Malam ini rencananya Willy ingin memberikan kesempatan kepada Bianca untuk dia berbicara. Ya, setelah Willy berpikir berulang kali di taman tadi. Mungkin dia terlalu keras dan terbawa emosi sehingga tidak mau mendengarkan penjelasan Bianca.
Willy juga berpikir dia takut jika seandainya Bianca benar-benar meninggalkannya lagi kali ini. Willy tidak inginkan itu. Willy masih mencintai Bianca. Dia hanya marah karena tahu Bianca berselingkuh darinya.
Bianca makan malam seperti biasanya. Tetapi kali ini dia sama sekali tidak melirik ke arah suaminya sedikit pun. Bianca kecewa kepada Willy karena sudah tega menuduhnya berselingkuh dengan Gio. Willy benar-benar sudah tidak mempercayainya lagi.
Setelah selesai makan Bianca pun segera merapikan piring kotor mereka dan membawanya ke dapur. Willy masih duduk di kursinya. Padahal Willy sengaja tetap duduk disana dan menunggu Bianca berbicara. Tetapi Bianca tidak juga mengatakan satu kata pun kepadanya.
“Bu biar Bibi yang cuci piring kotornya” ucap Bi Inah mengambil piring kotor di tangan Bianca.
“Oh iya Bi. Terima kasih ya. Saya mau ke kamar Aditya dulu” ucap Bianca.
“Iya Bu” ucap Bi Inah.
Bianca pun melangkah menuju kamar Aditya. Di ruang makan Bianca melewati Willy. Bianca tahu Willy masih duduk disana. Bianca tetap melanjutkan langkahnya dan tidak ingin berbicara dulu kepada Willy untuk saat ini.
Willy membuang nafasnya melihat Bianca melangkah melewatinya. Biasanya Bianca selalu mengajaknya berbicara. Willy akhirnya berdiri dan mengikuti arah Bianca melangkah. Pada saat dia melihat Bianca ke kamar Aditya, Willy pun mengikutinya dan ikut masuk ke dalam kamar Aditya.
“Bu saya mau cuci botol-botol Aditya” ucap Mina ketika melihat Willy masuk.
“Iya” ucap Bianca menganggukkan kepalanya.
Mina pun melangkah cepat keluar dari kamar meninggalkan Bianca yang sedang duduk di ranjang sambil melihat Aditya yang masih terbangun. Mina sengaja cepat-cepat pergi, Mina takut terjadi pertengkaran lagi antara Bianca dan Willy. Jadi dari pada dia di minta pergi keluar membawa Aditya, lebih baik dia keluar terlebih dahulu. Karena menurut Mina tidak mungkin Willy akan memulai pertengkaran di depan Aditya yang masih bayi.
Bianca tidak sadar jika ada Willy di kamar Aditya. Bianca masih tersenyum dan mengajak berbicara Aditya. Willy berdiri di belakangnya. Hati Willy merasa tenang sekali melihat Bianca dan Aditya seperti ini. Willy pun semakin ragu atas tuduhannya kepada Bianca.
“Bii” ucap Willy memegang bahu Bianca.
Bianca pun terkejut mendengar suara Willy di belakangnya. Bianca segera menoleh dan benar sekali ada Willy berdiri di belakangnya.
“Ada apa?” Tanya Bianca.
“Hem, aku ingin menggendong Aditya” jawab Willy cepat.
“Gendong saja. Aku tidak pernah melarangmu menggendong anak kita” ucap Bianca.
Bianca menggeser tubuhnya. Willy pun segera menggendong Aditya. Bodohnya Willy, sebenarnya dia ingin mengatakan kalau dia ingin berbicara berdua dengan Bianca. Tetapi karena egonya Willy justru mengatakan hal lain.
Willy pun sekilas melirik Bianca. Berharap Bianca membuka suaranya. Nyatanya istrinya memilih untuk merapikan ranjang Aditya.
“Bii, itu tugas Mina merapikan ranjang Aditya. Kenapa kamu yang merapikannya?” Tanya Willy.
Lagi-lagi Willy mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan.
“Tidak apa-apa. Selagi aku bisa membantunya kenapa tidak. Mina juga sudah banyak membantuku menjaga Aditya” ucap Bianca.
Willy pun terdiam. Lagi-lagi dia bingung ingin mengatakan apa lagi kepada Bianca. Willy pun berpikir apa bagaimana caranya dia memulai pembicaraan agar Bianca mau menjelaskan semuanya. Belum dapat ide yang bagus, Willy melihat Bianca memegang keningnya.
