Bianca melangkah ke kamar untuk mengajak Willy sarapan. Bianca membuka pintu kamarnya dan terlihat Willy sedang memakai kemejanya. Bianca pun menghampirinya dan menanyakan apa Willy akan ke kantor hari ini.
“Kamu akan ke kantor Will?” Tanya Bianca
“Ya” jawab Willy singkat.
“Kamu baru pulang tengah malam tadi, memangnya tidak lelah?” Tanya Bianca.
“Tidak” jawab Willy masih sama dengan nada singkatnya.
“Aku bantu merapikan dasimu ya” ucap Bianca yang hendak merapikan dasi Willy.
Tiba-tiba Willy pun menghempaskan tangan Bianca sebelum menyentuh dasinya, hingga Bianca terkejut.
“Aku bisa sendiri” ucap Willy.
“Will, apa kamu masih marah kepadaku?” cicit Bianca.
“Menurutmu” ucap Willy tanpa menatap Bianca.
“Will, bukankah semalam kita sudah” ucap Bianca pelan yang mengingatkannya tentang aktivitas malam mereka.
“Aku hanya terbawa suasana” ucap Willy.
“Apa maksudmu terbawa suasana? Kita suami istri Will. Melakukan hubungan suami istri bukanlah hal yang dilarang” ucap Bianca.
“Benar, tapi aku merasa jijik melakukan dengan wanita yang bermain bersama pria lain dibelakang suaminya” ucap Willy tajam.
Bianca terasa tertusuk hatinya. Willy setega itu mengucapkan kata-kata menyakitkan baginya. Jadi Willy memang masih marah kepadanya, dan semalam dia sengaja tidak menuntaskan aktivitas mereka berdua. Bianca tidak habis pikir Willy setega itu kepadanya. Bianca merasa seperti seorang wanita penghibur saja.
Saat Willy hendak melangkah keluar kamar Bianca pun menahan tangan Willy. Lalu dengan cepat Willy menghempaskan tangan Bianca.
“Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu yang sudah menyentuh tubuh pria lain” ucap Willy.
“Kenapa kamu menuduhku dengan apa yang tidak pernah aku lakukan Wil?” Tanya Bianca dengan air mata yang menetes.
“Maling tidak ada yang pernah akan mengaku” ucap Willy.
“Will, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Gio. Kenapa kamu tidak percaya sekali kepadaku?” Tanya Bianca sedih.
“Kamu yang sudah membuat kepercayaanku kepadamu hilang Bianca” ucap Willy.
“Will aku memang tidak melakukan apa-apa dengan Gio” ucap Bianca.
Willy pun menampar pipi Bianca karena dirinya sudah terbawa emosi. Bianca sangat terkejut lalu tangannya memegang pipi kirinya yang terasa panas karena tamparan Willy. Air mata Bianca semakin deras menatap suaminya yang terlihat marah dan emosi itu.
“Jangan pernah sebut nama pria selingkuhanmu di depanku lagi” desis Willy tajam.
“Aku tidak selingkuh Will” ucap Bianca menggelengkan kepalanya.
“Sudah cukup sandiwaramu” ucap Willy.
Bianca masih menata Willy. Bianca tidak menyangka Willy kini kembali menjadi pria yang kasar seperti dulu. Hati Bianca sangat sakit mengetahui Willy kini kembali kasar kepadanya apalagi kini Willy jelas-jelas menuduhnya berselingkuh padahal Bianca tidak pernah berselingkuh sama sekali. Mempunyai niat selingkuh saja tidak.
Sakit yang tidak berdarah itulah yang saat ini Bianca rasakan. Tuduhan suaminya, dan kepercayaan suaminya yang hilang. Bianca pun hanya bisa terisak dan melihat Willy pergi keluar dari kamar.
Sepuluh menit Bianca menangis di kamarnya. Willy pun juga tidak masuk lagi ke kamar. Bianca mengira mungkin saja Willy sedang sarapan.
“Bii, kamu harus kuat. Kamu mempunyai Aditya saat ini” ucap Bianca menyemangati dirinya sendiri.
“Benar aku harus kuat” ucap Bianca sedih.
