Untung saja hari ini adalah hari minggu. Karena Bianca terbangun jam delapan pagi. Bianca melihat ranjang disebelahnya kosong itu tandanya Willy sudah bangun. Bianca pun juga bangun, tetapi karena kepanya masih pusing, Bianca memilih bersandar di ujung ranjangnya.
“Aku belum menyiapkan sarapan” ucap Bianca.
Bianca merasa kini tubuhnya terasa semakin tidak baik. Badannya terasa sakit semua, dan kepalanya juga pusing. Bianca mengambil gelas di atas nakas yang masih berisi air putih. Bianca meminumnya agar dirinya tidak kekurangan cairan. Setelah itu dia meletakkan kembali gelas itu di atas nakas.
Bianca duduk sebentar. Lima menit kemudian Bianca pun mencoba beranjak dari ranjangnya. Saat sudah berdiri, Bianca langsung memegang dinding kamarnya, karena kepalanya terasa berputar-putar.
“Aku sepertinya masuk angin yang parah sekali ini” ucap Bianca.
“Sepertinya Bi Inah punya obat masuk angin. Aku akan meminta saja” ucap Bianca lagi.
Bianca melangkah perlahan-lahan menuju kamar mandi. Di kamar mandi Bianca menyalakan kran air wastafel, saat tangannya menyentuh air Bianca merasakan sangat dingin.
“Dingin sekali” ucap Bianca menjauhkan tangannya dari air.
Bianca pun mengatur kran airnya agar air yang keluar menjadi air hangat. Tak lama air pun keluar Bianca segera mencuci wajahnya dengan air hangat itu dan menggosok giginya. Setelah selesai Bianca mengeringkan wajahnya dengan handuk kecilnya.
Berdiri terlalu lama Bianca merasakan kepalanya berputar-putar. Bianca pun segera melangkah kembali ke ranjangnya dan duduk di atas ranjang. Bianca kembali memijit keningnya, lalu Bianca mengambilkan segelas air di nakas dan meminumnya.
Merasa lebih baik Bianca pun berdiri dan melangkah keluar dari kamar. Bianca melangkah menuju dapur terlebih dahulu. Di sana terlihat Bi Inah sudah selesai memasak dan sedang menaruh makanan ke piring untuk disajikan di meja makan.
“Pagi Bu” ucap Bi Inah ketika melihat Bianca masuk ke dapur.
“Pagi Bi. Maaf ya Bi aku tidak bantu membuat sarapan” ucap Bianca.
“Tidak apa-apa Bu. Ini Bibi juga sudah selesai masaknya” ucap Bi Inah.
“Bi, punya obat masuk angin?” Tanya Bianca.
“Punya Bu. Ibu sakit” ucap Bi Inah.
“Iya Bi sepertinya saya masuk angin” ucap Bianca menganggukkan kepalanya.
“Sebentar Bibi ambilkan di kamar ya Bu. Ibu duduk di ruang makan saja. Wajah Ibu pucat sekali” ucap Bi Inah.
“Iya Bi” ucap Bianca.
Bianca di bantu Bi Inah melangkah ke ruang makan. Lalu Bianca duduk di bangku. Bi Inah melangkah ke kamarnya untuk mengambil obat masuk angin. Bi Inah kembali ke ruang makan dan memberikan obat masuk angin cair dalam sachetan kepada Bianca.
“Ini Bu obatnya. Nanti Ibu minumnya setelah makan ya. Mau saya kerokin Bu sekalian” ucap Bi Inah.
“Aku minum ini saja dulu nanti kalau masih belum membaik, saya minta Bi Inah kerokin aku ya” ucap Bianca.
“Iya Bu. Bibi lanjut siapkan sarapan lagi ya” ucap Bi Inah.
“Iya Bi, terima kasih ya” ucap Bianca.
Bi Inah menyajikan nasi putih, tempe goreng, empal goreng, sayur bayam dan tumis kacang panjang di meja makan. Lalu Bi Inah membuatkan teh hangat untuk Bianca dan menyiapkan secangkir kopi panas untuk Willy.
Melihat Willy belum datang ke ruang makan Bianca pun berdiri dan hendak memanggil Willy untuk mengajaknya sarapan bersama. Tetapi saat Bi Inah melihat Bianca berdiri, Bi Inah melarangnya. Bi Inah meminta Bianca untuk duduk saja dan Bi Inah yang akan memanggilkan Willy.
