Jam 12 malam Willy pun tiba di rumah. Pak Eko segera membukakan pintu gerbang utama untuk Willy. Willy pulang di antar oleh Doni sampai masuk ke gerbang utama. Doni menghentikan mesin mobilnya. Willy terlihat terlelap di bangku penumpang samping kemudi. Doni mencoba membangunkan Willy dengan hati-hati.
“Pak, Pak kita sudah sampai” ucap Doni menepuk bahu Willy pelan.
Willy membuka matanya dan menguceknya sebentar. Willy menatap ke depan dan samping. Willy melihat halaman rumahnya. Willy pun segera turun dari mobil.
“Terima kasih Doni” ucap Willy.
“Sama-sama Pak. Saya pamit pulang” ucap Doni.
Willy menganggukkan kepalanya. Stelah mobil Doni jalan, Willy pun melangkah masuk. Sebelum masuk ke dalam rumah, karena pintunya terkunci Willy pun mengetuk dan menekan bel pintu rumahnya. Sekali dia ketuk tidak ada yang mendengarnya. Willy pun mencobanya sampai tiga kali dan akhirnya pintu itu terbuka.
“Malam Pak. Maaf Pak saya tidak dengar” ucap Bi Inah yang terlihat baru bangun tidur.
“Tidak apa-apa” ucap Willy melangkah masuk.
Bi Inah menutup dan mengunci kembali pintu rumah. Bi Inah pun mencoba menawarkan kopi atau teh untuk Willy.
“Bapak mau saya buatkan kopi atau teh hangat?” Tanya Bi Inah.
“Tidak perlu, saya ingin langsung istirahat. Bi Inah kembali tidur saja” ucap Willy.
“Baik Pak” ucap Bi Inah.
Kitika melewati ruang makan Bi Inah sedikit terkejut karena melihat Bianca terlelap di bangku meja makan dengan kepala bertumpu di atas meja. Bi Inah mencoba membangunkan Bianca dan memberi tahu jika Willy sudah pulang. Sekalian Bi Inah ingin merapikan makanan yang ada di atas meja makan.
“Loh Ibu tertidur di meja makan” ucap Bi Inah pelan dan terkejut.
Willy pun ikut menoleh dan benar saja Willy melihat Bianca terlelap.
“Saya bangunkan Ibu ya Pak” ucap Bi Inah.
“Tidak usah Bi. Bibi tidur saja lagi” ucap Willy.
“Baik Pak” ucap Bi Inah yang mengurungkan niatnya untuk membangunkan Bianca.
Willy melangkah menghampiri Bianca yang terlelap. Willy menghela nafasnya yang lelah. Willy menggeser bangku ke dekat Bianca lalu duduk disana. Willy menatap wajah istrinya itu. Willy akui dia sangat merindukan istrinya.
Tangan Willy terangkat lalu dia menyentuh pipi Bianca. Pipi Bianca masih halus seperti terakhir kali dia menyentuhnya. Willy mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca lalu mengecup pipi dan kening Bianca.
“Aku pulang Bii” ucap Willy pelan.
Willy memperhatikan meja makan. Semua makanan masih tersaji dengan lengkap dan tidak ada tand-tanda bekas tersentuh. Lalu Willy kembali menatap Bianca, sejenak Willy melupakan semua masalah yang terjadi dalam rumah tangganya.
Willy menggendong Bianca ala bridal style dan membawanya ke kamar. Willy merasa tidak tega melihat Bianca tidur dengan posisi duduk. Willy juga tidak tahu dari jam berapa Bianca tertidur di ruang makan. Sepanjang Willy melangkah matanya tidak lepas dari menatap wajah Bianca.
Melihat wajah Bianca lagi Willy seakan tidak percaya dengan semua yang dia lihat di foto-foto itu. Willy berharap semua foto itu hanyalan mimpi buruknya. Dan Willy ingin sekarang dia sudah terbangun dari mimpi buruknya.
Willy membaringkan Bianca dia atas ranjang. Willy duduk di samping Bianca. Tangan Willy pun mengemgam tangan Bianca, lalu Willy mengecup punggung tangannya. Willy melihat tangan kanan Bianca. Di jari manisnya masih melingkar cincin pernikahan mereka.
Willy pun menatap tangannya. Di jarinya justru tidak ada cincin pernikahan mereka, yang ada hanya cincin pertunangannya dengan Luna. Willy memejamkan matanya. Dan kini Willy sadar semua ini adalah kenyataan.
“Kamu masi mau menemui istrimu yang berselingkuh itu. Dimana harga dirimu sebagai laki-laki?” Willy pun terbayang ucapan Gunardi ketika tahu Willy mengatakan akan ke Jakarta.