Bianca melangkah ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Bianca harus kuat dan harus bisa membuat Willy percaya kepadanya kalau dia dan Gio tidak berselingkuh.
Setelah melihat wajahnya tidak begitu sembab Bianca pun keluar dari kamarnya dan berniat untuk menemani Willy sarapan. Saat Bianca sampai di ruang makan ternyata ruang makan kosong. Bianca pun melihat piring yang dia sediakan untuk Willy masih bersih. Masakan yang tersaji juga belum tersentuh sama sekali.
Bianca pun bingung kemana Willy? Bianca melangkah ke kamar Aditya, Bianca mengira mungkin saja Willy sedang di kamar Aditya. Bianca membuka pintu kamar Aditya dan benar saja Willy sedang menggendong Aditya.
Sesaat hati Bianca merasa tenang melihat Willy tidak marah kepada Aditya anak mereka. Bianca ingin menghampiri Willy tetapi dia mengurungkan niatnya. Bianca takut Willy kembali emosi, dan Bianca tidak ingin Willy marah di depan Aditya.
Akhirnya Bianca memilih menutup kembali pintu kamar Aditya. Bianca melangkah ke ruang makan dan menunggu Willy di ruang makan saja. Bianca melihat Mami melangkah dari dapur sambil membawa dua piring berisi nasi goreng. Bianca pun menghampiri Mami.
“Pagi Mi. Mami kapan datang?” Tanya Bianca dengan ramah.
“Tadi” jawab Mami singkat.
“Mi ayo kita sarapan bersama” ajak Bianca dengan ramah.
“Kamu makan saja sendiri, Mami akan makan bersama Willy di ruang televisi” ucap Mami.
“Kenapa Mi? Kita bisa makan sama-sama disini” Tanya Bianca dengan nada yang masih berusaha untuk tetap ramah.
“Tanya saja suamimu” jawab Mami.
Bianca berusaha tetap tenang. Bianca pun juga tahu nasi goreng yang Mami bawa pasti itu nasi goreng buatan Mami.
“Mi, kita makan disini saja ya. Kita makan sama-sama. Mami buat Nasi goreng, padahal Bianca sudah masak buat sarapan” ucap Bianca.
“Willy menghubungi Mami. Dia bilang rindu nasi goreng buatan Mami” ucap Mami.
Bianca tersenyum tetapi di dalam hatinya sungguh sedih. Jadi Willy lebih memilih makan masakan Mami dibandingkan masakannya. Dan kenapa juga Willy sampai merepotkan Mami pagi-pagi, padahal di rumah ada istrinya yang biasa menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Sini Mi Biar Bianca taruh di meja ya” ucap Bianca yang mencoba tetap tersenyum.
“Tidak perlu, Willy ingin makan di ruang televisi” ucap Mami menghindari tangan Bianca.
Bianca pun terdiam. Lalu Mami melangkah melewati Bianca. Ingin rasanya Bianca kembali menangis mertuanya pun masih marah kepadanya.
“Harus kuat Bii” ucap Bianca di dalam hatinya.
Bianca mencoba tetap tersenyum. Lalu dia membawa ayam piring ayam goreng dan mengekori Mami ke ruang makan. Bianca akan mencoba berusaha tidak ada masalah diantara mereka.
Di ruang televisi Willy sedang duduk dan di sampingnya ada Aditya di dalam kereta dorongnya. Mami juga sudah duduk di samping Willy dan memberikan piring berisi nasi gorengnya. Bianca mempercepat langkahnya dan meletakkan piring berisi ayam goreng di atas meja.
“Will, Mi ini ayam gorengnya. Aku akan ikut makan disini ya” ucap Bianca mencoba tetap tersenyum.
“Jangan menggangu selera makanku. Makan saja kamu di ruang makan” ucap Willy dengan nada dingin.
“Tapi aku mau makan bersama kalian disini” ucap Bianca.
Willy membanting sendoknya hingga Bianca bergedik.
“Kamu mengerti tidak kata-kataku. Kamu memang tidak pernah menuruti” bentak Willy.
Bianca menatap Willy. Willy membentaknya di depan Mami. Bianca pun melirik Mami, tidak ada tanda-tanda Mami membelanya. Dulu kalau Willy marah kepadanya Mami pasti membelanya, tapi kini Mami juga ikutan marah kepadanya.