“Ibu mau kemana?” Tanya Bi Inah.
“Aku mau memanggil Willy Bi” jawab Bianca.
“Biar Bibi saja yang panggilkan Bapak ya Bu. Tadi pagi-pagi sekali Bapak sepertinya lari pagi keluar” ucap Bi Inah.
“Lari pagi?” Tanya Bianca.
“Iya Bu” ucap Bi Inah menganggukkan kepalanya.
Bianca ingat ini hari minggu. Dulu sebelum Aditya lahir Willy dan dia memang sering jalan pagi. Bianca pun menunggu Willy di ruang makan saja. Bi Inah segera melangkah untuk melihat apakah Willy sudah kembali dari lari pagi atau belum.
Sambil menunggu Willy datang, Bianca meminum teh hangat yang Bi Inah buatkan sedikit agar tubuhnya yang terasa dingin menjadi sedikit hangat. Sebenarnya Bianca ingin sekali melanjutkan tidur di ranjang, karena tubuhnya sangat tidak enak pagi ini. Tetapi Bianca tetap harus sarapan pagi ini dan menunggu suaminya untuk sarapan bersama.
“Sudah baikan?” Tanya Willy saat dia datang ke ruang makan.
“Badanku tambah sakit” jawab Bianca.
“Kenapa tidak istirahat saja di kamar?” Tanya Willy.
“Aku meminta obat masuk angin sama Bi Inah” jawab Bianca.
“Kamu yakin kalau kamu masuk angin?” Tanya Willy curiga.
“Ya, tentu saja. Memangnya aku kenapa kalau bukan masuk angin?” Tanya balik Bianca.
“Makanlah, kita lihat setelah makan apa benar kamu masuk angin atau karena yang lain” ucap Willy.
Bianca saat ini tidak bisa berpikir apa maksud ucapan Willy, karena kepalanya masih terasa pusing. Dari pada berdebat dengan suaminya Bianca memilih untuk diam dan makan saja agar bisa segera kembali ke ranjangnya.
Saat makan Bianca terlihat sangat tidak berselera. Bianca mengambil nasinya saja hanya setengah centong. Itu pun dia memakannya tidak bersemangat. Dalam makannya Willy terus memperhatikan Bianca yang terlihat tidak nafsu makan. Tetapi Willy tetap diam dan hanya memperhatikannya saja.
“Kenapa tidak dihabiskan?” Tanya Willy yang melihat Bianca tidak menghabiskan nasinya.
“Aku tidak nafsu” jawab Bianca.
“Makanya jadi istri itu nurut dan jangan nakal” ucap Willy ketus.
Bianca melirik suaminya itu. Rasanya dia malas sekali berdebat dengan Willy. Bianca tahu Willy menyindirnya saat ini. Bianca hanya diam dan memilih menghabiskan teh hangatnya.
Setelah sarapan dan melihat Aditya di kamarnya kini Bianca sudah kembali ke kamarnya. Bianca juga tadi meminta Mina untuk mengurus Aditya hari ini, karena Bianca ingin beristirahat dulu. Bianca tidak ingin kalau dia sakit nanti Aditya ikutan sakit.
Bianca mengeluarkan obat masuk angin yang Bi Inah berikan. Baru saja dia ingin membukanya, Willy sudah keluar dari kamar mandi dan memberikan kantong plastik bertuliskan apotik yang tidak jauh dari perumahannya.
“Coba ini” ucap Willy.
Bianca mengambil plastik itu lalu membuka dan melihat isinya. Bianca terkejut sekali ketika isinya adalah test pack. Bianca ingin sekali tertawa saat ini. Jadi Willy mengiranya hamil lagi. Bianca pun menatap wajah Willy.
“Kenapa menatapku?” Tanya Willy sinis.
“Kamu ingin kita memiliki anak lagi?” Tanya Bianca sambil terkekeh.
“Jadi benar kamu hamil” ucap Willy.
“Memangnya selama kita berhubungan beberapa kali ini kamu mengeluarkannya di dalam tubuhku?” Tanya balik Bianca.
“Aku sudah bilang jangan dulu. Kasihan Aditya masih kecil” ucap Bianca lagi.
