Di sebuah sekolah pada Tahun 2010
Angin bertiup dengan kencang. Suara pohon dan ranting-rantingnya bergemerisik tak tenang. Alam tengah menunjukkan kuasanya, memberitahu semua penghuni di Bumi, bahwa ia juga dapat berbicara. Bukan hanya segala macam tumbuhan yang bergoyang-goyang gelisah, tetapi juga seluruh penghuni SMA N 72, tengah berlarian tak karuan di sekitar sekolah mereka. Sekolah itu gempar. Tidak! Bukan karena alam yang mengamuk ini, tetapi ada penyebab lain yang mengakibatkan penghuni sekolah itu tak dapat duduk dengan tenang.
Seorang wanita menangis sesenggukan di Ruang Kepala Sekolah yang terletak di tengah lorong gedung. Matanya bengkak, hidungnya memerah, pertanda ia sudah menangis dari beberapa jam yang lalu. Wanita itu memakai blazer cantik berwarna krem, yang dipadu dengan celana kain berwarna senada. Dibalik blazer itu tampak kemeja putih bersih, membuat penampilan wanita 30 an tahun itu tampak berwibawa, seandainya saja ia tak lagi mengeluarkan tangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Sementara itu, di seberangnya, duduk lagi seorang perempuan yang berusaha menenangkan. Pakaiannya hampir sama, blazer yang menutupi kemeja putih, dan celana kain. Hanya saja setelan blezernya berwarna hitam.
“Dia anak saya satu-satunya…” Wanita yang menangis itu berusaha menjelaskan sesuatu pada wanita di depannya. Namun dengan tangisnya yang masih saja tak berhenti, membuatnya susah untuk berbicara. “Seha-saharusnya, sa-saya tak meninggalkannnya. Seharusnya… seharusnya saya melarang, melarangnya untuk keluar dari ruangan… sekarang, saya tak tahu dimana dia,”
“Tenang, Bu Mila. Polisi akan segera menemukan anak Ibu,” Wanita berblezer hitam mengelus pelan pundak wanita yang menangis di depannya. Seandainya saja ia juga punya anak, pasti dia tahu betapa sedihnya kehilangan buah hati seperti ini.
Tidak! Wanita berblezer hitam tersentak dalam lamunannya. Meskipun Tan tidak terlahir dari kandungannya, jelas sekali Tan adalah buah hatinya.
Suasana ruangan itu kembali sunyi. Hanya detak jam, serta sesenggukan Mila yang terdengar. Tak seperti di ruangan itu, di koridor sekolah, murid-murid kelas XII dan guru berlarian mencari seseorang. Sesekali terdengar mereka saling berteriak, setelah memeriksa setiap sudut dan tak menemukan yang mereka cari.
“tok, tok, tok”
Kedua wanita di ruangan itu tersentak, lalu menatap ke arah pintu dengan gelisah. Mereka berdua bangkit dengan segara, sementara seseorang dibalik pintu telah melangkah masuk dan berdiri sungkan di ambang pintu. Orang itu memakai kemeja hitam yang ditutupi dengan jaket kulit berwarna coklat. Tampangnya keras, menandakan ia suka memerintah.
“Silahkan masuk, Pak!” Wanita ber-blezer hitam itu mempersilahkan dan mengulurkan tangan untuk berjabat. “Saya Nilam, Kepala Sekolah disini, dan ini Ibu Mila,” menunjuk sopan wanita di sebelahnya dengan kelima jarinya.
“Saya Bram, kepala polisi yang ditugaskan untuk membantu,” Laki-laki itu memperkenalkan diri dengan wajah datar memandang kedua wanita itu bergantian.
“Silahkan duduk!” Pinta Nilam kaku. Bram duduk, diikuti kedua wanita itu.
“Begini, kami akan berusaha semampu kami untuk bisa menemukan anak Ibu,” Bram menatap Mila prihatin, sedang wanita itu berusaha menahan tangisnya. “Tapi untuk sementara ini, kami belum bisa memastikan, dimana anak Ibu berada. Kami sudah mencari di semua sudut sekolah ini, tetapi anak Ibu tidak ada dimanapun.”
Mila menarik napas, siap-siap dengan tangisnya, tetapi Nilam langsung memotong. “Jangan khawatir, Bu. Saya yakin, para polisi ini bisa membantu untuk menemukan Lili.”
“Saya memerlukan keterangan lengkap dari Ibu, juga kalau bisa, bertanya pada saksi mata—” Kedua wanita itu membelalakkan matanya.