Willy kembali terbayang foto-foto Bianca bersama Gio. Seketika aliran darah Willy kembali naik. Willy membuka matanya, lalu dia menatap Bianca.
“Kamu wanita jahat Bii” ucap Willy pelan.
Willy bangkit dari duduknya dan dia memilih untuk melangkah keluar dari kamar. Disaat emosinya memuncak seperti ini Willy memilih untuk tidak dekat dengan Bianca. Ini sudah tengah malam dan Willy tidak ingin ada keributan malam hari ini. Apalagi semua orang sudah terlelap, dirinya pun juga sudah sangat lelah.
Willy akhirnya memilih untuk ke ruang televisi. Willy menyalakan televisi lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. Lama-kelamaan Willy pun terlelap disana.
Satu jam sudah sejak Bainca ada di dalam kamarnya, tiba-tiba Bianca terbangun karena perutnya lapar dan sakit. Bianca menyentuh perutnya.
“Sakit sekali. Ini pasti karena seharian ini aku tidak makan nasi” ucap Bianca pelan.
Bianca pun bangun dan duduk di atas ranjang. Lalu Bianca tersadar kini dia ada di dalam kamarnya. Bianca ingat jika tadi dia ada di ruang makan bukannya di kamar. Lalu Bianca pun bingung siapa yang sudah memindahkannya.
“Siapa yang memindahkak aku ke kamar? Bukannya aku tadi di ruang makan” ucap Bianca.
“Tidak mungkin Bi Inah ataupun Mina. Pak Eko apalagi tidak mungkin dia” ucap Bianca pelan.
“Apa Willy yang memindahkanku?” Tanya Bianca lagi.
Bianca melihat tubuhnya masih menggunakan pakaiannya yang tadi. Bianca juga belum menghapus make upnya. Bianca melangkah ke kamar mandi untuk mencuci wajah, lalu mengganti bajunya.
Karena merasa sangat lapar Bianca pun memilih untuk ke dapur. Bianca melangkah perlahan karena perutnya masih terasa sakit. Saat Bianca melewati ruang televissi, Bianca melihat seorang pri yang terlelap di sofa.
Bianca menguucek mata dengan kedua tangannya. Bianca yakin dia tidak salah ingat. Bianca pun memilih untuk melangkah mendekatinya.
“Willy” ucap Bianca terkejut ketika melihat suaminya terlelap di sofa ruang televisi.
“Sejak kapan Willy pulang?” Tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Melihat suaminya pulang rasa lapar dan sakit perutnya pun menghilang dan segera memelu Willy.
“Aku merindukanmu Will” ucap Bianca.
Willy yang merasakan berat di atas tubuhnya pun membuka matanya. Willy melihat tubuh istrinya sedang berada di atas tubuhnya dan memeluknya. Aroma lavender yang keluar dari sabun wajah Bianca pun menyeruak di hidungnya.
Merasakan sebuah gerakan dari Willy, Bianca pun melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Willy yang matanya kini sudah terbuka.
“Kamu pulang aku senang sekali” ucap Bianca dengan senyum yang tulus dan terlihat kalau memang dia sangat senang juga merindukan Willy.
Willy pun bangun dan duduk di sofa. Melihat Bianca tersenyum tulus hati Willy merasa damai sekali. Lalu Willy menarik tubuh Bianca hingga duduk di atas pangkuannya. Bianca pun mengalungkan kedua tangannya di leher Willy.
“Aku merindukanmu” ucap Bianca pelan.
Willy masih menatap Bianca yang kini sudah mengganti pakaiannya. Karena Bianca menggunakan piyama tidur yang tipis dan bagian leher yang sangat turun, menyebabkan dua gunung kembarnya yang sedang membesar karena menyusui itu pun terlihat begitu jelas. Apalagi Bianca tidak menggunakan bra saat ini.
Tentu saja Willy tidak bisa di bohongi jiwa kelaki-lakiannya pun muncul. Melihat tubuh seksi istrinya dan Willy juga merindukannya itu segera menarik tengkuk Bianca lalu mencium bibir Bianca. Willy mencium bibir Bianca dan menyesapanya.
Bianca yang juga merindukan suaminya itu pun membalas ciuman suaminya, membuat gairah Willy bertambah dan memperdalam ciuman mereka. Bianca sampai mencengkram rambut Willy. Junior Willy di bawah juga sudah mengeras dan merindukan pemiliknya. Ketika oksigen diantara mereka hampir habis Willy pun melepaskan ciuman mereka.
“Aku menginginkanmu Bii” ucap Willy dengan nada serak dan b*******h.