Pagi itu, jam pelajaran pertama dimulai pukul 08.00. Kali ini adalah pelajaran Matematika, dibawakan oleh guru bernama Pak Graham.
Udara di dalam ruang kelas terasa lembap, seolah sisa kabut dari luar masih menyelinap masuk lewat jendela yang setengah terbuka. Kapur berderit di papan tulis, meninggalkan jejak putih yang tebal. Pak Graham menulis rumus panjang, lalu berhenti ketika menyadari seorang muridnya sedang bengong.
Pak Graham: “Tuan Hale, kalau rumus di papan ini bisa menulis sendiri, mungkin saya tak perlu berdiri di sini tiap pagi. Tolong jelaskan, apa yang saya tulis barusan?”
Ia meletakkan kapur di atas meja, menatap Rowan dengan alis terangkat—nada suaranya separuh kesal, separuh menguji.
Rowan: “Bapak bicara apa tadi?”
Pak Graham: “Saya bicara tentang pelajaran, bukan tentang kabut di luar jendela itu. Sekarang, coba jawab pertanyaannya—berapa hasil dari persamaan di papan ini?”
Ia mengetuk papan tulis dengan kapur, meninggalkan debu putih kecil yang melayang di udara lembap.
Rowan: “Apa ya, Pak… aku lupa tadi.”
Pak Graham: “Jadi kau tidak memperhatikan lagi, ya?
Ia menghela napas panjang, lalu menulis angka baru di papan.
“Baiklah, dengarkan baik-baik kali ini, Rowan. Dunia luar boleh berkabut, tapi kepalamu jangan ikut berkabut juga.”
Seketika kelas meledak oleh tawa. Semua mata tertuju pada Rowan yang hanya bisa tersenyum kaku.
Pak Graham: “Baik, cukup sampai di situ. Kalian tertawa sekarang, tapi minggu depan saat ulangan, jangan minta jawaban pada Rowan, ya.”
Nada suaranya datar, tapi ada sedikit senyum di ujung bibirnya. Kelas pun kembali tenang, meski tawa kecil masih terdengar di sudut-sudut ruangan.
Ketika bel istirahat berbunyi, kelas seolah hidup kembali. Suara kursi bergeser, buku ditutup, dan tawa pelajar memenuhi udara. Rowan masih duduk di tempatnya, memutar pensil di antara jari-jarinya.
Finn menepuk pundaknya sambil menyodorkan roti isi dari kantin.
Finn: “Kau benar-benar jadi bahan tontonan satu kelas, bro. Kalau tadi wajahmu sedikit lebih merah, mungkin Pak Graham bakal panggil pemadam kebakaran.”
Rowan tersenyum samar dan mengambil roti itu.
Rowan: “Iya, tapi kamu juga sih, ngasih tahu gosip barusan.”
Finn: “Heh, salahku juga. Tapi jujur aja, seru kan kalau ternyata gosip itu bener? Bayangkan—makhluk misterius berkeliaran di tepi danau, sementara kita duduk di kelas matematika. Hidup jadi agak lebih menarik, kan?”
Keduanya tertawa kecil, sampai sebuah suara dari depan membuat mereka menoleh.
Clara: “Kalian berdua memang tidak bisa serius, ya? Baru juga istirahat lima menit, sudah ribut seperti di pasar.”
Ia berdiri di depan meja mereka, alisnya terangkat, meski senyum kecil tampak di sudut bibirnya.
Rowan: “Biasalah, Clara. Kalau Finn itu mulut ember.”
Clara: “Kalau begitu, pastikan embernya tidak tumpah di tengah kelas, ya?”
Ia menatap Finn sekilas dengan tatapan geli, lalu menaruh buku catatannya di meja Rowan.
“Dan kalian berdua, tolong jangan lupa—ada tugas matematika yang harus dikumpulkan besok pagi.”
Finn: “Besok pagi? Clara, kau serius? Aku bahkan belum selesai memahami soal nomor satu!”
Ia memegangi kepala seolah dunia akan berakhir karena pekerjaan rumah itu.
Mereka bertiga tertawa bersama, hingga waktu perlahan bergulir menuju sore.
Pukul 16.00, pelajaran selesai. Para murid bersiap untuk pulang.
Hari ini adalah jadwal piket bagi Rowan, Finn, dan Clara, jadi mereka baru bisa meninggalkan sekolah sekitar pukul 16.30.
Ketiganya berdiri di depan gerbang sekolah, bersiap berjalan kaki pulang ketika kabut sore mulai turun lagi.
Tiba-tiba Rowan menepuk dahinya, wajahnya panik.
Rowan: “Astaga! Aku lupa, buku matematikaku tertinggal di kelas!”
Finn: “Serius, Row? Baru juga keluar gerbang, dan kau sudah ketinggalan barang lagi?”
Ia menghela napas panjang. “Baiklah, cepat ambil sana sebelum penjaga sekolah ngunci pintu.”
Matanya menatap langit yang mulai merah, kabut turun semakin tebal di sekitar pagar.
