Hari ini seharusnya Bianca bertemu dengan Selena untuk membicarakan tentang design dari pernikahannya. Selena ingin tema yang sesuai dengan keinginannya, jadi Bianca harus bertemu langsung dengannya. Tetapi karena hari ini Willy akan pulang Bianca pun membatalkan pertemuannya dengan Selena.
Bianca meminta Icha dan Naena yang menghandle semuanya. Jika ada yang belum jelas Bianca akan tanyakan lewat telepone saja. Bianca tidak ingin menambah kemarahan Willy jika Willy pulang, dia tidak ada di rumah.
Willy tidak bilang dia akan pulang pagi, siang, sore ataupun malam. Bianca tetap menyiapkan masakan untuk Willy. Pagi ini dia di temani Bi Inah sedang di dapur untuk memasak. Sebenarnya hati Bianca masih belum tenang, karena Willy masih marah dan menuduhnya terus berselingkuh.
Sambil mencuci sayuran Bianca terus berpikir dia akan menyelesaikan semua masalahnya dengan Willy hari ini. Bianca tidak ingin Willy menuduhnya berselingkuh dengan Gio. Karena memang Bianca tidak berselingkuh.
“Bu, biar saya saja” ucap Bi Inah menyadarkan Bianca yang sejak tadi masih mencuci satu buah wortel.
“Ah, tidak apa-apa Bi. Saya melamun” ucap Bianca.
“Bapak pulang hari ini ya Bu” ucap Bi Inah.
“Iya Bi” jawab Bianca menganggukkan kepalanya.
Satu jam berkutik di dapur Bianca sudah selesai memasak makanan untuk Willy. Bianca kini menyajinya di meja makan. Ya, walau ini sudah lewat dari waktu makan pagi, tidak apa-apa Bianca akan menunggu Willy pulang untuk sarapan bersama.
“Ibu tidak ingin saya buatkan kue atau roti buat Ibu makan dulu?” Tanya Bi Inah yang sudah selesai mencuci peralatan kotornya.
“Tidak Bi terima kasih. Nanti saya sarapan bersama suami saya saja” tolak Bianca dengan halus.
“Tapi Ibu belum makan apa-apa dari pagi. Ini sudah jam sembilan” ucap Bi Inah.
“Tidak apa-apa Bi. Saya juga belum lapar. Bibi makan duluan saja ya bersama Mina dan Pak Eko. Saya mau menjaga Aditya biar Mina bisa sarapan dulu” ucap Bianca.
“Baik Bu” ucap Bi Inah.
Bianca melangkah untuk mencuci tangannya, setelah itu dia melangkah ke kamar Aditya. Di kamar Aditya, terlihat Aditya baru saja tertidur setelah minum s**u di dalam botol. Mina juga mengambil botol kosongnya untuk dicuci kembali.
“Mina kamu sarapan dulu saja, biar Aditya saya yang jaga” ucap Bianca.
“Iya Bu” ucap Mina.
Mina pun melangkah keluar dengan membawa botol kosong Aditya. Bianca melihat Aditya yang sedang terlelap. Bianca tersenyum lalu memegang pipi Aditya.
“Papa akan pulang hari ini sayang” ucap Bianca pelan.
“Doakan Mama ya semoga Papa mau mendengarkan semua penjelasan dari Mama. Agar Papa tidak marah lagi sama Mama” ucap Bianca.
Ponsel berdering dengan cepat Bianca mengangkatnya. Karena deringnya terdengar keras dan Bianca tidak ingin suara dering ponselnya mengganggu waktu tidur Aditya.
“Halo” ucap Bianca.
“Bii, kamu hari ini benar tidak bisa ikut bertemu dengan Selena?” Terdengar suara Icha.
“Iya Cha. Hari ini Willy mau pulang. Jadi aku tidak ingin Willy marah kalau aku tidak ada di rumah” ucap Bianca.
“Iya. Aku doakan semoga masalahmu dan Willy cepat selesai ya” ucap Icha.
“Iya, terima kasih ya Cha” ucap Bianca.
“Okey, kalau begitu aku siap-siap mau jalan sama Naena” ucap Icha.
“Iya Cha. Nanti kabari aku ya hasilnya” ucap Bianca.
“Okey bos” ucap Icha.
