Bianca memegang test pack yang sudah selesai dia celupkan ke dalam urinenya. Willy dengan cepat segera merebut test pack itu dari tangan Bianca.
“Biar aku yang pegang” ucap Willy.
Bianca hanya menggelengkan kepalanya dan melangkah keluar dari kamar mandi. Bianca merasa dirinya memang tidak hamil jadi membiarkan Willy menunggu sampai test pack itu bekerja.
“Biarkan saja dia. Jelas-jelas aku tidak hamil” batin Bianca kesal.
Bianca melangkah menuju ranjangnya lalu duduk disana. Bianca mengambil kembali obat masuk angin yang dia minta dari Bi Inah. Bianca membuka bungkus obat masuk angin itu. Baru saja saja dia ingin meminumnya teriakan Willy memanggil namanya membuat Bianca terkejut.
“BIANCA” panggil Willy dengan berteriak.
“Huft, apalagi ini. Pasti dia menyesal setelah melihat hanya garis satu” ucap Bianca pelan.
Willy pun terlihat melangkah cepat keluar dari kamar mandi. Willy menghampiri Bianca dengan wajah dinginnya. Bianca menatap Willy dengan santai.
“Sudah terlihat hasilnya” ucap Bianca.
“Sudah” jawab Willy singkat.
“Berarti kamu sudah tahu jawabannya” ucap Bianca lagi.
“Sudah” jawab Willy lagi dengan singkat.
“Ya sudah berarti masalah selesai. Sudah terbukti bukan semuanya” ucap Bianca.
“Jadi kamu mengakuinya” ucap Willy dengan nada dingin.
Bianca yang bingung menautkan dua alisnya. Jelas saja bingung, Willy masih saja memintanya untuk mengakui kalau Bianca berselingkuh. Apa sih yang sebenarnya ada di pikiran Willy saat ini Bianca sampai tidak mengenal suaminya sendiri sekarang.
“Mengakui apa lagi sih Will? Kamu sudah lihat sendiri bukan hasil test pack itu hanya garis satu. Dan garis satu itu menunjukkan kalau aku tidak hamil. Dan jelas aku tidak berselingkuh juga” ucap Bianca.
“Kamu yakin kalau hasilnya garis satu?” Tanya Willy.
“Tentu saja aku yakin” jawab Bianca.
“Bagaimana kalau hasilnya garis dua?” Tanya Willy lagi.
Bianca tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak mungkin Will” ucap Bianca.
“Tidak mungkin kamu mau mengakui kalau kamu jelas sudah tidur dengan pria sialan itu” ucap Willy.
“Cukup Will. Aku lelah sekali kamu terus menuduhku seperti itu” ucap Bianca yang lalu berdiri dari duduknya.
“Aku tidak menuduh, tapi ini kenyataan. Dan semua buktinya ada” ucap Willy tak kalah marah dari Bianca.
“Okey, kamu punya bukti. Sekarang katakan dan tunjukkan kepadaku mana bukti yang kamu punya” tantang Bianca.
“Buktinya sudah aku bakar” ucap Willy.
“Kamu bakar, atau hanya kamu memang sedang mencari alasan untuk pertengkaran ini?” Tanya Bianca.
“Buat apa kamu datang ke mall waktu ada kecelakaan disana?” Tanya Willy.
Bianca terkejut, bagaimana Willy bisa tahu dia pergi ke mall itu. Bianca saja tidak tahu dimana Willy saat itu. Bianca pun tidak takut untuk menjawabnya karena dia memang benar dan tidak salah.
“Aku kesana ingin menemui Ibu Mirna penjahit kebaya” jawab Bianca.
“Untuk apa kamu menemui Ibu Mirna?” Tanya Willy.
“Ya, jelas untuk memintanya menjahit kebaya-kebaya di wadrobe kita” jawab Bianca.
“Bukankah kita sudah bekerja sama dengan Pak No?” Tanya Willy.
“Itulah mengapa, seharusnya kamu memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Jangan hanya kamu marah dan marah. Kamu tidak tahu bukan apa yang terjadi pada Bianca Management?” Tanya Bianca dengan kesal.
Willy pun terdiam.
“Bianca Management terkena musibah. Wadrobe kebaya kita kemasukan tikus yang sangat banyak. Semua kebaya-kebaya kita rusak dan tidak bisa digunakan. Sedangkan sebentar lagi ada dua acara resepsi yang harus menggunakan kebaya kita. Pak No, sedang di Solo dan tidak bisa kembali ke Jakarta dalam waktu singkat. Akhirnya kita memutuskan untuk memakai jasa Ibu Mirna” ucap Bianca menjelaskan.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku masalah ini?” Tanya Willy.
