Bianca dan Willy kini masuk ke dalam kamar mereka. Willy menggendong Bianca dengan terus menciumi istrinya itu. Bianca juga tidak menolak setiap sentuhan yang Willy berikan kepadanya. Karena Bianca mencintai Willy dan itu membuat dirinya sangat suka dengan semua sentuhan Willy.
Malam itu disaat Willy kembali, Bianca merasakan semua masalah dengan suaminya kini sudah menghilang. Suaminya tidak marah kepadanya lagi. Buktinya kini mereka bisa saling menyatu lagi di atas ranjang mereka berdua.
Sampai saat pencapaian tiba-tiba bayangan wajah Bianca bersama Gio muncul kembali di benak Willy. Willy pun ingin sekali menghilangkan bayangan itu. Tetapi tetap saja bayangan foto-foto itu terus muncul di pikirannya, hingga pikirannya pun berkelana jika Bianca dan Gio melakukan hal yang sama dengan yang mereka sedang lakukan saat ini.
Willy yang sudah tidak bisa menahan emosi pun segera melepaskan penyatuannya dengan Bianca. Willy bangkit dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Bianca tentu saja terkejut, mereka sudah mau sama-sama mencapai kepuasan tetapi tiba-tiba Willy melepasnya dan pergi tanpa berkata-kata.
“Will” panggil Bianca.
Tidak ada jawaban dari Willy. Bianca bangun dari ranjang, lalu dia melilit tubuh polosnya dengan selimut. Bianca melangkah ke kamar mandi. Bianca mencoba membuka pintu kamar mandi, tetapi Willy menguncinya dari dalam.
“Apa dia sakit perut?” Tanya Bianca bingung.
“Tapi tidak biasanya Willy mengunci pintu kamar mandi” ucap Bianca lagi.
Bianca pun memilih mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Willy.
“Willy. Will, Willy” panggil Bianca.
Tetapi tidak ada jawaban dari suaminya itu. Bianca pun mencobanya sekali lagi dan Willy masih tidak menjawab ataupun membuka pintu kamar mandinya.
“Will, kamu baik-baik saja?” Tanya Bianca.
Karena tidak ada jawaban dari Willy, Bianca memilih untuk menunggu di depan pintu kamar mandi. Bianca sangat penasaran apa yang terjadi kepada Willy. Bayangkan saja Willy tiba-tiba melepaskan penyatuan mereka secara tiba-tiba. Bianca sebenarnya juga sedikit kesal.
Sepuluh menit Bianca berdiri pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Bianca pun terkejut melihat Willy dengan rambut basah dan memakai bathrobenya. Bianca yakin Willy pasti habis mandi. Tetapi kenapa Willy sudah mandi duluan, padahal mereka belum menyelesaikan aktivitas mereka tadi.
“Will, kamu mandi?” Tanya Bianca dengan nada kecewa, karena Bianca yakin pasti mereka tidak akan melanjutkan aktivitas mereka lagi.
“Kamu melihatnya apa?” Bukannya menjawab Willy justru berbalik bertanya lalu melangkah melewati Bianca.
Bianca mengekori Willy dan terus bertanya kenapa Willy tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka. Bianca tahu Willy tidak pernah seperti ini. Willy selalu menuntaskan aktivitas mereka dan Willy selalu paling b*******h dan semangat.
“Will, ada apa?” Tanya Bianca untuk kesekian kalinya.
“Tidurlah. Aku juga akan tidur” ucap Willy sambil mengambil piyama tidurnya.
Bianca melihat Willy mengganti bathrobe dengan piyama tidur. Lalu Willy melangkah kembali untuk menjemur bathrobenya di kamar mandi. Bianca masih mengekorinya karena Bianca masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku menyuruhmu tidur bukan” ucap Willy.
Bianca menganggukkan kepalanya.
“Lalu kenapa kamu masih mengikutiku?” Tanya Willy.
“Kenapa kamu sudah mandi saja, padahal kita belum selesai?” Pertanyaan Bianca yang mewakili jawaban dari pertanyaan Willy.
“Aku lelah dan ingin tidur” jawab Willy.
“Will, tapi kamu tidak pernah seperti ini. Kamu selalu menuntaskan semua aktivitas kita berdua” ucap Bianca.
“Aku lelah, apa kamu tidak paham dengan ucapanku?” Tanya Willy tajam.
Bianca menggemgam tangan Willy, untung saja tangan yang Bianca gemgam bukanlah tangan Willy dengan jari yang masih memakai cincin pertunangannya dengan Luna.