Jam dua belas siang. Willy belum juga terlihat tanda-tanda kedatangannya. Makanan yang pagi tadi Bianca hidangkan kini juga sudah kembali dihangatkan oleh Bi Inah karena sudah dingin.
“Bu ini ada sosis goreng, Ibu makan dulu ya, dari pagi Ibu belum makan” ucap Bi Inah memberikan sepiring sosis goreng.
“Makasih ya Bi. Oh ya, Bibi sudah hangatkan semua makanannya?” Tanya Bianca.
“Sudah Bu” jawab Bi Inah menganggukkan kepalanya.
Sore tiba, Willy pun belum pulang juga. Makanan yang sudah Bi Inah hangatkan kini kembali dingin. Sepiring sosis yang Bi Inah berikan untuk Bianca juga sudah habis di makan Bianca sambil menonton televisi.
Bianca terlihat tertidur di kamar Aditya bersama Aditya. Bianca menahan rasa laparnya, karena Bianca tahu Willy akan pulang dan ingin makan bersamanya. Bi Inah yang sudah selesai memanaskan kembali masakan yang tadi pagi, melangkah ke kamar Aditya.
Bi Inah membuka pintunya dan melihat Bianca tertidur sangat lelap. Bi Inah tidak tega membangunkan Bianca. Bi Inah pun menutup kembali pintu kamar Aditya.
“Bi kenapa tidak jadi?” Tanya Mina yang menghampiri Bi Inah.
“Bibi tidak tega bangunin Ibu. Ibu lelap sekali tidurnya” ucap Bi Inah.
“Kasihan Ibu ya Bi” ucap Mina yang sebenarnya juga kasihan melihat majikannya itu. Ya, walaupun belum ada satu bulan Mina disini tetapi saat tahu kejadian Bianca dikurung di kamar mandi oleh Willy dan Willy pergi, Mina sangat kasihan dengan majikannya yang baik itu.
“Kasihan Ibu ya Bi” ucap Mina.
“Iya. Ya sudah kita doakan saja yang terbaik buat Ibu dan Bapak” ucap Bi Inah mengajak Mina pergi dari depan pintu kamar Aditya.
“Dulu Bapak juga sering bertengkar apa Bi sama Ibu?” Tanya Mina.
“Tidak. Ya, walaupun mereka bertengkar tapi Cuma pertengkaran kecil saja. Bapak itu sayang sekali sama Ibu. Dulu itu mereka lebih sering terlihat mesranya dari pada bertengkarnya” ucap Bi Inah.
“Tetapi sekarang kenapa Bapak marah sampai tega bangat sama Ibu?” Tanya Mina yang bingung.
“Bibi juga kurang tahu. Semenjak Bapak ke Bali dan pulang ya jadi begini” jawab Bi Inah.
“Bi mungkin tidak sih Bapak punya wanita lain di Bali?” Tanya Mina.
“Hush. Jangan sembarangan ngomong Mina. Nanti kalau Ibu dengar kamu dimarahi” ucap Bi Inah memperingatkan Mina.
“Ya Bi Maaf” ucap Mina.
“Ya, kalau dari cerita Bibi. Itu sama bangat kaya difilm-film. Suami yang dulunya romantis tiba-tiba sering marah-marah, pasti karena ada wanita lain dibelakangnya” ucap Mina.
“Bapak tidak seperti itu. Bapak sayang sama cinta sama Ibu. Mungkin ini hanya bumbu dalam rumah tangga Bapak dan Ibu” ucap Bi Inah.
“Iya sih. Semoga saja ya Bi. Kasihan aku sama Ibu” ucap Mina.
“Iya” ucap Bi Inah.
Jam sembilan malam. Aditya sudah Bianca tidurkan di kamarnya. Kini Bianca menunggu Willy di ruang makan. Sejak pagi Bianca menahan laparnya agar bisa makan bersama dengan suaminya. Tetapi suaminya belum juga pulang. Masakan yang pagi tadi Bianca masak kini sudah berganti menu hanya dengan nasi goreng saja.
Bianca menghela nafasnya. Perutnya berbunyi, karena sejak pagi dia hanya makan sepiring sosis goreng dan minum air putih saja. Bianca lapar, lapar sekali karena dia sedang menyususi. Kenapa Willy tida mengabarinya dia jadi pulang atau tudak.