“Iya aku mengerti. Aku akan makan di ruang makan. Selamat makan” ucap Bianca dengan hati bergetar.
Bianca berbalik dan melangkah dengan hati yang sangat sedih melihat suaminya berlaku kasar kepadanya. Tetapi Bianca bisa apa saat ini. Semua yang dia lakukan Willy akan selalu marah dan membentaknya.
Bianca duduk di ruang makan sendiri. Bianca membalikan piring lalu tangannya menyendok nasi, melihat makanan di atas meja Bianca merasa tidak berselera sekali. Padahal perutnya sangat lapar karena seharian kemarin tidak makan.
Bi Inah datang dan meletakkan kembali ayam goreng yang tadi Bianca taruh di atas meja makan. Bianca melihat piring ayam goreng itu masih berisi empat potong dan tidak berkurang itu tandanya Willy ataupun Mami tidak ada yang menyentuh ayam goreng buatannya.
“Maaf Bu, Bapak menyuruh Bibi untuk membawa ayam goreng ini kesini” ucap Bi Inah dengan hati-hati.
“Iya Bi, tidak apa-apa. Terima kasih ya” ucap Bianca dengan bergetar.
“Ada yang bisa Bibi bantu lagi Bu?” Tanya Bi Inah merasa kasihan kepada Bianca.
“Tidak Bi. Terima kasih ya. Bibi bisa lanjutkan sarapan saja dengan Mina dan Pak Eko” ucap Bianca.
“Iya Bu” ucap Bi Inah.
Bi Inah pun melangkah ke dapur. Bi Inah merasa kasihan sekali melihat Bianca pagi ini. Bi Inah juga mengira majikannya sudah baikan, ternyata saat Bi Inah membukakan pintu untuk Mami dan Mami langsung membuatkan nasi goreng untuk Willy, disitulah Bi Inah tahu bahwa kedua majikannya masih dalam masalah.
Di tambah Willy memanggil Bi Inah untuk membawa kembali ayam goreng buatan Bianca. Bi Inah juga melihat wajah Bianca saat ini sedikit sembab dan pipi kirinya sedikit merah. Padahal tadi pagi saat mereka masak Bi Inah melihat wajah majikannya sangat segar dan senang karena semangat membuat masakan untuk suaminya.
“Kasihan Ibu. Semoga masalah cepat selesai” ucap Bi Inah yang mengintip Bianca dari dapur.
Bianca menyuap makanannya, bibirnya terasa hambar dan tidak berasa. Seharusnya pagi ini mereka bisa sarapan bersama, tetapi kenapa mereka harus sarapan terpisah padahal ada di dalam satu atap. Hati Bianca sangat sedih sekali. Makanan yang dia makan tidak bisa dikunyah dengan benar.
Air mata yang ingin turun Bianca tahan. Bianca tidak ingin menangis saat ini. Tetapi satu tetes air mata akhirnya jatuh juga mengenai pipinya. Bianca pun segera menghapus air matanya. Dari dapur Bi Inah yang masih melihat Bianca merasa sangat sedih.
Bi Inah tidak tahu apa yang terjadi kepada kedua majikannya ini. Bi Inah hanya berdoa dan berharap masalah yang terjadi kepada kedua majikannya ini segera selesai. Dan mereka berdua bisa kembali akur lagi seperti dulu. Bi Inah tahu Bianca adalah wanita yang baik.
Bianca menyelesaikan makannya, tetapi dia tidak bisa menghabiskan semuanya. Bianca terasa sudah kenyang. Bianca pun merapikan piring kotor bekas makannya. Bi Inah yang sejak tadi masih mengintip segera membantu Bianca untuk merapikan piring kotor.
“Bu biar bibi saja” ucap Bi Inah.
“Terima kasih Bi. Tolong ya di rapikan” ucap Bianca.
Sebenarnya Bianca ingin membantu untuk merapikan, tetapi Bianca harus segera keluar karena Willy akan segera berangkat ke kantor. Bianca pun melangkah menuju ruang televisi, benar sekali disana sudah tidak ada Willy. Bianca pun melangkah cepat ke ruang tamu semoga saja Willy belum pergi.