihat siapa sebenarnya istrimu itu. Wanita seperti apa dia” ucap Gunardi.
Willy yang tidak tahan dengan terus ucapan Gunardi itu, memilih untuk berbalik ke kamarnya. Dia malas untuk mendengar ocehan Gunardi yang akan membuat pikirannya menjadi tidak baik. Tetapi baru saja Willy berbalik Gunardi lagi-lagi menghentikannya.
“Kamu tahu kenapa Gio mau menarik semua tuntunnya kepadamu?” Tanya Gunardi.
“Bukan urusan saya” jawab Willy.
Gunardi mengambil amplop coklat yang tadi dia lemparkan ke atas meja. Gunardi membuka amplop coklat itu, lalu dia mengeluarkan isinya. Di tangan Gunardi kini bertumpuk foto-foto yang Willy tidak tahu karena Willy membelakanginya. Sampai akhirnya Gunardi membawa foto-foto itu menghampiri Willy, lalu melemperkannya ke hadapan Willy hingga foto-foto itu berserakan di lantai.
“Kamu bisa lihat itu foto-foto siapa?” Tanya Gunardi.
“Kamu pasti tahu siapa wanita dan pria di foto itu bukan? Masih mau menyangkalnya. Setidaknya berterima kasihlah kepadaku karena membuka matamu dan memperlihatkan siapa Bianca itu sebenarnya” ucap Gunardi dengan serius menatap Willy.
Kaki Willy terasa kaku. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal hingga kuku-kukunya memutih. Darahnya pun semakin naik melihat foto-foto di lantai dengan posisi terlihat jelas wanita itu adalah istrinya sedang bersama pria yang Willy tahu itu adalah Gio.
“Sudah lihat bukan kalau istrimu itu berselingkuh darimu” ucap Gunardi yang menambah panas suasana hati Willy.
“Dimana harga dirimu sebagai seorang pria? Bisa-bisanya istri yang kamu bela itu bermain dibelakangmu” ucap Gunardi lagi.
“Seharusnya kalau memang dia istri yang baik, dia mencari keberadaan suaminya yang tidak pulang-pulang. Bukannya jalan dengan pria lain yang bukan suaminya. Lihatlah dunia menghukum mereka berdua bukan. Ada kecelakaan di dalam gedung itu dan membuat hubungan mereka berdua terbongkar” ucap Gunardi terus yang memang sengaja membuat Willy semakin memuncak emosinya.