“Mak, maksud Anda, ada hal tidak baik yang terjadi pada anak saya??!” Mila menatap Bram tak percaya. Nilam menarik napas panjang. Kepalanya sakit sekali. Belum pernah hal seperti ini terjadi di sekolah yang dipimpinnya.
“Bukan seperti itu. Maksud saya, siapa tahu ada diantara murid di sini yang melihatnya terakhir kali sebe—“
“NINDY!!” Sorak keduanya. Mereka saling pandang, kemudian Nilam yang melanjutkan.
“Nindy yang pertama melapor bahwa Lili hilang. Nindy bilang, mereka bermain petak umpet sebelumnya. Nindy tak dapat menemukan persembunyian Lili, kemudian ia melapor pada kami. Anak itu juga sudah mencari ke segala penjuru sekolah ini, karena tak bisa menemukannya, makannya dia melapor pada kami.” Nilam berhenti dengan tarikan napas dalam. Dia berbicara tanpa henti. Mengeluarkan semua informasi yang diketahuinya.
Mila menatap Nilam nanar, tak dapat berkata apa-apa. Lili, anak perempuannya menghilang. Bidadari 9 tahunnya tak dapat ditemukan. Betapa sakit hatinya mengetahui Nindy—murid kesayangannya—yang bertanggung jawab akan ketiadaan Lili saat ini. Mila kembali sesenggukan. Terbayang senyuman anaknya dengan rambut hitam panjang sebahunya serta poni panjangnya yang menutupi mata indahnya. Belum sempat aku memotongkan poninya, pikir Mila.
“Dimana Nindy sekarang?” Tanya Bram cepat, begitu dilihatnya Mila tak lagi menunjukkan gairah hidup.
“Dia kembali berkeliling sekolah mencari Lili. Entah dimana dia.” Nilam menggenggam tangan Mila, dan menatapnya prihatin, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Bram.
“Biar saya panggil dia melalui ruang siaran!” Nilam bergegas berdiri dan berlari ke ruang siaran sekolah, yang biasa digunakan siswa dan guru untuk siaran radio di jam istirahat.
“Panggilan untuk Nindy Nur Andini. Harap segera ke kantor Kepala Sekolah sekarang!” Sekolah yang tadinya hiruk pikuk, mendadak sepi ketika mendengar suara KepSek mereka yang bergema di seluruh sekolah. “Sekali lagi, untuk Nindy Nur Andini, harap ke kantor Kepala Sekolah sekarang!! Terima kasih!”
Seorang anak perempuan, di tengah kerumunan siswa yang sibuk ke sana kemari membantu mencari Lili, anak dari salah satu guru mereka, menyingkir dan berlari secepat ia bisa ke ruang Kepala Sekolah. Anak berambut sebahu, berkulit putih, dan berwajah ayu itu berlari tergesa dan memasuki kantor dengan napas tersengal.
“BRAAAKKK!!”
Pintu terbanting ke dalam. Ketiga orang di dalamnya langsung berdiri kaget.
“Sa-saya, belum menemukan Lili, Bu!” Nindy berceloteh di tengah napasnya yang memburu. Matanya merah menahan tangis, tangan kanannya mencengkram gagang pintu, dan sebelahnya terentang kesamping memegang kusen pintu. Kaki kanannya berada di dalam ruangan, sedang yang kiri masih bertahan diambang pintu. Pose itu akan tampak menggelikan kalau saja suasananya tidak sekacau sekarang.
“Maaf,” sambungnya tertunduk, posenya sudah berganti sekarang. Wajahnya tertunduk dalam, tangannya tergantung lemas di kedua sisi tubuhnya. Napasnya sesak menahan air asin yang hendak meluncur keluar dari kedua sisi matanya.
“Silahkan masuk!” Pinta Nilam dingin. Mila menatap tajam ke arah Nindy, sedang Bram menatapnya tak terkata.
Nindy melangkah masuk perlahan, lalu duduk di kursi setelah Nilam memintanya. Kepalanya tetap menunduk, menatap jari-jari tangannya yang bertautan di atas pangkuannya, seakan sedang berdoa. Nilam menatapnya frustasi.
Bram berdeham dan membetulkan posisi duduknya menghadap Nindy.
“Nindy, Saya Bram.” sapanya. “Saya akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada kamu. Saya harap kamu bisa memberikan jawaban dengan jelas, agar Lili bisa segera ditemukan.” Bram berkata lembut, seolah sedang berbicara dengan anak umur 5 tahun. Nindy menatapnya, kemudian mengangguk.