“Will, katakan kepadaku apa yang terjadi?” Tanya Bianca dengan nada mulai melembut.
“Aku akan tidur di sofa” ucap Willy melangkah keluar kamar.
Bianca pun menahan tangan suaminya agar tidak keluar dari kamar mereka.
“Will, kenapa tidur disofa. Kita biasa tidur di ranjang kita?” Tanya Bianca.
“Aku sedang tidak ingin tidur bersamamu” jawab Willy.
“Apa?” Tanya Bianca dengan nada terkejut.
“Apa maksudmu sedang tidak ingin tidur denganku?” Tanya Bianca semakin bingung.
Ya, jelas saja Bianca bingung. Mereka baru saja melakukan hubungan suami istri, Willy tidak menuntaskan sampai selesai, dan kini bilang dia tidak ingin tidur dengan Bianca. Kenapa Bianca menjadi seperti seorang wanita diklub malam saat ini. Ketika sang pria sudah selesai, lalu dia meninggalkannya begitu saja.
Willy tidak menjawab. Willy memilih untuk melangkah meninggalkan Bianca yang terpaku dan bingung dengan sikap Willy ini. Sampai pintu kamar di tutup Willy Bianca masih berdiri dan memahami semua ucapan Willy itu.
Pagi ini Bianca sudah terbangun dari tidurnya. Semalam dia tidur tidak begitu nyenyak karena memikirkan sikap Willy semalam. Bianca juga melihat sebelahnya kosong dan dingin itu tandanya semalam Willy benar-benar tidak tidur di sampingnya.
Bianca pun memilih untuk membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Bianca mencoba tetap tenang. Bianca mencoba berpikir positif pagi ini. Siapa tahu semalam Willy memang lelah. Dia baru saja kembali tengah malam, pastilah dia lelah dan bicaranya jadi asal.
Bianca kini sudah rapi. Bianca pun melangkah keluar dari kamar. Bianca ingin melihat dimana Willy tidur. Saat Bianca melewati ruang televisi, disana terlihat Willy masih terlelap. Bianca pun kembali ke kamarnya untuk mengambil selimut.
Bianca kembali lagi ke ruang televisi dan menyelimuti Willy. Bianca sengaja tidak membangunkan Willy. Bianca takut Willy masih lelah. Setelah menyelimuti Willy, Bianca melangkah ke dapur. Bianca melihat Bi Inah sedang memasak air panas.
“Pagi Bu” ucap Bi Inah.
“Pagi Bi Inah” ucap Bianca.
“Oh iya, Mina sudah bangun?” Tanya Bianca.
“Sudah Bu. Mina sedang merendam pakaian Aditya” jawab Bi Inah.
“Bi semalam Bapak pulang jam berapa?” Tanya Bianca.
“Kalau tidak salah jam dua belas malam” jawab Bi Inah.
“Bibi kenapa tidak bangunkan saya?” Tanya Bianca.
“Tadi saya mau membangunkan Ibu, tetapi Bapak bilang tidak perlu, saya di minta kembali beristirahat” jawab Bi Inah.
“Iya Bi tidak apa-apa” ucap Bianca.
Bianca melangkah menuju kulkas, lalu Bianca membuka kulkasnya. Bianca mengambil ayam ungkep, dan jagung. Bianca membawanya ke atas meja di dapur.
“Bi, tolong siapkan minyak goreng ya, saya mau goreng ayam untuk sarapan” ucap Bianca.
“Bu biar bibi saja” ucap Bi Inah.
“Tidak apa-apa Bi. Bibi tolong rebus jagung manis ini ya” ucap Bianca.
“Baik Bu” ucap Bi Inah.
Bi Inah memanaskan minyak goreng di atas wajan. Ketika minyak panas Bianca pun memasukkan empat potong ayam ke dalam wajan berisi minyak panas. Sambil menunggu ayamnya di goreng Bianca memotong-potong tahu.
Ayam goreng ianca sudah matang Bianca pun mengangkatnya dan meletakkanya di atas piring yang sudah di beri hiasan daun selada. Sayur sop yang Bi Inah buat juga sudah matang. Lalu Bianca pun membuat secangkir kopi untuk Willy.
Setelah semuanya siap Bianca di bantu Bi Inah menyajikan makanan yang mereka masak ke atas meja makan. Bianca juga meletakkan cangkir kopi di meja. Setelah semuanya siap, Bianca pun melangkah ke ruang televisi untuk membangunkan Willy.
“Willy sudah bangun” ucap Bianca ketika melihat Willy sudah tidak ada lagi disofa.