“Ada apa Bii?” Tanya Willy menghampiri Bianca.
“Tidak apa-apa” jawab Bianca.
“Kepalamu sakit?” Tanya Willy.
Bianca menatap Willy. Bianca merasa aneh dengan Willy, ada apa dengan Willy bukankah dia sedang marah kepadanya, tetapi kenapa saat ini Willy terlihat mengkhawatirkannya. Entahlah Bianca harusnya merasa senang, Willy sudah tidak marah kepadanya. Tetapi saat ini Bianca merasakan kepalanya sakit.
Tiba-tiba Bianca merasa perutnya seperti terkocok-kocok dan membuat dirinya merasa mual seketika. Bianca menutup mulutnya dan segera berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar mandi Aditya. Willy pun mengikuti Bianca.
Di wastafel Bianca pun memuntahkan semua isi perutnya. Willy segera melangkah keluar dan memberikan Aditya kepada Mina. Lalu Willy mengambil minyak kayu putih dan kembali ke kamar Aditya.
Willy pun segera memakaikan tengkuk Bianca dengan minyak kayu putih dan memijitnya. Merasakan tangan Willy yang hangat Bianca merasa lega sekali. Bianca pun mencuci mulutnya.
“Kamu kenapa?” Tanya Willy.
“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba aku merasa mual” jawab Bianca membalikkan tubuhnya.
“Wajahmu sangat pucat Bii. Ayo istirahat dikamar” ucap Willy.
“Aku tidak apa-apa. Paling hanya masuk angin” ucap Bianca.
Belum sempat Willy berbicara Bianca sudah kembali muntah lagi. Willy pun kembali memijit tengkuk Bianca.
Willy pun teringat Bianca pernah seperti ini dulu. Dan setelah dia periksa ternyata Bianca hamil. Willy pun terkejut. Dia mengingat-ingat saat melakukan hubungan bersama Bianca tidak pernah mengeluarkan cairan spermanya di dalam tubuh Bianca.
Dan yang malam itu dia lakukan juga Willy tidak menuntaskannya. Lalu Willy pun bertanya-tanya kalau dia tidak memberikan benihnya kepada Bianca, lalu kenapa Bianca bisa hamil? Willy melebarkan matanya, dan kembali curiga kepada Bianca.
“Apa jangan-jangan benar Bianca sudah melakukannya bersama Gio?” Batin Willy bertanya-tanya.
Willy melihat Bianca semakin lemas dan wajahnya sangat pucat. Bianca saja sampai berpegangan wastafel untuk berdiri. Akhirnya Willy pun menggendong Bianca ala bridal style.
“Ayo istirahat” ucap Willy.
“Tapi aku belum menidurkan Aditya” ucap Bianca dengan suara yang lemas.
“Ada Mina. Nanti aku akan menyuruhnya memberikan asihmu di botol untuk Aditya” ucap Willy.
Bianca yang sudah tidak mempunyai tenaga lagi, hanya bisa menganggukkan kepalanya. Lalu Bianca menyandarkan kepalanya di tubuh Willy. Bianca rindu sekali seperti ini. Bisa berada di dalam pelukan Willy lagi.
Willy membaringkan Bianca di ranjang, lalu menyelimuti tubuh Bianca. Willy menuangkan air putih ke dalam gelas, dan memberikannya kepada Bianca.
“Minumlah” ucap Willy.
Bianca mencoba bangun dan Willy segera membantunya. Lalu Bianca meminum air putih itu sedikit. Willy menaruh kembali gelasnya di atas nakas dan membantu Bianca kembali berbaring.
“Makanya kalau sudah punya suami jangan nakal dengan pria lain” ucap Willy.
Bianca yang baru saja ingin memejamkan matanya kini menatap Willy. Ternyata suaminya itu masih saja menuduhnya berselingkuh. Tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar dengan Willy.
“Terserah kamu saja Will. Kamu suamiku jadi kamu pasti tahu semua tentangku” ucap Bianca yang lalu memilih untuk memejamkan matanya.
Willy menatap wajah Bianca yang terlihat pucat. Sebenarnya dia ingin sekali menanyakan apa benar Bianca dan Gio sudah melakukan hubungan suami istri, seperti yang sering Willy lakukan dengan Bianca. Tetapi Willy takut jika memang ternyata benar, Willy harus apa? Lalu jika benar Bianca mengandung anak Gio, apa Willy sanggup merelakan Bianca bersama Gio.