Clara: “Aku ikut saja. Siapa tahu bukunya jatuh di koridor. Lagipula, aku tidak suka membiarkan orang masuk sendirian ke sekolah saat suasananya mulai begini.”
Ia memandang sekeliling—kabut makin pekat, membuat suara langkah mereka terdengar teredam.
Rowan: “Tidak perlu, Clara. Biar aku saja. Kalian berdua pulang duluan.”
Rowan berbalik dan berlari kembali ke arah gedung sekolah yang sudah tampak sunyi.
Finn: “Hei, Row! Jangan lama-lama, ya! Kalau kau tiba-tiba hilang di kabut, aku nggak bakal balik nyari, ingat itu!”
Suara Finn bergema aneh di udara sore yang lembap, seolah bergulung bersama kabut.
Rowan melangkah cepat menyusuri koridor sekolah yang kosong. Suara langkahnya menggema di antara dinding, hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip. Udara di dalam terasa dingin dan lembap; kabut dari luar mulai merayap lewat jendela yang terbuka.
Ia membuka pintu kelas 1-A—suara deritnya memecah keheningan. Ruangan itu gelap dan sepi, jauh berbeda dengan suasana siang tadi. Ia menyalakan lampu; cahaya kuning redup hanya menerangi sebagian ruangan, menciptakan bayangan panjang di dinding.
Rowan (berbisik): “Di mana ya... sepertinya tadi ketinggalan di laci meja.”
Ia membuka laci, hanya menemukan kertas coretan dan beberapa pensil.
Perasaannya mulai tak enak. Suara angin di luar terdengar seperti bisikan samar, dan bayangannya sendiri di dinding tampak bergerak aneh, seolah hidup.
Tiba-tiba, dari jendela yang menghadap halaman, ia melihat sesuatu bergerak cepat di balik kabut.
Rowan: “Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara daun kering yang bergesekan. Rowan menelan ludah, mencoba berpikir logis—mungkin penjaga sekolah, mungkin bayangan pohon.
Ia menunduk, lalu melihat bukunya terjatuh di bawah meja Clara. Saat hendak mengambilnya, terdengar langkah kaki pelan di koridor—halus, tapi jelas nyata.
Kemudian sebuah suara terdengar, dalam dan bergema di kepalanya.
Suara Misterius: “Temuilah aku... di danau, Rowaaan…”
Rowan membeku. Tangannya bergetar saat meraih buku itu.
Rowan: “Aku harus cepat pulang…”
Ia bergegas menuju pintu, namun begitu tiba di koridor—tidak ada siapa pun. Hanya kabut yang merayap pelan di bawah cahaya lampu redup.
Rowan berlari ke pintu utama, mencoba mendorongnya, tapi pintu itu terkunci rapat.
Rowan (panik): “Tidak… pintunya terkunci!”
Ia memukul gagang pintu, suara logam berdenting keras. Napasnya memburu. Kemudian ia teringat sesuatu.
Rowan (berbisik): “Pintu belakang… dekat ruang olahraga. Mungkin masih terbuka.”
Ia berlari menembus koridor yang gelap, melewati ruang-ruang kelas kosong. Bayangan di dinding bergoyang bersama langkahnya, membuatnya semakin gugup.
Pintu belakang benar-benar terbuka. Tapi ketika Rowan menariknya, hawa dingin langsung menerpa wajahnya.
Rowan (terkejut): “Sial… ini mengarah ke danau.”
Jalan setapak menuju Loch Dùin terbentang di depannya, terselimuti kabut tebal. Rowan menatap kembali ke sekolah yang sudah terkunci, lalu ke arah kabut yang menunggu di depan.
Rowan: “Tidak ada pilihan lain… aku harus lewat sini.”
Ia menarik napas panjang dan melangkah ke luar. Suara langkahnya tenggelam di antara kabut dan dedaunan basah.
Namun tak lama, telinganya menangkap suara—langkah lain, mengikuti dari belakang.
Ia berhenti. Suara itu pun berhenti. Ia berjalan lagi—suara itu ikut bergerak.
Rowan (bergetar): “Ada yang mengikutiku…”
Siluet tinggi muncul samar di balik kabut.
Rowan meneguk ludah, tubuhnya kaku.
Rowan (gemetar): “Siapa di sana?! Tolong… jangan ganggu aku!”
Tak ada jawaban, hanya desiran angin yang terdengar seperti desah panjang.
Rowan berlari, panik. Suara langkah itu semakin dekat, berat dan cepat.
Lalu di persimpangan jalan setapak, sesosok bayangan muncul di hadapannya—tinggi, tak wajar, dan diam.
Sosok Misterius (bergema): “Aku sudah menunggumu… sepertinya ada mangsa, nih.”
Rowan terjatuh ke tanah, tubuhnya gemetar hebat.
Rowan: “T-tolong… jangan makan aku!”
Sosok itu melangkah maju, menembus kabut. Dalam cahaya samar, tampak siluet mengerikan yang membuat darah Rowan membeku di tempat.