Waktu telah menunjukkan pukul 17.00, sementara alam masih belum bersedia untuk berdamai. Hujan masih turun beriringan dengan gemuruh angin, memaksa para penguhuni Bumi untuk berlarian menerjang air yang turun dari langit. Sebagian besar siswa dan guru SMAN 72 telah kembali ke rumah masing-masing, sementara di Ruang Kepala Sekolah, Bram masih berusaha membujuk Mila untuk pulang dan beristirahat.
“Sementara ini, sebaiknya Ibu istirahat dulu, karena langit semakin gelap. Saya sudah menghubungi markas untuk mengirimkan bantuan personil.” Bram berusaha untuk memberi pengertian, sementara Mila masih terus sesenggukan dan meratapi kehilangannya.
Nilam, yang menjabat sebagai Kepala Sekolah sejak 3 tahun lalu, mengangguk khawatir, sambil sesekali melirik ponselnya.
“Iya bu, sebaiknya Ibu istirahat dulu di rumah. Kita serahkan pencarian ini ke Pak Bram dan anak buahnya.” Nilam membujuk Mila tidak sabar, matanya masih terus melirik ponsel yang ada di atas meja, ingin segera mengeceknya.
“Atau mungkin sebaiknya Ibu ikut ke rumah saya saja. Kebetulan Ayah Tan sedang dinas ke luar kota.” Tidak sabar, Nilam meraih ponselnya dan bergegas membuka kunci pengaman. Jarinya sibuk mengetik layar ponsel kemudian menaruhnya di samping telinga.
“Halo, Tan?” Nilam beranjak dari duduknya, berjalan cepat menuju sudut ruangan. “Kamu sudah di rumah nak? Ibu akan pulang sebentar lagi.” Katanya terburu-buru.
“Aku masih harus ke tempat les Bu, kemungkinan pulang terlambat.” Suara khas laki-laki baligh menjawab dari seberang saluran. Samar-samar Nilam mendengar suara gemuruh hujan, yang menandakan bahwa putranya masih berada di luar.
“Kalau begitu, segera pulang ke rumah kalau sudah selesai les.” Pinta Nilam pasrah. Padahal saat ini dia ingin sekali melihat wajah putranya. Kejadian ini entah mengapa membuatnya merindukan putra semata wayangnya tersebut.
Ditutupnya telefon kemudian disampirinya Mila. “Mohon maaf Pak Bram, saya akan membawa Bu Mila pulang. Saya mohon untuk menghubungi saya jika ada perkembangan.” Nilam merangkul Mila, membantunya berdiri, kemudian menyerahkan secarik kertas kepada Bram. “Ini kartu nama saya.”
“Baik, akan saya kabari segera setelah ada perkembangan.” Jawab Bram mantap sembari menatap kartu nama tersebut. Nilam Anggani. Nama yang bagus, pikirnya.
***
Nindy berdiri mematung di teras depan sekolah. Hujan masih belum berhenti, sementara yang tersisa hanya beberapa petugas kepolisian yang masih berkeliaran di dalam gedung sekolah dan halaman belakang. Setelah kembali dari ruang Kepala Sekolah, Nindy menangis di kelasnya, menyesali hal yang telah terjadi, dan begitu tersadar langit sudah gelap. Nindy membuka kunci ponselnya dan menemukan chat dari Ibunya yang menanyakan keberadaannya. Sudah pukul 17.50, pantas saja Ibu khawatir.
Langit tidak lagi berbintang, dan terus saja menangis. Nindy lupa membawa payung hari ini, padahal Ibunya sudah mengingatkannya bahwa awal tahun seperti ini hujan akan terus turun tanpa bisa diprediksi. Sepertinya memang harus hujan-hujanan lagi, batin Nindy sambil menaikkan hoodie jaketnya, kemudian berlari menerjang hujan menuju gerbang depan sekolah yang masih terbuka separuh. Tidak ada tanda-tanda adanya satpam yang berjaga, sepertinya masih ikut membantu pencarian Lili. Sebenarnya Nindy masih ingin membantu, tapi dia harus pulang karena ibunya sudah sangat khawatir.
Di tengah usahanya berlari, Nindy tiba-tiba dikejutkan dengan sesosok bayangan yang keluar dari pintu samping gedung sekolah. Langkahnya melambat, ada rasa takut yang membuatnya berhenti berlari. Tidak mungkin hantu, batinnya. Sambil terus berjalan, dipicingkannya matanya dan mengangkat kedua tangannya, melindungi mata agar dapat melihat lebih jelas. Bayangan itu berjalan tergesa-gesa menggunakan payung berwarna mencolok.
“Mungkin salah seorang murid,” Nindy menenangkan diri. Dipercepatnya langkahnya sambil terus memicingkan mata. Sosok berpayung itu sepertinya tidak sendirian, batin Nindy. Jarak pandang Nindy menjadi terganggu akibat air hujan yang semakin deras. Nindy memutuskan untuk kembali berlari karena seluruh tubuhnya sudah basah kuyup.
Tepat ketika berada di depan gerbang sekolah, kilat tiba-tiba menyambar, memercikkan sinar terang menyilaukan. Saat itulah Nindy melihatnya, sesosok berpayung merah, memakai jaket dengan hoodie menutupi kepalanya, menggandeng seseorang yang lebih pendek darinya, memasuki taksi yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
“Lili??!!” Nindy tersentak.