Willy menggelengkan kepalanya. Willy tidak akan membiarkan Gio mendapatkan Bianca. Lalu kalau begitu Willy akan membesarkan anak hasil perselingkuhan istrinya. Willy menggelengkan kepalanya lagi. Itu sama saja membunuhnya secara perlahan-lahan. Lalu Willy harus apa?
Kini Willy memijit keningnya kepalanya terasa pusing sekarang. Willy takut apa yang dia pikirkan benar adanya. Willy tidak mau merelakan Bianca bersama Gio dan Willy juga tidak ingin Bianca melahirkan anak dari hasil selingkuhannya itu. Willy juga tidak ingin meminta Bianca untuk mengugurkan kandungannya.
Willy menghela nafasnya kasar. Dia menatap Bianca lagi. Ya, Tuhan Willy merasa tidak sanggup jika benar Bianca saat ini hamil anak Gio. Lalu bagaimana dengan Aditya yang masih membutuhkan kasih sayang Bianca.
Willy berdiri, dia berjalan ke kiri dan ke kanan di dalam kamarnya. Willy berpikir terus bagaimana caranya agar Willy bisa tahu kalau Bianca itu hamil anak Gio atau bukan. Karena seingat Willy, dia melakukan hubungan suami istri dengan Bianca juga baru beberapa kali sejak dia kembali ke Jakarta dan itu pun dia mengeluarkan spermanya selalu di luar dan tidak pernah di dalam tubuh Bianca.
“Apa aku pernah kelepasan?” Tanya Willy dalam hatinya.
“Tidak mungkin” ucap Willy lagi menggelengkan kepalanya.
“Bianca selalu mengingatkanku untuk mengeluarkannya di luar” ucap Willy lagi.
Willy pun melangkah ke nakas. Willy membuka laci nakas. Di sana masih ada ponsel Bianca yang rusak karena ulahnya. Willy mengambil ponsel itu, lalu mengeluarkan nomor sim Bianca. Willy melangkah ke sofa dan duduk disana. Willy penasaran dan segera memasang nomor sim Bianca di ponselnya.
Willy mengecek semua pesan masuk, log panggilan dari nomor sim Bianca. Dan Willy tidak menemukan apa-apa disana. Tidak ada tanda-tanda percakapan Bianca dan Gio.
“Ada dia sudah menghapusnya?” Tanya Willy lagi.
Willy mengeluarkan kembali nomor sim Bianca dari ponselnya. Willy memang sengaja belum memberikan ponsel baru untuk Bianca. Karena willy ingin Bianca mengakui dulu kesalahannya.
Willy pun segera melangkah keluar dari kamar. Willy menemui Bi Inah. Untungnya Bi Inah belum tidur dan sedang mengelap dapur. Willy menghampiri Bi Inah.
“Pak ada yang bisa Bibi bantu?” Tanya Bi Inah ketika melihat Willy masuk ke dapur.
“Hem, Bi” ucap Willy terhenti dan bingung harus bagaimana dia bertanya kepada Bi Inah.
“Iya ada apa Pak?” Tanya Bi Inah.
Willy menatap Bi Inah. Apa mungkin dia menanyakan apa yang ingin dia tanyakan ini kepada Bi Inah. Willy berpikir lagi sepertinya tidak perlu. Willy akan melakukannya sendiri saja untuk memastikannya sendiri agar dia yakin.
“Pak” ucap Bi Inah lagi yang melihat Willy masih terdiam.
“Tidak jadi Bi. Teruskan saja mengelapnya” ucap Willy.
Willy pun melangkah kembali ke kamarnya. Saat dia masuk, dia melihat Bianca tidak ada di ranjang. Lalu Wlly melangkah cepat dan melihat pintu kamar mandi terbuka. Willy pun segera melangkah ke kamar mandi.
“Muntah lagi?” Tanya Willy saat Bianca keluar dari kamar mandi.
“Iya” ucap Bianca lemah menganggukkan kepalanya.
Willy langsung menggendong Bianca kembali dan membawanya ke ranjang mereka.
“Aku bisa jalan sendiri” ucap Bianca.
“Wajahmu sudah seperti mayat hidup. Sudahlah kamu menurut saja dengan suamimu ini, dan jangan nakal” ucap Willy ketus.
“Aku tidak nakal Will” ucap Bianca lemah.
“Cuma pembangkang” ucap Willy.
Entah kenapa Bianca jadi terkekeh saat ini melihat Willy.