Rowan Terbangun Melihat Kondisinya Sedikit Aneh "Arggh, Apa Yang Terjadi Denganku".
Tubuh Rowan Penuh Compang Camping, Baju Seragam Sekolahnya Penuh Robekan dan Tasnya Sangat Kotor. "Aduh, Bajuku Kotor Sekali, Aku Pastinya Di marahin Sama Ibu"
Rowan Menatap Langit Dan Kepalanya Sedikit Pusing "Tubuhku Agak Aneh Sekarang, Aduh-duh-duh" Ia Melihat Kondisi Tubuhnya Penuh Luka Cakaran Terutama Sambil Memegang Lehernya.
Melihat Langit Sangat Gelap Rowan Segera Melihat Jam Tangannya.
Jam Tangannya Menunjukkan Sekarang Pukul 11.00 Malam. Rowan Kemudian Panik "Arghhhhh, Sialan (Perlahan Berdiri), Aduh-duh-duh, Ibu Pasti Marah besar, Aku Harus Cepat Pulang"
Rowan Segera Berjalan Walaupun Badannya Penuh Luka dari Serangan Werewolf Sebelumnya.
Kemudian Sementara itu Di Rumah Rowan. Ibu Rowan Mendadak Gelisah Melihat Sekarang Pukul 11.00 Malam dan Anaknya Belum Pulang Sampai Sekarang.
Sebagai Seorang Ibu Ia Khawatir Anaknya Terjadi Apa-apa, Ibu Rowan Berkata: "Rowan... di mana kamu? Ini sudah jam 11 malam. Biasanya kau sudah pulang sejak sore Tadi."
Ibu Rowan berjalan mondar-mandir di ruang tamu D Dengan Nada Khawatir Sambil Berkaca-kaca: "Biasanya Dia tidak pernah pulang selarut ini. Ada apa dengan Terjadi Dengan anakku Rowan?"
Ibu Rowan menatap telepon rumah di Ruang Keluarga: "Mungkin Aku harus telepon Teman Rowan Seperti Finn atau Clara. Tapi ini sudah larut malam Sekali..."
Ibu Rowan berdiri di depan jendela Ruang Keluarga Sambil Memegang Telepon: "Dunia Malam luar semakin berbahaya. Kabut tebal... dan ada sesuatu yang tidak Cukup beres malam ini. Umur Rowan Masih Terlalu Dini Untuk Dunia Malam."
Ibu Rowan Kemudian berbicara pelan pada diri sendiri Sambil Menunggu Suara Masuk Telepon: "Tolonglah, jagalah anakku. Biarlah dia pulang dengan selamat."
Ibu Rowan Kemudian Memutuskan Menelpon Teman Temannya Rowan Seperti Clara & Finn dan Juga Pihak Sekolah.
Pertama Ibu Rowan Kemudian Menelpon Clara.
Ibu Rowan Menekan Nomor Telepon Rumah Clara, Sambil Memasukkan Tombol Telepon Rumahnya "Ayo Semoga Bisa".
Kemudian Suara Telepon Masuk, Ibu Rowan menelepon Clara: "Halo Clara, sayang, ini Ibu Rowan. Apakah Rowan pulang bersamamu hari ini?"
Clara Mengakat telepon Rumahnya: "Tidak, Bu Rowan. Dia kembali ke sekolah Lagi, Katanya untuk mengambil bukunya yang tertinggal di Kelas. Finn dan Aku menunggu di gerbang, tapi dia tidak kembali Lagi."
Ibu Rowan Sedikit Khawatir: "Kira-kira Jam berapa terakhir kalian Berdua melihatnya?"
Clara Mengingatnya: "Kira-kira Sekitar Sih Jam setengah lima sore, Bu Rowan. Seharusnya dia sudah pulang Jam Segitu, Hanya Untuk Mengambil Buku, Sih, Setelah Itu Aku dan Finn Pulang Duluan."
Ibu Rowan Dengan suara cemas: "Terima kasih, Clara. Tolong beri tahu Ibu jika kamu mendengar kabar Anakku, Ya, Ibu sangat Khawatir Soalnya."
