Bali
Hari ini Willy Luna akan bertunangan. Ya, setelah memutuskan untuk bisa kembali ke Jakarta dan menyelesaikan semua masalah rumah tangganya, Willy memilih untuk bertunangan dengan Luna. Itu dia lakukan agar Gunardi yakin kepadanya kalau Willy akan menikahi cucunya.
Willy sudah kembali ke penthousenya. Saat ini Willy masih di dalam kamarnya setelah tadi Bianca menghubunginya. Willy menyandarkan punggungnya di sofa, lalu menatap layar ponselnya dimana foto Bianca terpampang disana sedang menggendong Aditya.
“Apa yang aku lakukan ini benar?” Tanya Willy dengan bingung.
Willy pikirannya masih sangat kacau. Saat Bianca menghubunginya tadi ada rasa bahagia dihatinya, tapi bayangan foto Bianca bersama Gio kembali muncul dan membuat hatinya kembali panas dan membuat Willy bersikap dingin kepada Bianca.
“Kita akan lihat besok, aku akan memperikan pelajaran untuk kamu dan laki-laki kurang ajar itu Bii” ucap Willy.
Willy beranjak, dia menyiapkan kemeja dan jas yang akan dia pakai malam nanti. Willy pun melangkah keluar kamar dan melihat Doni sedang menyetel televisi. Willy menghampiri Doni dan duduk di sampingnya. Doni yang merasa Willy duduk di sampingnya langsung segera berdiri dan menunduk.
“Ada tugas untuk saya Pak?” Tanya Doni.
“Apa kamu sudah menyiapkan tiket untuk kita besok?” Tanya Willy.
“Sudah Pak” jawab Doni.
“Bagus, tolong siapkan makanan untukku” ucap Willy.
“Baik Pak” ucap Doni menganggukkan kepalanya.
Doni melangkah pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Willy. Willy sendiri yang saat ini tidak tahu ingin melakukan apa hanya bisa mengganti-ganti saluran televisinya. Tanpa sengaja saluran televisi itu menanyangkan film rumah tangga seorang istri yang sedang menangis dan meminta maaf kepada suaminya karena ketahuan berselingkuh.
Willy tentu saja emosi melihatnya. Willy segera mematikan televisinya. Willy beranjak dari sofa dan memilih untuk ke dapur melihat Doni. Menyesal sekali dia melihat film itu. Hatinya jadi bertambah panas karena membayangkan itu seperti rumah tangganya saat ini.
“Kasihan sekali Ibu Bianca. Kalau dia tahu Pak Willy saat ini mau tunangan dengan wanita lain pasti dia sangat sedih” ucap Doni pelan yang sedang memasak air.
Willy yang mendengar samar, segera berdiri di belakang Doni sambil bersedekap. Willy ingin tahu apalagi yang asistannya ini ucapkan dibelakang dirinya.
“Pak Willy harusnya sadar, Ibu Bianca itu wanita yang baik. Apa dia tidak belajar dari kesalahannya dulu? Kalau Ibu sudah pergi, baru menyesal” ucap Doni lagi.
Willy yang sudah kesal mendengar ocehan Doni pun segera berdeham dan membuat Doni tersentak kaget. Doni menoleh kebelakang melihat Willy berdiri di belakangnya.
“Pak” ucap Doni terkejut.
“Apa sekarang mulutmu bekerja hanya untuk bergosip hal-hal yang tidak penting?” Sindir Willy dengan nada ketus.
“Maaf Pak. Maafkan saya” ucap Doni sambil menunduk.
Willy pun memilih pergi kembali ke kamarnya. Jujur mendengar Doni membicarakan hal buruk tentang Willy sangat kesal. Tahu apa Doni tentang kehidupan rumah tangganya. Dia sendiri saja belum mempunyai kekasih.
Sore hari Willy mencoba menghubungi ponsel Bianca. Tetapi ponselnya tidak diangat. Willy pun mencobanya lagi dan lagi. Bianca masih tidak mengangkat telepon darinya. Sudah hampir tiga puluh menit Willy mencoba menghubungi ponsel Bianca tetapi tidak ada jawaban.
“Kemana wanita itu?” Tanya Willy kesal.
Willy pun berniat menghubungi nomor telepon rumahnya. Saat dia ingin menekan tombol hijau, Willy mengurungkan niatnya. Willy ingin tahu alasan apa yang Bianca berikan sampai dia tidak mengangkat teleponnya.
Tetapi Willy mengurungkan niatnya. Kali ini Willy mencoba menahan emosinya. Mungkin saja Bianca sedang memandikan Aditya. Willy menunggu lima menit. Setelah lima menit Willy kembali menghubungi ponsel Bianca.
Willy terkejut ketika menghubungi ponsel Bianca kali ini justru ponsel Bianca sedang sibuk dengan panggilan lain. Willy pun menjadi curiga kenapaa sudah hampir tiga puluh menit dia menelepon Bianca tidak di angkat. Tetapi sekarang ponselnya sedang sibuk dengan panggilan lain.
“Sedang telepon dengan siapa?” Tanya Wily ketika berhasil menghubungi Bianca.
Bianca tidak langsung menjawab.
“Will” ucap Bianca.
“Kamu berbicara dengan siapa ditelepon?” Tanya Willy tajam.
“Dengan Gio” ucap Bianca dengan nada terdengar ketakutan.