“Tentu saja aku mengeluarkannya di luar. Kita juga baru beberapa kali melakukannya sejak aku kembali” ucap Willy dengan sinis.
“Nah kalau begitu aku tidak hamil. Aku hanya masuk angin saja” ucap Bianca.
“Kamu yakin. Siapa tahu selingkuhanmu itu mengeluarkannya di dalam” ucap Willy dengan ketus.
“Ya Tuhan. Kamu keterlaluan sekali Will. Kamu masih saja menuduhku berselingkuh. Aku tidak melakukannya” ucap Bianca dengan kesal.
“Kalau kamu memang tidak melakukannya, kenapa kamu tidak coba saja tes” ucap Willy masih dengan nada sinisnya.
“Apa yang ada di pikiranmu Will? Selama ini aku selalu setia kepadamu” ucap Bianca.
“Aku tidak tahu. Kamu saja bisa membohongiku dan laki-laki itu bisa menghubungimu. Dan bisa saja tanpa sepengetahuanku kalian jalan bersama” ucap Willy.
“Will, kita sudah menikah lebih dari tiga tahun. Dan selama tiga tahun itu apa kamu pernah melihatku bersama laki-laki lain?” Tanya Bianca.
“Pernah” jawab Willy.
“Kapan?” Tanya Bianca dengan kesal.
“Bersama Erick waktu di Kalimantan” jawab Willy.
“Kamu tahu pada saat itu aku hilang ingatan” ucap Bianca masih dengan mode kesalnya.
Pertengkaran pun kembali terjadi di dalam kamar antara Willy dan Bianca, karena Willy menuduh Bianca hamil karena hasil perselingkuhannya itu.
“Ya, tetap saja itu kamu hampir menikah dengan laki-laki lain padahal statusmu masih menjadi istriku” ucap Willy.
“Will, kamu tahukan itu hanya hampir. Tetapi aku tidak menikah dengan Erick pada saat aku hilang ingatan. Kamu tahu kenapa, karena hatiku menolaknya Will. Di dalam hatiku ini cuma mengingankan kamu bukan pria lain. Walau aku hilang ingatan berada di dekatmu membuatku nyaman Will, berbeda dengan saat bersama Erick” ucap Bianca menjelaskan lagi semuanya.
Willy terdiam menatap Bianca.
“Aku kecewa kepadamu Will” ucap Bianca sedih menatap suaminy yang masih saja menuduhnya selingkuh.
“Buktikan sekarang kalau kamu memang tidak selingkuh dengan pria sialan itu” ucap Willy dingin.
Bianca pun berdiri dengan mencengkram plastik pemberian Willy. Bianca mengeluarkan isi dari plastik itu, lalu membuka kemasan test pack dan mengambil benda panjang seperti stik ice cream yang terlihat lebih kecil dan tipis.
“Aku akan membuktikannya kalau memang aku tidak selingkuh apalagi melakukan hubungan suami istri dengan pria selain kamu” ucap Bianca tajam di hadapan Willy.
“Buktikan jangan hanya dengan ucapn” ucap Willy.
Bianca kesal sekali, Willy masih saja keras seperti batu. Bianca melangkah menuju kamar mandi. Rasa sakitnya dia tahan karena emosinya. Bianca masuk ke kamar mandi baru saja dia ingin menutup pintunya ternyata Willy mengikutinya.
“Kamu ingin masuk ke dalam” ucap Bianca ketus.
“Ya, memastikan kamu tidak memasukkannya ke dalam air yang lain” ucap Willy.
“Okey masuk saja. Lagi pula kamu suamiku jadi kamu bebas melihat semua yang ada pada tubuhku bukan” ucap Bianca.
Willy hanya diam. Bianca pun segera masuk ke kamar mandi. Di dalam hatinya Bianca masih saja kesal, lihat saja kalau sampai test pack ini menunjukkan garis satu Bianca akan memarahi Willy, sampai dia meminta maaf karena menuduhnya berselingkuh.
Bianca melirik kebelakang, Willy benar berdiri di dekat wastafel dan masih memperhatikannya. Kalau saja bukan dalam keadaan sama-sama emosi, pasti Bianca saat ini sudah mengajak Willy mandi bersama. Apalagi melihat Willy hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya. Sial, kenapa Bianca jadi merindukan pelukan hangat tubuh Willy.