Clara Sedikit Cemas: "Tentu Saja , Bu Rowan. Jika ada Kabar Aku akan Segera Memberitahukan Rowan Untuk segera pulang."
Ibu Rowan Segera Menutup Telepon Rumahnya: "Ok Terimakasih Clara".
Clara: "Sama-sama".
Setelah Itu Ibu Rowan Kemudian Menelpon Finn, Ia Segera Menelpon Telepon Rumahnya Finn.
Ibu Rowan Menekan Nomor Telepon Rumah Finn, Sambil Memasukkan Tombol Telepon Rumahnya "Ayo Semoga Tersambung".
Kemudian Suara Telepon Masuk, Ibu Rowan menelepon Finn: "Halo Finn, sayang, ini Ibu Rowan. Apakah Rowan pulang bersamamu hari ini, Aku Dengar Kamu Pulang Bersama Dengan Clara?"
Finn sambil bermain game Mengakat Telepon Lalu Menjawab: "Hah? Rowan? Nggak, Kok Bu Rowan, . Terakhir aku dan Clara lihat dia, Katanya Sih dia balik ke sekolah Hanya Mengambil buku Yang Ketinggalan tadi sore Sih, Terakhir Saya Yang Tahu."
Ibu Rowan: "Dia belum pulang sampai sekarang, Finn. Kau tidak melihatnya setelah itu?"
Finn Lalu meletakkan controller: "Wah, nggak, Bu Rowan. Aku Dan Clara nungguin di gerbang, tapi dia nggak balik-balik Sama Sekali Hampir 15 Menit,. Aku kira dia udah pulang lewat jalur lain, Jadinya Aku dan Clara Memutuskan Meninggalkannya Karena Terlalu Lama."
Suasana Ibu Rowan suaranya semakin khawatir: "Kalau begitu, terima kasih Ya Finn. Tolong kabari Ibu jika kau mendengar sesuatu Rowan."
Finn: "Oke, Bu Rowan. Jangan terlalu khawatir, pasti Rowan baik-baik saja, Aku Jamin Itu, Dia Kan Sahabatku Juga."
Ibu Rowan Segera Menutup Teleponnya: "Baik Terimakasih Finn".
Fin Segera Menutup Teleponnya: "Sama-sama Bu Rowan".
Kemudian Setelah Mendapatkan Kabar dari Clara dan Finn Ibu Rowan Kemudian Memutuskan Untuk Menelpon Penjaga Sekolah Atau Security Yang Shift Malam.
Ibu Rowan Segera Menghubungkan menelepon sekolah: "Halo, selamat malam. Ini Ibu Rowan, orang tua dari Rowan Hale. Apakah ada yang masih beraktivitas di sekolah Malam Hari?"
Penjaga Sekolah Mengakat telepon Di Mejanya: "Maaf Ya Bu, sekolah sudah tutup jam 5 sore tadi. Tidak ada siswa-siswi yang masih di sini Sama Sekali."
Ibu Rowan Sedikit Cemas: "Tapi kan Kata Teman anak saya mengatakan, Rowan kembali ke sekolah untuk mengambil bukunya yang tertinggal di Kelas. Apakah Bapak melihatnya Sama Sekali?"
Penjaga Sekolah: "Saya Terakhir melakukan patroli terakhir jam 5 - 6 sore Setiap Ruangan Kelas Satu Persatu dan tidak melihat siapapun di sana. Semua ruangan sudah Saya dikunci."
Ibu Rowan Dengan suara gemetar: "Tapi Anakku Rowan belum pulang sampai sekarang..., Terus Saya Harus Gimana"
Penjaga Sekolah Memberikan Solusi: " Begini Saja Bu, Saran saya, Ibu mungkin perlu menghubungi pihak Yang berwajib Seperti Polisi. Daerah sekitar sekolah memang agak kurang aman Ketika malam hari."
Ibu Rowan Menjadi Panik, lalu Menanyakan Kepada Penjaga Sekolah: "Kurang aman Gimana... maksudnya anda bagaimana? Memang Ada apa Sih di sekitar sekolah?"