Willy mencengkram ponselnya dengan keras. Amarahnya pun kembali memuncak saat mengetahui istrinya sedang berteleponan dengan pria yang mengganggu rumah tangga mereka. Pikiran Willy pun kembali berkelana. Jadi benar istrinya dan pria itu mempunyai hubungan spesial.
“Will, aku dan Gio tidak” ucap Bianca dengan ketakutan, tetapi Willy langsung memotongnya.
“Kita selesaikan semuanya besok di rumah” ucap Willy dingin.
“Will, dengarkan aku. Gio menghubungiku karena” lagi-lagi ucapan Bianca terpotong karena Willy memotongnya kali ini dengan nada membentak.
“BESOK KITA SELESAIKAN SEMUA MASALAH INI DI RUMAH!” Bentak Willy.
“Will” lirih Bianca.
“Selama aku belum kembali kalau kamu mau berhubungan dengan pria lain silahkan. Tapi besok jika aku sudah pulang bilang kepada pria selingkuhanmu untuk tidak datang atau menghubungimu dulu” ucap Willy.
Di seberang sana Bianca sungguh terkejut dan benar-benar tertampar dengan ucapan Willy. Bianca pun meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka Willy setega itu menuduhnya berselingkuh. Padahal selama ini dia selalu menjaga dirinya.
“Will kamu kenapa tega menuduhku?” Lirih Bianca.
“Aku bukanlah pria yang suka menuduh tanpa bukti” ucap Willy.
“Aku tidak berselingkuh Will” ucap Bianca tidak terima dituduh berselingkuh.
“Kita akan selesaikan besok” ucap Willy.
“Tidak” ucap Bianca.
“Aku ingin kita selesaikan sekarang” ucap Bianca.
“Puas-puaskan saja dirimu bertemu dengan selingkuhanmu. Karena jika besok aku sudah kembali, aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari pintu selangkah pun” ucap Willy.
“Aku tidak pernah berselingkuh Will. Kenapa kamu tidak percaya juga” ucap Bianca.
“Pembohong tetaplah pembohong” ucap Willy.
“Kamu tidak percaya kepadaku” ucap Bianca.
“Kamu sudah menyalahgunakan kepercayaanku” ucap Willy.
“Will, aku Cuma berbohong satu kali saja. Itu juga agar kamu tidak marah. Dan aku memang berniat mau mengatakannya sebenarnya” ucap Bainca.
“Mengatakan sebenarnya ketika sudah ketahuan” sindir Willy.
Terdengar suara Bianca menangis. Willy pun yang tidak ingin dirinya bertambah emosi memilih untuk mematikan sambungan teleponnya.
“Aku sibuk. Akan aku hubungi jika aku tidak sibuk” ucap Willy.
Setelah menutup teleponnya Willy segera melemparkan ponselnya ke lantai yang beralaskan karpet tebal. Willy meraup wajah dengan kedua tangannya. Sakit tentu saja sakit hatinya saat ini. Willy masih berpikir jika Bianca memang benar berhubungan dengan Gio.
Malam hari di sebuah hotel bintang lima, di aula ballroom yang disulap menjadi begitu mewah dan tamu-tamu juga sudah berkumpul, terlihat Luna melangkah dengan menggunakan dress selutut berwarna peach yang terlihat sangat cantik.
Berbeda dengan tampilan Willy yang sedang duduk di kursi meja bundar. Wajahnya terlihat tegang, dasinya tidak rapi. Gunardi pun memperingatkan Willy untu tidak membuat masalah dalam acara ini karena melihat wajah Willy yang tegang dan tidak bersahabat itu.
“Jangan pernah membuat cucuku malu dan menangis saat ini” ucap Gunardi.
Willy pun hanya mengacuhkannya. Luna terlihat melangkah menghampiri meja Gunardi dan Willy. Luna pun duduk di samping kursi Willy dan menoleh ke arah Willy.
“Will dasimu agak tidak pas. Aku rapikan ya” ucap Luna sambil merapikan dasi Willy.
Willy hanya terdiam. Tatapannya kosong. Luna berbicara untuk merapikan sedikit rambut Willy saja Willy tidak mendengarnya.
Sampai tibalah di acara yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman pertunangan Willy dan Luna oleh Gunardi. Luna mengajak Willy ke atas panggung ballrom.
“Will ayo” ucap Luna.
Willy masih terdiam.
“Will, ada apa?” Tanya Luna memegang tangan Willy.
Willy yang melihat tangannya di pegang oleh tangan mungil pun tersadar. Dia melihat wajah Luna sedang menatapnya bingung.
“Ayo kita ke atas” ucap Luna.
Willy melihat kesekeliling, dia sadar saat ini sedang di tengah-tengah kerumunan tamu-tamu penting Gunardi. Willy menghela nafas, lalu dia pun melangkah ke atas bersama Luna. Luna mengalungkan tangannya di lengan Willy.
Suara tepuk tangan pun terdengar ketika Willy dan Luna saling memakaikan cincin di tangan mereka. Lalu Luna memeluk Willy dengan sangat bahagia karena sebentar lagi mereka akan menikah setelah pertunangan ini.
Di ujung sudut Doni terlihat tidak bahagia. Doni merasa sedih jika membayangkan jika sampai rumah tangga bosnya ini kembali hancur. Karena Willy akan kembali menjadi mayat hidup lagi seperti saat Bianca dikatakan meninggal dulu.