“Dimana terakhir kali kamu melihat Lili?” Bram mulai mengintrogasi. Nindy menarik napas panjang sebelum menjawab. Badannya bergetar.
“Sa, saya tidak tahu,” Ketiga orang tua itu terkejut, Nindy cepat-cepat melanjutkan. “Mak-maksud saya,” lanjutnya gugup, “Terakhir kali saya lihat dia berdiri tersenyum di depan saya, kemudian saya menutup mata, dan... dan mulai menghitung. Kami bermain di koridor depan. Saya pikir dia bersembunyi di belakang pintu kelas XII. Karena itu salah satu tempat favoritnya. Saya mencari hampir di semua kelas… tapi Lili gak ada.”
Semua menarik napas. Panjang. Bahkan lebih panjang dari sebelumnya. Hidungnya mulai berair. Mila angkat bicara.
“Apa dia tidak bersembunyi di salah satu loker-loker itu?” Tanya Mila putus asa. Semua menatapnya.
Loker di koridor sekolah berdiri setinggi 1,5m, berderet rapi di sepanjang koridor. Masing-masing siswa memegang kunci loker mereka dan digunakan untuk menaruh barang-barang keperluan selama sekolah. Meski tinggi, loker itu tak cukup lebar. Hanya berkisar 40 cm.
“Tadinya saya juga berfikir begitu, Bu. Tapi… setelah saya periksa, semua pintu loker terkunci. Bagaimana mungkin Lili bersembunyi di sana sementara semua lokernya tak dapat dimasuki? Maaf bu.” Nindy menunduk lagi. Tadinya dia mau menarik napas lagi, tapi setelah dipikir-pikir, dia sudah terlalu sering menarik napas selama beberapa jam ini.
Suasana kembali hening. Langit di luar sudah tak lagi mau membagi cahayanya. Terlihat gelap dan sedih. Alam hari itu seperti mewakili perasaan Mila yang kehilangan Lili, anak tercintanya. Sekian lama membagi amukan berupa angin kencang, kini langit mulai mengguyur tanah dengan air. Hujan deras sekali di luar sana. Meski waktu sudah menunjukkan lewat dari jam pulang anak-anak di sekolah itu, mereka semua hanya bisa menatap langit lewat jendela dan pintu. Tak bergeming, meski percik-percik air yang masuk sedikit membuat mereka basah.
Semua siswa tahu, Mila guru paling ramah di SMAN 72. Paling disegani, meskipun dengan gaya mengajarnya yang santai. Semua anak suka padanya, terutama anak-anak kelas XII Ipa, karena Mila mengajar Biologi. Meski pelajaran itu terdengar membosankan, tapi kalau Mila yang mengajar, semua mata dan telinga terjulur, mencurahkan segenap perhatian pada pelajaran tersebut.
Mila sering sekali mengajak Lili ke sekolah. Setelah menjemputnya dari SD Purna Bakti, Mila langsung membawa Lili bersamanya. Lili sudah cukup besar, Mila yakin anaknya tidak akan mengganggunya selama ia mengajar. Mila hanya tak berani meninggalkan Lili di rumah seorang diri, karena Mila sudah lama kehilangan suami. Mereka bercerai, dan suami Mila menikah lagi dengan wanita yang lebih berada dan tinggal di luar kota. Meski begitu, tak jarang suaminya mengirimi uang untuk biaya sekolah anaknya. Dia tahu bahwa dia masih memiliki tanggung jawab untuk membiayai darah dagingnya itu. Oleh karena itu, bagi Mila, Lili adalah hartanya yang paling berharga, yang selalu dijaganya dengan sepenuh jiwa dan pengorbanannya.
Sebelum ini Lili selalu bermain dengan riang di sekolah. Semua murid di sini menyukainya. Memang ada beberapa yang tidak perduli, lantaran mereka kurang suka dengan anal-anak. Namun, di antara mereka, Lili paling senang bermain dengan Nindy, dan hari ini pun demikian.
Saat itu istirahat, dan orang-orang lebih memilih ke kantin daripada sekedar nongkrong di koridor depan. Sayang Nindy tak tahu, bahwa ketika ia menutup mata untuk bermain petak umpet, salah satu murid laki-laki tengah membuka lokernya untuk mengambil sepatu olahraga, dan dengan tergesa pergi sebelum menutupnya.