Penjaga Sekolah Dengan suara rendah: "Ibu Tenang Dulu, Jadi Beberapa waktu terakhir ada laporan tentang penampakan sosok aning / Mahluk Misterius di sekitar danau Dekat Sekolah Bu. Jadi Kata Beberapa warga disana juga Sering melaporkan suara-suara yang tidak biasa Kepada Polisi."
Ibu Rowan Sedikit Cemas dan Bingung: "Sesosok aning? Apa maksudnya itu?"
Penjaga Sekolah: "Mungking Semacam hewan seperti serigala sih Bu. Atau... sesuatu yang lain, Itu Juga Saya Kurang Tahu sih. Kalau Menurut Saya Ibu Lebih baik di rumah dan Segera hubungi polisi."
Kemudian Ibu Rowan Tanpa apapun Langsung Memutuskan Menutup Telepon rumahnya
Ibu Rowan dengan tangan gemetar memegang telepon Rumahnya: "Ya, Tuhan... tolonglah... Anakku Semoga Baik-baik Saja."
Ibu Rowan mulai khawatir dan berinisiatif akan mencari Rowan.
Ia Segera mengambil jaket dan senter Dan Langsung Berkata: "Aku tidak bisa tinggal diam Seperti Ini, Sebagai Seorang Ibu. Rowan pasti sedang dalam masalah, Aku Harus Segera Menemukannya, Tunggulah Anakku."
Kemudian Ketika Peralatan Sudah Siap, Ibu Rowan Kemudian Membuka Pintu Rumahnya Namun Tidak Setelah Itu Muncul Rowan muncul melihat kondisi Rowan compang-camping.
· Seragam sekolah robek di beberapa bagian, terutama di lengan dan lutut
· Baju kotor berlumpur dan daun-daun kering menempel
· Wajah pucat dan terdapat goresan luka kecil di pipi.
· Tangan terdapat lecet dan bekas cakaran.
· Rambut acak-acakan dan masih ada ranting kecil terselip.
· Sepatu penuh lumpur dan solnya Agak longgar.
· Tas sekolah tergantung miring dengan resleting terbuka sebagian.
· Napas Rowan terengah-engah dan tubuh gemetar.
· Bau tubuhnya tercampur aroma tanah basah dan keringat.
Ibu Rowan terkejut melihat Kondisi Anaknya Pulang Selarut Begini Dengan Kondisi Compang-camping.
Ibu Rowan Berkata Dengan nada Khawatir: "Rowannnnn! Anakku! Apa yang terjadi Denganmu? Kenapa kondisimu Bisa seperti ini?"
Rowan Yang Begitu lemas segera bersandar di pintu Rumah: "Ma-ma-maaf, Ibu... Aku tersesat di hutan dekat danau Sekolah."
Ibu Rowan Segera cepat memeluk Rowan: "Dasar Kamu anak nakal! Ibu sangat khawatir! Melihat Kondisimu terluka?"
Rowan Menjawab Agak Takut: "Cu-cuma Agak lecet-lecet, Bu... A-aku jatuh beberapa kali di daerah gelap."
Ibu Rowan Sedikit Memarahi Anaknya: "Lain kali jangan pulang sendirian Lagi! Sekarang Kamu masuk, Ibu akan Segera obati lukamu."
Rowan Segera Masuk Ke dalam: "Baik Bu".
Dengan langkah gontai, Rowan masuk ke dalam rumah yang hangat. Lampu ruang tamu menyambutnya dengan cahaya kuning yang menenangkan, kontras dengan kegelapan malam yang baru saja dia tinggalkan. Ibu Rowan segera membimbingnya ke kursi, wajahnya masih dipenuhi campuran rasa lega dan khawatir.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ibu Rowan mulai membersihkan luka-luka di tubuh Rowan. Sementara itu, di balik jendela rumah mereka, kabut malam masih menggantung pekat, menyembunyikan rahasia dan bahaya yang mungkin masih mengintai. Rowan memejamkan mata, mencoba melupakan bayangan mata kuning yang masih membekas di ingatannya, sementara Itu pertanyaan Cukup besar dan menggantung di udara: Apa yang sebenarnya terjadi di tepi Danau Loch Dùin malam ini?