“Bagaimana aku mau memberi tahu kamu? Aku saja tidak tahu dimana kamu. Setelah pulang berbicara denganmu saja sangat sulit” jawab Bianca.
“Lalu kenapa kamu bisa di mall. Bukankah kamu bisa datang ke butiknya?” Tanya Willy.
“Aku sudah datang ke butiknya, ternyata Ibu Mirna ada di toko barunya yang ada di mall itu. Kalau menunggu Ibu Mirna pulang akan kelamaan, sedangkan kebaya ini harus sudah jadi dalam waktu lima hari karena Ibu Ajeng akan fitting baju” jawab Bianca.
“Dengan siapa kamu pergi kesana?” Tanya Willy.
“Dengan Naena dan Icha” jawab Bianca.
“JANGAN BOHONG” ucap Willy dengan nada membentak.
Jelas-jelas Willy tahu Bianca di dalam mall bersama Gio.
“Bohong apanya? Aku memang pergi bersama Icha dan Naena. Kalau kamu tidak percaya kita telepon mereka berdua” ucap Bianca.
“Mereka berdua adalah sahabatmu, pasti mereka akan membelamu” ucap Willy.
Bianca menggelengkan kepalanya. Willy sangat keterlaluan sekali, ketidak percayaannya kepada Bianca benar-benar sudah terlewat batas.
“Will, aku sedang tidak enak badan. Sekarang sebenarnya apa maumu, kenapa kamu mengajak aku bertengkar?” Tanya Bianca yang mulai lelah.
“Jujur kepadaku anak siapa yang ada di dalam kandunganmu?” Tanya Willy dengan nada dingin.
“Aku tidak hamil Will. Bagaimana aku bisa mengandung?” Tanya Bianca bingung.
“Tidak hamil bagaimana, test pack ini menunjukkan garis dua” ucap Willy masih dengan nada dingin dan menunjukkan hasil test packnya.
Bianca melihat hasil test pack yang dipegang oleh Willy seketika mata Bianca melebar dan terkejut sekali. Di test pack itu ada garis dua. Bianca tahu apa arti garis dua itu tandanya adalah positif. Tapi bagaimana Bianca bisa hamil.
“Mana mungkin?” Tanya Bianca pelan dengan terkejut.
Bianca memegang perutnya. Dia benar-benar tidak percaya kalau dia hamil lagi. Padahal Aditya saja belum genap dua bulan. Bianca menggelengkan kepalanya. Bianca pun mulai mengingat setiap dia berhubungan dengan Willy. Bianca ingat Willy memang tidak pernah mengeluarkan spermanya di dalam tubuh Bianca.
“Itu pasti salah” ucap Bianca menggelengkan kepalanya.
“Salah. Bukankah ini sudah jelas. Mau menyangkal bagaimana lagi?” Tanya Willy menatap Bianca dengan tajam.
“Will, aku akan coba test lagi” ucap Bianca.
“Sudahlah Bii, kenapa kamu tidak aku saja kalau kamu sudah tidur dengan pria sialan itu?” Bentak Willy mendorong Bianca hingga terjatu di atas ranjang.
“Aku tidak melakukannya Will” ucap Bianca menggelengkan kepalanya.
Willy pun iku naik ke atas ranjang dan segera mengunci Bianca disana.
“Aku tidak menyangka Bii, kamu serendah ini” desis Willy.
“Tidak Will. Aku berani sumpah, aku tidak tidur dengan pria manapun. Aku selalu menjaga kehormatanku” ucap Bianca mencoba menjelaskan kepada Willy.
“Sudahlah Bii, kamu jangan berbohong lagi kepadaku. Aku sudah tahu semuanya. Kamu tahu kenapa di mall sebagus itu bisa terjadi kecelakaan?” Tanya Willy.
Bianca terdiam dirinya masih terkejut dan tidak bisa berpikir lebih jauh lagi.
“Itu karena kamu dan selingkuhanmu sudah melakukan hal buruk sehingga alam menghukum kalian berdua” ucap Willy.
“Aku tidak melakukan apapun Will. Di mall itu aku bersama Icha dan Naena. Aku menemui Ibu Mirna” ucap Bianca.
Willy pun bertambah emosi, jelas-jelas dimata Willy Bianca sudah ketahuan berbohong, tetapi masih saja menyangkalnya. Willy pun segera memegang rahang Bianca dan menekannya dengan kuat. Willy marah dan kecewa dengan istrinya yang sudah jelas mengandung anak dari Gio.